Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Gema suara Joan yang menggelegar ke angkasa meninggalkan keheningan mencekam di puncak pegunungan. Jessy yang baru saja bangkit setelah terhempas oleh ledakan energi hitam, menatap punggung Joan dengan perasaan campur aduk.
Tubuh pria itu sekarang adalah akumulasi dari penderitaan miliaran jiwa. Uap panas yang keluar dari napasnya membawa aroma karat besi dan tanah basah, aroma peperangan yang belum usai.
"Joan," panggil Jessy lembut. Suaranya kecil dan nyaris teredam oleh desau angin beku, namun bagi telinga tajam seorang Alpha yang sekarang terhubung dengan frekuensi kosmik, suara itu terdengar sejelas dentang lonceng.
Joan tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada titik merah di langit yang ia yakini sebagai persemayaman Selena. Tubuhnya masih bergetar hebat dan otot-ototnya menegang seolah menahan beban berat yang tak terlihat. Jessy bisa melihat benang-benang energi hitam tipis keluar dari kulit Joan, mencoba merambat ke arah langit, dan mencari Selena untuk merobeknya dari takhta ilahinya.
"Energi ini rasanya begitu murni," gumam Joan.
Suaranya sekarang bukan lagi miliknya sendiri, ada ribuan bisikan di baliknya.
"Aku bisa merasakan setiap peluru yang menembus kulit kaumku, Jessy. Aku bisa mendengar doa terakhir manusia yang kamu bunuh di gang-gang gelap Paris. Semuanya menuntut keadilan. Semuanya menuntut pembalasan."
"Tapi pembalasan bukan alasan kita di sini!" Jessy berlari kecil, menerjang dinginnya salju, dan mencengkeram lengan Joan yang bersisik bulu hitam kasar. "Lihat aku, Joan! Tatap mataku!"
Dengan gerakan lambat yang penuh rasa sakit, Joan menoleh. Matanya yang merah menyala tampak bergejolak seperti lautan api. Jessy tersentak untuk sesaat, ia tidak melihat Joan, tapi ia melihat jurang tanpa dasar yang penuh dengan penderitaan.
Namun, Jessy tidak melepaskan cengkeramannya. Sebagai bagian manusia Selena yang dibuang, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki entitas di langit maupun monster di dalam tabung Lucian, yaitu empati yang tak terbatas.
"Dia masih di sana, Joan," bisik Jessy, air matanya mulai membeku di pipi. "Selena yang mencintaimu, Selena yang menangis saat kau terluka di kabin, dia tidak hilang. Dia hanya dikubur di bawah lapisan es kesombongan ilahi ini. Jika kamu naik ke sana dengan membawa kemarahan dunia, kamu hanya akan membuktikan bahwa dia benar, bahwa kita semua hanyalah monster yang layak dimusnahkan."
"Dia sudah menyerah pada kita, Jessy!" raung Joan, membuat salju di bawah kaki mereka bergetar. "Dia membebaskan insting liar ini agar kita saling menghancurkan! Dia ingin melihat kita membusuk agar dia bisa membangun taman bunganya yang sunyi di atas mayat kita!"
"Tidak!" potong Jessy tegas. "Dia melakukan ini karena dia ketakutan! Dia takut pada luka yang kamu berikan dan dia takut pada pengkhianatan yang dia rasakan. Transformasi ini adalah caranya untuk berhenti merasakan sakit. Dia menciptakan kekacauan ini agar dia punya alasan untuk tidak pernah lagi menjadi manusia yang bisa terluka."
Joan terdiam. Cakar-cakarnya yang tadi menggali tanah mulai melonggar. Bisikan-bisikan kematian di kepalanya sedikit mereda dan digantikan oleh gambaran Selena yang dulu, gadis yang hanya ingin hidup tenang di bawah sinar matahari.
"Aku adalah bagian dari dirinya yang dia anggap lemah," lanjut Jessy, suaranya bergetar penuh keyakinan. "Kemanusiaannya, keraguannya, dan cintanya padamu semuanya ada padaku dan aku tahu, sejauh apa pun dia melayang, dia masih mencari jangkar ini. Dia masih menunggu seseorang untuk membuktikan bahwa dia salah, bahwa manusia dan serigala bisa memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar insting pemangsa."
Riven yang mengamati dari kejauhan, melangkah maju.
"Jessy benar, Alpha. Jika kamu menggunakan energi Lucian sebagai senjata penghancur, kamu hanya akan memicu kiamat, tapi jika kamu menggunakannya sebagai jembatan, kamu bisa menyeretnya kembali ke dunia nyata."
Joan menatap telapak tangannya. Energi hitam antivirus itu berdenyut selaras dengan detak jantung Jessy yang hangat. Ia menyadari sesuatu yang krusial. Selena melepaskan hukum rimba untuk membuktikan bahwa tanpa dirinya, dunia adalah neraka. Namun, jika Joan mampu menampung neraka itu tanpa kehilangan kemanusiaannya, maka argumen Selena akan runtuh.
"Kamu adalah jangkarnya, Jessy," ujar Joan, suaranya mulai melunak dan kembali ke nada yang Jessy kenali. "Tapi aku adalah rantainya. Aku yang akan menahan beban tarikan ini agar dia tidak terbang terlalu jauh hingga tak bisa kembali."
"Yakinkan dia, Joan," bisik Jessy, menyandarkan kepalanya di bahu Joan yang panas. "Bawakan dia rasa sakit ini, bukan sebagai ancaman, tapi sebagai pengingat. Tunjukkan padanya bahwa rasa sakit adalah apa yang membuat kita tetap hidup. Jangan biarkan dia memilih keabadian yang sunyi."
Joan memejamkan mata. Di dalam kegelapan batinnya, ia membayangkan kabin kayu itu sekali lagi, momen ketika Selena tersenyum padanya untuk pertama kali. Senyuman seorang gadis bukan seorang dewi.
"Aku mengerti," ucap Joan.
Energi hitam di sekeliling Joan mendadak berubah. Kilatannya tidak lagi liar dan tajam, melainkan mulai memadat dan membentuk aura pelindung yang stabil. Ia tidak lagi membiarkan rasa sakit dunia mengendalikan ototnya, ia mulai memeluk rasa sakit itu sebagai bentuk tanggung jawab.
"Lucian," panggil Joan pelan.
"Ya, Alpha?" suara Lucian terdengar waspada.
"Jangan pernah berpikir untuk mengambil alih saat aku berhadapan dengannya. Jika kanu mencoba menyentuh kemurniannya dengan kelicikanmu, aku sendiri yang akan menghancurkan tabung itu dari dalam jiwaku."
Lucian terkekeh, namun ada nada rasa hormat yang muncul.
"Terserah kamu, Joan, tapi ingat, dewi di atas sana tidak akan menyambutmu dengan bunga."
Joan menatap Jessy untuk terakhir kalinya sebelum ia bersiap meluncur menembus atmosfer.
"Tetaplah di sini bersama Riven. Jaga cahaya perak itu agar tetap ada di bumi. Selama kamu masih bernapas sebagai manusia, dia tidak akan pernah bisa sepenuhnya menjadi Tuhan."
Jessy mengangguk kuat. "Selamatkan dia, Joan. Selamatkan Selena-ku."
Dengan satu lompatan dahsyat yang menghancurkan puncak gunung menjadi kawah besar, Joan melesat ke langit. Ia bukan lagi seekor serigala yang mengejar mangsa, ia adalah seorang pria yang membawa seluruh duka dunia di pundaknya, terbang menuju cahaya yang menipu untuk menjemput kekasihnya kembali ke pelukan bumi yang berdarah namun nyata.
Di atas sana, Selena yang melayang di tengah kesunyian stratosfer merasakan riak besar di lautan energinya. Ia melihat sosok hitam yang melaju cepat menembus awan-awan merah dan membawa aura yang begitu familiar sekaligus menyakitkan.
"Joan," desis Selena.
Ada air mata perak yang kembali mengalir di pipinya, namun kali ini bukan karena amarah. Jessy benar, sang Pencipta sedang ketakutan. Ia takut karena ia menyadari bahwa meski ia telah membuang kemanusiaannya, kemanusiaan itu justru datang menjemputnya dengan wujud seorang monster yang memiliki hati.