Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Mata mereka bertemu, dan selama beberapa saat terjadi adu pandang yang mengaduk perasaan di antara keduanya.
Deg! Deg! Deg!
Adira segera mengalihkan pandangan, kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Wanita itu tampak sangat piawai menyembunyikan gejolak perasaan yang hampir meledak; wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah-olah tidak terjadi apa pun. Namun ekspresinya itu, hanya cara untuknya menutupi perasaan.
Seandainya ada yang bisa melihat isi hatinya, mereka pasti akan tahu betapa gugup dan canggungnya dia berada dalam posisi sedekat itu.
Sama halnya dengan Zo. Jakun pria itu tampak bergerak naik-turun saat ia menelan saliva; gerakan di lehernya terlihat jelas. Dia ternyata juga sedang berusaha sekuat tenaga menahan gejolak aneh yang mulai muncul di dadanya.
Adira berusaha menepis rasa canggung dan tetap bersikap profesional terhadap apa yang tengah ia kerjakan. Dalam hati ia terus berbisik, Ingat, Adira, kau tidak boleh berpikiran macam-macam. Kau itu istri orang, meskipun hanya istri di atas kertas, tegasnya dalam hati.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan hingga akhirnya peluru itu berhasil dikeluarkan.
"Akhirnya berhasil juga," ujarnya dengan senyum tipis yang tulus, tanpa menyadari bahwa sejak tadi Zo terus menatapnya tanpa henti.
"Saya akan membersihkan luka, Anda," lanjutnya tenang. Wanita itu kembali mengambil peralatan medis untuk membersihkan luka, lalu mulai membalutnya dengan cekatan. Adira bersikap sangat profesional, seolah mengabaikan tatapan Zo yang sedari tadi terus mengarah padanya tanpa berkedip sedikit pun.
"Selesai," ucap Adira seraya mulai mengemasi peralatan medis yang digunakannya untuk mengobati luka tembak di bahu Zo.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Jam berapa sekarang?" tanya Adira cemas. Ia menoleh ke arah dinding, berusaha mencari jam, namun tidak menemukannya.
Tanpa berpikir panjang, ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Zo. Secara refleks, Adira langsung memegang tangan pria itu untuk melihat waktu yang terpampang di sana. "Sudah jam setengah dua dini hari!"
Zo semakin menatap dalam Adira yang menyentuhnya sesuka hati. Apakah Adira tidak berpikir bahwa dia adalah pria dewasa yang normal? Sentuhan fisik seperti itu sangat berbahaya, apalagi saat ini mereka hanya berdua berada di dalam kamar yang sama. Pikir Zo.
Namun, satu hal yang tidak diketahui oleh orang-orang adalah meskipun Adira sudah berusia 24 tahun, sebenarnya dia masih sangat polos, sama seperti 16 tahun yang lalu. Hanya usianya yang meningkat, tapi pikirannya masih suci dan polos.
Raut panik seketika menghiasi wajahnya. "Tuan Arlan pasti akan mencariku!" ujarnya sembari berdiri terburu-buru.
Namun, dengan cepat Zo menahan lengannya. "Tidur saja di sini. Besok pagi baru pulang," ucapnya datar.
Adira tersentak dan langsung menarik tangannya kembali. "Tidak bisa! Tuan Arlan pasti akan mencariku dan dia pasti akan sangat marah."
"Kau ingin pulang berjalan kaki?" tanya Zo dingin.
Adira terdiam seribu bahasa. Benar juga, mana mungkin ia tega merepotkan Wira untuk menjemputnya pada pukul satu dini hari seperti ini? Di sisi lain, ia terjebak di rumah minimalis ini bersama pria yang baru saja ia obati, sementara suaminya mungkin sedang menunggu dengan penuh amarah di rumah.
"Saya jalan kaki saja. Saya takut dia akan marah," tegas Adira. karena rasa cemas yang menghantui pikirannya.
"Jangan merepotkan ku. Dia tidak akan marah. Nanti aku yang beri tahu kalau kau bersamaku," sahut Zo tenang.
Adira mengerutkan alisnya terlihat tidak senang dengan ucapan Zo, "Anda tidak ada di posisi saya, dan Anda tidak tahu apa-apa! Kalau dia marah, marahnya ke saya, bukan ke, Anda!" balas Adira dengan nada tinggi. Ketakutan pada amarah Arlan membuatnya kehilangan kendali.
Zo menatapnya dingin, sorot matanya tajam menusuk. "Kau memang wanita yang tidak tahu terima kasih," ujar Zo, seolah mengingatkan Adira bahwa seharusnya dengan keadaannya sekarang jangan merepotkannya lagi.
Mendengar sindiran telak itu, Adira seketika terbungkam. Ia sadar telah bersikap terlalu kasar pada Zo yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuknya. Namun, sebelum ia sempat membela diri, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari perutnya.
Kruyuuuk...
Adira sontak menunduk, wajahnya merah padam karena malu. Bagaimana tidak? Seharian ini ia diculik, disekap, dan tidak diberi makan sama sekali. Jelas saja perutnya tidak bisa diajak kompromi di tengah ketegangan ini.
"Kau ke dapur sekarang. Cari apa saja yang bisa dimasak di sana," perintah Zo. Pria itu kemudian berdiri dan hendak membuka celananya tanpa ragu.
Sontak Adira memalingkan wajah dengan panik. "Apa yang sedang ingin Anda lakukan?!"
"Aku mau mandi," jawab Zo datar.
"Bukannya luka di bahu Anda baru saja dibalut? Anda tidak boleh mandi!"
"Hanya mandi setengah badan," balas pria itu singkat, lalu tetap melanjutkan niatnya membuka celana.
Dasar laki-laki gila! bisa-bisanya dia membuka celana di hadapanku! maki Adira dalam hati. Ia segera menghambur keluar dari kamar menuju dapur.
Gadis bodoh. Batin Zo masuk ke dalam kamar mandi.
Di dapur, Adira mencari bahan apa pun di kulkas yang bisa diolah untuk mengganjal perutnya. Akhirnya, ia menemukan beberapa bahan sederhana untuknya dan Zo. Ia pun mulai memasak "makan malam" yang lebih tepat disebut makan subuh, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi.
Setelah selesai, Adira menata makanan itu dengan rapi di atas meja. Ia kembali menuju kamar untuk memanggil Zo. Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan rambut yang masih basah dan berantakan—sangat berbeda dengan penampilannya yang selalu klimis dan rapi saat di kantor.
Sesaat, Adira tertegun. Ia terpesona melihat ketampanan Zo yang terasa berkali-kali lipat lebih luar biasa dalam kondisi santai seperti itu. Menyadari pikirannya mulai melantur, Adira segera memalingkan wajah.
"Silakan duduk. Makanlah, saya hanya memasak bahan seadanya," ucap Adira cepat, menghindari kontak mata karena takut terpesona untuk kedua kalinya. Itu akan sangat memalukan, apalagi dia berstatus istri orang, dan pria di hadapannya adalah sepupu suaminya sendiri. Benar-benar memalukan! batinnya merutuk.
Mereka pun mulai menyantap makanan dalam keheningan. Zo yang memang tipe pria irit bicara hanya fokus pada makanannya.
Tepat pada suapan ketiga Adira, tiba-tiba Zo melontarkan pertanyaan yang membuat Adira tersedak.
"Prosedur kehamilan yang kau jalani... gagal?"
"Uhuk! Uhuk!"
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang