hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang sama
Setelah pemakaman kakekku selesai aku kembali kerumah kakek dan nenekku, saat ini aku sedang bersama Kak Arman dan Elsa mereka berdua anaknya tante Rita, kami jarang sekali bertemu.
Elsa terus memainkan ponsel miliknya, sementara kak Arman dan aku sedang mengobrol santai, detik demi detik telah berlalu.
" Arman bantu kesini sebentar " suara yang memanggil kak Arman terdengar dari luar ruangan, suara itu sepertinya milik ayahnya.
kak Arman pergi meninggalkan aku dan Elsa berduaan, suasana canggung. Aku mencoba menyalakan ponselku, aku menerima banyak pesan dari teman sekelas ku.
Keiza : ( ada masalah apa? )
Dahlia : ( kenapa kamu pulang cepat? )
Imel : ( kamu gak apa-apa? Ada sesuatu
yang terjadi? )
Aku membalas pesan mereka satu persatu, tapi tidak langsung ada balasan mungkin karena masih jam pelajaran, Aku membuka sosial media dan melihat video yang lewat beranda ku.
Grrr!! Aku mendengar suara aneh, aku menoleh kesamping Elsa sedang memegangi perutnya.
" Apa? " Elsa menyipitkan matanya, berbicara dengan nada kesal.
" kamu laper? " aku mencoba bertanya kepadanya.
Elsa tidak menjawab pertanyaan yang aku ajukan, dia memalingkan wajahnya yang terlihat memerah, mungkin dia malu. Aku membuka tas sekolah ku dan mengambil bekal yang ada di dalam.
" nih makan " aku memberinya kepada Elsa, dia melirik kearah kotak bekal yang berikan.
" kamu yakin? " Elsa terdengar ragu-ragu.
" iya yakin, kamu makan aja " aku menyakinkan nya lagi.
Elsa kemudian mengambil kotak bekal yang ada di tanganku, dia membuka kotak bekal itu dan mulai memakannya.
aku meninggalkan Elsa yang sedang makan, aku keluar rumah dan berjalan tanpa tujuan. Rumah kakek dan nenek terletak di pinggiran sawah, di kelilingi oleh hijaunya alam suasana di sini sangat menyegarkan.
Aku berjalan cukup jauh sampai akhirnya menemukan pedesaan, aku berjalan melewati ibu-ibu yang sedang berkumpul, aku menyapa ibu-ibu yang berkumpul itu mencoba bersikap akrab.
Aku mampir di warung makan yang terlihat sederhana, aku memesan minuman dingin dan duduk di kursi kayu sederhana.
Setelah minumannya sampai, aku menikmati minuman itu sambil melihat padi-padi yang bergoyang, suasana yang tidak bisa aku dapatkan ketika hidup di tengah kota.
Aku menyalakan kembali ponselku, aku mencoba membuka sosial media lagi tapi video terus tidak bisa di putar karena jaringan yang buruk, menyerah aku memainkan game offline. aku begitu fokus bermain game sampai akhirnya fokus ku pecah karena ada yang menepuk punggungku.Seorang gadis dengan wajah tersenyum berada di sampingku.
gadis itu kemudian berbicara " kamu tinggal dimana? Aku gak pernah melihat kamu sebelumnya? "
" ah... Aku sedang berkunjung ke rumah kakek dan nenek ku, rumah mereka ada di dekat sawah " aku berbicara kepadanya.
" oh..kamu keluarganya nenek ina " gadis itu sepertinya mengenal nenekku.
" betul, aku cucunya "
" begitukah, aku turut berduka cita " gadis itu menyampaikan belasungkawa kepada ku.
" aku Risma, aku anak pemilik warung ini " gadis itu kemudian memperkenalkan dirinya.
" aku...Aidan " aku dengan ragu-ragu menyebutkan namaku.
Gadis bernama Risma itu mengunakan pakaian yang sederhana, aku mencoba mengalihkan pandanganku.
" kamu sedang belajar? " aku bertanya setelah melihat dia memegang buku.
" ah... Tidak aku sedang tidak belajar, aku sedang menggambar " Risma berbicara sambil menaruh buku bergambarnya ke atas meja, Indah! Gambar pemandangan yang ada di buku itu sangat cantik. Aku melirik kearahnya dan berbicara
" kamu yang bikin ini? Hebat " aku menatapnya kagum melihat hasil karyanya.
" hehe...terima kasih " Risma menjawab malu-malu.
Aku mengambil buku itu dan memulai membalikan halaman demi halaman, banyak sekali gambar yang telah dibuat dan semuanya sangat menakjubkan.
" boleh aku memfotonya? " aku meminta izin untuk memotret gambar mengunakan handphone ku.
" silahkan "
Aku mulai memotret gambar itu satu persatu, terlalu fokus sampai perutku terasa perih karena lapar.
" Risma, aku pesan mie instan dong di tambah telur 2 " aku memesan mie untuk menunda rasa lapar.
" dua? " Risma tampak terkejut dengan aku yang memesan mie mengunakan 2 telur.
" iya telur 2 " apa telur 2 terlalu banyak? dalam pikiranku.
Risma masuk kedalam warungnya untuk membuat pesananku, sebelum mie yang aku pesan datang aku mengambil beberapa jajanan.
4 menit kemudian Risma datang sambil membawa mangkuk, setelah di hidangkan aku mulai menyantap mie itu dengan lahap.
Setelah mienya habis aku berniat kembali ke rumah nenekku.
" aku pesan teh manis sama mie dan telur 2 jadi semuanya berapa " aku menanyakan harga
" semuanya jadi 15 ribu "
Aku mengambil uang yang ada di saku baju ku kemudian memberikannya kepada Risma.
" aku permisi dulu " aku berdiri dari kursi kayu berniat kembali ke rumah nenekku.
" tunggu dulu " suara Risma menahan langkahku, aku menoleh kearahnya dan bertanya.
" ada apa? "
Risma terlihat ragu untuk berbicara
" anu...sebelum kamu pulang, aku...boleh minta nomor telepon kamu? "
...****************...
Setelah jalan cukup jauh akhirnya aku berhasil kembali kerumah nenekku, di depan rumah orang tuaku seperti sedang menunggu sesuatu.
" kenapa ayah dan ibu ada di luar? " aku berbicara tanpa menyapa terlebih dahulu dan itu sepertinya membuat mereka terkejut.
" Aidan!!, kamu dari mana saja? " ibuku terlihat khawatir
" kalau mau keluar bilang dulu jangan langsung pergi begitu saja " ayahku sedikit menasehati ku, sepertinya yang sedang mereka tunggu adalah aku.
" aku tadi sedang berjalan jalan ke desa disana " aku menjelaskan kepada kedua orang tuaku.
" ayo kita masuk kedalam ada sesuatu yang harus di bahas "
Aku masuk mengikuti langkah kedua orang tuaku, masuk kedalam rumah meninggalkan pemandangan indah dari padi-padi yang berkilau dari jangkauan mataku.