Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja Neraka Juga Bisa Demam
Pukul 07.00 pagi.
Florence turun ke ruang makan sendirian. Langkahnya masih pelan, raganya masih ringkih, namun hari ini ia hendak mencoba makan di meja. Bukan di kamar. Bukan dari nampan. Di meja. Seperti manusia.
Meja panjang itu kosong. Kursi di ujung sana, takhta Lucifer, juga kosong. Tak ada piring. Tak ada gelas. Tak ada suara.
Janggal. Dua pekan terakhir, meski Lucifer tak pernah makan bersamanya, lelaki itu selalu hadir. Duduk di ujung, diam, menatap cangkir kopi yang tak disentuh. Mengawasi. Menjaga jarak, namun ada.
Hari ini tiada. Hanya dia, bunyi sendok, dan sunyi.
Reginald datang membawa sup dan roti. Wajahnya tegang. Geraknya terburu. Setelah meletakkan hidangan, ia membungkuk lalu pergi lagi. Tiada “Selamat pagi, Nona” seperti biasa.
Florence mengernyit. Dari jauh, ia dengar derap cepat di lorong. Bisik pelayan. Suara Marco memberi titah dengan nada cemas. “Cepat! Dokternya sudah di jalan? Pastikan tak ada yang bocor ke luar!”
Florence berhenti mengunyah. Ada apa?
Ia menoleh ke pengawal di pintu. Lelaki itu menunduk, menghindar tatap. Namun Florence lihat peluh di pelipisnya. Gugup.
Florence tak bertanya. Ia sudah belajar. Di rumah ini, tanya hanya mengundang petaka. Ia lanjut menyuap. Satu sendok. Dua sendok. Namun rasa hambar. Sunyi ini… bukan damai. Ini sunyi sebelum badai. Atau setelah bencana.
---
Di sayap barat. Ruang kerja Lucifer.
Kiamat kecil sedang terjadi.
Lucifer terbaring di sofa kulitnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah, keringat dingin membasahi kemeja hitamnya yang kusut. Termometer di meja menunjuk 39,8°C. Panas tinggi.
Dan Lucifer Azrael, lelaki yang pernah diberondong tiga kali lalu tetap rapat, kini berperilaku seperti menanti ajal.
“Marco,” suaranya serak, parau, dramatis. “Panggil notaris. Sekarang.”
Marco yang berdiri di samping sofa dengan wajah panik menahan napas. “Tuan? Notaris? Untuk apa?”
“Surat wasiat,” jawab Lucifer. Ia memejamkan mata, tangan menutupi dahi. “Ganti kompres ini. Panas sekali. Aku rasa… aku takkan lewat malam ini.”
Dr. Anya, yang baru selesai memeriksa, menghela napas panjang. “Tuan Azrael, ini hanya demam. Infeksi ringan sebab kelelahan. Dengan infus dan antibiotik, esok pagi juga reda—”
“Diam!” bentak Lucifer, meski suaranya lemah. “Kau dokter, bukan Tuhan. Kau tak tahu rasanya. Dadaku… sesak. Seperti ditindih batu. Ini… ini pasti karma. Sebab aku… sebab aku menyakitinya.”
Ia menunjuk ke arah pintu, seolah Florence ada di sana. “Aku harus pastikan… pastikan dia selamat jika aku mati. Semua aset. Mansion. Rekening di Swiss. Pindahkan atas namanya. Buat klausul… klausul bahwa tak satu pun dari keluarga Azrael boleh dekati dia. Suruh Vulture yang jadi wali. Tidak. Vulture terlalu kejam. Reginald saja.”
Marco dan Dr. Anya berpandangan. Ini di luar naskah. Tuan mereka, sang Iblis, demam 39 derajat dan langsung menyusun skenario kematian tragis lengkap dengan warisan dan sesal sinetron.
“Tuan, Anda hanya perlu istirahat dan minum obat—”
“OBAT TAK BISA MENEBUS DOSA!” Lucifer mencoba duduk, namun kepalanya pening dan ia jatuh lagi ke sofa. Dramatis. “Ambilkan kertas. Aku mau tulis surat. Untuk Florence.”
Marco panik. Ia sungguh menyodorkan kertas dan pena. Lucifer, dengan jemari gemetar—separuh sebab demam, separuh sebab akting—mulai menulis.
Florence,
Kalau kau baca ini, berarti aku sudah mati. Jangan sedih. Ini salahku sendiri. Ragaku menolak hidup tanpa ampunanmu. Aku jahat. Aku tahu. Semua hartaku jadi milikmu. Jual saja mansion ini. Beli pulau. Jauh dari semua iblis sepertiku. Jangan pernah ingat aku. Atau ingat saja sebagai mimpi buruk yang sudah lewat.
P.S. Maaf. Untuk semuanya. Terutama malam itu. Tuhan jadi saksi, aku menyesal tiap detik.
Tertanda,
Iblis yang Mencintaimu dengan Cara yang Salah.
Ia melipat kertas itu. Menyerahkannya ke Marco. “Berikan padanya. Setelah aku mati. Jangan sekarang. Dia akan sedih.”
Marco menerima surat itu dengan wajah datar. Dalam hati: Tuan demam sedikit kelakuannya kayak mau Oscar. Padahal luka tembak dulu saja cuma minta wiski.
---
Kembali ke ruang makan.
Florence selesai makan empat suap. Lebih banyak dari biasanya. Namun ia tak nyaman. Mansion ini terlalu sibuk untuk pagi hari. Terlalu banyak derap di lantai atas. Terlalu banyak bisik.
Ia lihat Reginald lewat lagi, membawa baskom berisi air dan handuk. Wajahnya panik. Di belakangnya, dua pengawal menjinjing kantong infus.
Ada yang sakit?
Pikiran pertama Florence bukan Lucifer. Mana mungkin. Lelaki itu seperti terbuat dari baja dan dosa. Demam pun tak pantas singgah ke tubuhnya.
Mungkin salah satu pelayan. Mungkin pengawal yang terluka. Mansion ini kan isinya orang-orang berbahaya.
Florence berdiri. Membereskan piringnya sendiri. Tiada yang melarang. Semua terlalu sibuk untuk peduli padanya hari ini.
Ia berjalan ke dapur, hendak taruh piring kotor. Di sana, ia tak sengaja dengar dua pelayan berbisik.
“…katanya Tuan sudah tak sadar dari tadi. Mengigau terus.”
“Ya Tuhan. Masa demam saja sampai mau bikin wasiat? Kuat-kuat ditembak, giliran demam langsung layu.”
“Dr. Anya bilang sih tak bahaya. Tapi Tuan Lucifer kan… kau tahu sendiri. Dramatis. Apalagi kalau soal Nona Florence. Katanya karma.”
Piring di tangan Florence nyaris jatuh. Jemari membeku.
Tuan Lucifer? Demam? Tak sadar? Wasiat?
Dadanya tiba-tiba sesak. Bukan lega. Bukan senang. Sesak. Aneh. Kenapa sesak? Bukankah jika lelaki itu mati, ia bebas? Bukankah itu yang ia mau sejak awal?
Namun bayangan Lucifer sepekan lalu, berlutut di samping ranjangnya, mengganti kompres dengan tangan gemetar, berbisik “Tuhan tahu jika semua ini salahku”… bayangan itu muncul begitu saja.
Florence meletakkan piring pelan. Tangannya dingin.
Ia tak tahu Lucifer sakit. Tak ada yang bilang. Dan kini, dari bisik pelayan, ia tahu Lucifer pikir ia mau mati. Sebab demam.
Dan semua orang sibuk. Tiada yang jaga dia. Tiada yang ganti kompresnya. Sebab Lucifer tak mau siapa pun tahu ia lemah.
Florence berdiri di dapur. Menatap ke arah tangga menuju sayap barat. Ruang kerja Lucifer ada di sana.
Ia bisa kembali ke kamarnya. Berpura-pura tak dengar. Biar saja iblis itu mati dengan dramanya sendiri. Itu adil, kan? Setelah apa yang Lucifer lakukan padanya?
Namun kakinya… kakinya melangkah satu. Ke arah tangga. Lalu berhenti.
Ia benci Lucifer. Takkan pernah memaafkan. Tapi… melihat orang lain sibuk panik, melihat Lucifer mengigau minta bikin wasiat sebab demam… ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan iba. Bukan cinta. Entah apa.
Ia hanya… tak mau ada orang mati karena dirinya lagi. Cukup Kakek Samin. Cukup Nenek Darmi yang mungkin kini kelaparan sebab ia hilang.
Florence mengepalkan tangan. Bodoh. Kenapa peduli?
Namun langkahnya sudah berbalik. Menuju tangga. Pelan. Ragu. Tapi menuju ke sayap barat. Ke bilik iblis yang sedang sekarat sebab demam dan drama.