NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suasana mendadak hening saat Hakim Ketua mempersilakan saksi kunci untuk memberikan keterangannya.

Dengan langkah yang tegap dan berwibawa, sekarang Zaidan duduk memberikan saksi di kursi panas yang berada tepat di tengah ruang sidang.

Seragam kepolisiannya yang rapi seolah memancarkan integritas yang tidak bisa digoyahkan oleh fitnah apa pun.

Zaidan menarik napas panjang sebelum memulai. Ia tidak menatap Maya ataupun Riko, melainkan fokus pada majelis hakim.

"Yang Mulia, saya berdiri di sini bukan hanya sebagai korban, tapi sebagai saksi atas kekejian yang mereka rencanakan," suara Zaidan menggema, tenang namun penuh penekanan.

Ia mulai menceritakan kronologi kejadian secara mendetail.

Bagaimana ia dijebak, disekap di sel tikus yang lembap, hingga detik-detik mengerikan saat napasnya hampir terhenti.

"Saat Riko menyumbat mulut saya dengan kain itu, saya melihat tidak ada sedikit pun rasa kemanusiaan di matanya. Hanya ada dendam dan kepatuhan buta pada perintah Saudara Maya," lanjut Zaidan.

Zaidan sempat melirik ke arah Sulfi yang berdiri tak jauh darinya.

Tatapan mereka bertemu sesaat—sebuah dukungan tanpa kata yang memberi Zaidan kekuatan tambahan.

"Mereka mengira saya akan mati dalam diam. Tapi takdir berkata lain. Saya selamat bukan untuk membalas dendam dengan kekerasan, tapi untuk memastikan hukum menjalankan tugasnya bagi orang-orang seperti mereka."

Maya yang duduk di kursi terdakwa tampak gemetar mendengar kesaksian Zaidan yang begitu lugas dan jujur.

Tak ada satu pun celah bagi pengacara Maya untuk membantah, karena kesaksian Zaidan didukung oleh bukti visum dan rekaman CCTV yang telah disusun rapi oleh Sulfi dan Yuana sebelumnya.

Setelah Zaidan mengakhiri kesaksiannya, ia berdiri dan memberikan hormat kepada majelis hakim.

Ruang sidang tetap sunyi, semua orang seolah terhipnotis oleh keberanian detektif yang nyaris kehilangan nyawa demi membela kebenaran ini.

Kini, bola panas berada sepenuhnya di tangan hakim, sementara Sulfi sudah bersiap dengan nota pembelaan penutup yang akan mengunci nasib para terdakwa

Suasana tegang di ruang sidang sedikit mencair saat ketukan palu terdengar.

Hakim menunda sebentar untuk istirahat siang sebelum melanjutkan ke agenda pembacaan tuntutan.

Para pengunjung mulai meninggalkan ruangan, memberikan kesempatan bagi para petugas untuk mensterilkan area.

Zaidan berdiri dari kursi saksi, merapikan seragamnya, lalu menghampiri Sulfi yang sedang membereskan berkas-berkas hukumnya.

Dengan tatapan lembut yang kontras dengan ketegasannya tadi, Zaidan mengajak Sulfi untuk makan siang di kantin pengadilan.

Ia ingin istrinya itu sejenak melepas penat dari atmosfer persidangan yang menyesakkan.

Namun, saat mereka hendak melangkah keluar, Yuana datang mendekat dengan raut wajah ragu.

Ia baru saja berbicara dengan petugas penjaga tahanan di bagian belakang ruang sidang.

"Zaidan, Sulfi, tunggu sebentar," sela Yuana.

Ia menatap Zaidan dengan serius.

Yuana mengatakan kalau Maya ingin bertemu dengan Zaidan untuk terakhir kalinya sebelum ia dibawa kembali ke sel tahanan sementara.

"Dia bilang ada sesuatu yang harus disampaikan secara pribadi."

Zaidan terdiam, rahangnya mengeras sesaat. Ia menoleh ke arah Sulfi, seolah meminta pertimbangan dari wanita yang kini memegang kendali atas hatinya.

Ia tidak ingin melakukan apa pun yang bisa melukai perasaan istrinya.

Melihat keraguan di mata suaminya, Sulfi menganggukkan kepalanya dan mempersilakan suaminya.

Sebagai seorang pengacara, ia tahu bahwa terkadang ada kata-kata yang harus diselesaikan agar masa lalu benar-benar mati.

Sebagai seorang istri, ia memiliki kepercayaan penuh pada kesetiaan Zaidan.

"Pergilah, Mas. Selesaikan apa yang perlu diselesaikan," ucap Sulfi lembut sambil mengusap lengan seragam Zaidan.

"Aku akan menunggumu di kantin bersama Yuana."

Zaidan menarik napas panjang, merasa lega atas kedewasaan Sulfi.

Ia memberikan remasan hangat pada tangan istrinya sebelum berbalik mengikuti petugas menuju ruang bicara tahanan.

Ia melangkah dengan mantap, bukan sebagai pria yang menyimpan dendam, melainkan sebagai pria yang siap menutup buku masa lalunya selamanya demi masa depan bersama bidadari yang kini menantinya di kantin sana

Langkah sepatu laras Zaidan bergema di lorong dingin menuju ruang bicara tahanan.

Di balik jeruji besi yang membatasi ruang sempit itu, Zaidan menuju ke sel di mana Maya menunggunya.

Tidak ada lagi keangkuhan di wajah wanita itu; yang tersisa hanyalah riasan yang luntur dan mata yang sembab karena tangis ketakutan.

Begitu melihat sosok Zaidan berdiri di hadapannya, Maya langsung menghambur ke arah teralis besi, menggenggamnya dengan tangan yang gemetar.

"Mas, tolong aku. Aku tidak mau dipenjara!" ratap Maya dengan suara serak.

"Aku khilaf, Mas. Aku melakukan itu semua karena aku masih mencintaimu, aku cemburu melihatmu bersama wanita itu. Tolong, cabut tuntutannya, Mas. Aku janji akan berubah, aku akan melakukan apa saja asal aku tidak membusuk di tempat ini."

Zaidan berdiri mematung, menatap mantan istrinya dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

Tidak ada amarah yang meledak-ledak, namun juga tidak ada lagi sisa-sisa cinta yang pernah ada di sana.

"Cinta tidak pernah mencoba membunuh, Maya," ucap Zaidan dengan suara yang rendah namun sangat menusuk.

"Cinta juga tidak akan menyiksa orang yang katanya disayangi di dalam sel tikus yang dingin."

Maya menggeleng kuat-kuat, air matanya jatuh semakin deras.

"Aku hanya ingin kamu kembali, Mas! Tolong, demi masa lalu kita..."

"Masa lalu kita sudah mati saat kamu memilih untuk bersekongkol dengan penjahat seperti Guntur dan Riko," potong Zaidan tegas.

Ia memundurkan langkahnya satu depak, memutus jarak yang coba dibangun Maya.

"Aku datang ke sini bukan untuk memberikan pengampunan hukum, karena itu bukan wewenangku lagi. Aku datang untuk memastikan bahwa kamu mengerti: Sulfi bukan hanya istriku, dia adalah keadilanku."

Zaidan membalikkan badannya, tidak ingin lagi mendengar ratapan palsu yang hanya muncul saat Maya terdesak oleh hukum.

"Hargai sisa martabatmu, Maya. Jalani hukumanmu dan bertobat lah," pungkas Zaidan tanpa menoleh lagi.

Ia melangkah keluar dari area sel dengan hati yang jauh lebih ringan, meninggalkan suara tangisan Maya yang perlahan menjauh, menuju bidadari yang telah menantinya dengan cinta yang jauh lebih tulus di kantin pengadilan.

Setelah pertemuan yang menguras emosi itu, Zaidan melangkah menuju kantin dengan perasaan yang jauh lebih lega.

Di sana, ia menemukan Sulfi dan Yuana sedang duduk menunggu.

Mereka menikmati makan siang di kantin pengadilan dalam suasana yang cukup tenang, meski ketegangan sidang masih terasa di udara.

Zaidan menggenggam tangan Sulfi di bawah meja, seolah menegaskan bahwa masa lalunya dengan Maya benar-benar telah usai.

Setelah itu, mereka kembali ke persidangan. Ruang sidang kembali penuh.

Hakim baru saja akan mengetuk palu untuk membuka kembali sesi tuntutan. Namun, saat petugas hendak menggiring para terdakwa kembali ke kursi mereka, sebuah kekacauan luar biasa terjadi dalam hitungan detik.

Maya, yang tampak depresi dan kalap setelah penolakan Zaidan tadi, tiba-tiba melakukan tindakan nekat.

Dengan gerakan yang tak terduga, Maya mendorong polisi penjaganya hingga terjatuh dan mengambil senjatanya dari sarung pistol yang tak terkunci sempurna.

Seluruh ruangan berteriak histeris. Polisi lain mencoba mengepung, namun Maya sudah menodongkan senjata itu ke arah bangku pengacara, tepat ke arah Sulfi.

"Kamu harus mati!!" teriak Maya dengan wajah yang sudah gila oleh kecemburuan dan dendam.

DOR!!

Suara tembakan yang memekakkan telinga menggelegar di ruang sidang.

Zaidan yang berada beberapa langkah di samping langsung menerjang ke arah istrinya, namun peluru itu bergerak lebih cepat dari langkahnya.

"Sulfi!!" teriak Zaidan dengan suara yang menyayat hati.

Dunia seakan berhenti berputar bagi Zaidan. Ia melihat Sulfi memegang dadanya yang terkena tembakan.

Darah segar mulai merembes keluar dari balik toga hitam yang ia kenakan, membasahi kain putih di bagian kerahnya.

Tubuh Sulfi limbung, dan sebelum ia jatuh ke lantai yang dingin, Zaidan berhasil menangkapnya dalam dekapan, sementara petugas lain segera melumpuhkan Maya yang histeris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!