NovelToon NovelToon
Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Syawal Musa

Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Jejak Digital ke Sarang Naga

Malam itu, langit kota tertutup awan gelap, seolah ikut merasakan ketegangan yang melanda. Di ruang kendali rahasia di lantai paling bawah gedung Narendra Cosmetics, suasana hening namun penuh konsentrasi.

Layar-layar monitor besar menyala terang, menampilkan kode-kode hijau yang bergerak cepat dan peta digital interaktif. Arkan duduk di kursi utama, wajahnya datar namun matanya tajam mengawasi setiap pergerakan data. Di sebelahnya berdiri Kiara, tangannya tergenggam erat di depan dada, menahan napas menunggu hasil kerja kerasnya.

"Sudah sepuluh jam sejak Rian mencuri data itu," gumam Arkan, jarinya mengetuk pelan permukaan meja. "Kenapa belum ada sinyalnya? Apa dia curiga?"

"Tidak mungkin," jawab Kiara cepat, suaranya penuh keyakinan. "Virus pelacak yang aku tanam bekerja diam-diam, Arkan. Dia tidak akan tahu. Begitu dia membuka file itu atau mencoba mentransfernya, sinyalnya akan langsung terkirim. Dia pasti sudah membukanya."

Tiba-tiba, salah satu layar monitor berkedip. Lalu yang lain, dan yang lain.

BEEP... BEEP... BEEP...

Suara notifikasi terdengar pelan namun jelas. Titik merah besar tiba-tiba muncul di peta digital, tepat di area pegunungan yang jauh di luar kota, di sebuah wilayah yang tertutup rapat oleh hutan lebat dan pagar satelit.

"Muncul!" seru Kiara bersemangat. "Sinyalnya kuat! Mereka mengakses data itu dari sana!"

Arkan segera memerintahkan tim teknisnya untuk memperbesar tampilan. Foto satelit resolusi tinggi muncul, memperlihatkan sebuah kompleks bangunan tua yang terlihat seperti vila mewah namun terisolasi total. Dikelilingi tembok tinggi dan menara pengawas di setiap sudut.

"Jadi di sana mereka bersembunyi..." Arkan menyeringai, tatapannya berubah dingin dan mematikan. "Lokasinya terpencil, sulit ditembus, dan pasti dipenuhi pengawal bersenjata lengkap. Tempat yang sempurna untuk tikus seperti mereka."

"Itu pasti markas utama Kakek," kata Kiara pelan, jantungnya berdegup kencang campuran antara takut dan marah. "Di sanalah dia merencanakan segalanya. Di sanalah dia menyusun strategi untuk menghancurkan kita dan perusahaan ini."

Arkan berdiri, menatap peta itu dengan penuh tekad.

"Waktunya sudah tiba, Kiara. Kita tidak bisa menunggu lagi. Kalau kita biarkan mereka hidup satu hari lagi, bahaya akan terus mengintai. Hari ini... kita akhiri semua ini."

"Tapi Arkan, tempat itu pasti benteng yang sangat kuat," peringatkan Kiara. "Kita tidak bisa menyerang secara frontal. Kita terlalu sedikit."

"Aku tahu," Arkan menoleh, menatap istrinya dengan senyum percaya diri. "Makanya kita tidak akan pakai kekerasan dulu. Kita pakai otak. Kita punya kartu AS yang mereka tidak miliki."

Arkan menunjuk ke arah liontin di leher Kiara.

"Kita punya chip aslinya. Kita punya kunci akses sejati. Rian dan Kakek sekarang sedang sibuk memecahkan kode data palsu yang kau berikan. Mereka akan frustrasi dan panik saat menyadari rumus itu tidak bisa diproduksi. Dan saat mereka paling lemah dan panik... saat itulah kita datang."

Arkan segera mengambil komunikatornya.

"Panggil tim elit. Siapkan helikopter dan perlengkapan. Kita berangkat sekarang juga. Target: Vila Gunung Bersalju."

 

BEBERAPA JAM KEMUDIAN...

Helikopter pribadi mendarat di sebuah dataran tinggi tak jauh dari lokasi target. Suara mesin menderu kencang sebelum akhirnya dimatikan, menyisakan keheningan malam yang mencekam.

Arkan dan Kiara turun, diikuti oleh sepuluh orang pasukan keamanan terbaik yang dilengkapi peralatan tempur canggih namun senyap. Udara di sana dingin dan tipis, menambah suasana dramatis pertempuran yang akan terjadi.

Dari balik semak-semak, mereka bisa melihat jelas bangunan megah namun angker itu. Lampu-lampu teras menyala terang, dan terlihat beberapa penjaga berpatroli dengan senapan serbu di bahu.

"Kelihatannya ketat sekali," bisik salah satu komandan pasukan. "Pintu depan pasti dijaga ketat."

"Kita tidak masuk lewat depan," Arkan berbisik tegas, matanya mengamati struktur bangunan. "Lihat bagian belakang, ada area teras kaca di lantai dua. Itu masuk ke sayap timur. Biasanya itu ruang kerja atau ruang tamu utama."

"Dan itu juga jalur yang paling sedikit pengawalnya karena mereka pikir tidak ada yang bisa memanjat tembus setinggi itu," sambung Kiara tajam.

"Benar," Arkan menepuk bahu anak buahnya. "Kalian bagi dua tim. Tim A buat gangguan kecil di sisi barat, tembak lampu atau buat suara. Tarik perhatian mereka ke sana. Tim B ikut aku dan Nyonya Kiara, kita tembus lewat belakang."

"Siap, Tuan!"

Rencana berjalan cepat. Beberapa menit kemudian, suara ledakan kecil dan tembakan peringatan terdengar dari sisi jauh bangunan.

DOR! DOR! BOOM!

"Serangan! Ada musuh di barat!" teriak para penjaga panik. Semua pasukan penjaga segera lari bergerombol ke arah sumber suara, meninggalkan pos mereka lainnya.

Itu celah yang ditunggu!

"Gerakan cepat!" perintah Arkan.

Dengan menggunakan alat panjat tali khusus dan keahlian bela diri, Arkan memimpin jalan. Dengan sigap mereka memanjat tembok tinggi yang licin karena embun malam. Kiara, meski wanita, bergerak sangat lincah mengikuti langkah suaminya.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di atap teras kaca. Arkan memberi isyarat diam. Ia mengintip ke dalam melalui celah tirai.

Di dalam ruangan yang luas dan mewah itu, terlihat jelas sosok Kakek yang sedang duduk di kursi goyang dengan wajah murka. Di hadapannya, Rian berdiri tertunduk lesu dan gemetar.

"Goblok! Bodoh! Apa maksud semua ini?!" hardik Kakek dengan suara menggelegar. "Kenapa data yang kau bawa itu penuh sampah?! Rumusnya tidak nyambung! Bahan-bahannya tidak stabil! Kau mau membunuh kita semua dengan produk racun itu?!"

Rian gemetar hebat. "B-Bukan begitu, Kek... Aku sumpah, aku lihat sendiri Kiara mengetiknya! Itu harusnya data asli! Dia... dia pasti sudah mencium sesuatu!"

"Dasar anak tidak berguna!" Kakek melempar gelas kopi ke dinding, pecah berkeping-keping. "Kiara dan Arkan itu jauh lebih licik dari yang kau kira! Mereka tahu kita akan mencurinya! Mereka memberimu umpan!"

Wajah Kakek berubah pucat karena marah. "Itu artinya... mereka tahu kita di sini!"

Tepat saat kalimat itu keluar dari mulut Kakek, tiba-tiba kaca besar di belakang mereka pecah berantakan!

BRUUUAAAKKK!!!

Arkan melompat masuk dengan gagah, diikuti Kiara dan pasukannya. Dalam sekejap mata, seluruh ruangan itu sudah dikepung. Senjata ditujukan tepat ke arah Kakek dan Rian yang terkejut setengah mati.

"Selamat malam, Kakek... Kakak Rian," sapa Arkan dingin, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya. "Kami datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik kami. Dan juga... untuk menagih semua hutang kalian."

Kiara melangkah maju, menatap kakek kandungnya sendiri tanpa rasa takut lagi.

"Permainan sudah selesai, Kek. Kali ini... tidak ada jalan keluar."

1
Syawal Musa
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!