"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trio Ngos-ngosan
Pintu lift eksekutif berdenting terbuka dengan suara ding yang elegan, namun bagi Hadi, suara itu terdengar seperti lonceng kematian.
Adrian melangkah keluar dengan jas yang tersampir di lengan kiri, satu tangannya merapikan jam tangan. Wajahnya datar, matanya tajam, dan auranya langsung menurunkan suhu di depan lift hingga beberapa derajat Celcius.
Hadi, Gisel, dan Budi mematung seketika. Budi yang tadinya masih asyik membetulkan poni langsung bersikap tegak seperti prajurit upacara, sementara Gisel mendadak sibuk merapikan berkas di tangannya agar tidak perlu menatap mata Adrian.
Adrian berhenti tepat di depan mereka, matanya langsung tertuju pada Hadi "Hadi. Bagus kamu sudah kembali. Tadi saya dengar dari sekretaris lantai bawah, kalian bertiga sedang 'rapat koordinasi' yang sangat intens di kantin."
Hadi tersenyum kaku, keringat dinginnya sebesar biji jagung "I-iya, Pak. Benar sekali. Koordinasi lintas departemen demi kelancaran arus barang... Pak."
Adrian menatap Hadi tanpa berkedip, suaranya berat dan penuh selidik "Menarik. Kalau begitu, gimana hasil koordinasi pelabuhan Busan-nya, Hadi? Saya baru saja dapat laporan kalau di sana sedang ada pemogokan serikat buruh. Apa rencana kontingensi yang kalian diskusikan tadi?"
Hadi langsung kehilangan kemampuan berbahasa manusia. Ia menoleh ke arah Gisel dengan tatapan minta tolong yang sangat menyedihkan.
"Anu... itu... soal Busan, Pak... Mbak Gisel yang lebih paham teknisnya. Kami tadi baru membahas... struktur...alurnya..Iya kan, Mbak Sel?" ucap Hadi.
Gisel (Dalam hati: Mati gue!) sambil menatap sejenak kepada Hadi yang meminta pertolongan.
"Eh, iya Pak! Hasil koordinasinya... kami menyimpulkan kalau... kalau Busan itu... pelabuhannya besar, Pak. Sangat... berair. Dan... banyak kapal." ucap Gisel
Budi dengan spontan menimpali karena panik.
"Dan sangat jauh dari hati, Pak! Eh, maksudnya jauh dari jangkauan darat kalau nggak pake kapal!"
Adrian menyipitkan matanya. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah mereka, membuat Budi refleks mundur selangkah sampai menabrak dinding lift.
Adrian menatap Gisel "Besar? Banyak kapal? Itu observasi anak SD, Gisel. Saya butuh data, bukan deskripsi geografi."
Adrian kemudian beralih menatap sepatu kets buluk Gisel yang kontras dengan blazer mahalnya, lalu kembali menatap mata Gisel. Ada kilatan jenaka yang sangat tipis di matanya, seolah ia tahu persis kalau Busan hanyalah kode untuk membicarakan dirinya.
"Hadi, karena kamu sangat antusias membahas Busan di kantin, saya ingin kamu buatkan ringkasan mitigasi risiko pemogokan buruh Busan. Saya tunggu di meja saya dalam tiga puluh menit. Pakai data riil, bukan data 'batagor'." ucap Adrian.
Hadi pucat pasi "T-tiga puluh menit, Pak? Tapi data itu harus tarik dari server pusat..."
"Dua puluh lima menit kalau begitu." ucap Adrian
Adrian beralih ke Gisel. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil sebuah plester bening khusus luka lecet lalu menyodorkannya pada Gisel.
"Dan kamu, Nona Koordinasi Busan. Pakai ini kalau kakimu masih sakit. Jangan sampai 'koordinasi' berikutnya di kantin membahas tentang asisten saya yang jalannya miring karena lecet." ucap Adrian menyerahkan plester di tangan Gisel.
Adrian melangkah pergi menuju ruangannya tanpa menoleh lagi, meninggalkan mereka bertiga yang masih syok.
**
Ruang Kerja Hadi; Operasi Penyelamatan Cicilan.
Ruangan Hadi yang biasanya rapi mendadak berubah jadi markas darurat. Laptop menyala di tengah, tiga pasang mata melotot ke layar, dan tumpukan kertas berserakan seperti habis diterjang badai gudang.
Hadi mengetik dengan kecepatan cahaya, jarinya beradu dengan keyboard seperti sedang main piano konser yang panik.
Hadi napasnya memburu "Gila... gila! 25 menit mana cukup buat narik data dwelling time Busan! Mbak Sel, ini angka dari server pusat kok nggak sinkron sama laporan kuartal lalu?!"
Gisel menyingkirkan Hadi dari kursi dengan pinggulnya, langsung mengambil alih keyboard.
"Minggir, Mas! Lo ngetik kayak siput asma! Sini gue yang kerjain. Gue hafal skema logistik Korea Selatan di luar kepala. Bud, lo bagian filter data mentah di tabel Excel itu, cepet!"
Budi sambil memegang mouse dengan ujung jari kelingking yang lentur "Aduh, makkk! Ini angka-angka semua, pusing pala Mami! Gue biasanya ngitung diskon lipstik, sekarang disuruh ngitung tarif kontainer? Tapi demi cicilan mobil lo, Hadidit... gue rela jari gue kapalan!"
Gisel tidak hanya ingin membantu, dia ingin membuktikan pada Adrian bahwa "Tim Koordinasi Busan" versinya bukan sekadar deskripsi anak SD. Matanya berkilat, jemarinya menari di atas tuts laptop dengan ritme yang mematikan.
"Liat nih ya... Gue tambahin analisis dampak mogok buruh terhadap supply chain ke Indonesia. Gue selipin grafik perbandingan biaya alternatif lewat Incheon. Pak Adrian pikir dia bisa ngetes gue? He doesn't know who he’s messing with!" ucap Gisel.
Hadi tercengang melihat layar "Mbak Sel... ini mah bukan laporan mitigasi lagi, ini mah udah kayak tesis S2 Logistik! Lo nggak takut Pak Adrian makin curiga kita beneran rapat di kantin?"
"Biarin! Daripada lo dipecat terus jadi kernet truk Bang Rendi beneran? Gue nggak mau denger lo curhat soal mobil ditarik tiap hari!" Gisel
Disaat mereka bertiga serius, tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar di koridor. Tap... tap... tap... Langkah itu berhenti tepat di depan pintu Hadi yang tertutup rapat.
Adrian dari balik pintu, suaranya datar tapi mengintimidasi "Hadi? Saya dengar ada suara mesin ketik yang sangat agresif di dalam. Apa kamu sedang mengetik laporan atau sedang menghancurkan laptop kantor?"
Seketika, Budi langsung meluncur ke bawah meja, bersembunyi di balik kaki Hadi. Gisel secepat kilat berdiri dan berpura-pura sedang meneliti papan tulis di sudut ruangan dengan wajah serius.
Adrian membuka pintu sedikit, kepalanya melongok masuk "Loh... Budi? Kenapa saya mencium aroma parfum 'Morning Dew' kamu di bawah meja Hadi?"
Budi muncul pelan-pelan dari kolong meja dengan senyum paling kaku sedunia "Eh... Pak Bos... Anu... Tadi ada pulpen saya yang jatuh, Pak. Jatuhnya jauh banget sampe ke bawah sepatu Mas Hadi. Saya lagi... lagi observasi debu bawah meja, Pak!"
Adrian menatap Gisel yang masih membelakanginya sambil menunjuk-nunjuk papan tulis kosong "Dan kamu, Gisel? Kamu sedang menjelaskan strategi Busan pada dinding?"
Gisel berbalik pelan, berusaha terlihat profesional meski jantungnya mau copot "Saya sedang memberikan pengarahan strategis pada asisten Bapak agar laporannya tidak... 'berair' seperti tadi, Pak."
Adrian berjalan mendekati laptop Hadi, melihat hasil ketikan Gisel selama 10 menit terakhir. "Menarik. Analisis Linear Programming dalam waktu sesingkat ini? Hadi, kamu mendadak jadi jenius atau asisten saya yang terlalu kompetitif?"
Hadi hanya bisa nyengir pasrah "Kami... tim yang solid, Pak."
**
Di ruangan sempit itu mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara deru kipas laptop yang bekerja keras. Adrian berdiri tegak, tangannya masih memegang pinggiran meja, sementara matanya menatap tajam ke arah Budi yang masih setengah jongkok dan Hadi yang mematung kaku.
"Hadi, Budi. Keluar. Sekarang. Laporan ini biar saya yang selesaikan pembahasannya dengan Gisel." ucap Adrian.
Hadi langsung sigap, seolah baru saja lolos dari hukuman gantung "S-siap, Pak! Laksanakan! Ayo Bud, kita... kita audit stok tisu di pantry!"
Budi sambil merapikan bajunya yang lecek habis dari kolong meja, melirik Gisel dengan kode mata 'Semangat Say!'
Adrian menatap tajam ke arah Budi
"Duh, iya Pak Bos. Mari... kami permisi dulu. Titip jempolnya ya, Pak!"
Begitu pintu tertutup, terdengar bunyi klik yang sangat jelas. Adrian mengunci pintu.
Gisel seketika menahan napas. Suara kunci itu terdengar seperti vonis di telinganya. Ia berdiri mematung di depan papan tulis, sementara Adrian berjalan perlahan mendekatinya. Langkah sepatunya yang mahal terdengar sangat dominan di ruangan sekecil itu.
Sementara itu di lorong, Budi langsung menempelkan telinganya ke pintu kayu jati itu dengan gaya detektif gagal.
Budi berbisik histeris "Hadidit! Dikunci, Had! Pintunya dikunci! Gila ya, Pak Bos gercep banget, baru juga kita keluar udah lockdown aja!"
Hadi berdiri dua meter dari pintu, wajahnya pucat, tangannya gemetar memegang map "Bud, jauh-jauh dari pintu! Kalau Pak Adrian buka pintu tiba-tiba dan lo nyungsep ke dalem, gue nggak tanggung jawab ya! Cicilan gue, Bud... cicilan gue di ujung tanduk!"
"Diem lo! Gue mau denger... bentar... kok suaranya berat-berat basah gitu ya? Aduh, Gisel... jangan pingsan dulu lo di dalem!" ucap Budi
Adrian berhenti tepat di depan Gisel. Jarak mereka hanya satu langkah. Ia tidak melihat ke papan tulis, melainkan menunduk, menatap sepatu kets buluk Gisel yang talinya sedikit berantakan.
"Analisis kamu soal mitigasi Busan... itu sangat bagus. Tajam. Bahkan lebih baik dari apa yang saya harapkan dari asisten mana pun." ucap Adrian.
Gisel mencoba tetap galak meski jantungnya marathon "T-terima kasih, Pak. Kan saya sudah bilang, saya ini Macan Gudang, bukan kucing persia pajangan."
Adrian merendahkan suaranya, lebih lembut tapi sangat menuntut "Tapi ada satu hal yang tidak logis di mata saya. Kenapa jempol kaki kamu masih belum dipakaikan plester yang saya kasih tadi? Apa instruksi saya kurang jelas, Gisel?"
Gisel sontak menoleh ke arah Adrian, wajahnya memerah padam "Pak... itu cuma lecet kecil! Saya nggak sempet pake karena harus bantuin Mas Hadi narik data! Lagian malu lah dilihat orang kalau saya asyik nempel plester di tengah kantor!"
Adrian tiba-tiba berjongkok lagi di depan Gisel, membuat Gisel refleks mundur menabrak papan tulis "Duduk, Gisel. Pakai sekarang, atau saya yang akan pakaikan lagi di sini. Dan kali ini, saya tidak akan peduli kalau Budi mengintip lewat lubang kunci."
Suasana mendadak terasa begitu sesak oleh ketegangan yang manis sekaligus canggung. Adrian, sang CEO yang biasanya hanya menyentuh berkas-berkas bernilai miliaran, kini benar-benar berlutut di lantai yang sedikit berdebu.
Gisel suaranya bergetar, tangannya mencengkeram pinggiran meja Hadi sampai buku jarinya memutih "P-Pak... beneran, saya bisa sendiri. Ini kalau Mas Hadi atau Budi liat lewat celah bawah pintu, saya mau ditaruh di mana muka saya?"
Adrian tetap fokus, jemarinya yang panjang dan hangat perlahan membuka bungkus plester bening itu "Diam, Gisel. Kamu terlalu banyak bicara soal logistik Busan sampai lupa kalau tubuh kamu sendiri butuh mitigasi risiko. Anggap saja ini... perawatan aset paling berharga di perusahaan ini."
Dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menangani porselen kuno yang retak, Adrian menempelkan plester itu tepat di atas kulit jempol Gisel yang memerah. Sentuhan kulitnya yang dingin bertemu dengan kehangatan tangan Adrian membuat Gisel refleks menarik napas panjang.
Adrian mendongak sebentar, menatap mata Gisel yang membulat "Selesai. Sekarang, jangan coba-coba lepas plester ini sampai kamu pulang. Dan jangan pakai sepatu kets buluk ini besok, saya sudah pesankan sepatu flat kulit yang lebih ramah untuk kaki kamu. Sudah ada di bagasi mobil saya."
Sementara itu, di koridor luar, pemandangan tak kalah ajaib terjadi.
Budi menempelkan telinga sampai pipinya gepeng di daun pintu "Aduuuh, Hadidit! Gue nggak denger suara bentakan! Yang ada cuma suara bisik-bisik manja... Kayaknya Pak Bos lagi baca mantra pemikat jempol deh! Eh, eh... kok sepi? Apa mereka lagi... lagi tukeran nafas?!"
Hadi duduk di kursi tunggu depan lift, menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti sedang sembahyang "Ya Tuhan... kalau memang mereka berjodoh, biarlah berjodoh dengan damai. Tapi tolong, jangan sampai Pak Adrian lupa kalau laporannya belum selesai. Dan yang paling penting... lindungilah cicilan mobil hamba dari amukan asmara mereka. Amin..."
Hadi benar-benar dalam perang batin. Di satu sisi, dia ingin Gisel bahagia dan dia bebas dari tugas berat, tapi di sisi lain, dia takut jika Adrian terlalu "cair", kedisiplinan kantor akan runtuh dan dialah yang akan jadi korban pertama.
Adrian berdiri, merapikan lutut celana jasnya yang sedikit kotor. Ia baru saja hendak melangkah ke arah pintu ketika matanya tidak sengaja melirik layar laptop Gisel yang masih menyala. Di sana, ada sebuah tab peramban yang terbuka... sebuah blog pribadi dengan draf judul: "Kisah Si Kulkas yang Ternyata Punya Remote Control di Jempol Kaki."
Adrian alisnya terangkat satu, melirik Gisel dengan senyum miring yang berbahaya "Gisel... apa kamu baru saja menulis artikel tentang saya lagi?"
Gisel sontak melompat ke arah laptopnya, berusaha menutup layarnya namun Adrian telah mengambilnya terlebih dahulu "ITU... ITU CUMA ANALISIS PASAR, PAK! BUKAN BLOG! SUMPAH!"
Adrian masih berdiri di depan meja Hadi. Posisinya membelakangi Gisel, sehingga wanita itu tidak bisa melihat ekspresi wajah sang CEO. Mata Adrian menyapu baris demi baris draf blog itu: "...si Kulkas yang ternyata punya sistem pencairan otomatis kalau liat jempol lecet."
Bukannya marah, sudut bibir Adrian terangkat. Sebuah senyum tipis yang kalau dilihat Gisel mungkin akan membuatnya pingsan di tempat muncul di wajah kaku itu. Adrian merasa geli sekaligus... tersanjung?
Gisel panik luar biasa, tangannya gemetar menunjuk layar "Pak! Itu... itu cuma fiksi! Saya lagi latihan nulis novel komedi buat sampingan kalau nanti Bapak pecat saya karena pake sepatu kets!"
Adrian menutup laptop Gisel dengan suara klik yang tenang, lalu berbalik dengan wajah datar andalannya lagi "Analisis 'sistem pencairan' yang menarik, Gisel. Tapi sekarang, mari kita lihat seberapa besar rasa ingin tahu tim koordinasi Busan kita di luar."
Tanpa peringatan, Adrian memutar kunci dan menarik gagang pintu dengan sentakan cepat.
BRAKK!
"AYAM COPOT JEMPOL COPOT!" Budi, yang sedari tadi menempelkan seluruh bobot tubuhnya ke pintu, kehilangan tumpuan. Ia jatuh tersungkur ke dalam ruangan, mendarat tepat di atas karpet dengan posisi menungging yang sangat tidak estetik. Poninya berantakan, dan bedaknya sedikit luntur karena keringat dingin.
Hadi, yang melihat Budi terjungkal dan mata elang Adrian langsung mengarah padanya, mendadak kehilangan keberanian. Ia tahu tidak ada jalan keluar. Dengan gerakan yang sangat lambat dan didramatisir, ia memegangi kepalanya.
"Aduh... pusing... Busan... pelabuhannya goyang... saya... saya tidak kuat..." ucap Hadi.
Hadi perlahan merosot ke kursi tunggu, menutup matanya rapat-rapat, dan menjatuhkan kepalanya ke samping. Aktingnya luar biasa, tapi sayangnya, Adrian bukan penonton yang mudah tertipu.
Adrian berdiri di atas Hadi, menatapnya dengan tatapan yang bisa membekukan air mendidih. "Hadi. Kalau dalam tiga detik kamu tidak bangun, saya akan anggap kamu benar-benar sakit dan saya akan panggil tim medis untuk menyuntikkan vitamin dosis tinggi di lengan kananmu. Sekarang."
Hadi langsung melek. Matanya terbuka lebar, duduk tegak sempurna seolah baru saja minum lima shot espresso.
"Eh, Pak Bos! Wah, ajaib! Suara Bapak langsung menyembuhkan vertigo saya! Terima kasih, Pak!" ucap Hadi.
Adrian menyilangkan tangan di dada, suaranya sedingin es kutub "Hadi, simpan drama kamu untuk cicilan mobilmu saja. Karena kamu sudah berbohong soal Busan dan membiarkan asisten saya membantu pekerjaanmu, bonus kuartal ini akan saya 'bekukan' sementara sampai laporan mitigasi itu benar-benar valid."
Hadi lemas seketika "Yah... Voucher teguran dinginnya beneran keluar..."
Adrian beralih ke Budi yang masih berusaha bangun "Dan Budi... kalau kamu lebih suka jadi mata-mata daripada personal stylist, besok saya pindahkan kamu ke divisi keamanan untuk jaga CCTV gudang 24 jam. Bagaimana?"
Budi langsung berdiri tegak, merapikan blazer. "Aduh, Pak Bos... jangan dong! CCTV gudang kan nggak ada cahayanya, nanti kulit saya kusam! Saya janji, bibir saya digembok paku tujuh senti!"
Adrian masih berdiri mematung dengan tatapan sedingin puncak Everest, tangannya terselip di saku celana kainnya yang licin sempurna.
Bahu Jadi merosot, kepalanya tertunduk lesu seolah ada beban berat tak terlihat di pundaknya "Voucher teguran dingin... Bonus kuartal dibekukan... Ya Tuhan, itu kan buat bayar asuransi sama ganti ban belakang. Habis sudah... mobil gue bakal jalan pake pelek doang ini mah."
Budi memasang wajah memelas paling dramatis, matanya berkaca-kaca "Aduh, Pak Bos Kulkas yang paling ganteng sejagat raya... Ampuni Mami Budi. Tadi itu pintu yang narik saya, Pak! Pintunya ada magnetnya, sumpah! Saya cuma mau memastikan Gisel nggak kekurangan oksigen di dalem!"
Tiba-tiba, ponsel di saku blazer Budi bergetar hebat. Lagu “I Will Survive” yang jadi nada deringnya terdengar sangat ironis di situasi ini.
"Aduh, bentar Pak... ini dari... dari HRD?" (Mengangkat telepon dengan tangan gemetar) "Halo? Iya, saya Budi paling cetar... Apa?! Pindah ke mana?! Ke pos pantau CCTV Gudang Timur?!"
Wajah Budi yang tadinya penuh foundation mahal langsung pucat pasi, saking putihnya sudah hampir menyamai warna dinding kantor.
"Tapi Bu HRD! Di sana kan nggak ada lampu ring light! Saya harus liatin layar monitor item putih 24 jam?! Nanti mata saya minusnya nambah gimana?! Halo? Halo?!"
Klik. Telepon diputus sepihak.
Budi menatap Adrian dengan tatapan hampa "Pak... Bapak beneran tega? Di gudang itu debunya jahat buat pori-pori saya. Mana di sana banyak tikus gedenya seukuran tas clutch saya lagi!"
Adrian tanpa ekspresi, hanya memperbaiki posisi kerah kemejanya "CCTV Gudang Timur butuh orang dengan ketelitian tinggi seperti kamu, Budi. Karena kamu sangat suka mengintip lewat celah kecil, saya rasa mengawasi monitor 20 inch akan jadi bakat baru kamu."
Gisel yang berdiri di ambang pintu hanya bisa melongo. Ia merasa ini semua gara-gara dia. Gara-gara kakinya lecet, gara-gara dia bantuin Hadi ngerjain laporan Busan, dan gara-gara draf blog-nya ketahuan
"Pak... ini keterlaluan. Mas Hadi sama Mami Budi kan cuma... cuma solidaritas temen kerja. Masa Mami Budi harus dibuang ke pengasingan gudang gitu?" ucap Gisel tanpa rasa takut
Adrian berjalan melewati Gisel, tapi sempat berhenti sejenak tepat di samping telinganya
"Solidaritas itu bagus, Gisel. Tapi di perusahaan saya, pengintaian adalah pelanggaran privasi. Dan untuk kamu..." (Suaranya merendah) "...lanjutkan draf blog kamu itu. Saya ingin tahu bagian mana lagi dari diri saya yang menurut kamu mirip kulkas."
Adrian melangkah pergi menuju lift, meninggalkan wangi parfum kayu cendana yang mahal dan tiga orang yang hancur berantakan.
to be continue