"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Tuan," lirih Dian yang kini membuat Alex menghela nafas.
"Kakak dapat ikan banyak nanti kakak pepes dulu untuk ibu dan kamu, ini daging asap, kalau kamu mau masak, masak saja"ucap Dian yang kini memberikan sebagian daging sapi super itu.
"Terimakasih kak, tuan Alex tinggal dengan kakak"balas Afifah.
"Ya dek, besok ada kerjaan di desa ini"ucap Dian.
"Nak kamu sudah pulang?"ucap wanita paruh baya itu.
"Iya bu, ini ada sedikit oleh-oleh dari tuan Alex, tapi karena semalam takut busuk, jadi mas Dito asap, tapi ini sudah di bumbui kok, jika ibu ingin menggoreng atau dimasak lagi, tinggal tambah bumbu lainnya. Untuk ikan Dian pepes dulu atau mau di bakar"balas Dian pada ibu mertuanya itu.
"Terserah kamu saja nak, kalau saja Fandi masih ada pasti dia akan sangat senang dan langsung membantu mu bakar ikan"ujar wanita paruh baya itu sambil menerawang.
"Sudah bu, Fandi sudah tenang disana, kita bisa hadiahkan ikan nya lewat do'a"ucap Dian yang kini mengusap punggung ibu mertuanya.
"Maaf nak, ibu masih belum bisa ikhlas untuk kepergian nya. rasanya begitu sakit, putra ibu tidak pernah punya riwayat penyakit parah, seperti yang kamu tau dia selalu segar bugar, tapi kenapa dia kembali dalam keadaan kritis dan seluruh organ tubuh nya rusak hiks.... Putra ku sungguh sangat malang.... "tangis itu kembali pecah, tidak hanya ibu dari Afandi tapi juga Diandra dan Afifah.
Sementara Alex hanya terdiam tanpa kata, dia tau apa arti kehilangan. Tapi dia dan siapapun tidak bisa menentang takdir, yang harus diperjuangkan saat ini adalah keadilan bagi Afandi yang telah dipulangkan oleh perusahaan tanpa keterangan yang jelas dan juga penyebab sakit yang dialaminya, bahkan uang asuransi jiwa pun tidak ada.
Alex diam-diam menyelidiki kasus kematian Afandi yang saat ini tidak dibawa ke pengadilan karena mereka hanya tahu bahwa Afandi sakit, padahal dokter sendiri tidak tau penyebab pasti kenapa dalam waktu singkat organ tubuh Afandi bisa membusuk kecuali adanya racun, tapi tidak ada racun apapun yang terdeteksi oleh pihak rumah sakit tersebut.
Semua hanya menjadi pertanyaan besar dalam benak keluarga dan kerabat Afandi tanpa ada tindakan yang pasti. Kalaupun itu dianggap kematian yang wajar, biarlah semua tetap seperti itu yang ingin Alex perjuangkan adalah asuransi jiwa Afandi agar ibu dan adiknya tidak mengalami kesulitan keuangan, meskipun dia sendiri sudah berniat untuk menanggung biaya hidup mereka sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Alex pun akhirnya berbicara."Saya tau ini sangat sulit Bu, tapi kita tidak bisa menentang takdir, sebaiknya ibu tenangkan pikiran ibu dulu setelah itu berdoalah. Saya juga ingin bicara dengan ibu setelah ibu baikan nanti"ucap Alex yang kini membantu Dian memapah wanita paruh baya itu untuk duduk di kursi.
"Tuan Alex, apa tuan Alex tidak sibuk?"ujar Afifah yang kini menyuguhkan minum pada mereka.
"Untuk saat ini tidak, ada apa memangnya?"balas Alex.
"Saya punya sedikit masalah di sekolah, biasanya kak Fandi yang urus"ucap Afifah ragu-ragu.
"Dek, kamu buat masalah apa lagi, biar mbak yang urus, tuan Alex punya banyak pekerjaan"ucap Dian.
"Sebenarnya bukan fifah Mbak, yang buat masalah adalah teman fifah, tapi aku kebawa-bawa, dan Afifah di skorsing"ucap Afifah ragu.
"Apah?!"seru ibu Fandi.
" Nak, kamu tau kan kita baru saja kehilangan kakak mu, kenapa kamu selalu buat masalah. Kenapa kamu berteman dengan anak yang tidak baik, jika sudah begini mau jadi apa kamu nanti, ibu sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu nak"ujar wanita paruh baya itu yang kini semakin menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya.
"Maaf ibu, Afifah juga tidak ingin ini terjadi tapi semua sudah terlanjur"ucap gadis belia itu.
"Kakak akan bantu, tapi kakak mau ini masalah yang terakhir"ucap Dian yang kini bangkit dari duduknya dan pamit pulang untuk bersiap kesekolahan Afifah.
Pantas saja gadis itu belum bersiap untuk berangkat sekolah padahal sudah siang.
"Honey biar asisten ku saja, kamu sudah sangat lelah"ucap Alex.
" Tidak tuan, saya harus tahu apa masalahnya. Karena yang saya tau Afifah cukup nakal selama ini"ucap Dian sambil berjalan menuju keluar rumah.
"Baiklah kita berdua yang akan pergi.
"Hm... lirih Dian yang justru malah berjalan kaki melewati mobil Alex.
"Honey, kemari kenapa malah jalan "ucap Alex yang kini membuka pintu mobil.
"Anda saja, lagian sudah dekat"ucap Dian yang akhirnya tidak menghiraukan permintaan Alex.
"Awas saja kamu honey"ucap Alex.
"Masih disini rupanya tuan"ucap Dito yang kini membunyikan klakson mobil pick up tersebut.
Rombongan teman-teman Dian baru tiba dengan mobil Dian yang kini mendahului mobil Alex dan memasuki halaman rumah Dian yang kini sudah terparkir mobil mewah milik Alex yang dulu pernah dia bawa.
"Wow, mobil ini sungguh keren, seperti yang ada di TV"ujar Gesya.
"Hm... berdoalah semoga kita bisa punya mobil seperti ini, setidaknya yang sedikit mirip, karena yang ini limited edition"ucap Dito.
"Amin,"balas Dian.
"Honey,"ujar Alex yang kini juga memarkirkan mobil BMW di belakang si Optimus.
"Ya tuan, ada apa?"ujar Dian yang kini bersama dengan teman-teman nya menurunkan barang-barang milik mereka masing-masing untuk kemudian bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing karena tidak terlalu berjauhan, mereka pun memutuskan untuk berjalan kaki seperti biasanya dari rumah Dian.
Sementara Dian memasukkan si Optimus kedalam garasi mobil, Alex kini sibuk memperhatikan gerak-gerik wanita yang sangat ia cintai bukannya menurunkan barang-barang pribadinya dari mobil.
"Tuan apa anda tidak punya pekerjaan lain selain berdiri memandangi saya?" ucap Dian yang kini meraih barang-barang pribadinya tapi tidak sampai dibawanya karena Alex mengambil alih semua itu dan mengangkutnya kedalam rumah yang pintunya telah dibuka oleh Dian.
"Honey ini diletakkan dimana?" ujar Alex.
"Taruh saja di belakang, semua harus dicuci"jawab Dian yang kini mengeluarkan barang-barang Alex dari dalam mobil, berikut barang belanjaan selain daging ayam dan sapi juga ikan salmon yang sudah diasap, semua sudah ada di meja yang ada di dapur.
"Honey, seperti harus di pilih yang mana yang masih layak untuk dimakan"ujar Alex yang kini menatap kearah tumpukan barang belanjaannya yang kini berserakan diatas meja.
"Tuan tidak perlu repot-repot memikirkan itu, serahkan saja pada saya, sekarang bersiap untuk pergi ke sekolah Afifah" ujar Dian yang kini membereskan belanjaan tersebut.
"Honey apa boleh aku minta air hangat untuk mandi," ujar Alex.
"Baiklah"ujar Dian yang kini meraih teko berukuran jumbo dari tempat penyimpanan dan langsung mengisinya dengan air dari keran wastafel.
Dian memasak air sambil beres-beres sampai semuanya beres, barulah ia air itu matang.
"Airnya sudah siap,"ucap Dian yang kini hendak membawa teko berisi air panas itu, saat melihat Alex sedang fokus pada handphone nya.
"Honey, biar aku saja"ujar Alex yang kini meletakkan ponselnya di atas meja makan tersebut.
Dian hanya mengangguk, kemudian ia lanjut pergi ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum memasak.
"Honey tolong siapkan bajuku"ujar Alex.
"Ya," lirih Dian yang langsung berbalik dan memasuki kamar Alex yang biasa ia gunakan selama tinggal di rumah Dian.
Mereka pun sibuk dengan kegiatan masing-masing, Alex mandi dengan air hangat nya. Sementara Dian membereskan barang-barang Alex kedalam lemari kayu jati yang ada di dalam kamar tersebut dengan cepat.
Setelah satu setel pakaian formal itu siap barulah Dian pergi dari dalam kamar Alex, dan ia pun langsung bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke sekolah Afifah.
Dian yang kini keluar dengan menggunakan pakaian tertutup dan juga kerudung yang kini membuat Dian terlihat semakin cantik dan sudah seperti wanita muslimah sejati pun langsung berjalan keluar kamar.
Dilihatnya Alex sudah menunggu di sofa, dan kini dia tampak begitu keren dan gagah, dengan setelan jas yang Dian pilihkan.
"Sudah siap," lirih Dian yang kini membuyarkan lamunan Alex saat melihat penampilan Dian.
"Tentunya, honey you are beautiful"ucap Alex yang kini melihat betapa cantiknya Dian saat gadis cantik itu bersolek meskipun Alex lebih suka kecantikan Dian yang alami tanpa makeup, tapi saat ini entah kenapa kekaguman itu semakin berlipat ganda, ada kehangatan dalam diri Alex dan semakin menguatkan keyakinan nya saat ini.
Ya, Alex diam-diam telah berpindah keyakinan, semua berkat rasa cinta yang begitu besar pada Dian. Jujur itu sulit untuk Alex yang sudah memeluk keyakinan nya sejak kecil. Tapi pembelajaran hidup yang dia peroleh di kampung halaman Dian sejak dulu membuat dia semakin yakin bahwa keyakinan yang dipeluk oleh Dian adalah yang terbaik untuk dirinya.
Alex pun menyodorkan lengannya pada Dian, seperti kebiasaannya di kota saat akan bepergian ke pesta, tapi Dian yang kini menolak menyadarkan Alex bahwa semua itu tidak berlaku di kampung itu, kecuali untuk pasangan yang sudah menikah.
Lagi-lagi Alex dibuat kagum dengan sikap calon tunangannya itu."Honey apa dia tidak akan ikut dengan kita?"ujar Alex bertanya pada Dian yang kini sudah sampai di samping mobil Dian.
"Tidak perlu, jika dia ikut maka peraturan nya beda lagi"ujar Dian yang kini dihentikan oleh Alex.
"Honey gunakan mobil itu"ujar Alex yang kini menunjukkan kunci mobil tersebut pada Dian.
"Hm... baiklah,"lirih Dian yang akhirnya tidak jadi menggunakan mobil peninggalan ayahnya itu.
"Tuan, saat tiba di sekolah tolong jangan panggil saya dengan panggilan anda, saya adalah perwakilan keluarga suami saya. Dan jangan buat orang lain bingung"ujar Afandi.
"Baiklah honey aku mengerti"ujar Alex sambil menghidupkan mesin mobil nya.
Tidak lama setelah memanaskan mesin mobil tersebut, Alex pun tancap gas, perjalanan hanya beberapa menit ditempuh dengan mobil yang kini mereka tumpangi.
Alex memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah, dia langsung keluar dari dalam mobil dan mengitari mobil tersebut untuk membuka pintu agar Dian bisa keluar dan berjalan berdampingan dengan dirinya.
"Tuan saya bisa sendiri anda tidak perlu repot-repot melakukan hal ini, anda bukan sopir saya"ujar Dian.
"Saya pun tau itu honey, tapi itu adalah adab pria yang sangat menghargai pasangan nya. lagipula aku calon suami mu, jadi apa aku salah jika aku melakukan ini"ujar Alex yang kini berjalan sedikit lebih cepat dari Dian yang kini masih menatap lekat kearah Alex sambil berjalan pelan.
"Kak Diandra!"panggil seorang gadis belia seusia Afifah yang tidak lain adalah adik dari Reno.
"Renata," lirih Dian yang kini dipeluk erat oleh Dian.
"Aku rindu kakak, tapi ibu selalu bilang bahwa aku tidak boleh main ke tempat kakak"ujar gadis cantik yang dulu sering Dian asuh saat masih bersama dengan Reno.
"Rena, pindah sekolah sejak kapan. Bukankah kamu sekolah di luar kota dan tinggal disana?"ujar Dian.
"Sudah hampir satu tahun, sejak kak Reno bercerai dengan istrinya"ujarnya jujur.
Sontak Dian terdiam karena jujur dia baru tau akan hal itu."Kak Diandra, boleh aku nginap di rumah kakak nanti malam, aku rindu kakak"ujar Renata.
"Rena, sayang, jangan ambil resiko. Kalau ketahuan keluarga mu, mereka pasti akan sangat marah."ujar Dian.
"Tidak akan karena Rena akan bilang menginap di rumah teman"ucap Renata yang tidak mau kalah.
"Ah baiklah, terserah kamu saja tapi resiko tanggung sendiri. Oh iya kakak mau ke ruang kepala sekolah, bisa antar kakak?"ujar Dian.
"Kakak ada urusan apa, oh iya baru sadar, Om tampan ini siapa?"tanya Renata yang kini tersenyum sambil menatap kearah Alex.
"Hus, jaga pandangan mu.... Jangan genit dia guru BP yang baru"ujar Dian dengan sengaja.
"Wah, aku tambah semangat kalau beliau yang ngajar di kelas ku! "seru gadis cantik yang kini menarik Dian dengan langkah cepat dan hendak pamer, tapi Dian langsung membungkam mulut gadis cantik itu dengan tangan nya.
"Jangan beritahu mereka, cukup kamu yang tau lebih dulu tahu, gurunya galak"ujar Dian yang kini melirik kearah Alex yang tengah geleng-geleng kepala.
Pria tampan itu tidak habis pikir ternyata calon istrinya bisa kelewatan jika sudah bertemu dengan sesamanya.
"Okay, ah pak guru tampan... Ngajarnya di kelas aku saja ya please?"ujar gadis cantik itu sambil memperlihatkan pupil eyes nya.
Sementara Alex justru langsung merangkul pinggang Dian untuk memperlihatkan bahwa ia sudah memiliki pasangan.
"Tuan lepas,"lirih Dian lirih sambil menatap tajam kearah Alex.
"Satu sama honey," lirih Alex.
"Kak Dian?"ujar gadis cantik itu yang kini menatap kearah keduanya secara bergantian.
"Jangan salah faham pak guru suka kelewatan kalau bercanda"ujar Dian pada Renata.
"Baiklah kalau begitu honey, bersiaplah untuk mendapatkan pelajaran pertama mu nanti malam"ujar Alex berbisik di samping telinga Dian dan itu membuat langkah Dian terhenti saat itu juga.
"Tuan,