Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resepsi Pernikahan
Setiap detik yang dilewati oleh Nathan malam ini begitu sangat bahagia, ia sangat menikmati kebersamaanya dengan Valerie malam ini. Begitu juga dengan Vale yang hatinya sedikit lega karena Nathan mau menerima keputusannya dan memaafkan kesalahannya.
"Jadi kamu mau tinggal di Irlandia?" tanya Valerie yang duduk di pinggiran arena ice skating sambil matanya menatap ke sekitar yang terlihat sepi.
"Iya. Aku mau tinggal di sana."
"Aku senang mendengarnya, semoga kamu baik-baik di sana," ucap Vale berharap.
"Seharusnya aku yang harus bilang kaya gitu. Aku khawatir sama kamu di sini, tapi aku lihat calon suamimu sangat menyayangimu," puji Nathan dengan hati yang lapang.
Berat rasanya Nathan mengakui jika Jeevan kelihatannya sangat menyayangi Valerie, itu sangat terlihat jelas di mata Jeevan. Nathan bisa merasakan jika Jeevan adalah lelaki yang cocok untuk Valerie. Tapi rasanya Nathan belum siap untuk melepaskan Valerie, namun jika hubungan ini dipaksakan semua akan terluka dan Nathan tidak mau melihat Valerie terluka karena keegoisannya.
"Jangan berlebihan," ucap Valerie yang terlihat sedikit gugup karena pujian Nathan.
"Masa aku bohong. Aku juga lelaki," balas Nathan dan Valerie hanya terdiam sambil tersenyum simpul.
"Valerie." Nathan memanggil namanya sambil menata Valerie begitu lekat.
Valerie menoleh dan sudah mendapati Nathan menatapnya begitu sangat lekat, tatapannya sendu memendam kesedihan yang mendalam, namun hebatnya Nathan bisa menyembunyikannya. Tapi hanya Valerie yang tahu apa yang ada di dalam matanya.
"Maafkan aku kalau selama ini belum bisa membahagiakanmu. Aku minta maaf kalau kemarin telah membuatmu terluka dan trauma, aku khilaf. Dan aku minta maaf kalau aku belum bisa menjadi lelaki yang baik buatmu. Namun satu pintaku, kamu harus terus bahagia karena ini adalah alasanku melepaskan mu," ucap Nathan membuat hati Valerie tersentuh dan sedih.
Deg, hati Valerie sangat sakit, setiap kata yang terucap dari mulut Nathan membuat air mata Valerie keluar dan mulai memenuhi pelupuk matanya. Apalagi tatapan Nathan yang membuat Valerie merasa bersalah karena telah membohonginya, andai saja Vale mempunyai waktu yang lama untuk hidup pasti ia sudah menerima lamaran Nathan sejak lama.
"Mungkin butuh waktu lama bagiku buat melupakanmu, tapi aku yakin pasti bisa meskipun sebenarnya aku juga nggak begitu yakin. Tapi biarlah waktu yang akan menjawabnya, karena aku hanya ingin melihatmu bahagia meskipun bukan denganku," tambah Nathan lagi yang kini berhasil membuat Valerie meneteskan air matanya dan mulai menangis.
Nathan juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sangat terluka, hatinya hancur berantakan dan pikirannya semakin kacau jika terus berada bersama Vale. Sebisa mungkin ia harus berpikir jernih karena tidak mau melukai perempuan yang dicintainya. Melepaskan Valerie bukanlah suatu kekalahan baginya melainkan perasaan berlapang dada.
Lama kelamaan tangis Valerie pecah dan berusaha menyembunyikannya dari Nathan yang juga mulai mengeluarkan air mata di ujung pelupuk matanya. Bibir Nathan mulai gemetaran menahan tangisnya, kedua bola matanya melirik ke kiri dan ke kanan seolah sedang mencegah agar air matanya tidak jatuh menetas ke pipinya.
"Pesanku kamu harus bahagia karena itu alasanku melepaskan mu, dan kalau suatu saat dia menyakitimu aku akan merebut kamu kembali dari tangannya. Apapun akan aku lakukan," janji Nathan sambil menetaskan air mata ke pipinya.
Ya, Nathan belum kalah dan ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau sampai Jeevan membuat Valerie bersedih dan menyia-nyiakannya ia akan merebutnya kembali dari tangan Jeevan. Hampir dua jam mereka berdua berada di area ice skating sampai akhirnya Nathan hendak mengantarkan Valerie pulang.
Saat mereka berdua berjalan menuju mobil di parkiran, Nathan melihat lebih dulu Jeevan sedang duduk di atas mobilnya tidak jauh dari tempat mobil Nathan diparkir. Langkah kaki Nathan terhenti seraya melihat ke arah Jeevan yang sepertinya Jeevan sudah lama menunggu. Begitu juga dengan Valerie yang langkah kakinya ikut terhenti karena melihat Jeevan di sana, bukannya dia sudah pulang? Kenapa Jeevan ada di sini?
"Calon suamimu benar-benar protective banget ya?" Nathan memuji sambil tersenyum lebar terkesan bahagia seraya menatap ke arah Jeevan.
Sebenarnya Valerie juga tidak tahu jika Jeevan itu kenapa begitu protective, padahal mereka hanya menikah sebatas kontrak. Tapi sikap Jeevan layaknya seperti suami sungguhan yang mengatur dirinya dan ikut campur dengan masalah pribadinya, salah satunya seperti sekarang.
Sadar akan kedatangan Valerie dan Nathan membuat Jeevan yang tadinya duduk bersandar di atas mobilnya, kini berdiri dan segera berjalan menghampiri Valerie. Dengan wajah terlihat dingin dan sikapnya sinis Jeevan berdiri di hadapan Nathan seperti sedang menantangnya.
"Lagi apa kamu di sini? Bukannya tadi kamu pulang?" tanya Valerie keheranan melihat Jeevan yang tiba-tiba saja ada di sana.
"Aku jemput kamu," jawab Jeevan singkat namun kedua bola matanya menatap tajam Nathan yang ada di hadapannya.
Nathan hanya tersenyum simpul saat mendengar jawaban Jeevan, dengan kedua bola matanya membalas tatapan Jeevan. Sepertinya Jeevan salah sangka mengira jika Nathan sedang mengejeknya. Valerie sedikit ketakutan jika kejadian kemarin terulang kembali. Apalagi dendam di antara mereka berdua belum juga padam.
"Mau apa lagi lo menemui dia?" tanya Jeevan dengan nada sinis dan tatapan tajam kepada Nathan yang masih berdiri tepat di hadapannya.
"Hanya sekedar mengucapkan kata perpisahan," jawab Nathan singkat dan Jeevan hanya tertawa ringan seolah sedang meledaknya, tapi Nathan masih bersikap biasa saja.
"Lagu lama," sindir Jeevan seolah tahu jika ucapan Nathan hanya sebagai kedok untuk berusaha untuk merebut kembali hati Valerie.
"Dia bilang yang sebenarnya kok," sela Valerie memotong pembicaraan Jeevan membenarkan ucapan Nathan.
Pembelaan Valerie terhadap Nathan membuat Jeevan merasa kecewa dan kesal, kenapa Valerie masih saja membela Nathan di depannya. Apakah Vale tida tahu jika Jeevan sedang cemburu kepadanya? Jeevan mendelik sesaat kepada Valerie sebagai tanda kesal dan kecewa.
"Terserah mau percaya atau nggak, tapi satu pesan gue dan harus diingat jangan sampai lupa. Kalau sampai sekali aja lo nyakitin dia dan bikin dia nangis, gue akan rebut dia lagi dari tangan lo. Apapun caranya meskipun harus menumpahkan darah, akan gue lakukan buat ngambil Valerie lagi dari tangan lo!" Ancam Nathan secara terbuka dan terang-terangan kepada Jeevan.
Ucapan Nathan sepertinya bukan main-main, itu bukan ancaman tapi sebuah peringatan keras bagi Jeevan untuk bisa menjaga Valerie. Dan Nathan bukan menyerahkan Valerie begitu saja dengan mudahnya, tapi dia sedang menunggu di mana hari itu tiba. Jeevan masih terdiam dengan tatapannya masih begitu tajam menatap Nathan, ia harus berhati-hati dan melindungi Valerie.
"Nggak semudah itu bisa ambil dia dari gue," balas Jeevan percaya diri namun Nathan hanya membalasnya dengan tertawa ringan seolah tidak percaya dengan ucapan Jeevan.
"Who knows, yang penting gue udah kasih peringatan sama lo," kata terakhir Nathan sambil pergi meninggalkan Valerie dan Jeevan tanpa berpamitan sepatah kata.
Kedua telapak tangan Jeevan mengepal begitu kencang dan kuat, seolah sedang memendam amarahnya. Tatapannya masih tajam menatap ke sembarang arah.
"Udah berapa kali aku bilang sama kamu jangan pernah ikut campur urusanku!" Valerie mulai kesal karena kehadiran Jeevan di sana.
"Tapi ini juga urusanku karena kita akan menikah," balas Jeevan tidak mau kalah masih dengan perasaannya diselimuti rasa kesal.
"Jeevan! Udah berapa kali aku bilang, kita cuma nikah pura-pura!" Valerie mulai kesal karena.
"Terserah kamu mau mengganggap pernikahan kita ini hanya sebatas pura-pura, tapi asal kamu tahu bagiku ini adalah pernikahan yang pertama dan terakhir. Suka atau nggak kamu harus menerimanya, dan bagaimanapun caranya aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku," kata terakhir Jeevan sambil pergi meninggalkan Valerie sendirian.
Senyum manis merekah di bibir Jeevan saat berbalik pergi meninggalkan Valerie menuju mobilnya, sementara Valerie masih terdiam tak bergeming karena terkejut apa yang baru saja didengar. Apa Valerie salah mendengar dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Jeevan tadi? Mulutnya membulat sempurna dengan matanya menatap Jeevan begitu lekat yang lama kelamaan menjauh darinya.
Ucapan Jeevan terus terngiang di telinga Valerie sampai membuatnya kadang tidak fokus saat bekerja. Pagi ini Kenzie terlihat sedikit murung dan raut wajah yang tidak ceria seperti biasanya, ia lebih banyak diam tanpa tidak seperti biasanya yang sering memberikan Jeevan candaan atau gurauan. Sikap Kenzie membuat Jeevan sedikit khawatir.
"Kenapa muka lo kusut banget?" tanya Jeevan sedikit meledek saat mereka hendak pergi meeting ke sebuah hotel.
"Lo pikir gue baju," timpal Kenzie sedikit kesal sambil matanya terus menatap ke depan karena sedang menyetir.
"Nggak biasanya kaya gini, ada apa sih?" tanya Jeevan penasaran menatap Kenzie setelah tadi matanya tertuju kepada map yang dibacanya.
"Nggak ada apa-apa kok," jawabnya dengan nada terdengar malas dan kecewa.
"Jangan bohong sama gue. Apa karena cewek itu? Gimana kemarin?"
Jeevan sudah terlanjur tahu kemarin ia bertemu dengan orang tuanya Rania, tapi jika Kenzie menceritakan tentang penghinaan yang diperbuat oleh dr. Geonathan pasti Jeevan dan Sulthan akan marah besar, karena Kenzie sudah dianggap sebagai anaknya sendiri bukan anak adopsi. Mau bagaimana lagi akhirnya Kenzie menceritakan semuanya kepada Jeevan.
Benar saja reaksi Jeevan begitu marah mendengarnya dan lebih kesal lagi Kenzie tidak memberitahukan jika dirinya putra angkat dari Sulthan Malik Syailendra. Bukan Kenzie tidak mau membawa nama besar Sulthan, tapi Kenzie tahu diri siapa ia sebenarnya dan sudah berapa banyak berdiri memakai nama besar Sulthan.
HARI H PERNIKAHAN JEEVAN DAN VALERIE.
Akhirnya hari yang dinanti tiba, hari pernikahan antara Jeevan dan Valerie. Sudah hampir 15 menit Valerie berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya memakai kebaya akad berwarna putih nuansa adat Sunda. Ia tampak begitu sangat cantik dengan balutan kebaya moderen berwarna putih dengan singer khas ada Sunda di kepalanya.
Namun tatapannya sendu dan terlihat sangat sedih karena seharusnya ini adalah hari bahagia bagi seorang pengantin yang akan menikah dengan orang yang dicintainya, tapi tidak berlaku bagi Valerie yang harus menikah demi menyelamatkan hati lelaki yang dicintainya agar tidak tersakiti saat kepergiannya nanti.
Senyum getir terlihat di bibir Rania yang baru saja masuk ke ruangan pengantin mendapati Valerie sedang berdiri menghadap cermin menatap dirinya. Rania melihat ada sebuah kesedihan dan beban yang sedang ditutupi oleh sahabatnya, entah itu apa tapi Rania bisa merasakan jika sahabatnya terlihat tidak begitu bahagia dengan pernikahannya, tidak kebanyakan calon pengantin lainnya.
Langkah kaki Rania perlahan mendekati Valerie yang masih belum sadar dengan kehadirannya, dan Rania berdiri tepat di belakang Valerie yang masih menatap dirinya dari pantulan cermin. Matanya berkaca-kaca dan seperti hendak menangis, Rania melihatnya dengan jelas tapi Valerie tersadar dengan kehadiran Rania saat berada di belakangnya.
"Lo bahagia nggak sih sama pernikahan ini?" tanya Rania mulai merasa curiga dengan tatapan sendu menatap Valerie yang mencoba mengalihkan pandangannya agar Rania tidak bisa melihat kesedihannya.
"Bahagia, masa gue nggak bahagia. Gue cuma sedih aja mama sama papa gue belum juga datang," jawab Valerie berbohong demi meyakinkan Rania.
Memang benar kedua orang tua Valerie belum juga datang, seharusnya sudah berada di sini melihat putri satu-satunya menikah. Menurut kabar kedua orang tua Valerie sudah berada di bandara dan sedang dalam perjalanan menuju hotel tempat resepsi pernikahan Valerie dan Jeevan.
"Sebentar lagi mereka juga datang," ucap Rania mencoba menenangkan Valerie yang masih mencoba menahan sedihnya dan hendak menangis.
"Gue harap lo bahagia," timpal Rania lagi menatap Valerie dengan tatapan sendu.
"Omongan lo sama kaya Nathan," kata Valerie sambil tertawa kecil mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terlihat dirinya sedang sedih.
"Bagus dong, berarti gue sama Nathan pengen yang terbaik buat lo dan lihat lo bahagia," timpal Rania dan Valerie hanya tersenyum ringan.
Tidak lama seseorang mengetuk pintu memberitahukan jika acara akan segera di mulai, Rania jadi salah satu bridesmaid Valerie dan segera mendampingi Valerie menuju meja akad. Di sana suda banyak orang yang menunggu terutama tokoh utama pengantin lelaki yaitu Jeevan yang sangat bahagia hari ini.
Wajah Jeevan tampak berseri-seri dan rasa bahagianya terpancar, sangat tampan dengan setelah jas berwarna putih. Memang tidak banyak yang diundang dalam acara pernikahannya Valerie dan Jeevan, hanya kerabat dekat, relasi dari Sulthan Malik Syailendra dan juga Mirza Abyakta.
Semua mata tertuju pada Valerie yang berjalan memasuki aula tempat resepsi akad nikah, semua orang saling berbisik berbicara memuji kecantikannya. Sungguh Valerie hari ini sangat cantik dan terpancar, begitu juga dengan Jeevan yang melihat kedatangan Valerie sejak memasuki ruangan ini, ia terpesona tidak bisa berkedip.
Bukan hanya Jeevan tapi juga Kenzi yang dibuat terdiam tak bergeming, tapi Kenzie bukan terpesona dengan kecantikan Valerie tapi ia kaget tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kenzie begitu terkejut saat melihat seseorang yang dikenalnya berjalan di samping Valerie, dia adalah Rania. Kenzie tidak percaya bisa melihat Rania ada di sini dan bersama Valerie, apakah mereka berdua saling mengenal satu sama lain? Kenapa Kenzie baru tahu sekarang jika Rania ternyata sahabatnya Valerie.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪