NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinkronisasi di Balik Meja Kayu

Episode 24

Angin di tengah Samudra Pasifik menderu dengan kecepatan yang mampu merobek bendera baja pada menara kapal induk The Absolute. Namun, suara angin itu tenggelam oleh pekikan mekanis dari dua Linkers yang melesat keluar dari pusaran air. Tubuh mereka yang terbuat dari perak cair berkilauan, memantulkan cahaya petir yang mulai menyambar nyambar di langit yang menghitam.

Valerius berdiri di dek penerbangan, kakinya tertanam kuat di atas lantai logam.

Di belakangnya, ratusan tentara GDC menahan napas, senjata plasma mereka terarah ke langit, namun tak ada satu pun yang berani menarik pelatuk. Mereka tahu, peluru manusia tidak akan berguna melawan entitas yang mampu menjahit robekan dimensi.

"Mundur! Tetap di belakangku!" teriak Valerius, suaranya parau tertiup angin. Ia menghunus pedang cahayanya, namun di dalam hati, ia sedang berteriak memanggil nama seorang bocah.

Arthur, jika kau tidak membantuku sekarang, pahlawan nomor satu ini akan menjadi sejarah dalam hitungan detik!

Di ruang kelas dua SD Sektor Tujuh, Arthur sedang menopang dagunya dengan tangan kiri. Tangan kanannya memegang pensil kayu yang ujungnya sudah tumpul. Matanya menatap lurus ke papan tulis, namun pikirannya sedang melayang ribuan kilometer jauhnya, terhubung langsung dengan saraf optik Valerius melalui koin emas yang ia tanamkan pada zirah pria itu.

Jangan banyak mengeluh, Paman. Fokuslah pada kaki kirimu, bisik Arthur di dalam pikiran Valerius.

Arthur menggerakkan pensilnya sedikit di atas buku catatan, membuat sebuah coretan garis melingkar yang tidak berarti bagi orang lain. Namun, bagi realitas, coretan itu adalah sebuah perintah untuk memanipulasi gravitasi di sekitar Valerius.

Salah satu Linker meluncur turun dengan kecepatan yang melampaui suara, tangannya berubah menjadi bilah pedang energi yang memancarkan radiasi ungu.

Bagi mata manusia, gerakan itu hanyalah kilatan cahaya. Namun, bagi Valerius, dunia tiba-tiba terasa melambat.

"Sekarang! Ayunkan ke arah jam dua!" perintah Arthur bergema di kepala Valerius.

Valerius bergerak. Ia tidak tahu dari mana datangnya kecepatan ini, namun tubuhnya terasa seringan bulu. Ia mengayunkan pedang cahayanya secara horizontal. Tepat saat pedang itu hendak bersentuhan dengan tubuh perak si Linker, Arthur menjentikkan jarinya di bawah meja kelas.

"Konsep Ketajaman: Mutlak," bisik Arthur pelan.

Dalam sekejap, struktur molekul pada pedang cahaya Valerius berubah. Pedang itu tidak lagi memotong menggunakan panas, melainkan menggunakan getaran frekuensi yang mampu membelah atom.

SLING!

Bilah pedang cahaya itu melewati tubuh si Linker seolah olah mesin perak itu hanyalah gumpalan mentega. Linker pertama terbelah menjadi dua bagian sempurna. Cairan perak di dalamnya menyembur keluar sebelum akhirnya meledak menjadi partikel cahaya biru yang indah.

Para tentara di atas kapal bersorak histeris.

"Lihat itu! Komandan Valerius menebas teknisi Architects hanya dengan satu gerakan!"

Namun, Linker kedua tidak tinggal diam. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan "efisiensi" gerakan Valerius. Ia tidak lagi menyerang secara fisik.

Mesin itu berhenti di udara, lalu lensa merah di tengah kepalanya mulai berpendar terang. Ia sedang mengumpulkan energi untuk serangan pemusnah area, The Dimensional Eraser.

"Arthur! Dia akan meledakkan seluruh kapal!" teriak Valerius dalam batinnya.

Di kelas, Arthur menghela napas. Ia menoleh ke arah Bu Hera yang sedang menulis di papan tulis.

"Bu, aku boleh meminjam rautan pensil di meja depan?"

"Tentu, Arthur. Ambil saja," jawab Bu Hera tanpa menoleh.

Arthur bangkit dari kursinya, berjalan menuju meja depan. Saat ia melewati meja guru, tangannya secara tidak sengaja atau setidaknya begitulah kelihatannya menyentuh sebuah penggaris besi yang tergeletak di sana. Melalui sentuhan itu, Arthur menyuntikkan perintah "Penolakan Energi" menuju titik koordinat di Pasifik.

Linker kedua melepaskan tembakannya. Sebuah sinar ungu raksasa meluncur dari kepalanya, menuju tepat ke arah Valerius dan kapal induknya. Sinar itu seharusnya mampu melenyapkan seluruh materi organik dalam radius satu kilometer.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Sinar ungu itu mendadak terhenti di udara, seolah-olah menabrak dinding kaca yang tak terlihat hanya beberapa meter di depan wajah Valerius. Energi itu berputar putar, mencoba menembus, namun justru mulai "menciut" dan menghilang ke dalam kekosongan.

"Hanya itu?"

Valerius, yang kini merasa lebih berani karena dukungan Arthur, melompat ke udara. Dengan bantuan dorongan gravitasi dari Arthur, ia melesat ke arah Linker kedua dan menghujamkan pedangnya tepat ke pusat lensa merah mesin tersebut.

BOOM!

Ledakan kedua terjadi di langit Pasifik. Dua Linkers elit Architects hancur dalam waktu kurang dari dua menit. Valerius mendarat kembali di dek kapal dengan pose yang sangat heroik, satu lutut menyentuh lantai dan pedang yang masih bersinar terang.

Di layar televisi seluruh dunia, berita utama langsung berubah:

"DUA PEMBUNUH GALAKSI DIKALAHKAN! VALERIUS ADALAH DEWA PERANG KITA!"

Arthur duduk kembali di bangkunya setelah meraut pensilnya. Ia meniup sisa serutan pensil di tangannya dengan santai.

"Pensilnya sudah tajam kembali. Terima kasih, Bu," ucapnya polos.

"Sama-sama, Arthur," jawab Bu Hera sambil tersenyum. "Kau rajin sekali hari ini."

Mia menatap Arthur dengan curiga.

"Kenapa setiap kali ada ledakan di televisi, kau selalu pergi meraut pensil atau ke kamar mandi, Arthur? Kau seperti... memiliki jadwal yang sangat tepat."

"Itu hanya kebetulan, Mia. Mungkin jantungku berdetak selaras dengan jadwal penyiaran berita," jawab Arthur asal, sambil mulai menulis kembali di bukunya.

Meskipun dua Linkers sudah hancur, Arthur tahu ini belum berakhir. Piramida hitam di laut mulai berhenti bergetar, namun uap yang dikeluarkannya kini berubah warna menjadi merah pekat.

Architects di dimensi lain mulai menyadari bahwa bumi memiliki "Program Pertahanan" yang tidak bisa mereka tembus dengan unit standar. Mereka menyadari bahwa energi mereka tidak hanya diblokir, tapi juga "dimakan" oleh planet ini.

Mereka akan memicu Benih itu secara manual, pikir Arthur. Mereka tidak akan menunggu konversi selesai. Mereka akan meledakkannya sebagai bom bunuh diri untuk menghancurkan tata surya ini.

Arthur merasakan getaran hebat dari tas sekolahnya. Heart of Gaia sudah sangat panas, hampir membakar kain tasnya. Kristal itu memberitahukan bahwa dalam tiga jam, Benih Inti akan mencapai titik kritis. Jika Arthur tidak berada di lokasi untuk menutup "katup" energinya secara langsung, sandiwara Valerius tidak akan cukup untuk menyelamatkan dunia.

"Tiga jam lagi," bisik Arthur. "Itu tepat saat jam pulang sekolah."

Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit yang kini tampak tenang namun sebenarnya sedang menyimpan badai yang mampu menghapus garis waktu. Arthur harus mencari cara agar ia bisa pergi ke Pasifik tanpa membuat Clara atau sekolahnya curiga. Menjadi pahlawan rahasia di usia tujuh tahun benar-benar membutuhkan manajemen waktu yang lebih rumit daripada ujian matematika manapun.

Di kapal induk The Absolute, Valerius sedang dikerumuni oleh para perwira yang memberinya selamat. Namun, mata Valerius hanya tertuju pada satu hal: sisa-sisa debu perak di tangannya. Ia tahu kemenangan ini hanyalah ilusi. Ia hanyalah sebuah kuas, dan pelukis aslinya sedang duduk di sebuah kelas kecil, mungkin sedang memikirkan apa yang akan ia makan untuk camilan sore nanti.

"Siapkan pesawat jet tercepat," bisik Valerius kepada Silas melalui jalur pribadi. "Kita harus menjemput 'tuan' kita setelah lonceng sekolah berbunyi. Pertempuran yang sebenarnya baru akan dimulai."

Silas mengangguk di kegelapan markasnya.

"Aku sudah menyiapkan jalur penerbangan hantu. Dunia tidak akan melihat apa pun. Tapi Komandan... pastikan kau membawa susu stroberi edisi terbatas itu. Aku punya firasat dia akan sangat haus setelah ini."

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!