NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Kecanggungan Di Pagi Hari

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar membuat Cinta terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Hal pertama yang ia ingat saat membuka mata bukanlah tugas sekolah yang menumpuk, melainkan sentuhan lembut bibir Rian yang mendarat di bibirnya semalam. Cinta segera menarik selimut menutupi seluruh wajahnya, mencoba meredam jeritan kecil yang tertahan di tenggorokan.

"Aduh, Cinta... Kenapa kamu nggak nolak semalam? Kenapa malah diam saja?" gumamnya pada diri sendiri di balik selimut.

Jantungnya kembali berpacu liar. Kejadian semalam terasa seperti mimpi, namun rasa hangat yang menjalar di pipinya membuktikan bahwa itu nyata. Ia teringat bagaimana Rian menatapnya dengan penuh kesungguhan, bagaimana cowok itu meyakinkannya bahwa ia bukanlah sekadar pelampiasan. Namun, tetap saja, bayangan ia berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah merah padam membuatnya merasa sangat malu.

Setelah hampir lima belas menit berperang dengan rasa malunya, Cinta akhirnya memberanikan diri untuk beranjak dari tempat tidur. Ia mandi secepat mungkin, berharap air dingin bisa mendinginkan kepalanya yang terasa berasap. Ia sengaja memilih kaus rumahan yang paling tertutup dan menyisir rambutnya dengan sangat rapi, berusaha terlihat seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

...****************...

Saat Cinta menuruni tangga menuju dapur, aroma nasi goreng buatan Mamah sudah memenuhi udara. Namun, langkah Cinta terhenti di anak tangga terakhir saat ia mendengar suara tawa kecil Mamah dan suara berat yang sudah sangat ia kenal.

"Wah, Rian pintar juga ya bantu-bantu di dapur. Padahal Tante pikir cowok kota seperti kamu tidak terbiasa dengan urusan begini," ucap Mamah terdengar sangat senang.

"Kebetulan di Jakarta saya sering ditinggal sendiri, Tante. Jadi ya terpaksa belajar sedikit-sedikit supaya tidak kelaparan," jawab Rian dengan nada rendah yang sopan.

Cinta menarik napas dalam-dalam, merapikan kausnya, lalu berjalan menuju meja makan dengan langkah yang diatur setenang mungkin. "Pagi, Mah..." ucapnya pelan.

Mamah menoleh dengan senyum lebar. "Pagi, Sayang. Sini duduk, sarapan sudah siap. Rian tadi mau pamit pulang pagi-pagi sekali, tapi Mamah larang. Masa tamu menginap dibiarkan pulang dengan perut kosong? Jadi Mamah suruh dia sarapan dulu."

Cinta menarik kursi yang paling jauh dari posisi Rian berdiri, namun sialnya, hanya ada kursi yang berhadapan langsung dengan cowok itu. Saat Cinta duduk, ia secara tidak sengaja menatap Rian.

Rian sudah mengganti kembali pakaian miliknya karena semalam dia meminjam pakaian milik Papah. Rambutnya sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur, namun tetap terlihat tampan. Saat mata mereka bertemu, Rian memberikan senyum tipis, tipe senyum yang seolah-olah berkata kalau dia ingat kejadian semalam.

Cinta langsung membuang muka ke arah piring nasi gorengnya yang masih kosong. "Oh, iya... pagi, Rian," bisiknya hampir tidak terdengar.

"Pagi, Cinta," sahut Rian. Suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya, yang entah kenapa membuat bulu kuduk Cinta meremang.

Suasana di meja makan mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang sunyi. Mamah sedang sibuk menuangkan teh hangat untuk mereka berdua, sementara Cinta dan Rian terjebak dalam kecanggungan yang luar biasa.

Cinta mulai menyendok nasi goreng ke piringnya. Ia sangat fokus pada piringnya, seolah-olah nasi goreng itu adalah objek paling menarik di dunia saat ini. Ia tidak berani mendongak sedikit pun.

"Ayo dimakan, Rian. Jangan malu-malu. Cinta, kok diam saja? Biasanya kamu yang paling cerewet," tegur Mamah sambil duduk di antara mereka.

"Eh? Anu... aku cuma masih sedikit mengantuk, Mah," kilah Cinta sambil menyuapkan nasi goreng dengan cepat ke mulutnya.

Saking cepatnya, Cinta tersedak. "Uhuk! Uhuk!"

"Eh, hati-hati, Cin," ucap Rian refleks. Ia dengan sigap meraih gelas teh hangat yang baru saja diletakkan Mamah dan menyodorkannya ke arah Cinta.

Tangan mereka bersentuhan saat Cinta menerima gelas tersebut. Sentuhan singkat itu terasa seperti aliran listrik bagi Cinta. Ia segera menarik tangannya setelah memegang gelas, meminum tehnya dengan tergesa-gesa sampai habis setengah.

"Pelan-pelan, Sayang. Seperti dikejar apa saja," Mamah menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.

Rian hanya bisa menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan senyum kecilnya. Ia tahu betul kenapa Cinta bersikap seaneh ini. Di sisi lain, ia sendiri merasa sedikit berdebar. Melakukan hal nekat semalam bukanlah rencananya, tapi melihat wajah Cinta yang sangat manis di bawah cahaya lampu teras semalam membuatnya kehilangan kendali.

"Oh iya, Rian. Nanti pulangnya hati-hati di jalan ya. Kabari Cinta kalau sudah sampai," ucap Mamah memecah keheningan yang sempat tercipta kembali.

"Pasti, Tante. Sekali lagi terima kasih banyak sudah diizinkan menginap. Saya merasa sangat nyaman di sini," jawab Rian sambil melirik Cinta sekilas.

Cinta merasa wajahnya kembali memanas. Kalimat "merasa sangat nyaman" itu terdengar memiliki makna ganda di telinganya.

Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Mah, hari ini Mamah tidak ada jadwal ke pasar, kan? Aku mau bantu beresin ruang tengah."

"Nanti saja beresinnya. Kamu temani Rian dulu sampai dia mau pulang. Masa ditinggal sendirian di meja makan," jawab Mamah santai.

Cinta ingin sekali menghilang saat itu juga. Mamah benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka, sementara Rian tampak sangat menikmati kepanikan Cinta.

...****************...

Setelah sarapan selesai, Rian membantu Mamah membawa piring-piring kotor ke tempat cucian. Tindakan yang semakin membuat poinnya naik di mata Mamah. Cinta berdiri di dekat pintu dapur, merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

"Tante, saya pamit sekarang ya," ucap Rian sambil mengambil helmnya di ruang tamu.

"Iya, Rian. Sering-sering main ke sini ya kalau ada waktu luang," jawab Mamah dengan ramah.

Mamah kemudian menyenggol lengan Cinta yang masih mematung di dekat sofa. "Antarkan sampai depan pagar sana."

Cinta mengangguk kaku. Ia berjalan di belakang Rian menuju teras. Suasana di luar masih segar, sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah yang menenangkan. Rian berhenti tepat di depan motor besarnya, namun ia tidak langsung naik. Ia berbalik dan menatap Cinta yang berdiri dengan jarak satu meter darinya.

"Cinta," panggil Rian.

"Ya?" Cinta menjawab tanpa berani menatap mata Rian. Ia sibuk menatap ujung sandalnya sendiri.

"Soal semalam... aku tidak minta maaf," ucap Rian tiba-tiba.

Cinta mendongak dengan cepat, matanya membulat. "Hah? Maksudnya?"

Rian melangkah satu langkah lebih dekat. "Aku tidak minta maaf karena aku bersungguh-sungguh dengan itu. Tapi aku minta maaf kalau itu membuatmu jadi canggung seperti sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku serius."

Cinta terdiam. Lidahnya terasa kelu. Di balik rasa malunya yang besar, ada rasa lega yang menyelinap. Setidaknya Rian tidak menganggap kejadian semalam sebagai kekhilafan atau candaan.

"Sudah... pulang sana," bisik Cinta akhirnya, mencoba mengalihkan pembicaraan agar jantungnya tidak meledak di tempat.

Rian terkekeh, lalu ia mengacak rambut Cinta dengan gemas. Sebuah gerakan yang sangat akrab namun terasa sangat manis. "Oke, aku pulang. Jangan dipikirkan terus ya."

Rian naik ke atas motornya, memakai helm, dan menyalakan mesin. Sebelum melaju, ia membuka kaca helmnya sedikit. "Sampai ketemu besok di sekolah."

Cinta hanya bisa melambaikan tangan kecil saat motor Rian melaju meninggalkan halaman rumahnya. Ia berdiri di sana sampai deru motor itu benar-benar menghilang.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!