Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 23: Bayangan yang Tak Kunjung Padam
Tiga minggu setelah kencan pertama mereka, Aisha dan Arka semakin sering menghabiskan waktu bersama. Bukan hanya untuk Baskara, tapi juga untuk diri mereka sendiri. Mereka belajar mengenali satu sama lain lagi—kebiasaan baru, selera baru, cara berpikir yang berubah setelah badai yang mereka lewati.
Aisha menemukan bahwa Arka kini lebih terbuka. Pria itu tidak lagi menyembunyikan perasaannya di balik kerja dan diam. Ia bercerita tentang ketakutannya, tentang keraguannya, tentang bagaimana ia hampir menyerah pada hidup ketika Aisha berselingkuh. Arka juga bercerita tentang Mia, tentang rasa bersalah yang masih ia rasakan setiap kali mengingat adiknya, tentang usahanya yang tak kenal lelah untuk membantu Mia sembuh.
Arka juga menemukan sisi baru dari Aisha. Wanita yang dulu ia kenal sebagai istri yang perfeksionis dan tertutup, kini menjadi pribadi yang lebih jujur. Aisha tidak lagi takut mengakui kesalahan. Ia tidak lagi takut terlihat lemah. Ia bercerita tentang rasa kesepian yang mendorongnya ke dalam pelukan Ren, tentang penyesalan yang hampir menghancurkannya, tentang perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan.
Mereka berdua belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebahagiaan. Kadang, cinta adalah tentang keberanian untuk tetap bertahan meski hati remuk. Kadang, cinta adalah tentang memaafkan meski luka masih terasa. Kadang, cinta adalah tentang memilih untuk bersama meski masa lalu menghantui.
---
Pagi itu, Aisha sedang membersihkan taman belakang ketika ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkat dengan sedikit ragu.
“Halo, selamat pagi. Apakah ini Ibu Aisha Prameswari?”
“Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”
“Perkenalkan, saya Anita, psikolog dari Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa. Saya merawat pasien bernama Mia Dirgantara.”
Jantung Aisha berdegup lebih kencang. “Ada apa dengan Mia?”
“Tenang, Bu. Mia baik-baik saja. Tapi ia meminta saya menghubungi Ibu. Ia ingin bertemu dengan Ibu. Di rumah sakit. Hari ini, jika memungkinkan.”
Aisha terdiam. Bertemu Mia? Di rumah sakit jiwa? Ia tidak tahu apakah ia siap.
“Untuk apa Mia ingin bertemu saya?”
“Ia tidak menjelaskan secara rinci. Tapi dari nada bicaranya, ini penting. Ia mengatakan bahwa ia ingin meminta maaf secara langsung, dan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Ibu.”
Aisha menarik napas panjang. “Baik, saya akan datang. Jam berapa?”
“Mia bebas jam besuk mulai pukul dua siang. Saya tunggu kedatangan Ibu.”
---
Setelah menutup telepon, Aisha duduk di kursi taman, memandangi bunga-bunga yang mulai mekar. Pikirannya kacau. Mia ingin bertemu. Mia yang dulu hampir membunuhnya. Mia yang mengancam Baskara. Mia yang kini menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
Aisha tidak tahu apakah ia takut atau penasaran. Mungkin keduanya.
Ia memutuskan untuk menelepon Arka.
“Arka, Mia minta bertemu denganku.”
“Apa? Kapan? Di mana?”
“Hari ini, jam dua siang. Di Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa.”
“Aku ikut.”
“Tidak perlu, Arka. Ini antara aku dan Mia. Kau tidak harus ikut.”
“Aisha, kau tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Dia bisa—”
“Dia bisa apa? Dia di rumah sakit jiwa, Arka. Ada psikolog yang mendampingi. Aku aman.”
Arka diam sejenak. “Aku tidak suka ini, Aisha. Tapi jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan melarang. Tapi janji padaku, jika ada sesuatu yang tidak beres, kau segera keluar dan meneleponku.”
“Aku janji, Arka.”
---
Jam dua siang, Aisha tiba di Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa. Bangunannya putih dengan pagar besi tinggi, taman yang rapi, dan suasana yang sunyi. Ia masuk ke ruang tunggu, disambut oleh seorang perawat ramah.
“Bu Aisha? Silakan ikut saya. Psikolog sudah menunggu.”
Aisha mengikuti perawat itu menyusuri koridor panjang. Dindingnya dicat warna pastel, dipenuhi lukisan pemandangan dan kata-kata motivasi. Beberapa pasien duduk di kursi roda, ditemani perawat, menatap kosong ke luar jendela.
Aisha dibawa ke sebuah ruangan dengan sofa dan meja kecil. Seorang wanita paruh baya dengan kemeja putih dan rambut pendek berdiri menyambutnya.
“Bu Aisha, saya Anita, psikolog Mia. Terima kasih sudah datang.”
“Ada apa dengan Mia?”
“Mia mengalami kemajuan yang signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Ia sudah tidak lagi menunjukkan gejala paranoid akut. Ia juga sudah bisa mengelola emosinya dengan lebih baik. Hari ini, ia meminta untuk bertemu Ibu. Ia mengatakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, sesuatu yang menurutnya penting.”
“Apa itu?”
“Ia tidak memberitahu saya. Ia ingin menyampaikannya langsung kepada Ibu.”
Aisha mengangguk. “Baik, saya siap bertemu Mia.”
Anita mempersilakan Aisha duduk, lalu keluar ruangan. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Mia masuk, didampingi oleh seorang perawat.
Mia tampak berbeda dari terakhir Aisha lihat di supermarket. Wajahnya lebih berisi, matanya lebih jernih, rambutnya yang dulu dipotong pendek kini sedikit panjang sebahu. Ia memakai baju biasa—kaus oblong dan celana jeans—bukan baju pasien.
“Aisha,” sapa Mia pelan.
“Mia.”
Mia duduk di sofa di hadapan Aisha. Perawat itu keluar, menutup pintu. Anita duduk di kursi di sudut ruangan, mengamati.
“Aisha, terima kasih sudah mau datang. Aku tahu ini tidak mudah untukmu.”
“Apa yang ingin kau sampaikan, Mia?”
Mia menarik napas panjang. “Aku ingin meminta maaf. Bukan hanya karena hampir menyakiti Baskara, tapi juga karena telah membuatmu takut. Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi selain kata-kata ini.”
Aisha tidak menjawab. Ia hanya menatap Mia, menunggu.
“Aku juga ingin memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan mengubah cara pandangmu tentang Arka.”
Jantung Aisha berdegup kencang. “Apa maksudmu?”
“Arka tidak sebaik yang kau kira, Aisha. Dia menyembunyikan sesuatu darimu. Sesuatu yang terjadi sebelum kalian menikah.”
“Mia, jika kau mencoba menghancurkan hubunganku dengan Arka lagi—”
“Ini bukan tentang menghancurkan, Aisha. Ini tentang kebenaran. Arka memiliki anak di luar nikah.”
Aisha membeku. Dunia seolah berhenti berputar.
“Apa?”
“Arka memiliki anak perempuan dari seorang wanita di Bandung. Wanita itu bernama Sari. Mereka bertemu ketika Arka kuliah di luar negeri, saat ia cuti semester dan pulang ke Indonesia. Sari hamil, tapi Arka tidak bertanggung jawab. Ia kembali ke luar negeri, meninggalkan Sari sendirian.”
Aisha tidak percaya. “Itu tidak mungkin. Arka tidak mungkin—”
“Aku punya bukti, Aisha. Foto-foto, surat, dan saksi. Sari adalah temanku. Kami tinggal di panti asuhan yang sama sebelum aku dijual oleh keluarga angkat Arka. Sari selamat, tapi anaknya... anaknya meninggal ketika berusia dua tahun karena sakit.”
Aisha menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh.
“Sari meninggal tahun lalu. Kanker. Sebelum meninggal, ia menitipkan semua bukti ini padaku. Ia berpesan, jika aku bertemu Arka, aku harus memberitahunya bahwa ia memiliki anak yang meninggal tanpa pernah ia akui.”
“Mengapa kau tidak memberitahu Arka langsung?”
“Karena aku ingin Arka menderita. Aku ingin ia dihantui oleh rasa bersalah, sama seperti aku dihantui oleh masa laluku. Tapi sekarang, setelah menjalani terapi, aku sadar bahwa kebencian tidak menyelesaikan apa pun. Arka berhak tahu. Dan kau, sebagai mantan istrinya, juga berhak tahu.”
Aisha menunduk, tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa. Arka menyembunyikan anak dari masa lalu. Arka, yang selama ini ia kira sempurna, ternyata juga punya rahasia kelam.
“Aisha, aku tidak memintamu untuk membenci Arka. Aku hanya ingin kau tahu kebenaran. Apa yang kau lakukan dengan kebenaran itu adalah pilihanmu.”
Mia berdiri, berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
“Aisha, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku akan fokus pada penyembuhanku. Tapi jika suatu hari nanti Baskara bertanya tentang bibinya... tolong katakan bahwa bibinya sayang padanya.”
Pintu tertutup. Aisha duduk di sofa, menangis dalam diam. Anita mendekat, meletakkan tangan di pundaknya.
“Bu Aisha, Ibu baik-baik saja?”
Aisha mengangguk, meski ia tidak baik-baik saja. Dunianya baru saja runtuh lagi.
---
Aisha keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Ia duduk di mobil, memejamkan mata, mencoba mencerna semua yang baru saja ia dengar.
Arka memiliki anak. Arka meninggalkan wanita itu. Arka menyembunyikan semuanya.
Apakah ini yang dimaksud Ren dulu? Apakah ini rahasia yang ia maksud?
Aisha mengambil ponselnya, hendak menelepon Arka. Tapi jarinya berhenti di atas tombol panggil. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus bertanya apa.
Ia memilih untuk tidak menelepon. Ia akan pulang, menenangkan diri, dan memikirkan semuanya dengan kepala dingin.
---
Di rumah, Baskara belum pulang sekolah. Aisha duduk di ruang tamu, memandangi foto-foto di dinding. Foto pernikahannya dengan Arka, foto Baskara ketika bayi, foto mereka bertiga di pantai.
Apakah Arka menyembunyikan semua ini di balik senyumnya? Apakah Arka juga memiliki kegelapan yang tidak pernah ia tunjukkan?
Aisha teringat pada perselingkuhannya. Ia berselingkuh karena merasa kesepian, karena merasa Arka tidak pernah benar-benar hadir untuknya. Tapi apakah Arka juga berselingkuh? Apakah Arka juga memiliki rahasia yang sama kelamnya?
Aisha tidak tahu. Yang ia tahu, pernikahan mereka dibangun di atas kebohongan. Bukan hanya kebohongannya, tapi juga kebohongan Arka.
Ia menangis lagi. Ia menangis untuk dirinya sendiri, untuk Arka, untuk Baskara, untuk anak Arka yang meninggal tanpa pernah dikenal ayahnya.
---
Sore harinya, Arka datang. Ia sudah janji akan mengajak Baskara bermain ke taman. Aisha membuka pintu dengan wajah pucat, mata sembab.
“Aisha, ada apa? Kau sakit?”
“Arka, kita harus bicara.”
Arka mengerutkan kening. “Ada apa? Ini tentang Mia?”
Aisha mengangguk. “Aku bertemu Mia hari ini. Dia memberitahu sesuatu tentangmu. Tentang masa lalumu.”
Wajah Arka berubah. Dari bingung menjadi panik. “Apa yang dia katakan?”
“Kau memiliki anak, Arka. Seorang anak perempuan dari seorang wanita bernama Sari. Anak itu meninggal ketika berusia dua tahun, tanpa pernah kau akui.”
Arka membeku. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar.
“Aisha, aku—”
“Jangan berbohong padaku, Arka. Apa itu benar?”
Arka menunduk. Air matanya jatuh. “Benar. Semuanya benar.”
Aisha menutup matanya. Ia sudah tahu jawabannya, tapi mendengarnya langsung dari mulut Arka tetap terasa seperti ditusuk belati.
“Kenapa kau tidak pernah bilang?”
“Karena aku malu, Aisha. Aku malu karena aku pengecut. Aku meninggalkan Sari ketika dia hamil. Aku kembali ke luar negeri, menikah denganmu, membangun keluarga baru, sementara dia menderita sendirian.”
“Kau bilang kau mencintaiku, Arka. Tapi kau menyembunyikan rahasia sebesar ini selama bertahun-tahun.”
“Karena aku takut kehilanganmu, Aisha. Aku takut jika kau tahu, kau akan meninggalkanku.”
“Tapi aku tetap meninggalkanmu, Arka. Bukan karena rahasiamu, tapi karena perselingkuhanku sendiri. Kau tidak perlu takut kehilangan seseorang yang sudah tidak pantas kau pertahankan.”
Arka terisak. “Aisha, maafkan aku. Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi aku menyesal. Aku menyesal setiap hari.”
“Penyesalanmu tidak akan mengembalikan Sari. Tidak akan mengembalikan anakmu.”
Aisha berjalan ke pintu, membukanya. “Kau pergi saja, Arka. Aku tidak bisa bicara denganmu sekarang.”
“Aisha, tolong—”
“PERGI!”
Arka keluar dengan langkah berat. Aisha menutup pintu, bersandar di baliknya, dan menangis sejadi-jadinya.
---
Baskara pulang setengah jam kemudian. Ia melihat Aisha duduk di sofa dengan wajah basah, dan langsung berlari memeluknya.
“Bu, kenapa Ibu nangis? Siapa yang buat Ibu sedih?”
Aisha memeluk Baskara erat-erat. “Tidak ada, Nak. Ibu hanya... Ibu hanya lelah.”
“Aku pijat Ibu, ya. Biar Ibu segar.”
Baskara memijat bahu Aisha dengan tangan mungilnya. Aisha tersenyum, meski hatinya masih hancur.
“Terima kasih, Nak. Ibu sayang kamu.”
“Aku juga sayang Ibu, Bu. Ibu jangan sedih terus, ya. Nanti aku belikan Ibu es krim.”
Aisha tertawa kecil. “Janji?”
“Janji, Bu.”
---
Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha duduk di teras belakang. Langit malam cerah, bintang-bintang bertaburan. Tapi Aisha tidak melihat keindahan apa pun. Yang ia lihat hanyalah kegelapan.
Ponselnya berdering. Arka.
Ia tidak mengangkat. Panggilan berulang, sepuluh kali. Aisha tidak menjawab.
Pesan masuk dari Arka.
*“Aisha, aku tahu kau marah. Aku tahu kau kecewa. Tapi tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab lagi. Aku akan hadapi semua konsekuensinya. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak bisa kehilangan Baskara. Tolong, Aisha.”*
Aisha membaca pesan itu berulang kali. Air matanya jatuh, tapi ia tidak membalas.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus merasa apa.
Yang ia tahu, dunia yang ia bangun kembali setelah hancur, kini retak lagi. Dan ia tidak tahum apakah kali ini ia masih punya kekuatan untuk memperbaikinya.