NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ekspansi hati dan meja yang berisik

Setelah acara pertunangan yang menguras emosi itu, kehidupan Arden Elio Bayu tidak pernah sama lagi. Jika dulu ia pulang ke apartemen yang sunyi dengan pencahayaan minimalis, kini ia sering menemukan tumpukan majalah fashion, aroma parfum melati yang menyeruak di ruang tamu, dan terkadang, tiga orang gadis tambahan yang sedang berpesta piza di sofa mahalnya.

Strategi Baru di Kantor

Senin pagi di Bayu Group dimulai dengan kesibukan yang luar biasa. Arden duduk di kursi kebesarannya, menatap kontrak kerja sama dengan perusahaan London yang sempat tertunda. Namun, konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.

Violet Aolani masuk dengan pakaian kantor yang jauh lebih rapi daripada saat ia masih menjadi anak magang. Ia kini menjabat sebagai asisten khusus Arden sekaligus perwakilan dari Aolani Group.

"Tuan Bos, jadwal pagi ini: rapat koordinasi jam sembilan, dilanjut makan siang dengan dewan komisaris jam satu siang. Dan oh, aku sudah membatalkan pertemuan dengan perwakilan Olivia Vaughn karena pengacaranya bilang dia sudah resmi ditarik kembali ke London semalam," lapor Violet sambil meletakkan segelas kopi hitam rendah kalori di meja Arden.

Arden menyesap kopinya, matanya menatap Violet yang tampak sangat cekatan. "Kamu sudah mulai belajar cara kerja Danantya, ya?"

"Bukan belajar dari dia, tapi aku memperbaiki caranya yang terlalu kaku," balas Violet sambil nyengir. "Tapi Tuan, ada masalah kecil. Evara ada di luar, dan dia menolak pergi sebelum bertemu Danantya. Katanya ada 'dokumen hati' yang harus ditandatangani."

Arden memijat pelipisnya. "Biarkan mereka. Danantya butuh gangguan agar dia tidak berubah jadi mesin fotokopi."

Evara Swastamita: Sang Penakluk Robot

Di luar ruangan, Evara Swastamita sedang berdiri di depan meja Danantya. Danantya adalah tipe pria yang bekerja dengan presisi detik. Ia tidak suka interupsi, dan Evara adalah definisi dari "interupsi" itu sendiri.

"Kak Danan, ini laporan survei lapangan yang kamu minta kemarin," ucap Evara sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat.

Danantya membukanya, namun keningnya berkerut saat melihat isinya bukan data properti, melainkan dua tiket bioskop untuk malam ini dan sebuah brosur restoran Jepang. "Evara, ini apa?"

"Itu data, Kak. Data bahwa tingkat stres kamu sudah mencapai 90%. Kalau kamu nggak pergi nonton bareng aku malam ini, efisiensi kerja kamu minggu depan bakal turun. Itu namanya manajemen risiko, kan? Arden sering bilang begitu," jelas Evara dengan nada sok tahu yang menggemaskan.

Danantya menatap tiket itu, lalu menatap Evara yang menunggu dengan mata berbinar. "Tiketnya jam berapa?"

Evara hampir saja melompat kegirangan. "Jam tujuh! Aku tunggu di parkiran. Jangan telat sedetik pun, atau aku bakal masuk lagi ke ruangan kamu dan teriak 'Sayang' di depan staf yang lain!"

Danantya hanya bisa terdiam, mencoba menyembunyikan senyum tipis di balik wajah kaku khasnya. Ia menyadari bahwa tembok pertahanannya mulai retak oleh keberanian Evara yang tidak masuk akal.

Avyana Hazel: Sketsa di Balik Jendela

Sementara itu, di divisi arsitektur dan perencanaan, Kenzo sedang berkutat dengan maket proyek perumahan elit. Sejak putus dari pacar modelnya, Kenzo menjadi jauh lebih pendiam. Baginya, hubungan asmara hanya menambah beban pikiran yang tidak perlu.

Namun, keberadaan Avyana Hazel mulai mengusik ketenangannya. Berbeda dengan Violet yang berisik atau Evara yang agresif, Avyana adalah tipe pengamat. Ia sering duduk di kafe seberang kantor Kenzo hanya untuk menggambar sketsa bangunan yang sedang dikerjakan pria itu.

Suatu sore, Avyana masuk ke ruangan Kenzo untuk mengantarkan berkas dari bagian legal. Ia melihat maket yang sedang dikerjakan Kenzo.

"Sudut pencahayaannya salah, Kak," ucap Avyana pelan, hampir seperti bisikan.

Kenzo mendongak, matanya menajam. "Apa?"

Avyana mendekat, jarinya menunjuk ke sisi barat maket. "Kalau Kakak pakai kaca setinggi itu di arah barat tanpa kisi-kisi kayu, rumahnya bakal panas banget di sore hari. Secara estetika bagus, tapi secara fungsi itu bakal menyiksa penghuninya."

Kenzo tertegun. Ia melihat kembali maketnya dan menyadari bahwa Avyana benar. Pria itu menatap Avyana dengan saksama. "Kamu... kuliah desain juga?"

"Aku hanya suka melihat bangunan yang punya 'jiwa', Kak. Bukan cuma sekadar pajangan," jawab Avyana tenang. "Aku permisi dulu."

Saat Avyana keluar, Kenzo merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Selama ini, orang-orang hanya memuji betapa mewahnya desainnya, tapi baru Avyana yang mengkritik fungsionalitasnya dengan cara yang sangat cerdas. Kenzo mulai merasa bahwa sketsa-sketsa bangunan yang dikirim ke mejanya secara anonim selama ini memang milik gadis dengan tatapan teduh itu.

Lavanya Purnama: Pelabuhan Terakhir

Di antara mereka berempat, Lavanya Purnama adalah yang paling dewasa. Saat Violet, Evara, dan Avyana sibuk dengan petualangan cinta mereka, Lavanya tetap menjadi penyeimbang. Ia sering mengajak mereka makan malam bersama untuk mendinginkan suasana jika ada konflik.

Malam itu, mereka berkumpul di sebuah restoran di daerah Senopati.

"Jadi, progresnya gimana?" tanya Lavanya sambil memotong steak-nya.

"Danantya akhirnya mau nonton!" seru Evara bangga.

"Kenzo mulai sadar kalau aku bukan cuma sekadar teman Violet," tambah Avyana dengan senyum tipis.

Violet tertawa. "Bagus, berarti virus kita bekerja. Tuan Bos juga makin manis. Tadi pagi dia nggak marah pas aku ganti wallpaper laptopnya pakai foto konyol kita berdua."

Lavanya tersenyum melihat kebahagiaan sahabat-sahabatnya. "Tapi kalian harus ingat, pria-pria itu punya dunianya sendiri yang sangat keras. Jangan sampai kalian kehilangan diri sendiri hanya karena ingin masuk ke dunia mereka."

Violet mengangguk setuju. "Tenang, Vanya. Kita nggak bakal berubah jadi kaku kayak mereka. Malah mereka yang bakal kita bikin jadi 'gesrek' kayak kita."

Sebuah Ancaman yang Tersisa

Di tempat lain, di sebuah bar remang-remang, Arjuna sedang duduk bersama seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu saingan bisnis ayah Arden.

"Aku butuh akses ke sistem keamanan Bayu Group," ucap pria itu. "Aku tahu kamu punya dendam pada Arden. Bantu aku menghancurkan proyek besarnya di Bali, dan aku akan memastikan Violet kembali ke tanganmu."

Arjuna menyesap minumannya, matanya berkilat penuh kebencian. "Violet tidak akan pernah kembali padaku selama Arden masih ada. Jadi, jangan cuma hancurkan proyeknya. Hancurkan hidupnya."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!