NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: Bayangan yang Mendominasi dan Perpisahan yang Pahit

Keesokan paginya, kabar tentang apa yang terjadi malam itu sudah menyebar ke seluruh penjuru istana. Meskipun Marcus dan tim penyidik sedang bekerja keras untuk mengungkap kebenaran, cerita yang beredar sudah mulai menyimpang dari kenyataan—beberapa orang mengatakan bahwa Leonard telah lama berselingkuh dengan gadis itu, bahkan ada yang menyatakan bahwa hubungan mereka sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Liana, yang telah diatur oleh Seraphina, mulai mengambil peran yang lebih dominan di istana. Dia berjalan dengan penuh keyakinan seperti orang yang memiliki hak di sana, sering kali muncul di tempat-tempat yang biasa dikunjungi Leonard dan bahkan berani memberikan komentar tentang urusan istana.

"Yang Mulia Raja, mungkin sebaiknya kita mengubah jadwal rapat besok," ucap Liana dengan percaya diri saat bertemu Leonard di koridor istana.

"Aku merasa kondisi cuaca akan tidak mendukung perjalanan Anda."

Leonard menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan, tapi dia tetap menjaga diri karena belum menemukan bukti yang cukup untuk membongkar kebohongannya.

"Itu bukan urusanmu, Liana. Silakan kembali ke kamar yang telah disediakan untukmu dan jangan campuri urusan kerajaan."

Namun Liana hanya tersenyum dengan penuh keyakinan sebelum pergi, sambil memberikan pandangan yang menyiratkan bahwa dia memiliki kekuatan lebih dari yang dibayangkan. Seraphina telah memberinya instruksi untuk selalu tampil percaya diri dan seolah memiliki hak atas segala sesuatu di istana, agar orang-orang mulai melihatnya sebagai calon ratu yang baru.

Sementara itu, Alexandria merasa semakin tertekan dan terasing di istana yang dulunya seperti rumahnya sendiri. Para pelayan yang dulunya selalu ramah padanya kini mulai melihatnya dengan pandangan yang berbeda, beberapa merasa kasihan, namun sebagian lain mulai berpikir bahwa dia sudah tidak lagi layak menjadi ratu.

"Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, Pak Mentari," ucap Alexandria dengan suara yang lembut namun penuh tekad saat bertemu dengan Pak Mentari dari desa Oakhaven yang datang mengunjunginya.

"Setiap sudut istana hanya mengingatkanku pada apa yang terjadi. Dan melihat gadis itu berjalan-jalan seolah dia memiliki hak di sini membuat hatiku semakin sakit."

Pak Mentari mengangguk dengan pengertian, matanya penuh dengan rasa kasihan.

"Aku mengerti perasaanmu, Yang Mulia Ratu. Desa Oakhaven selalu terbuka untukmu dan Putra Darius. Rumah kecilmu di sana masih tetap seperti dulu, kami selalu merawatnya dengan baik."

Alexandria merasa mata nya berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa desa Oakhaven adalah satu-satunya tempat yang bisa memberikan ketenangan bagi dirinya dan Darius saat ini. Setelah memikirkannya dengan matang, dia memutuskan untuk pergi meninggalkan istana sementara waktu.

"Aku akan pergi besok pagi," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Aku akan membawa Darius dan beberapa orang yang aku percayai untuk menemani kami. Semoga dengan pergi dari sini, aku bisa menemukan ketenangan dan memutuskan apa yang harus kulakukan selanjutnya."

Pada pagi harinya, sebelum matahari mulai bersinar terang, Alexandria dan Darius sudah siap untuk pergi. Dia tidak memberitahu Leonard tentang rencananya, dia takut akan bertemu wajahnya dan merasa semakin bingung dengan perasaannya. Hanya beberapa orang yang dipercaya saja yang tahu tentang kepergian mereka.

"Kita akan kembali ke rumah kecil kita ya, Bu?" tanya Darius dengan suara yang polos, menyadari bahwa ibunya sedang menangis diam-diam.

"Ya, sayangku," jawab Alexandria dengan senyum yang sedikit terpaksa. "Kita akan tinggal di sana sebentar saja. Di sana kita bisa menemukan kedamaian yang kita butuhkan."

Setelah berjabat tangan dan mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang datang mengantar mereka, kereta mereka mulai bergerak perlahan menjauh dari istana. Alexandria melihat ke belakang dengan hati yang penuh dengan rasa sakit, istana yang dulunya menjadi tempat bahagia bagi keluarganya kini hanya meninggalkan kesan pahit dan terluka.

Saat mereka sampai di desa Oakhaven, sambutan hangat dari penduduk desa membuat hati Alexandria sedikit terasa lega. Rumah kecil mereka yang terletak di pinggir hutan masih berdiri kokoh dengan pekarangan yang penuh dengan bunga-bunga yang mereka tanam bersama dulu. Darius langsung berlari bermain ke halaman belakang, senang bisa kembali ke tempat yang pernah dia kunjungi saat masih kecil.

"Ini tempat di mana Ayah dan Aku pertama kali bersama, Darius." ucap Alexandria dengan lembut saat melihat putranya bermain dengan kelinci liar di halaman.

"Ya Bu! Ayah pernah bilang kalau tempat ini sangat spesial buat kalian berdua," jawab Darius dengan senyum ceria, lalu berlari kembali ke pelukan ibunya.

Sementara itu, di istana, Leonard merasa sangat terkejut dan sedih ketika mengetahui bahwa Alexandria dan Darius telah pergi tanpa memberitahunya. Dia segera mencari tahu ke mana mereka pergi dan mengetahui bahwa mereka telah kembali ke desa Oakhaven.

"Kenapa dia tidak memberitahuku?" bisik Leonard dengan suara penuh kesedihan, menatap foto keluarga mereka yang ada di meja kerjanya.

"Aku harus menjelaskan padanya bahwa aku tidak melakukan apa pun yang salah..."

Dia segera memerintahkan untuk menyiapkan kereta untuk pergi mengejar mereka, namun Marcus menghalangnya dengan lembut.

"Maafkan saya, Yang Mulia Raja. Tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat. Yang Mulia Ratu membutuhkan waktu dan ruang untuk memproses apa yang terjadi. Jika Anda datang dengan tergesa-gesa, mungkin akan membuat situasi semakin parah."

Leonard mengangguk dengan berat hati, mengetahui bahwa kata-kata Marcus benar. Namun dia tidak bisa tinggal diam—dia mulai mengirim surat setelah surat ke desa Oakhaven, meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia telah ditipu, memohon agar Alexandria mau kembali dan memberinya kesempatan untuk membuktikan kesuciannya.

Namun semua surat itu hanya mendapatkan balasan singkat dari Alexandria yang menyatakan bahwa dia membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir. Hati Leonard semakin patah setiap kali menerima balasan seperti itu, namun dia tidak pernah menyerah untuk terus mencoba.

Sementara itu, Liana semakin menunjukkan dominasinya di istana. Dia mulai muncul di rapat kerajaan, memberikan masukan yang tidak diminta, dan bahkan mulai mengenakan pakaian yang mirip dengan pakaian ratu. Beberapa menteri yang tidak mengetahui kebenaran mulai merasa khawatir dengan kedatangannya, namun sebagian lain mulai melihatnya sebagai calon yang layak untuk menggantikan Alexandria sebagai ratu.

"Yang Mulia Raja, mungkin sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk membuat nona Liana sebagai ratu baru," ucap salah satu menteri dengan suara yang rendah saat berada di ruang rapat.

"Rakyat mulai meragukan kredibilitas kerajaan dengan keadaan yang sekarang. Dengan memiliki ratu baru, kita bisa membangun kembali kepercayaan mereka."

Leonard melihat menteri itu dengan tatapan penuh kemarahan.

"Tidak akan pernah ada ratu lain selain Alexandria! Jangan pernah lagi menyebutkan hal seperti itu di hadapanku!"

Namun meskipun dia bersikeras demikian, dia merasakan bahwa kekuatannya mulai melemah akibat stres dan rasa sakit yang dia alami. Ia sering bekerja sampai larut malam, mencoba menyelesaikan urusan kerajaan sambil terus mengawasi penyelidikan tentang apa yang terjadi malam itu. Namun hingga saat ini, akar masalah belum bisa ditemukan, semua jejak tampaknya telah dihilangkan dengan cermat oleh orang yang berada di baliknya.

Di desa Oakhaven, Alexandria menghabiskan hari-harinya dengan mengajar Darius tentang dunia alam dan cara membuat ramuan penyembuh, sambil sering kali menatap jalan yang mengarah ke istana dengan hati yang penuh dengan keraguan dan rasa rindu.

"Aku masih mencintainya, Pak Mentari," bisiknya dengan suara penuh kesedihan saat berbincang dengan Pak Mentari di halaman rumah. "Tapi bagaimana aku bisa mempercayainya lagi setelah apa yang kudengar dan lihat?"

Pak Mentari menyentuh bahunya dengan lembut.

"Hati manusia kadang-kadang bisa terbawa oleh kesalahpahaman, Yang Mulia. Tapi cinta sejati akan selalu menemukan cara untuk menyelesaikan segala masalah. Anda hanya perlu waktu untuk melihat kebenaran yang sebenarnya."

Alexandria mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tahu bahwa kata-kata Pak Mentari benar, namun rasa sakit dan kecewa yang ada di dalam hatinya masih terlalu dalam untuk bisa segera sembuh.

Dan dia tidak menyadari bahwa di balik semua itu, sosok yang iri telah mulai menyusun rencana kedua yang jauh lebih kejam untuk memastikan bahwa dia tidak akan pernah kembali ke istana...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!