Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 24
Happy Reading Guys!
_____
Ketukan pelan terdengar dari arah pintu sebelum seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat.
Arkan yang sejak tadi duduk dalam diam hanya mengangkat pandangan sekilas.
"Maaf, Pak. Saya mau memeriksa kondisi pasien."
Arkan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk singkat.
Perawat itu mendekati ranjang lalu mulai melakukan pemeriksaan rutin. Tangannya terampil memeriksa tekanan darah Sintia, menghitung denyut nadi, lalu melihat angka yang muncul pada alat pemantau di samping ranjang.
"Bu Sintia?"
Tidak ada jawaban.
Perawat itu kembali memanggil.
"Bu Sintia, bisa dengar suara saya?"
Sintia tetap tidak bergerak.
Kelopak matanya terpejam rapat.
Napasnya terdengar teratur.
Perawat itu kemudian mengambil senter kecil dari saku seragamnya lalu memeriksa respons pupil mata Sintia.
Beberapa detik berlalu.
Ekspresinya perlahan berubah bingung.
Arkan yang memperhatikan dari kursinya langsung menangkap perubahan tersebut.
"Ada masalah?"
Perawat itu menoleh.
"Bukan begitu, Pak."
Ia kembali melihat lembar catatan medis di tangannya.
"Kondisi pasien sebenarnya cukup stabil."
"Cukup stabil?"
"Tekanan darahnya normal. Denyut nadinya juga baik. Respons pupilnya bagus."
Perawat itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Biasanya setelah mendapat penanganan dan kondisi tubuh mulai stabil, pasien perlahan akan sadar. Tapi mungkin efek kelelahan atau stresnya masih cukup berat jadi Istri Bapak belum sadar."
Arkan tidak menjawab.
Tatapannya perlahan beralih kepada Sintia.
Perawat itu kembali mencoba memanggil.
"Bu Sintia?"
"Bu Sintia, kalau bisa mendengar suara saya, coba gerakkan jari tangan."
Tidak ada respons.
Padahal di balik kelopak mata yang tertutup rapat, jantung Sintia justru berdetak semakin cepat.
Ia mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap percakapan.
Bahkan, suara napas Arkan yang duduk tidak jauh darinya.
Ia tahu.
Arkan sudah mengetahui sesuatu.
Sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan mati-matian.
Bayangan dokter yang menunjukkan hasil pemeriksaan kembali muncul di kepalanya.
Usia kandungan tidak sesuai.
Kalimat itu seperti palu yang terus menghantam pikirannya tanpa henti.
Ia ingin membuka mata.
Ingin segera menjelaskan.
Namun, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Kebohongan yang selama ini ia bangun terlalu besar. Sekarang ... semuanya mulai runtuh satu per satu.
"Kalau ada perubahan kondisi, silakan tekan tombol panggil perawat, Pak."
Suara perawat membuyarkan pikirannya.
Perawat itu merapikan selimut Sintia sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Pintu kembali tertutup.
Ruangan itu kembali sunyi.
Sangat sunyi.
Hanya suara mesin monitor yang terdengar pelan di antara keheningan.
Arkan beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekati Sintia lalu menunduk. Tanpa banyak bicara, ia mencengkeram kuat tangan wanita itu.
"Kau masih tak ingin bangun?" bisik Arkan geram. Seolah ingin meremukkan wanita yang terbaring di sana.
Refleks, Sintia langsung membuka mata. Tubuhnya gemetar ketakutan.
"Ikut aku, dan katakan semua dosamu padanya!"
_____
"Nona, Anda bisa tinggal di kamar ini. Untuk sementara rumah ini aman untuk Anda. Kalau Anda kembali ke rumah, takutnya banyak paparazi yang akan mengintai."
Sophia menatap pintu kamar di depannya.
Percaya?
Tentu saja tidak.
Kalau hanya untuk menghindari wartawan, ia bisa berdiam diri di apartemennya selama beberapa hari. Selama stok makanannya masih ada, ia bahkan tidak perlu keluar rumah.
Namun, Sophia tetap mengembuskan napas pelan.
Perkataan Jack tidak sepenuhnya salah.
Dulu ia bisa pergi ke mana saja tanpa khawatir ada orang yang mengenalinya. Sekarang berbeda. Wajahnya sudah muncul di berbagai berita hiburan. Orang-orang pasti penasaran dengan kehidupan tunangan Damian.
Setidaknya untuk sementara waktu, tinggal di sini memang pilihan yang lebih aman.
Meski begitu, setelah keadaan mereda, ia tetap berniat meminta tempat tinggal lain pada Damian.
Anggap saja kompensasi.
Mengingat kejadian ciuman tadi, Sophia masih merasa kesal. Sebenarnya ia ingin meninju Damian tepat di depan semua orang.
Sayangnya, tindakan itu sama saja dengan meletakkan kepalanya sendiri di atas balok eksekusi.
Jadi lebih baik dilupakan.
Bagaimanapun, semua orang mengira mereka pasangan yang sedang dimabuk cinta.
"Nona Sophia?"
Sophia menoleh.
Seorang pelayan muda berdiri di belakangnya sambil membawa sebuah nampan.
Mata Sophia langsung berbinar.
Ayam goreng.
Sambal pecak.
Nasi hangat.
Di tengah rumah mewah yang penuh makanan mahal dan aneh-aneh ini, hidangan itu terlihat seperti surga.
Pelayan itu tersenyum.
"Saya sengaja memasaknya untuk Anda. Semoga Anda nyaman tinggal di sini."
Ia lalu menunjuk beberapa pelayan yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Kalau Nona membutuhkan apa pun, kami akan dengan senang hati membantu."
Sophia menerima nampan itu.
Sebenarnya ia tidak terbiasa dilayani seperti ini.
Pandangan Sophia beralih pada Jack, seolah meminta penjelasan.
Jack tersenyum.
"Selama Tuan Damian tidak ada, Anda bisa makan apa pun yang Anda suka. Tapi kalau makan bersama beliau, kami terpaksa mengikuti selera beliau."
"Tidak apa-apa." Sophia mengangkat bahu. "Aku masih bisa bertahan beberapa suap."
Setidaknya ia tidak perlu makan makanan hambar setiap hari.
Pelayan muda itu tampak ragu-ragu sebelum bertanya, "Nona ... apa Anda berencana pindah?"
Sophia berkedip.
"Tentu saja."
Jawabannya begitu cepat hingga para pelayan langsung menegang.
"Aku tidak mungkin tinggal di sini selamanya. Kami bahkan belum menikah."
"Memangnya kenapa?" Sophia melihatnya heran.
Pelayan muda itu langsung melirik Jack dengan panik.
Jack berdeham kecil.
"Nona tidak perlu memikirkan tempat tinggal untuk sementara waktu. Anggap saja rumah ini rumah Anda sendiri. Lagi pula Tuan Damian jarang berada di rumah."
Sophia menyipitkan mata.
Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya.
Aneh.
Sangat aneh.
Mereka semua terlihat seperti sedang berusaha membujuknya tinggal di sini.
Mirip orang yang memberi makan ayam dengan penuh kasih sayang sebelum menyembelihnya.
"Kalian menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak!" jawab mereka hampir bersamaan.
Pelayan muda itu buru-buru menambahkan,
"Nona, sebaiknya sering berjalan-jalan di rumah. Kalau bosan, kami bisa menemani."
"Di rumahku aku biasanya sendirian."
Pelayan itu tersenyum kaku.
"Kalau begitu ... Nona bisa berjalan-jalan sendiri."
Sophia semakin curiga.
Namun, semua pelayan, termasuk Jack, hanya tersenyum kikuk sambil menghindari kontak mata.
Mereka memang memiliki alasan sendiri.
Jika Sophia tinggal di rumah ini, jadwal istirahat mereka akan jauh lebih teratur.
Tidak ada lagi yang harus bergantian menemani Damian begadang sampai dini hari karena penyakit insomnianya kambuh.
Mereka sudah cukup menderita.
Kalau perlu, mereka rela membantu menyiapkan pesta pernikahan besok juga.
Asalkan Tuan mereka berhenti menyeret seluruh penghuni rumah untuk sama-sama tidak tidur setiap malam.
______
Sedangkan di tempat lain, tepat pukul sebelas malam, seorang wanita terduduk di depan makam.
Air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.
Jelas, ia merasa takut.
Ia seperti melihat seseorang tengah menuntut penjelasan darinya. Rasanya seolah ia akan dikubur hidup-hidup bersama puluhan makam yang mengelilinginya.
Arkan tampak tidak merasa kasihan.
Ia berjongkok di hadapan Sintia yang masih menangis.
Wanita itu mencoba memegang tangan Arkan, tetapi lelaki itu langsung menepisnya.
"Kenapa kau berbohong?" tanya Arkan dengan tatapan tajam. "Kakakku sudah meninggal di sana, dan kau masih punya hati untuk memfitnahnya. Sintia, iblis pun akan bersujud padamu karena ide gilamu ini."
Tangan Sintia bergetar. Ia berusaha menghindari tatapan Arkan. Namun, lelaki itu mencengkeram dagunya dan memaksanya menatap ke depan.
Tangis Sintia semakin pecah.
"Katakan padaku! Kenapa kau berbohong!"
B e r s a n b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih (◍•ᴗ•◍)❤