NovelToon NovelToon
JALAN PENDEKAR NAGA

JALAN PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamtaro Dasha

Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!

___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.

Dunia berubah.

Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.

Chu Kai.

Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:

Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.

Pendekar Naga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 - Jejak

Langit telah berganti warna ketika Wei Zhang Zihan meninggalkan Kota Qīngzhú. Dia menaiki pedang terbangnya, melintasi sungai dan hutan, serta wilayah pegunungan—bermaksud memeriksa salah satu sekte yang dirumorkan telah musnah.

Sekte Wulin—salah satu sekte aliran hitam yang pernah bersinggungan dengan Chu Kai saat pertemuan para pendekar dahulu.

Tidak ada segel pelindung saat Wei Zhang Zihan terbang melintasi wilayah sekte ini, padahal biasanya setiap sekte pasti akan memasang pelindung spiritual untuk mengetahui siapa yang melintas di wilayah mereka atau untuk menghalangi agar seseorang tidak dapat menggunakan pedang terbang.

Dengan tidak adanya penghalang spiritual apa pun di wilayah Sekte Wulin, maka besar kemungkinan kabar kemusnahan sekte ini benar adanya.

Mata Wei Zhang Zihan membulat saat menyaksikan reruntuhan Sekte Wulin terbentang di hadapannya. Dia pun mengatur pergerakan pedang terbangnya dan kemudian melesat turun.

Wei Zhang Zihan menapak di batas gerbang sekte yang telah runtuh. Kayu dan batu berserakan tanpa pola yang jelas, namun anehnya... tidak tampak seperti hasil pertempuran yang kacau.

Dia melangkah masuk.

Setiap pijakan kaki Wei Zhang Zihan terdengar jelas di antara puing-puing yang berserakan.

Tidak ada mayat yang utuh. Yang tersisa hanyalah noda darah yang telah mengering, potongan pakaian, dan jejak kehancuran yang terlalu bersih untuk disebut pembantaian biasa.

Tatapan mata Wei Zhang Zihan menyapu sekeliling.

Dinding-dinding yang terbelah rapi. Pilar yang terpotong dengan sudut presisi. Bahkan tanah yang retak pun membentuk garis yang tidak acak—seolah setiap serangan telah diperhitungkan hingga titik terakhir.

Wei Zhang Zihan berjongkok, jemarinya menyentuh permukaan batu yang terbelah halus.

Alis Wei Zhang Zihan mengerut. Tidak ada sisa ledakan energi liar, atau bekas benturan yang kacau.

Semua situasi ini seperti menggambarkan bahwa tidak ada perlawanan yang berarti dari anggota Sekte Wulin—atau bisa dibilang, musuh mereka terlalu kuat hingga sulit memberikan perlawanan balasan.

"Ini..." saat Wei Zhang Zihan mengusap permukaan batu itu—dia dapat merasakan sedikit energi spiritual yang mengalir keluar.

Fragmen aura yang hampir lenyap itu masih bergetar samar, seperti bayangan dari sesuatu yang telah terjadi.

Aura ini... dia mengenalinya!

"Kai..."

Wei Zhang Zihan terkejut. Tatapan matanya mengeras seolah tidak menyangka dengan aura yang ia temukan. Hanya saja saat fokus merasakan kembali fragmen aura itu—ia kembali menyadari sesuatu yang lain.

Di balik aura naga yang dimiliki oleh Chu Kai... terdapat aura lain yang asing. Begitu gelap, dingin, dan liar.

!!

Memang benar ada kekuatan yang ia kenal, namun ini bukanlah sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh Chu Kai.

Jari-jari Wei Zhang Zihan perlahan mengepal. Dia menatap lurus ke depan, seolah mencoba melihat bayangan dari peristiwa yang telah terjadi—bersamaan saat angin yang berhembus pelan, membawa debu halus yang berputar di antara reruntuhan.

Wei Zhang Zihan berdiri beberapa saat di tengah reruntuhan Sekte Wulin. Tidak ada lagi yang bisa ia temukan di tempat itu—selain jejak yang sudah terlalu jelas.

Dia berbalik dan tanpa ragu melesat naik. Pedang terbang Wei Zhang Zihan kembali terbentuk di bawah kakinya, membawanya menembus langit malam yang semakin dalam.

Dia bermaksud ke wilayah aliran hitam terdekat yang tidak lain adalah Sekte Long Yu. Hanya saja, perjalanan itu memang memakan waktu lama.

*

*

Perjalanan Wei Zhang Zihan dengan menaiki pedang terbangnya membutuhkan waktu satu minggu penuh. Dia terbang melintasi gunung, sungai, dan hutan—walau sepanjang jalan tidak ada satu hal pun yang mampu mengalihkan perhatiannya dari fragmen aura yang ia rasakan di Sekte Wulin.

Aura naga itu... dan sesuatu yang lain.

Dalam hati Wei Zhang Zihan bertanya-tanya.

Apa mungkin Chu Kai... benar-benar terlibat dengan semua kejahatan ini?

Saat memikirkannya, wilayah Sekte Long Yu mulai terlihat di kejauhan. Dia tiba tepat di malam hari.

Tatapan mata Wei Zhang Zihan sedikit berubah saat menyadari masih ada lapisan energi tipis yang membentang di langit. Ini menandakan bahwa penghalang spiritual Sekte Long Yu masih aktif dan belum hancur.

Wei Zhang Zihan memperlambat lajunya, lalu mendarat di luar batas wilayah sekte dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dia tidak masuk secara terang-terangan karena jika sesuatu benar-benar terjadi di dalam... maka ia tidak ingin menarik perhatian.

Langkah Wei Zhang Zihan beralih menjadi senyap saat ia memasuki hutan. Cahaya rembulan menembus sela dedaunan, dan menciptakan bayangan panjang di tanah.

Baru saja berjalan sebentar—angin seketika berubah arah dan membawa aroma darah yang spontan membuat Wei Zhang Zihan membeku.

Alisnya mengerut dan tanpa berpikir panjang, tubuhnya langsung bergerak.

BAAAAM...!

Suara ledakan mengguncang hutan dari kejauhan, bahkan membuat burung-burung malam beterbangan dan dedaunan bergetar hebat.

Wei Zhang Zihan melesat.

Kakinya menapak di antara dahan-dahan pohon, bergerak cepat seperti bayangan yang meluncur di kegelapan.

Jauh dari tempat Wei Zhang Zihan berada—Gerbang Sekte Long Yu telah hancur tidak berbentuk.

Api masih menyala di beberapa bangunan, melahap sisa-sisa kayu dan pilar yang runtuh. Cahaya merahnya memantul di permukaan tanah yang basah karena darah.

Mayat-mayat berserakan dengan kondisi yang mengenaskan. Beberapa terlihat potongan tubuh yang terpisah tanpa bentuk, seolah dihancurkan dengan kekuatan yang brutal dan tanpa ampun.

Di sisi lain, sungai buatan yang mengalir di dalam sekte itu telah berubah warna menjadi merah pekat—membawa sisa-sisa kehidupan yang baru saja direnggut.

"AAAAKH..!"

Suara jeritan terdengar memecah malam.

"Te—Tetua..!!"

Di antara reruntuhan bangunan, seorang gadis muda terbaring di tanah. Kedua kakinya telah hancur, namun ia masih berusaha mengangkat tubuhnya.

Gadis itu adalah Zhui Ying, anggota Sekte Long Yu dan satu-satunya murid yang masih hidup walau kondisi tubuhnya sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Tatapannya telah dipenuhi rasa putus asa. Apalagi saat ia melihat tetua sektenya berdiri dengan tangan seseorang menembus dadanya.

"UGH—!"

"Tetua!"

Darah menyembur dari mulut Tetua Sekte Long Yu saat tangan itu ditarik keluar, membawa segumpal daging yang masih hangat.

Tubuhnya terjatuh. Dia tewas dengan mata dan mulut yang terbuka lebar.

"TETUA..!!"

Jeritan Zhui Ying menggema. Matanya meneteskan air saat ia melihat sosok yang berdiri di bawah cahaya bulan.

Pakaian hitam subjek tersebut telah basah oleh darah. Tetesannya masih jatuh perlahan dari ujung lengan dan helaian rambut panjangnya. Dia menatap potongan daging di tangannya... lalu menggigitnya.

Tanpa ragu dan rasa jijik sama sekali.

"Phuuih!"

Sosok itu meludah. Suaranya berat dan dingin.

"Dia yang paling kuat sejauh ini… tapi rasanya menjijikkan."

Mata Zhui Ying bergetar. Dia menatap tajam sosok itu dan berteriak penuh amarah.

"Kau... Monster..!!"

Sosok itu berbalik perlahan.

Mata merahnya menyala di kegelapan.

Dia melempar sisa daging di tangannya, lalu melangkah mendekat.

Setiap langkahnya menginjak tubuh-tubuh yang telah hancur—tanpa sedikit pun kepedulian.

Meski gemetar, Zhui Ying tetap menatap tajam. "Kau akan mati…! Aku bersumpah akan membunuhmu!"

Sosok itu berhenti tepat di hadapan Zhui Ying. Tangannya terulur—mencengkeram dagu gadis itu dan mendongakkannya dengan kasar.

Seringai muncul di wajahnya, matanya sedikit menyipit. "Membunuhku? Dengan apa?"

"AAAAKH..!!"

Tangan Zhui Ying terpelintir dengan sendirinya. Tulangnya retak dan jeritannya menggema di antara api dan kematian.

"Hm..." sosok itu menoleh sedikit, seolah memikirkan sesuatu.

Nada suaranya dingin, terdengar santai.

"Benar juga, masih ada anggota sektemu yang berhasil melarikan diri. Yang Mulia ini sepertinya terlalu bersenang-senang hingga membuat beberapa serangga kabur."

Ia kembali menatap Zhui Ying. "Haruskah aku mengejarnya? Atau menghabisimu lebih dulu?"

"AAAAKH!!"

Senyum sosok itu berubah lembut, namun begitu mengerikan. "Kau terlihat manis."

Dia melepaskan cengkeramannya. "Baiklah. Kau mati saja di sini dengan tenang. Jika beruntung... seseorang mungkin akan datang menyelamatkanmu."

"AAAAKH..!"

Kedua tangan Zhui Ying tertebas oleh energi spiritual sosok di hadapannya. Pria itu berdiri dan melangkah pergi begitu saja.

Namun sebuah tebasan energi kembali datang ke arah Zhui Ying—nyaris menebas kepala gadis itu ketika sebuah lintasan energi lain menghalanginya.

TRAANG..!

Lintasan energi itu memotong jalur serangan yang datang. Benturan dua kekuatan tersebut memercikkan cahaya di udara.

!!

Sosok tersebut berhenti dan perlahan... ia menoleh.

Wei Zhang Zihan datang tepat waktu. Dia berlutut di samping Zhui Ying dengan pedang di tangan kanannya.

Tatapannya dingin dan tajam. Namun saat matanya bertemu pandang dengan sosok di hadapannya—Wei Zhang Zihan membeku.

Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di tempat ini—emosinya terguncang.

Sosok yang dilihat oleh Wei Zhang Zihan tersenyum. Kabut hitam mulai bergulung dan menyelimuti tubuhnya perlahan.

Mata merah itu masih menyala dan menatap Wei Zhang Zihan.

!!

Dalam waktu sepersekian detik itu—Wei Zhang Zihan mengenalinya sebelum kabut hitam menutup segalanya dan sosok itu pun lenyap.

Sunyi kembali turun, meninggalkan Wei Zhang Zihan yang terkejut dengan apa yang ia saksikan.

Bibirnya perlahan bergerak.

"...Kai."

******

1
enda harahap
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Indah Hidayat
roh pedangnya cantik
Alw
orang tidak waras itu kembali
Nanik S
Kong Yang akhirnya bisa melihat ibunya
Nanik S
Ibunya mengenali Aura dari Anaknya
Nanik S
Keren dan keren
Nanik S
Ling Yang
Nanik S
Shen Quyang apakah juga akan mati ditangan Kai
Nanik S
Musuh baru Kai
Nanik S
NEXT
Hydro7
Shuxiang! Kau pikir Chu Kai adalah leluhur Bocah pengemis gila....?
Nanik S
Untung Wei Zhang Zihan dibawa melesat oleh sicantuk agar kepalanya tidak meledak
Nanik S
Cuuuuuust
Nanik S
Roh Pedang Cantik dan genit tapi bisa bermain usil juga
Nanik S
Long Wang Yang dikurung Ayahnya sendiri
Nanik S
apakah Wei Zhesi masih mengikuti Wei Zhang Zihan
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Wei Zhise... roh pedang bisa suka dengan ketampanan Roh Pedang milik Kai🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata benar pembantaian dilakukan oleh Chu Kai
Nanik S
Dimana Kau berada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!