Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 9 Apa Suamiku Pergi Ke Kantor
Di sebuah restoran mewah yang suasananya cukup tenang, Bara duduk berhadapan dengan Maya. Alunan musik di ruangan itu sama sekali tidak bisa menenangkan perasaan Bara yang sebenarnya masih merasa nggak enak hati.
Maya menatap Bara dengan mata yang berkaca-kaca, seolah dia adalah wanita paling sedih di dunia. Tiba-tiba, ia bangkit dari kursinya dan pindah duduk tepat di samping Bara. Tanpa ragu, Maya menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Sayang... emang kamu nggak kangen aku?" ucap Maya pelan, suaranya terdengar manja.
Bara terdiam. Wangi parfum Maya yang sangat ia kenal langsung tercium, membangkitkan kenangan lama yang seharusnya sudah ia lupakan sejak menikah dengan Renata. Ia merasa dadanya sesak. Ada rasa bersalah pada Renata, tapi sandaran kepala Maya di bahunya seolah membuatnya lupa segalanya.
"May, jangan begini. Ini tempat umum," bisik Bara. Tapi anehnya, tangannya sama sekali nggak bergerak untuk menjauhkan kepala Maya.
"Aku nggak peduli, Bara. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku merasa kehilangan sejak kamu nikah sama dia," lanjut Maya lagi, sambil makin menyandarkan kepalanya. "Kamu beneran bisa bahagia sama dia? Buktinya kamu lebih milih datang ke sini buat aku, kan?"
Bara nggak bisa menjawab. Pertanyaan Maya benar-benar menusuk hatinya. Memang benar, dia baru saja meninggalkan istrinya di mal dengan kebohongan besar hanya demi menemui wanita di sampingnya ini.
Tepat saat itu, ponsel Bara yang ada di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala terang menampilkan nama "RENO".
Bara melirik ponsel itu dengan gugup. Ini sudah panggilan kesekian kalinya dari sepupunya itu. Ia tahu Reno nggak akan berisik begini kalau nggak ada urusan yang benar-benar gawat.
Maya pun ikut melirik ponsel Bara yang dari tadi bergetar terus di atas meja. Dengan muka kesal, dia langsung mengambil ponsel itu sebelum Bara sempat meraihnya. Tanpa rasa bersalah, Maya mematikan panggilan dari Reno dan meletakkan ponselnya terbalik di meja.
"Ish, siapa sih dari tadi berisik banget! Ganggu waktu kita berdua aja," ucap Maya manja, sambil menyandarkan kepalanya lagi di bahu Bara.
Bara cuma bisa diam, meskipun hatinya nggak tenang karena Reno terus-terusan menelepon. Tapi melihat muka sedih Maya, dia jadi nggak tega.
"Jujur ya, Bar... aku kaget banget pas kamu tiba-tiba bilang mau nikah," bisik Maya, suaranya mulai kedengaran mau nangis. "Kenapa sih kamu milih dia? Padahal dulu kamu janji bakal nikahin aku. Terus aku syok deh jadinya."
Bara mengembuskan napas panjang, matanya menatap kosong ke arah meja. Dia merasa bersalah banget sama wanita di sampingnya ini.
"Sayang, kamu tahu sendiri kan ini bukan mauku," jawab Bara akhirnya dengan suara rendah. "Papa yang maksa. Semuanya demi bisnis dan nama baik keluarga. Aku nggak punya pilihan lain waktu itu."
Maya mengangkat kepalanya, menatap mata Bara tajam. "Terus sekarang gimana? Kamu mau selamanya sama dia?"
Bara terdiam sebentar, lalu menatap Maya dengan serius. "Nggak lah sayang. Ini tuh cuma formalitas doang depan Papa. Aku juga nggak bakal tahan lama-lama sama dia. Pokoknya aku bakal cari cara biar urusan ini cepet beres."
Mendengar itu, Maya langsung tersenyum tipis. Dia merasa menang karena tahu kalau hati Bara masih buat dia, bukan buat istrinya yang sekarang lagi sendirian di mall. Kemudia menegakkan duduknya, lalu menyodorkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Bara dengan tatapan menuntut.
"Kalau gitu, janji ya? Kamu nggak akan lama-lama sama dia," ucap Maya manja. "Ayo, mana kelingking kamu. Kita buat janji sekarang."
Bara menatap jari kelingking Maya yang lentur itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa konyol melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini di tengah restoran mewah. Tapi di sisi lain, dia ingin Maya tenang dan berhenti menangis.
"Kamu kayak anak kecil aja pakai begini segala," gumam Bara, tapi tangannya mulai bergerak perlahan.
"Biarin! Pokoknya janji dulu. Kamu bakal balik ke aku secepatnya, kan?" desak Maya lagi, matanya yang berkilat penuh harapan membuat Bara makin tidak enak hati.
Akhirnya, dengan gerakan kaku, Bara menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Maya. "Iya, janji. Udah kan?"
"Sip! Awas ya kalau kamu bohong lagi," jawab Maya sambil tertawa kecil, sekarang dia sudah berani menggenggam erat tangan Bara di atas meja.
Bara cuma bisa mengiyakan dengan anggukan kecil. Di mulutnya memang dia bilang janji, tapi jauh di lubuk hatinya, dia sendiri ragu apakah janjinya itu bisa ditepati. Dia tahu urusan pernikahan dengan Renata nggak segampang itu buat diselesaikan, apalagi Papanya sangat memantau mereka. Dalam hati, Bara cuma berharap janji ini bisa jadi penenang sementara buat Maya biar drama ini cepat selesai.
Maya yang merasa sudah di atas angin, tiba-tiba menggenggam tangan Bara lebih erat. Matanya berbinar, seolah baru saja mendapat ide cemerlang.
"Sayang, mumpung kita masih ketemu, gimana kalau habis ini kita pergi ke tempat lain? Aku mau kita jalan-jalan sampai malam, biar kangennya bener-benar ilang," ajak Maya.
Bara langsung tersentak. Bayangan Renata yang sedang sendirian di mal, kemudian melirik jam tangannya dengan gelisah.
"Aduh, kalau sampai malam kayaknya aku nggak bisa. Kan kamu tahu," jawab Bara pelan, mencoba mencari kata-kata yang pas. "Nggak enak aku sama Renata, apalagi orang rumah pasti nyariin kalau aku nggak pulang bareng dia."
Mendengar penolakan itu, raut wajah Maya langsung berubah drastis. Dia melepaskan genggaman tangannya dan melipat tangan di dada dengan muka cemberut.
"Noh kan! Kamu mah selalu gitu," ketus Maya, wajahnya terlihat sangat kesal. "Baru aja kita buat janji, sekarang udah mikirin istri kamu itu. Emang omongan cowok nggak bisa di percaya."
Bara mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar terjepit di antara dua sisi. Dia tidak ingin menolak ajakan Maya, tapi dia juga tahu risikonya kalau sampai ketahuan berbohong lebih lama lagi.
"Bukan gitu sayang... ngertiin aku dong," bujuk Bara.
Tapi Maya tetap diam dan membuang muka, membuat suasana di meja itu jadi sangat canggung. Akhirnya, Bara pun hanya bisa pasrah. Dia tidak tega melihat Maya yang terus-terusan merajuk seperti itu.
"Oke, oke. Sebentar aja ya, terus pulangnya jangan malem-malem," ucap Bara menyerah.
Mereka pun akhirnya keluar dari restoran menuju mobil yang terparkir, sambil bercanda dan tertawa, seolah beban berat yang tadi menghimpit Bara menguap begitu saja terkena pesona Maya. Bara sesekali menanggapi candaan Maya dengan senyum lebar, mencoba melupakan sejenak kalau dia baru saja membohongi istrinya.
Sementara itu, di sisi lain kota yang mulai merayap macet...
Renata duduk sendirian di kursi belakang taksi online. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, membiarkan pandangannya kosong menatap deretan ruko dan baliho yang terlewati. Di pangkuannya, dua paper bag belanjaan, termasuk kemeja untuk Bara tergeletak begitu saja.
Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya terdengar suara lagu galau dengan volume pelan. Renata menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Ada rasa lega karena tadi Reno bilang Bara ada di kantor, tapi entah kenapa, hatinya tetap merasa ada yang mengganjal.
Ia teringat lagi momen pas Bara melepaskan genggaman tangannya di mal tadi. Begitu cepat, kayak orang yang lagi buru-buru mau kabur.
Kenapa ya, perasaan gue begini? batin Renata sambil terus melihat ke luar jendela.
Ia mencoba meyakinkan dirinya kalau dia cuma terlalu kepikiran. Bukankah wajar kalau seorang bos itu sibuk? Tapi bayangan wajah panik Bara saat menerima telepon tadi terus-terusan muncul di pikirannya, bikin dia nggak tenang.
Renata merogoh ponselnya dari tas, niatnya mau kirim chat ke Bara buat tanya kerjaannya sudah beres atau belum. Tapi jemarinya berhenti di atas layar. Dia takut dianggap terlalu bawel atau malah mengganggu konsentrasi suaminya yang (katanya) lagi rapat penting.
"Pak, maaf, bisa agak cepat nggak? Saya mau buru-buru pulang," ucap Renata pelan ke sopir taksi di depannya.
"Siap, Mbak. Tapi, Mbaknya harus sabar, soalnya kondisi jalanannya lagi macet," jawab sopir itu ramah.
Renata cuma mengangguk kecil dan kembali menatap ke jalanan. Dia sama sekali nggak sadar kalau taksi yang ditumpanginya baru saja melewati deretan restoran di pinggir jalm, tempat di mana suaminya mungkin lagi asyik ketawa-ketiwi sama cewek lain.
Beralih ke mereka, Bara yang memutar kemudi mobilnya mengikuti telunjuk Maya yang tampak antusias. Mereka sampai di sebuah area taman danau yang cukup populer. Suasananya ramai, banyak orang duduk-duduk di pinggir air, dan aroma jajanan dari gerobak-gerobak pinggir jalan tercium sampai ke dalam mobil.
"Nah, di situ aja sayang! Parkir di bawah pohon itu," seru Maya sambil menunjuk spot kosong.
Setelah mobil terparkir rapi, mereka pun turun. Udara sore itu terasa sedikit sejuk. Begitu mengunci pintu mobil, Bara merasakan tangan Maya langsung menyelinap masuk ke sela jarinya, menggandengnya dengan erat seolah tak mau dilepaskan.
"Rame banget ya," gumam Bara sambil melirik sekeliling, sedikit waspada kalau-kalau ada orang yang mengenalnya.
"Kan udah sore, tapi seru? Udah lama banget kita nggak jajan bareng kayak gini," jawab Maya riang.
Ia menarik lengan Bara menuju deretan penjual makanan. "Eh, lihat deh! Ada telur gulung kesukaan kamu dulu. Mau nggak?"
Bara tersenyum tipis, matanya menatap gerobak itu dengan tatapan nostalgia. "Kamu masih ingat aja. Ya udah, beli aja kalau kamu mau."
"Ingatlah! Semua tentang kamu mana mungkin aku lupa," sahut Maya cepat sambil mengerling manja.
Sambil menunggu pesanan, mereka berjalan perlahan di setapak pinggir danau. Maya sesekali tertawa lepas menceritakan hal-hal lucu, sementara Bara berusaha mengimbangi suasana meskipun hatinya sesekali mencelos tiap kali teringat Renata yang ia tinggalkan sendirian.
"Sayang... kok bengong?" tanya Maya, menyenggol pelan lengan Bara.
"Eh, nggak. Cuma lagi mikir aja, tempat ini ternyata nggak banyak yang berubah ya," bohong Bara, berusaha menutupi kegelisahannya.
"Yang berubah cuma status kamu aja, kan?" sindir Maya halus, namun tetap dengan nada bercanda. "Tapi yaudah lah, yang penting sore ini kamu temenin aku. Titik."
Bara hanya tertawa hambar, mencoba menikmati momen itu. Di depannya, danau yang tenang memantulkan cahaya matahari senja, sangat kontras dengan badai yang mungkin akan terjadi kalau saja ada yang tahu dia sedang berada di sini.
"Terus habis ini mau jajan apa lagi? Masih ada yang kamu pengen?" tanya Bara sambil menyodorkan seplastik telur gulung yang masih panas ke arah Maya.
Maya mengambil satu tusuk, lalu menggigitnya sambil tersenyum lebar. "Hmm, masih banyak! Tuh, lihat di sana ada sempol ayam sama es kopyor. Kayaknya enak deh kalau diminum pas lagi sore-sore begini."
Bara cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Maya yang mendadak jadi kayak anak kecil lagi. "Ya ampun, perut kamu muat emang makan sebanyak itu?"
"Muatlah! Kan makannya bareng kamu, jadi kalo nggak habis kamu yang ngabisin," goda Maya sambil menarik lengan Bara lagi menuju deretan gerobak berikutnya.
Sambil jalan, mereka terus bercanda. Maya nggak berhenti cerita tentang hal-hal lucu yang dia alami belakangan ini, dan Bara sesekali tertawa lepas mendengarnya. Untuk sejenak, Bara benar-benar lupa sama tumpukan berkas di kantor yang dia jadiin alasan, dan dia juga lupa kalau ada istrinya yang mungkin udah sampai di rumah.
"Sayang, mumpung kita di sini, kita foto dulu yuk? Buat kenang-kenangan kalau kita pernah ke danau ini lagi," ajak Maya sambil sudah merogoh ponselnya, siap-siap buat selfie.
Bara agak ragu sebentar. "Eh,tapi jangan diupload ke sosmed ya? Bahaya kalau sampai ada yang lihat."
"Iya, aku tahu kok. Cuma buat simpenan pribadi aja di galeri aku. Pelit banget sih," cetus Maya sambil memajukan bibirnya, pura-pura ngambek.
Bara akhirnya menyerah dan ikut berpose di samping Maya dengan latar belakang danau yang mulai berwarna kemerahan kena sinar matahari senja. Dia nggak sadar, di saat dia lagi asyik menikmati "dunia rahasianya" ini, taksi yang dinaiki Renata sudah sampai di depan pagar rumah mereka.
Taksi berhenti tepat di depan pagar rumah. Renata turun sambil menenteng beberapa kantong belanjaan yang lumayan berat. Begitu gerbang terbuka, Bi Sumi yang kebetulan lagi menyapu teras langsung buru-buru menghampiri.
"Eh, Non Renata sudah pulang? Sini Non, biar Bibi bantu bawain belanjaannya," ucap Bi Sumi ramah sambil mengambil alih bawaan dari tangan Renata.
Renata tersenyum tipis, mengusap keringat di dahinya. "Makasih ya, Bi."
Bi Sumi mengikuti langkah Renata masuk ke arah pintu utama, tapi matanya sempat melirik ke arah jalanan yang kosong. Mukanya kelihatan bingung.
"Lho, Non... kok pulangnya naik taksi online? Tuan Bara mana? Bukannya tadi perginya barengan ya?" tanya Bi Sumi heran.
Renata menjawab dengan nada santai seolah tidak ada beban, "Oh, itu Bi... Mas Bara tadi tiba-tiba ada urusan mendadak di kantor. Makanya dia langsung pergi, terus saya terpaksa pulang sendiri aja."
"Oalah, gitu ya Non. Kirain Bibi ada apa-apa di jalan," gumam Bi Sumi manggut-manggut.
Renata hanya mengangguk pelan. Ia melangkah menuju pintu utama, berniat langsung masuk ke kamar untuk mandi dan istirahat. Tapi, begitu pintu terbuka lebar, langkah Renata mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap ruang tamu. Di sana, sudah ada dua orang yang duduk tegak dengan ekspresi yang sangat serius.