Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Suasana di dalam ruang kerja pribadi Adrian Kalandra Prayudha terasa begitu menyesakkan. Cahaya matahari sore yang masuk melalui celah gorden besar menyinari debu-debu yang beterbangan, menciptakan atmosfer yang statis dan tegang. Pintu kayu jati itu baru saja tertutup rapat, mengunci Isvara dan Andra dalam sebuah konfrontasi yang hanya milik mereka berdua.
Andra berdiri memunggungi meja kerjanya, menatap Isvara dengan mata yang berkilat tajam. "Sekarang jelaskan, Isvara! Kenapa kamu harus pindah apartemen secara sembunyi-sembunyi? Kenapa kamu harus memblokir semua akses komunikasi saya seolah-olah saya ini penjahat?"
Isvara duduk di salah satu kursi kulit di hadapan meja Andra. Ia merasakan denyut jantungnya yang tidak beraturan mulai mengirimkan rasa nyeri yang tumpul ke ulu hatinya. Namun, ia tidak boleh terlihat goyah. Ia melepas kacamata hitamnya, menampakkan mata yang sebenarnya sangat lelah, namun tetap menatap Andra dengan keberanian yang sama.
"Pernikahan ini adalah kontrak, Adrian. Dan di dalam kontrak itu, tidak ada klausul yang mewajibkan saya melaporkan koordinat tidur saya setiap malam kepada Anda," suara Isvara terdengar tenang, meskipun sebenarnya ia harus mengatur napasnya agar tidak terdengar terengah-engah.
"Jangan bermain kata-kata dengan saya!" Andra melangkah maju, mencengkeram pinggiran meja kerjanya hingga buku jarinya memutih. "Kamu menghilang seminggu setelah drama pingsan itu! Kamu membuat Maya menangis karena melihatmu 'kesakitan' di lobi apartemen baru kamu! Apa sebenarnya tujuanmu? Mau membuat saya terlihat seperti monster di depan adik saya sendiri?"
Isvara mendongak, mencoba membalas tatapan mata Andra. Namun, saat cahaya lampu ruang kerja mengenai wajahnya secara langsung, Andra terhenti. Amarahnya yang meluap-luap mendadak tertahan di tenggorokan.
Di bawah cahaya terang, topeng makeup Isvara tidak bisa lagi menyembunyikan segalanya. Wajah Isvara tampak pucat pasi, hampir transparan seperti porselen yang retak. Bibirnya yang dipulas merah menyala tampak kontras dengan kulit wajahnya yang tidak sehat. Ada bayangan kehitaman di bawah matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar beristirahat.
"Isvara... wajahmu..." suara Andra mendadak melunak, sebuah nada kekhawatiran yang asing terselip di sana. "Kenapa kamu sepucat ini? Dan kenapa tanganmu gemetar?"
Isvara segera menyembunyikan tangannya di bawah lipatan jubah kerjanya. "Mungkin karena saya muak berdebat dengan Anda, Adrian. Jangan bertingkah seolah Anda peduli pada kesehatan saya. Bukankah Anda lebih peduli pada tanda tangan saya untuk membuka aliran dana vendor?"
"Saya serius!" Andra mengitari meja, mendekat ke arah Isvara. Ia merasakan aura dingin yang memancar dari tubuh istrinya. "Apa yang dikatakan Maya benar? Kamu benar-benar sakit?"
Isvara tertawa pendek, suara tawa yang kering dan menyakitkan. "Sakit? Jangan becanda dengan Saya Adrian. Tapi sekali pun saya sakit mungkin yang Saya butuhkan hanya ketenangan, Adrian. Sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan di rumah ini atau di kantor Anda. Sekarang, buka blokirnya. Saya sudah memenuhi syarat Anda untuk bicara berdua."
Andra menatap Isvara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah yang mencubit nuraninya melihat betapa rapuhnya fisik Isvara saat ini, meskipun wanita itu tetap duduk tegak dengan kepala mendongak. Ia menyadari satu hal: Isvara tidak akan pernah mengaku lemah di depannya.
"Saya akan membuka blokirnya sekarang juga," ucap Andra pelan, sembari meraih ponselnya untuk memberikan instruksi pada tim keuangan. "Tapi ada satu syarat tambahan yang harus kamu penuhi."
Isvara menghela napas panjang, ia merasa dadanya mulai terasa sesak lagi. "Apa lagi?"
"Nanti malam ada acara perjamuan bisnis di kediaman keluarga Wiratmadja. Seluruh relasi penting Prayudha Group akan hadir di sana, termasuk perwakilan dari bank yang mendanai proyek Bali," Andra berhenti sejenak, matanya menatap tajam mata Isvara. "Saya ingin kita datang berdua. Sebagai suami istri yang harmonis."
Isvara mengernyitkan dahi. Kecurigaan langsung muncul di benaknya. "Setelah semua keributan ini? Setelah kita tidak bicara seperlunya saja, dan setelah hubungan dingin ini kita bangun selama dua tahun ini, Anda ingin kita berakting menjadi pasangan bahagia? Untuk apa?"
Andra berjalan menuju jendela, menatap taman rumahnya. "Ada seseorang yang akan hadir di sana. Seseorang yang sedang memantau kestabilan internal Prayudha Group sebelum memberikan kucuran dana tahap kedua. Jika mereka melihat kita pecah, proyek Bali akan benar-benar terhenti karena masalah likuiditas. Kamu butuh dana itu untuk vendor-vendormu, bukan?"
Isvara terdiam. Ia tahu Andra sedang menjebaknya dengan kepentingan bisnisnya sendiri. Namun di sisi lain, ia penasaran. Siapa orang yang begitu berpengaruh hingga Andra pria yang paling tinggi gengsinya mau merendah dan memintanya berakting kembali?
"Siapa orang itu?" tanya Isvara sinis.
"Kamu akan tahu nanti malam," jawab Andra singkat. "Yang jelas, penampilanmu nanti malam harus sempurna. Jangan biarkan siapa pun melihat wajah pucatmu itu. Gunakan apa pun untuk menutupi kondisi 'lelah' kamu."
Isvara mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa sangat lemah secara fisik, jantungnya berdenyut nyeri seolah mengingatkannya bahwa ia butuh ranjang rumah sakit, bukan gaun pesta. Namun, reputasi Vara Atelier dan pembayaran vendor adalah harga mati baginya. Jika ia menyerah sekarang, Andra akan menang secara finansial.
"Baik," jawab Isvara singkat, suaranya hampir menyerupai bisikan karena rasa sesak yang mulai menyerang. "Saya akan datang. Tapi setelah acara itu selesai, jangan pernah ganggu privasi saya di apartemen lagi."
Andra berbalik, menatap Isvara yang kini tampak sedang berusaha mengatur napasnya. "Kesepakatan tercapai. Dana vendor akan cair dalam sepuluh menit, untuk kamu yang akan tinggal di apartemen saya tolak karena kamu harus tinggal dengan saya dirumah."
Isvara kesal karena berdebat dengan Andra adalah hal bodoh yang tidak akan mendapatkan kesepakatan. Isvara memutuskan berdiri perlahan. Ia harus bertumpu pada pinggiran kursi agar tidak limbung. Dunianya sedikit berputar, namun ia memaksakan kakinya untuk melangkah.
"Sekarang, saya mau istirahat. Saya minta izin untuk masuk ke kamar saya... kamar lama saya," ucap Isvara dengan nada yang tidak ingin dibantah. "Jangan ada yang mengganggu saya sampai waktu keberangkatan nanti malam. Saya butuh tidur."
Andra hanya terdiam melihat punggung Isvara yang menjauh. Ia melihat bagaimana tangan Isvara sempat menyentuh dinding koridor sejenak, mencari keseimbangan, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar.
Andra kembali ke kursi kerjanya, namun ia tidak bisa fokus pada dokumen di depannya. Bayangan wajah Isvara yang pucat pasi terus membayanginya. Untuk pertama kalinya, Adrian merasa ketakutan. Bukan takut proyeknya gagal, tapi takut bahwa topeng yang dipakai Isvara akan pecah sebelum ia sempat melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Isvara langsung mengunci pintu. Ia merosot di balik pintu, tangannya meremas dadanya yang terasa sangat nyeri. Ia mengambil tabung oksigen kecil dari tasnya, menghirupnya dalam-dalam dengan mata terpejam.
"Hanya beberapa jam lagi, Isvara... hanya sampai malam ini selesai," bisiknya pada diri sendiri di tengah kesunyian kamar yang dingin.
Aku sesak Isvara...