NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23: Tiket Sekali Jalan

...Chapter 23: Tiket Sekali Jalan...

​Apartemen di Zona Dalam ini adalah sebuah kebohongan yang dibungkus dengan kain sutra. Tempat tidurnya empuk, air kerannya mengalir, bahkan ada listrik yang cukup untuk menyalakan lampu baca. Tapi setiap kali aku menatap ke luar jendela, aku melihat menara penjaga dengan senapan mesin yang tidak hanya mengarah ke luar tembok, tapi juga ke arah pemukiman warga.

​Logikaku berkata bahwa Henderson tidak sedang membangun peradaban; dia sedang membangun penjara yang sangat nyaman untuk para pembayarnya.

​"Zidan, kamu belum tidur?" suara Kurumi terdengar dari ambang pintu balkon. Dia sudah mengganti pakaian kotornya dengan kaos bersih pemberian staf walikota.

​"Tidur adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli saat ini, Kurumi," jawabku tanpa menoleh. Pandanganku terkunci pada dermaga nomor 4 di kejauhan. Di sana, sebuah kapal pesiar mewah bernama The Aegis sedang memuat peti-peti kayu yang dijaga ketat.

​"Apa yang kamu lihat?" Kurumi mendekat, berdiri di sampingku. Aroma sabun mandi yang ringan darinya sedikit mengalihkan fokusku, tapi aku segera menekannya kembali.

​"Henderson sedang memindahkan cadangan makanan terbaik ke kapal itu. Logikanya, dia tidak berniat mempertahankan Saint Mary jika pasukan migrasi itu sampai. Dia akan membiarkan warga di sini bertempur sampai mati sementara dia berlayar ke laut lepas," kataku dingin.

​Kurumi mencengkeram besi balkon. "Lalu helikopter kita? Dia hanya mengambilnya sebagai cadangan?"

​"Lebih dari itu. Helikopter itu adalah alat evakuasi darurat jika pelabuhan terblokade. Henderson itu parasit yang efisien, Kurumi. Dia punya rencana A sampai Z. Masalahnya, rencana itu tidak melibatkan kita."

​Aku berbalik, menatap Kurumi dengan serius. "Malam ini kita bergerak. Aku butuh kamu untuk menyelinap ke gudang medis pelabuhan. Ambil semua antibiotik dan alat bedah yang bisa kamu bawa. Aku akan mengurus akses ke The Aegis."

​"Tapi penjagaannya ketat sekali, Zidan. Bagaimana kalau kita tertangkap?"

​"Di kota yang penuh birokrasi ini, kertas lebih kuat dari peluru," aku menunjukkan sebuah kartu identitas palsu yang berhasil kucuri dari ajudan Henderson saat di ruang orientasi tadi. "Aku akan menyamar sebagai staf logistik. Kamu akan masuk lewat jalur ventilasi yang terhubung dengan klinik darurat. Ingat, jangan gunakan sekopmu kecuali benar-benar terpaksa. Kita butuh kerahasiaan."

​Kurumi menarik napas panjang, lalu mengangguk. Tekad di matanya sudah jauh berbeda dibandingkan saat kami pertama kali bertemu. "Aku mengerti. Jam berapa kita mulai?"

​"Tepat saat pergantian jaga pukul dua pagi. Logika manusia: saat itulah kewaspadaan berada di titik terendah karena kelelahan biologis."

​Pukul dua pagi, Saint Mary terlihat seperti kota hantu yang diterangi lampu merkuri. Aku berjalan menyusuri area dermaga dengan seragam biru staf logistik. Topi yang kutarik rendah menutupi sebagian wajahku. Di tanganku, sebuah clipboard berisi daftar inventaris palsu menjadi tameng utamaku.

​Aku melewati pos pemeriksaan pertama. Penjaganya sedang menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.

​"Inventaris tambahan untuk The Aegis. Perintah langsung dari Kantor Walikota," kataku datar, menyodorkan kartu identitas curian itu.

​Dia melirik kartu itu sekilas, lalu melambai agar aku lewat. Terlalu mudah. Logika Henderson adalah mendidik anak buahnya untuk patuh pada otoritas tanpa bertanya. Itu adalah kelemahan yang akan kumanfaatkan.

​Aku sampai di dermaga 4. Kapal The Aegis tampak megah, namun bagiku itu hanyalah peti mati terapung jika tidak dikendalikan dengan benar. Aku menyelinap ke area kargo bawah. Di sana, aku melihat tumpukan jerigen bahan bakar pesawat—bahan bakar untuk Little Bird yang kini terparkir di dek atas kapal.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Aku segera bersembunyi di balik tumpukan kontainer.

​"Pastikan helikopternya siap terbang dalam sepuluh menit peringatan pertama," suara itu milik Henderson. Dia sedang bicara dengan seorang pilot sewaan. "Saya tidak mau terjebak dengan rakyat jelata itu saat zombi-zombi itu mulai memanjat tembok."

​"Siap, Pak Walikota. Tapi bagaimana dengan kapal ini? Apa kita tidak butuh kru tambahan?"

​"Tidak perlu. Kapal ini punya sistem autopilot yang canggih. Semakin sedikit orang, semakin lama cadangan makanan kita bertahan," jawab Henderson dengan nada yang begitu santai hingga membuatku muak.

​Logikanya sangat murni secara egois. Aku menyukainya, karena itu membuatnya mudah ditebak.

​Setelah mereka pergi, aku segera bekerja. Aku tidak menyabotase helikopter; aku membutuhkannya. Sebaliknya, aku merusak sistem pengunci pintu dek kargo dari dalam dan memasang alat pemicu kecil pada mesin utama kapal. Jika aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang bisa memilikinya. Tapi rencana utamaku adalah mengambil alih kendali saat kekacauan dimulai.

​Tiba-tiba, radio di pinggangku berbunyi pelan. Itu frekuensi khusus yang kuberikan pada Kurumi.

​"Zidan... aku sudah di gudang medis. Tapi ada masalah. Ada suara raungan di bawah dermaga. Suaranya bukan dari luar tembok... tapi dari dalam saluran air."

​Jantungku berdegup kencang. Logikaku berputar cepat. Jika suara itu berasal dari saluran air, artinya...

​"Kurumi, keluar dari sana sekarang! Jangan lewat jalur semula!" teriakku berbisik.

​Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah ledakan getaran mengguncang seluruh area pelabuhan. Tapi itu bukan ledakan bom. Itu adalah suara beton yang hancur.

​Dari lubang-lubang drainase di pinggir dermaga, ribuan Crawler mulai bermunculan. Mereka tidak menyerang tembok dari luar; mereka menyusup lewat jalur bawah tanah yang selama ini diabaikan oleh Henderson.

​"Kontak! Kontak di dermaga!" teriak para penjaga.

​Kekacauan pecah dalam sekejap. Lampu sorot berputar liar, menangkap bayangan makhluk-makhluk merah yang bergerak secepat kilat, merobek tenggorokan para prajurit yang sedang panik.

​"Zidan! Mereka ada di mana-mana!" suara Kurumi terdengar penuh ketakutan lewat radio.

​"Kurumi, lari ke arah Platform B! Aku akan menjemputmu dengan helikopter!" kataku sambil berlari menaiki tangga menuju dek atas The Aegis.

​Aku sampai di dek helikopter. Pilot sewaan Henderson sedang mencoba menghidupkan mesin Little Bird. Tanpa ragu, aku menerjangnya. Aku menghantamkan sikuku ke rahangnya, lalu melemparnya keluar dari kabin. Aku tidak punya waktu untuk sopan santun.

​Aku melompat ke kursi pilot, jemariku menari di atas tombol startup. Mesin turbin menjerit menyala.

​Di bawah sana, aku melihat Henderson berlari menuju kapal, dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Dia melihatku di dalam helikopter miliknya. Wajahnya merah padam karena marah.

​"Zidan! Berhenti! Itu asetku!" teriaknya sambil mengacungkan pistol.

​Aku tidak membalas. Aku menarik tuas collective, dan helikopter terangkat tepat saat peluru Henderson menghantam kaca samping, menciptakan retakan kecil.

​Aku mengarahkan helikopter rendah menuju gudang medis. Di sana, aku melihat Kurumi sedang berdiri di atas atap sebuah truk logistik, dikelilingi oleh belasan Crawler. Dia mengayunkan sekopnya dengan membabi buta, mencoba menahan mereka.

​"Kurumi! Lompat!" teriakku sambil memiringkan helikopter agar tangga tali menjuntai di dekatnya.

​Kurumi tidak ragu. Dengan tas medis besar di punggungnya, dia melompat dan meraih tangga tali itu tepat saat seekor Crawler menerjang tempatnya berdiri.

​Aku menarik helikopter naik dengan tajam. Kurumi berayun di bawah, namun dia bertahan dengan kuat. Aku menoleh ke arah kota. Pemandangan itu luar biasa mengerikan. Saint Mary, kota yang katanya aman, kini sedang dilalap api dan kematian dari dalam. Tembok besarnya tidak berguna sama sekali.

​Dan di tengah dermaga yang hancur, aku melihatnya lagi.

​Si Pemimpin. Dia berdiri di atas tumpukan mayat, menatap langsung ke arah helikopter kami. Dia tidak mengejar. Dia hanya mengangkat tangannya, seolah memberikan salam perpisahan.

​"Zidan... kita berhasil," bisik Kurumi lewat interkom setelah dia berhasil merangkak masuk ke dalam kabin. Tubuhnya gemetar hebat, nafasnya tersengal-sengal.

​Aku tidak menjawab. Mataku fokus pada bahan bakar yang mulai berkurang lagi. Kami baru saja mencuri tiket sekali jalan dari neraka, tapi tujuannya masih belum jelas.

​"Kita belum berhasil sampai kita menemukan tanah yang tidak dihuni oleh monster atau parasit seperti Henderson," kataku datar.

​Aku memutar helikopter menuju arah laut lepas. Di belakang kami, Saint Mary mulai runtuh. Logikaku berkata bahwa dunia lama benar-benar sudah berakhir malam ini. Dan di depan kami, hanya ada lautan yang gelap dan ketidakpastian yang membeku.

​"Zidan," Kurumi memanggil pelan, tangannya menyentuh bahuku.

​"Apa?"

​"Terima kasih sudah menjemputku. Aku tahu... logikanya tadi lebih aman kalau kamu terbang sendiri."

​Aku terdiam sejenak, menatap bayangan kami di atas air laut yang memantulkan cahaya bulan. "Investasi ini terlalu mahal untuk dibiarkan hilang di saluran air, Kurumi. Sekarang, diamlah. Aku harus fokus mencari tempat mendarat sebelum kita jatuh ke laut."

​Kurumi tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Di tengah deru mesin dan aroma kematian di kejauhan, aku menyadari bahwa meskipun logikaku selalu benar, keberadaan Kurumi adalah satu-satunya variabel yang membuat semua perjuangan ini terasa masuk akal.

Catatan Penulis:

Chapter 23 menutup kehancuran Saint Mary. Zidan dan Kurumi kini berada di udara, menuju laut lepas tanpa arah yang pasti. Dengan Si Pemimpin yang terus mengawasi, ke mana mereka akan pergi selanjutnya? Kapal kargo atau pulau terpencil? Jangan lupa Like dan Komentar kalian! Target 25 bab untuk volume 1 segera tercapai!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!