Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
Tuan Danendra menatap Rama dengan senyum kemenangan, mengira cowok remaja di hadapannya ini bakal gemetar ketakutan atau langsung menyambar amplop uang di atas meja.
Namun, Rama justru menurunkan pandangannya ke arah amplop cokelat itu selama beberapa detik, lalu kembali menatap lurus ke mata Tuan Danendra. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi lempeng seperti biasanya.
Rama mengulurkan tangan kirinya, mengambil amplop tebal berisi uang lima puluh juta itu, lalu menyodorkannya kembali tepat ke dada Tuan Danendra.
"Uang ini terlalu sedikit, Pak," ucap Rama tenang, suaranya bariton dan stabil.
Tuan Danendra menaikkan sebelah alisnya, tersenyum meremehkan. "Oh, ternyata kamu serakah juga? Kurang? Kamu mau minta berapa untuk menjauhi anak saya, hm?"
"Uang ini bahkan gak cukup buat ganti rugi satu tiang dari toko kelontong Ayah saya yang bapak hancurkan lima tahun lalu," balas Rama telak. Kalimatnya yang tajam langsung membuat senyum meremehkan di wajah Tuan Danendra seketika luntur.
Suasana di teras rumah menjadi semakin mencekam. Ayah Rama yang berdiri di belakangnya langsung menatap sang anak dengan pandangan tak percaya.
Rama melanjutkan kata-katanya sebelum Tuan Danendra sempat memotong. "Dan soal Naira... Bapak gak perlu khawatir. Tanpa Bapak suruh pun, saya gak pernah punya niat buat masuk ke sirkel kehidupan mewah kalian."
Rama menjeda kalimatnya, lalu menatap Tuan Danendra dengan tatapan yang sangat mengintimidasi untuk ukuran anak SMA.
"Tapi kalau Bapak mau tahu faktanya... kemarin sore bukan saya yang mencari Naira. Putri Bapak sendiri yang datang karena dia masih punya hati dan rasa kasihan terhadap manusia lain tidak seperti ayahnya, dan dia pasang badan buat saya karena dia punya sesuatu yang gak Bapak miliki."
"Apa?" desis Tuan Danendra, rahangnya mengeras karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh anak kemarin sore.
"Hati nurani," jawab Rama singkat dan menusuk. "Naira Alisha Danendra punya hati nurani yang gak bisa dibeli pakai uang lima puluh juta ini. Silakan bawa pulang kembali uang Bapak. Kami memang miskin, tapi kami gak menjual harga diri."
Tuan Danendra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya memerah padam karena murka. Belum pernah ada orang, apalagi anak dari keluarga korban gusurannya, yang berani menceramahinya sedalam ini.
"Kamu..." Tuan Danendra menunjuk wajah Rama dengan telunjuknya yang bergetar karena marah. "Arogansi kamu ini gak bakal bisa menyelamatkan masa depan kamu, Rama!"
Pria tua itu menyambar kasar amplop cokelatnya dari tangan Rama, lalu berbalik dan masuk ke dalam mobil sedan mewahnya dengan bantingan pintu yang sangat keras. Kedua ajudannya buru-buru menyusul masuk, dan dalam hitungan detik, mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan kepulan debu di gang sempit rumah Rama.
Begitu mobil itu hilang, ketegangan di teras rumah mendadak runtuh. Ayah Rama langsung memegang bahu anaknya.
"Ram... jadi cewek yang kemarin antar kamu pulang itu... anaknya Surya Danendra?" tanya Ayahnya dengan suara yang bergetar hebat.
Rama berbalik, menatap Ayahnya dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Maaf, Yah. Rama baru tahu tadi malam."
Rama dan keluarga masih merasa shock dengan kejadian pagi ini, namun apa yang terjadi hidup harus terus berjalan.
Rama berangkat menuju sekolah dengan pikiran yang kacau dan berfikir menjauhi Naira meskipun ini bukan kesalahan Naira.
Namun Untuk sebuah harga diri laki-laki dia memutuskan untuk menjauhi Naira untuk kehormatan dan perasaan keluarga serta keselamatan Naira.