Pernikahan Arga dan hana awalnya tampak sempurna. Sepuluh tahun kebersamaan, satu ikatan suci, dan kepercayaan yang tak pernah ia ragukan. Hingga suatu hari, Arga menemukan kebenaran yang menghancurkan seluruh hidupnya—istri yang ia cintai ternyata adalah perempuan yang diam-diam menjadi kekasih dari satu-satunya darah daging yang ia miliki: abang kandungnya sendiri. Perselingkuhan itu bukan terjadi semalam. Ia tumbuh perlahan, berakar dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati. Setiap senyum yang Arga kira tulus, setiap pelukan yang ia anggap rumah, ternyata menyimpan pengkhianatan yang terencana. Di antara dosa, rasa bersalah, dan luka yang tak terucap, Arga terjebak dalam dilema: mempertahankan pernikahan yang sudah tercemar, atau melepaskan semuanya—termasuk ikatan saudara yang sejak kecil ia jaga dengan nyawa. Ketika kebenaran terungkap, tak ada lagi yang benar-benar menjadi pemenang. Karena terkadang, pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari orang asing, melainkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruang senandika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
patah hati 2
" Ternyata benar kata Rian!... Kau orang yang tidak memiliki attitude! Hana tak pantas bersama mu...!" Ucap bian. Mendengar ucapan itu tentu membuat ku marah tidak terima.
" Shut up!... Aku tak tau kenapa kau terlihat begitu tidak menyukai ku! Seperti nya kau telah di pengaruhi oleh arka...!!" Ucap ku tidak terima
"Jangan menuduh! Aku bukanlah orang yang seperti itu...!!" Ucap arka membalas ku dengan nada tinggi. Aku berdecih lalu tersenyum miring menatap nya. Ada rasa aneh ketika aku menatap nya, entah kenapa hati ku sedikit menghangat.
" Waktu mu hanya sebentar!... Hana akan segera menikah dengan ku,jadi nikmati kebersamaan mu dengan hana yang singkat ini...!" Aku bisa melihat sorot kesedihan di matanya namun dia tetap berusaha tegar di depan kami. Aku akui dia hebat.
"Aku mungkin bukanlah orang yang sebanding dengan mu dan hana... Namun aku tau cara nya mencintai dengan benar, cara membahagiakan nya, cara agar dia tidak meneteskan air mata karena ku..." Ucap arka
"Jika hana mencintai mu, dan kau juga bisa bersikap dengan baik... Aku takkan ragu menyerahkan kekasih ku... Tapi melihat perlakuan mu terhadap nya, membuat ku tau bahwa kau bukanlah orang yang pantas untuk nya..." Dia berkata panjang lebar. Bibir ku tertarik membentuk senyuman sinis.
" Lalu apakah kau pantas dengan nya...?" Tanya arga
" Not really..." Dia menjawab perkataan ku dengan senyuman. Aku hanya terdiam karena melihat nya yang begitu santai.
Tangan ku mulai terlepas dari pinggang hana. Aku termenung entah apa yang ku pikirkan. Aku melihat arka yang mendekati hana dan menarik lembut tangan tunangan ku untuk mendekat. Di sinilah terlihat perbedaan nya. Dia memperlakukan Hana dengan begitu lembut, aku bisa melihat tatapan penuh cintainya, dan senyuman hangat nya yang selalu terpancar pada tunangan ku. Berbeda dengan ku yang memang masih sedikit kekanakan. Aku mencintai hana, namun terkadang rasa cemburu membutakan ku membuat sikap kasar ku muncul kepada nya. Aku hanya perlu mengontrol emosi.
" Aku merindukan mu... Aku khawatir... Kau baik-baik saja kan..." Ucap arka . Arga melihat dia memegang wajah hana. Tubuhku seakan kaku. Entah kenapa sekarang ini tidak ada kemarahan melihat kejadian di depan. Yang ada hanya sedikit nyeri di hati karena wanita ku di sentuh. Seharusnya aku tidak membiarkan dia dekat dengan tunangan ku, seharusnya aku menjauhkan mereka. Namun kenapa sekarang terasa sulit, lidah ku benar-benar kelu. Ku pikir aku sedikit kasihan pada arka, jadi aku membiarkan nya kali ini.
" Aku baik-baik saja... Arga menjaga ku dengan baik..."ucap Hana menjawab,aku melihat mata nya sedikit melirik ke arah ku. Aku tau dia khawatir aku akan marah, melihat wajah takut nya, rasa bersalah menghampiri perasaan ku.
" Syukurlah... Aku kira kau di perlakukan buruk oleh nya..." Ucap arka terlihat menghela nafas lega, namun aku tau bahwa dia sedikit kecewa dengan ucapan Hana tadi.
"Jangan menganggap nya buruk seperti itu... Dia baik, hanya saja kemarin kemarahan menguasai nya..."ucap Hana membela Arga.
Aku tersenyum tipis. Ku lihat arka yang hanya diam dengan senyuman kecut. Dia pasti kecewa karena Hana membela ku. Namun, apa yang Hana katakan benar. Arka berhenti memegang wajah Hana. Dia mendekati ku dengan senyuman yang sulit di arti kan. Tanpa di duga, dia menepuk pelan bahu ku seakan kita teman.
" Maaf... Aku sudah menganggap mu terlalu jauh... Ku pikir perkataan hana benar, kau tidak seburuk yang ku pikirkan... Yeah, aku harap begitu..." Ucap arka kepada arga. Dia berkata dengan begitu tulus. Aku bisa merasakan itu.
" Kau berkata dengan begitu mudah dude..." Ucap arga. Aku tertawa renyah. Dengan pelan aku menepis tangannya yang masih berada di bahu ku. Aku berganti menatap tunangan ku. Hari sudah sore dan aku akan segera pulang. Lagian tidak ada yang menarik di sini, melihat orang-orang konyol ini hanya membuat emosi ku tidak stabil.
" Honey... Aku akan pulang... Sampai bertemu besok..." Ucap arka. Arga kemudian mendekati hana dan mengecup kening nya. Melirik sedikit ke arah mereka yang terdiam menyaksikan perlakuan romantis ku pada hana. Aku bisa melihat arka yang terbakar cemburu, dan bang bian yang terlihat begitu kesal. Aku tersenyum sedikit meledek. Membuka pintu mobil sport ku. Lalu menaikkan satu alis ku. Sebelum memasuki mobil aku berkata.
" Bye dude..." Ucap Arga kemudian pergi dengan mobil mewahnya
Arga pov end.
#
Hana POV.
Aku menggigit bagian dalam pipi ku. Menatap cemas mobil arga yang semakin menjauh. Kini aku terlalu bingung harus mengatakan apa pada arka. Aku tidak pernah berpikir bahwa dia bisa seberani ini datang ke mansion ku. Dan lagi semua ini pasti karena bang bian. Salah ku juga yang belum mengabari nya sadari kemarin. Dia berkata mencemaskan ku,aku tau itu. Tatapan nya benar-benar tidak berbohong.
" Kau dengan nya sehabis dari mana,mandu...?" Tanya arka pada hana. Mendadak aku gelisah namun mencoba menahan perasaan itu. Menggigit bagian dalam bibir ku guna menyalurkan rasa gelisah. Aku harus menjawab apa sekarang. Jika mengatakan kepergian ku hari ini bersama arga, itu hanya semakin menyakiti hati arka
" Mengurus baju pernikahan kami..." Ucap Hana dengan cukup keberanian, akhirnya aku menjawab sejujurnya. Aku benar-benar tidak sanggup untuk menatap nya. Dia pasti sangat sakit hati mendengar itu. Aku benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa lagi. Situasi ini benar-benar sulit.
" Sudah berapa persen persiapan nya...?" Tanya arka dengan nada kecewa dan marab. Aku tersentak segera mendongak menatap nya. Tidak seperti dugaan ku,dia malah bertanya hal yang mungkin membuat hati nya semakin sakit.
" S-sembilan puluh persen..." Jawab ku dengan nada tidak enak hati. Arka tersenyum sendu. Aku tidak kuasa melihat itu. Aku benar-benar terlihat seperti orang jahat. Menyakiti hati nya berkali-kali, apa yang bisa ku lakukan agar semua nya bisa selesai.
" Masih adakah kesempatan untuk ku...?" Ucap arka sembari menatap mata hana. Dia berkata dengan nada melemah, terdengar seperti sudah putus asa. Ku beranikan memegang tangannya. Menggenggam erat tangan itu hingga terasa begitu hangat. Ku tatap mata nya dengan senyum lembut ku. Mata nya terlihat begitu sayu. Dia terlihat lelah. Aku tau mungkin dia terlalu banyak beban pikiran setelah perjodohan ini. Aku makin merasa bersalah.
" Kita pernah saling mencintai... " Ucap Hana yang masih memegang tangan arka
" Not... Aku masih sangat mencintai mu saat ini... Jangan berkata seakan kita hanyalah kisah yang sudah selesai... Kita belum berakhir hana-ya..." Ucap arka sembari membalas genggaman tangan Hana dengan erat. Dia menyahut ucapan ku.
" kita saling mencintai, kita pernah bersama dengan begitu hangat, berbagi cerita, merasakan sedih dan senang bersama... Kita pernah berada di situasi itu..." Ucap Hana sembari menatap mata arka
" Mungkin, itu semua hanya akan menjadi kenangan indah... Kita tidak akan bersama, can not... " Jawab Hana kembali. Suara ku bergetar saat mengatakan itu.
" No...Listen to me... Aku akan memperjuangkan mu hingga kita bisa memiliki satu sama lain..." Ucap arka dengan keyakinan penuh. Hana menggeleng pelan, air mata ku menetes di saat bersamaan. Dia masih belum juga menyerah.