Alicia yang tak tahu apa pun harus menanggung akibat dari kemarahan Austin karena perbuatan kakaknya. Malam kelam harus dia lewati di mana Austin merenggut keperawanan dan harga dirinya. Dia hendak dijadikan tawanan sebagai pemuas nafsu namun Alicia melarikan diri dan bersembunyi dari Austin. Dia pergi yang jauh namun lima tahun kemudian, Alicia kembali bersama dua anak kembar yang dia lahirkan akibat malam naas itu untuk membalas dendam. Dia bahkan bergabung dengan musuh Austin demi tujuannya tapi apakah dia mampu membunuh Austin yang adalah ayah dari kedua anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak-anak Yang Ketakutan
Alicia jatuh terduduk di depan pintu. Dia berusaha mengendalikan emosinya yang meluap-luap. Kedua tangan masih gemetar begitu juga dengan kedua kakinya. Dia tak menduga jika akan begitu emosional untuk pertemuan kedua mereka. Rasanya sungguh berbeda karena dia harus berjuang keras untuk mengendalikan diri.
"Tidak apa-apa, Alicia. Bajing*n itu sudah pergi, dia sudah pergi!" ucap Alica yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dia tidak boleh dikuasai oleh rasa takut yang dia rasakan karena dia bisa menakuti Archer dan Arabella. Dia harus berpura-pura tidak terjadi apa pun jadi dia harus segera menangkan dirinya sebelum dia menghampiri Archer dan Arabella yang mungkin sedang ketakutan saat ini dan memang itulah yang terjadi.
Arabella menangis di dalam persembunyian. Dia sangat takut karena teriakan ibunya terdengar sesekali. Archer memeluk adiknya untuk menenangkan dirinya. Dia juga menghibur Arabella agar tidak menangis lagi.
"Kenapa Mommy begitu lama, kakak? Kenapa Mommy belum juga kembali?" tanya Arabella di sela tangisannya.
"Aku tidak tahu, kita tunggu saja," meski dia bersikap tenang tapi sesungguhnya rasa cemas juga dia rasakan. Archer berusaha menyembunyikan rasa cemasnya agar adiknya tidak semakin takut. Sebagai kakak, dia harus bisa mengendalikan emosinya.
"Bagaimana jika kita keluar untuk melihat Mommy?"
"Jangan, kita harus ingat dengan pesan Mommy!"
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Mommy di luar sana, kakak? Arabella takut jika orang jahat itu mencelakai Mommy?"
"Aku juga takut tapi kita tidak boleh keluar sebelum Mommy datang. Kita tidak boleh lupa dengan pesan yang Mommy berikan," Archer masih berusaha mengendalikan diri padahal dia sangat ingin membuka pintu lemari agar dia dapat mengintip untuk melihat apa yang terjadi.
"Arabella ingin keluar, kakak!" Arabella kembali menangis, dia hanya bisa memeluk kakaknya tanpa berani keluar.
"Kita keluar jika lima menit lagi Mommy belum datang," sepertinya mereka memang harus keluar untuk memastikan keadaan. Semoga saja ibu mereka segera kembali agar mereka tahu bagaimana dengan keadaan ibu mereka.
Alicia sudah merasa tenang. Butuh waktu beberapa menit baginya untuk mengendalikan segala emosi yang dia rasakan. Dia segera pergi ke kamar untuk mencari Archer dan Arabella yang masih bersembunyi.
"Archer, Arabella!" Alicia memanggil dan begitu mendengar suaranya, Arabella dan Archer sangat senang dan tanpa membuang waktu, mereka segera keluar dari lemari.
"Mommy!" Arabella berlari menghampiri ibunya dan memeluknya.
"Arabella takut Mommy, kenapa Mommy begitu lama?" tanyanya sambil menangis.
"Maaf tapi tidak perlu takut lagi. Semua baik-baik saja."
"Kenapa Mommy begitu lama? Apa penjahat itu melakukan sesuatu pada Mommy?" tanya Archer yang sesungguhnya sangat lega karena ibunya baik-baik saja.
"Itu bukan penjahat, maaf membuat kalian ketakutan."
"Benarkah?" tanya putranya.
"Ya, hanya seseorang yang salah alamat saja jadi tidak perlu khawatir," dia tidak boleh menakuti putra dan putrinya lagi.
"Jadi tidak ada orang jahat?" tanya putrinya.
"Bukan, sudah Mommy katakan yang hanya datang hanya orang salah alamat."
"Arabella sangat takut, Mommy."
"Maaf," Alicia berjongkok dan memeluk putrinya. Dia juga memeluk putranya dan kembali meminta maaf pada mereka.
"Jangan menangis lagi," Alicia menghapus air mata putrinya lalu mengusap wajah putranya yang lebih banyak diam sedari tadi.
Dia harap Austin tidak kembali lagi tapi dia tidak yakin pria itu tidak melakukannya. Apakah dia harus pindah rumah? Dia rasa dia memang harus melakukannya agar Austin tidak bertemu dengan putra putrinya karena pria itu bisa datang kapan saja tapi dia tidak bisa pindah dengan cepat sebab uang yang dia miliki tidak akan cukup untuk menyewa sebuah rumah.
"Sebaiknya kita tidur agar besok kita tidak terlambat," ajak Alicia setelah tangisan putrinya reda.
"Arabella ingin tidur dengan Mommy."
"Boleh, malam ini kita akan tidur bersama."
"Kakak juga harus tidur dengan Mommy."
"Tidak mau. Aku sudah besar jadi tidak boleh tidur dengan Mommy lagi."
"Tidak apa-apa, Kakak. Hanya malam ini saja."
"Jangan berdebat, malam ini kita tidur bersama. Sekarang segera pergi gosok gigi, kita tidur di kamar Mommy."
"Oke, Mommy!" putrinya pergi dahulu namun tidak dengan putranya.
"Kenapa Archer tidak pergi? Apa Archer tidak mau tidur dengan Mommy?"
"Bukan begitu, Archer tahu Mommy pasti berbohong. Katakan padaku, siapa sebenarnya yang datang, Mommy?" seperti biasa, putranya memang sulit dia bohongi.
"Mommy tidak berbohong, Sayang," Alicia kembali berjongkok di hadapan putranya.
"Karena kita baru kembali setelah sekian lama Mommy meninggalkan rumah ini, Mommy khawatir yang datang adalah orang jahat. Maaf telah membuat kalian takut dan terima kasih Archer sudah menjadi kakak yang hebat untuk Arabella. Mommy juga meminta maaf karena Mommy hanya bisa memberikan rasa takut saja pada kalian berdua."
"Archer harap Mommy tidak selalu berbohong dan tak menantang bahaya seperti dulu."
"Mommy tidak akan melakukannya!" Alicia memeluk putranya dengan erat. Rasa bersalah dia rasakan. Jika dia mengatakan kebenarannya bahwa yang datang adalah ayah mereka, apakah Archer dan Arabella akan marah karena dia telah berbohong pada mereka akan keberadaan ayah mereka?
Dia jadi takut saat Archer dan Arabella tahu, mereka jadi marah lalu membenci dirinya. Dia takut mereka pergi meninggalkan dirinya lalu mengikuti Austin karena rasa kecewa mereka pada dirinya. Mendadak dia merasa keputusannya untuk kembali adalah salah. Kenapa dia tidak membawa putra putrinya tinggal di tempat lain saja dan melupakan dendamnya?
Jika dia melakukan hal itu, kemungkinan besar Austin tidak akan bertemu dengan putra putrinya dan dia pun tak akan terlalu banyak membohongi putra dan putrinya. Apakah dia harus pergi dari tempat itu dan melupakan dendamnya?
"Mommy?" Archer memanggil karena ibunya tak melepaskan pelukannya.
"Maaf, sekarang bersiap-siaplah untuk tidur," Alicia melepaskan pelukannya, dia segera beranjak agar putranya tidak melihat kecemasan yang dia rasakan.
Archer memandangi ibunya yang berjalan pergi. Meski dia baru berusia lima tahu tapi dia tahu ibunya menyembunyikan sesuatu dan dia pun curiga jika ibunya telah berbohong tapi dia hanya anak-anak jadi dia harus percaya.
Arabella sudah selesai, dia pun sudah berada di kamar ibunya. Archer yang tadinya tidak mau pun sudah berada di kamar putrinya. Alicia meminta mereka untuk berbaring, di sisinya agar dia dapat memeluk mereka.
"Maaf telah membuat kalian takut. Sekarang tidurlah."
"Good night, Mommy," ucap Arabella seraya mencium pipi ibunya. Archer juga melakukan tapi dia tidak mengatakan apa pun.
Alicia tersenyum, mereka berdua adalah harta berharga yang dia miliki. Sebaiknya dia tidak menipu mereka lagi jika tidak, dia bisa kehilangan mereka dan dia harap Austin tidak mengganggu kehidupannya lagi namun pria itu masih berada di luar sana. Austin berada di mobil, tatapan matanya tak lepas dari rumah Alicia.
Bagaimana caranya Alicia mau memaafkan dirinya? Sepertinya dia memang harus menemukan keberadaan Aiden terlebih dahulu untuk meluruskan masalah yang terjadi tapi bukan berarti dia tidak akan berusaha, dia akan berusaha sampai Alicia menerima maafnya.
apaa adaaa kisah lanjutan archer, arabella & simon kakkk??
wahh parahh sih Merey