" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Balik Bayangan
Malam merayap di pinggiran kota. Clarissa duduk di dalam mobil mewahnya, menatap jijik ke arah pria kurus dengan baju kumal yang berdiri di trotoar. Pria itu adalah Baskara, yang tampak gemetar menahan dingin dan lapar.
"Jadi, kamu mantan suaminya?" suara Clarissa tajam, memecah kesunyian.
Baskara menunduk, meremas tangannya yang kasar. "I-iya, Mbak. Saya Baskara. Ada apa ya Mbak cari saya?"
Clarissa tersenyum sinis, ia melemparkan selembar amplop tebal berisi uang ke dasbor mobilnya. "Aku tahu kamu menderita sementara Arumi bersenang-senang dengan pria kaya dan mafia. Kamu ingin hidup enak lagi? Atau setidaknya... melihat Arumi jatuh ke lumpur tempatmu berada sekarang?"
Mata Baskara yang biasanya redup mendadak berkilat melihat uang itu. "A-apa yang harus saya lakukan?"
"Sederhana. Datang ke restorannya besok saat jam makan siang paling ramai. Bawa surat cerai kalian, berteriaklah bahwa dia istri durhaka yang menelantarkan suaminya demi harta. Buat keributan sampai para investor dan hotel-hotel itu jijik padanya. Paham?"
Baskara ragu sejenak. "Tapi... Kinan ada di sana..."
"Kinan?" Clarissa tertawa mengejek. "Anak itu bahkan sudah tidak menganggapmu ayah. Lihatlah dirimu, Baskara! Kamu sampah, dan Arumi adalah berlian yang dicuri darimu. Ambil kembali harga dirimu!"
...----------------...
Keesokan Harinya: Restoran "Wangi Arumi"
Suasana sangat ramai. Adnan sedang duduk di meja utama bersama beberapa kolega bisnis dari luar kota untuk menandatangani kontrak besar. Dania dan Rendra juga ada di sana, sedang menikmati kopi sambil bercanda receh.
"Ren, kalau rendang ini difoto pakai teknik flat lay, pasti engagement Instagram-mu naik 200%," ejek Dania.
"Dania, please. Selera visualmu itu setingkat dengan poster buronan," balas Rendra santai.
Tiba-tiba, pintu restoran dibuka dengan kasar. BRAKK!
Baskara masuk dengan langkah gontai namun berteriak lantang. "ARUMI! KELUAR KAMU WANITA DURHAKA!"
Seluruh restoran mendadak senyap. Arumi keluar dari dapur dengan wajah pucat. Ia melihat sosok pria yang dulu sangat ia cintai kini berdiri seperti orang gila di tengah restorannya yang bersih.
"Mas... Mas Baskara? Sedang apa kamu?" bisik Arumi, suaranya bergetar.
"LIHAT SEMUANYA!" Baskara mengangkat selembar kertas kusam. "Wanita ini... pemilik restoran yang kalian agung-agungkan ini, adalah istri yang membuang suaminya saat susah! Dia berselingkuh dengan pria kaya agar bisa buka usaha ini! Dia mencuci otak anakku agar membenci ayahnya sendiri!"
Kinan yang sedang bermain dengan Leo di pojok ruangan mulai menangis. "Ibu... itu siapa? Kenapa dia marah-marah?"
Adnan berdiri dengan raut wajah sangat gelap. "Siapa kamu? Beraninya membuat onar di sini!"
"Aku suaminya! Kamu selingkuhannya, kan?!" tuduh Baskara telunjuknya gemetar ke arah Adnan.
Dania berdiri, matanya berkilat haus darah. "Mas Kemeja Kumal... sepertinya kamu belum pernah ngerasain mulutmu disumpal bumbu cabai level seribu ya?"
Rendra, yang biasanya santai, kini berdiri di depan Kinan untuk menutupi pandangan bocah itu. "Suasana ini... benar-benar toxic dan nggak estetik sama sekali. Keluar kamu, pria parasit!"
Arumi melangkah maju. Ia tidak menangis. Ia menatap Baskara dengan tatapan yang sangat jernih dan tajam. "Mas... aku sudah memberikanmu uang kemarin. Aku sudah membiarkanmu pergi dengan tenang. Tapi jika kamu datang ke sini untuk menghancurkan satu-satunya tempat aku dan Kinan mencari makan..."
Arumi mengambil segelas air putih, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Baskara. BYURRR!
"Sadar, Mas! Yang durhaka itu bukan aku, tapi kamu yang membiarkan istrimu hamil tua kelaparan! Kamu yang lebih memilih tidur daripada memberi makan anakmu! Keluar dari sini sebelum aku panggilkan polisi!"
Baskara tertegun, wajahnya basah kuyup. Di luar restoran, di dalam mobil yang terparkir jauh, Clarissa tersenyum puas melihat keributan itu dari kamera ponselnya.
Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai. Erick muncul dari pintu belakang bersama dua pria berbadan besar. Ia tidak bicara. Ia hanya memegang kerah baju Baskara dengan satu tangan dan menyeretnya keluar seperti menyeret karung beras.
"Lepaskan! Aku ayahnya Kinan!" teriak Baskara.
"Ayah?" Erick berbisik di telinga Baskara dengan suara yang bikin bulu kuduk berdiri. "Ayah tidak akan datang membawa kehancuran untuk anaknya. Kamu... hanyalah sampah yang salah alamat."
Erick melempar Baskara ke aspal. Di sana, Baskara melihat amplop uang dari Clarissa terjatuh dan isinya berhamburan. Semua orang melihat uang itu. Arumi menyadari sesuatu.
"Jadi... seseorang membayarmu untuk ini, Mas?" tanya Arumi dengan suara yang pecah oleh kekecewaan yang mendalam.