Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 24
“Eh, kalian tahu gak… ternyata di kota lagi tidak baik-baik saja, loh. Tiap malam ada mayat hidup yang berkeliaran dan menyerang manusia,” cerita salah satu ibu-ibu yang sedang belanja di warung Bu Rahma.
Sekarang Bu Rahma membuka warung kecil di depan rumahnya. Dagangannya sangat lengkap, mulai dari sembako sampai kebutuhan sehari-hari lainnya.
Ia juga menjual berbagai gorengan dan kopi hangat, jadi setiap hari warungnya selalu ramai oleh warga yang datang.
“Ibu jangan ngarang cerita deh,” sahut salah satu pembeli.
“Betul, jangan bikin kita semua takut,” timpal yang lain.
“Astaghfirullah, saya gak ngarang cerita, ibu-ibu. Saudara saya yang tinggal di kota sampai diajak pulang suaminya ke kampung demi keselamatan mereka,” jelas ibu itu dengan serius.
“Betul itu. Anak saya juga memutuskan berhenti kerja di kota,” tambah ibu lainnya.
“Itu juga Pak Juki pulang ke sini sama keluarganya,” ujar tetangga Pak Juki.
Suasana warung mulai berubah. Obrolan yang tadinya santai kini dipenuhi rasa cemas.
Shila dan Aira yang sedang membantu Bu Rahma saling berpandangan. Kecurigaan mulai muncul di benak mereka.
“Shila… apa ada zombie di sini juga? Kok mereka ngomongin mayat hidup,” bisik Aira pelan.
“Mungkin saja, Ai… Tapi zombie di sini sepertinya lebih berbahaya dari yang di kota kita dulu. Yang dulu cuma menggigit, bahkan masih bisa berubah jadi manusia di waktu tertentu,” jelas Shila dengan wajah serius.
“Itu kemungkinan zombienya gagal, Shila,” jawab Aira polos, mencoba menenangkan suasana meski hatinya sendiri mulai gelisah.
Shila terdiam sejenak. Ia tahu… kali ini situasinya mungkin jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Mulai sekarang, mereka harus lebih berhati-hati.
Persediaan makanan juga harus diperbanyak, berjaga-jaga jika keadaan semakin memburuk.
Aira pun berencana mengajak ayahnya pergi ke kota besok untuk membeli bahan makanan dalam jumlah banyak.
Di tengah ramainya warung Bu Rahma…
Tak ada yang benar-benar menyadari—
bahwa ancaman itu… perlahan sudah semakin dekat ke desa mereka.
Sementara itu, Kakek Hasan dan Gibran membeli banyak bahan makanan untuk berjaga-jaga.
Setelah semuanya dirasa cukup, mereka pun langsung bersiap pulang. Wajah Gibran terlihat serius sejak tadi, seolah masih memikirkan sesuatu.
“Kek… apa yang dimaksud mereka itu zombie? Kami dulu sebelum tahu, menyebutnya mayat hidup,” tanya Gibran.
“Iya, Gibran… Tapi yang ini jauh lebih berbahaya daripada yang di kotamu tahun lalu. Orang yang menciptakan mereka sengaja membiarkan keluar malam hari saja… tapi tidak menutup kemungkinan nanti siang hari juga,” jelas Kakek Hasan.
Gibran menghela napas panjang.
“Apa sih keuntungan yang mereka dapatkan… Orang-orang tidak bersalah dijadikan bahan penelitian,” ucapnya sambil menggeleng.
“Karena mereka ingin menguasai dunia, Gibran… Dan orang yang menciptakan zombie di kotamu dulu itu masih saudara dengan yang di sini,” ungkap Kakek Hasan.
“Astaghfirullah… jadi kota kami adalah target pertama mereka… Tapi zombie di sana tidak memakan manusia, hanya menggigit saja,” ujar Gibran heran.
“Itu karena mereka belum sempurna. Orang itu tidak bisa membawa orang tuamu kembali ke laboratorium… Padahal justru orang tuamu lah yang bisa menyempurnakan penelitian itu. Kehebatan mereka setara dengan Rainal,” jelas Hasan.
“Oh… jadi namanya Rainal, Kek…”
“Iya. Dia kakaknya Teguh.”
“Pantes saja… kami masih diburu. Mereka ingin memanfaatkan kami juga,” ucap Gibran pelan, kini mulai memahami semuanya.
“Betul sekali. Karena kamu, Shila, dan Kenan… adalah bibit unggul,” kata Kakek Hasan dengan nada serius.
Gibran terdiam.
Hatinya tiba-tiba terasa berat. Ia menatap jalan di depan mereka, lalu menggenggam setir mobil lebih erat.
Kini bukan hanya soal bertahan hidup…
Tapi juga melindungi orang-orang yang ia cintai dari bahaya yang semakin nyata.
Dan tanpa mereka sadari…
Perjalanan pulang hari itu bisa saja menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
*******
April dan Airin keluar dari apartemen itu secara diam-diam. Bagaimanapun caranya, mereka harus pergi dari tempat mengerikan itu.
April memegang erat tangan sang adik.
“Adik, jangan pernah lepas tangan kakak, oke?”
“Iya, Kak April…” jawab Airin pelan.
Riska yang saat itu keluar dari unitnya untuk pergi ke supermarket terkejut melihat dua gadis dan anak perempuan itu berjalan mengendap-ngendap.
Tanpa ragu, ia langsung mengejar mereka. Ia yakin… mereka bukan zombie.
“Tunggu! Kalian mau ke mana?” tanya Riska.
“Tolong… lepasin kami, Bu. Kami gak mau jadi santapan orang tua kami sendiri,” mohon April dengan suara gemetar.
Riska terdiam sejenak, lalu berjongkok agar sejajar dengan airian..
“Kalian tenang saja… Tante bukan orang jahat. Ayo ikut Tante,” ucapnya lembut.
Riska pun mengurungkan niatnya ke supermarket dan kembali ke unitnya bersama kedua anak itu.
april sempat ragu karena ada yang selamat selain dia dan adiknya.. riska mengerti dan kasih dia pengertian. April pun akhirnya mau ikut.
“Silakan masuk… kalian aman di sini,” katanya mencoba menenangkan mereka.
“Kak… Tante itu bukan mayat hidup seperti orang tua kita kan?” tanya airin ragu.
“Bukan… Tante masih manusia. Tante pikir cuma Tante yang masih seperti ini di gedung ini,” jawab Riska.
“Aku juga pikir begitu, Tante… Oh ya, aku April, dan ini adikku Airin.”
“Tante Riska. Kalian bisa bertahan di sini gimana? Padahal orang tua kalian…”
“Karena kami belum sempat pergi, Tante. Jujur… tiap hari hidup kami terancam. Kami takut kalau orang tua kami sadar kalau kami masih di sini,” ujar April pelan.
“Lalu kalian sembunyi di mana selama ini?”
“Di kamar. Malam hari kami keluar buat cari makanan… Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini,” ucap April dengan mata berkaca-kaca.
Riska terdiam.
“Gadis ini… seumuran dengan Dewi… Seandainya dia tidak jadi korban, mungkin sekarang masih bisa hidup normal…” batin Riska.
“Tante juga ingin pergi dari sini. Hidup Tante juga gak tenang tinggal di tempat ini,” ujar Riska akhirnya.
“Tante bukan asli orang sini, ya?”
“Iya… Tante dari kota yang sudah dihancurkan karena zombie itu.”
“Pantesan… Tante kelihatan lebih kuat. Mungkin karena sudah pernah menghadapi hal seperti ini,” ucap April polos.
Riska tersenyum tipis, tapi matanya menyimpan kesedihan.
“Kuat bukan berarti gak takut, Nak… Tante juga takut. Tapi kita harus tetap bertahan.”
Mereka pun terus berbincang.
Riska mulai merasa kasihan pada kedua anak itu.
Dalam benaknya, ia teringat pada Shila…
Mungkin dulu Shila juga pernah berada di posisi seperti April berjuang bertahan hidup, menjaga adiknya yang masih kecil, di tengah dunia yang sudah hancur.
Dan kini… Riska tahu satu hal pasti.Mereka bertiga… harus segera pergi dari apartemen itu sebelum semuanya terlambat.riska juga penasaran apakah shila dan adiknya masih hidup atau sudah jadi tanah dengan kota itu.