Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Kalian Dalam Genggamanku (3)
Srrrtt!
Dengan satu jentikan jari yang sangat halus dari balik lengan jubahnya, Wang Yan melesatkan Bara Pelebur Jiwa.
Proyektil kecil berupa api hitam berlidah ungu itu meluncur cukup cepat—lebih cepat daripada pandangan penduduk biasa ataupun kultivator lemah yang menonton disekitar.
Serangan itu membelah sisa-sisa debu yang masih melayang akibat benturan pria berjubah hitam.
Bara pelebur jiwa menghantam tepat di dada pria berjubah hitam yang masih terkapar lemas di antara puing-puing gerbang.
Begitu bersentuhan, bara pelebur jiwa tidak meledak, melainkan langsung menyebar menyelimuti permukaan tubuh lawan dengan cara yang sangat tidak alami. Seketika, pusaran energi dari api hitam itu menyedot habis debu-debu di udara, membuat pandangan di halaman rumah Wang Yan tiba-tiba menjadi sangat jernih dan tajam, memperlihatkan penderitaan pria itu dengan sangat jelas.
Pria berjubah hitam itu membelalak. Matanya melotot hingga urat-urat merahnya pecah, menatap kosong ke arah langit seolah-olah jiwanya dihanyutkan oleh derasnya arus sungai tak kasatmata
“ARGHHHH! APA INI?! PANAS... TIDAK, INI DINGIN! PERASAAN APA INI... TOLONG JIWAKU DISE...!”
Jeritannya melengking tinggi, memilukan telinga siapa pun yang mendengar. Ia tidak terluka secara fisik di bagian luar, namun ia mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuku yang menembus kulit, mencoba menahan rasa sakit tak terhindarkan yang menarik paksa kesadarannya keluar dari raga.
Huo Ting berdiri hanya beberapa langkah dari sana. Ia mematung total. Matanya yang tajam menatap lidah api ungu yang menari-nari di atas tubuh pria berjubah hitam yang kini mulai melayu.
Di balik wajah kakunya, pikiran Huo Ting dipenuhi banyak pertanyaan tentang serangan yang baru saja terjadi. Ia memang mengikuti instruksi yang dibisikkan Wang Yan saat kedatangan Hong Jigong tadi, yaitu menjadi ahli misterius dan menunjukkan kekuatan di saat yang tepat. Namun, apa yang ia saksikan sekarang benar-benar di luar dugaannya.
“Dari mana asal manifestasi qi elemen api hitam ini? Apa itu milik Yan’er. Tapi..., itu seharusnya tidak mungkin...”
Huo Ting dapat merasakan bahwa Wang Yan telah mencapai Lautan Spiritual lapisan keenam, walaupun ia dapat mengetahuinya ketika Wang Yan yang memberitahukannya sendiri kepadanya.
Di tingkatan itu, seorang kultivator seharusnya hanya mampu memadatkan energi spiritual di dalam tubuh, mengalirinya pada tubuh ataupun senjata. Namun, memanifestasikan energi spiritual menjadi bentuk seperti api hitam ini adalah ciri khas seorang ahli yang telah meraih tingkatan Lautan Qi. Dimana kabut Spiritual di dalam dantian memadat dan Pohon Spiritual di dantian mengubah kabut itu menjadi energi spiritual cair yang lebih murni yaitu qi.
“Bagaimana mungkin seorang kultivator Lautan Spiritual bisa mengeluarkan kekuatan manifestasi qi yang sehebat ini?” Huo Ting menelan ludah.
Di kejauhan, para penduduk yang semula hanya menonton karena rasa penasaran, kini benar-benar tercengang. Kerumunan itu kian ramai dan mendadak riuh dengan nada yang penuh ketakutan.
“Gila! Bukankah itu manifestasi qi? Hanya kultivator yang telah mencapai tingkatan Lautan Qi yang bisa melakukan itu!” seru seorang kultivator tua dengan tangan gemetar.
“Manifestasi Qi?... Ada seorang Kultivator Lautan Qi di sini? Tapi siapa?” tanya penduduk lainnya dengan wajah pucat pasi.
Mata mereka semua serentak tertuju pada sosok tegak Huo Ting yang berdiri di tengah kekacauan itu dengan aura yang mendominasi.
“Tentu saja Paman itu! Siapa lagi kalau bukan dia? Lihat bagaimana dia berdiri dengan tenang setelah mengeluarkan serangan mengerikan itu!” bisik seorang pedagang yang ketakutan.
Pria berjubah hitam itu akhirnya berhenti bergerak. Tubuhnya masih utuh tanpa luka bakar yang nyata, namun ia mati dalam posisi mata terbuka lebar dengan ekspresi ketakutan yang mutlak. Ia mati karena jiwanya telah padam sepenuhnya, menyisakan sisa-sisa api hitam yang perlahan menghilang dari permukaan dadanya seolah tidak pernah ada.
Hong Jigong, yang sejak tadi meringkuk dengan celana basah, melihat pengawal yang mencoba membawanya pergi dari sini tewas dengan cara yang begitu janggal. Gigi depannya yang tersisa bergemeletuk hebat. Ia sadar pengawal rahasia milik ayahnya mati tanpa perlawanan berarti di hadapan ahli tua ini.
Wang Yan mengambil napas panjang, lalu dengan sandiwara yang sangat meyakinkan, ia berteriak kaget sambil menunjuk ke arah mayat pria berjubah hitam dengan tangan yang gemetar dibuat-buat.
“PAMAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Wang Yan, suaranya menggelegar agar didengar semua orang hingga ke ujung jalan.
“LIHATLAH! SERANGAN PAMAN TERLALU KUAT! HENTIKAN! DIA SUDAH MATI!”
Wang Yan menoleh ke arah kerumunan penduduk dengan wajah yang tampak syok dan panik. “SEMUANYA LIHAT! INILAH KONSEKUENSI JIKA BERANI MENGUSIK RUMAH SEORANG AHLI LAUTAN QI! BAHKAN PENGAWAL KELUARGA HONG PUN TIDAK BISA MENAHAN SATU MANIFESTASI QI MILIK PAMANKU!”
...