"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sementara Kaenan menatap sekitar Rumah mang Hamit yang lebih besar dari pada Rumah milik Kiai Nuruddin.
"Itu Niken namanya, anak kedua dari mang Hamit, anak pertama nya bernama Najib, sudah kuliah di fakultas ekonomi semester tiga" bisik Syarif.
Kaenan hanya ber o saja menanggapi cerita dari Syarif itu.
Tidak seberapa lama, mang Hamit keluar, sambil mengorek ngorek sela giginya dengan tusuk gigi.
"Eh ada Syarif, sama siapa Rif?" tanya mang Hamit sambil duduk di samping Syarif.
"Iya mang, ini adik saya Kaenan" ....
Mang Hamit tersentak dari tempat duduk nya, menatap kearah wajah anak muda itu, "adik?… adik?… bukankah kau tak punya adik?" tanya mang Hamit heran.
Syarif tersipu malu, "eh iya sih mang, ini adik angkat saya, usianya baru empat belas tahun, tapi jangan lihat usia nya, kecil kecil cabe rawit mang, dia baru saja lulus SMA bersama saya, kami kebetulan satu nasib, sama sama anak yatim piatu tak punya siapa siapa, jadi kami berdua memutuskan untuk mengangkat saudara" sahut Syarif menjelaskan.
Senyum ramah mekar di wajah mang Hamit mendengar ucapan dari Syarif itu.
"Oooh begitu!, alangkah mulia nya hati kalian, mau saling menerima sebagai saudara, derita dan sengsara bukan untuk di ratapi, tapi untuk dihadapi, dahulu kau tinggal dimana nak?" tanya mang Hamit pada Kaenan.
Kaenan tertunduk beberapa saat, "dahulu saya tinggal di gubuk di pinggir tempat pembuangan sampah bersama ibu saya mang, oleh Kiai Nuruddin, saya disekolahkan hingga tamat SMA" ujar nya.
"Kiai Nuruddin pengasuh pondok pesantren Al Ilmi itu kan?" tanya mang Hamit.
"Inggih mang!, saya salah seorang anak didik beliau juga" ....
"Oooh iya, iya, iya, beliau memang berhati mulia, kudengar semua putra putri beliau kuliah di Mesir ya, siapa nama mu tadi Kae …Kae …" ....
"Kaenan mang!" ....
"Iya Kaenan sekarang dimana orang tua mu?" tanya mang Hamit.
"Ayah meninggal saat saya baru berusia dua tahun, sementara ibu saya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu" ....
Seorang gadis cantik muncul dari dalam Rumah, membawa baki berisi tiga gelas kopi panas dan beberapa potong pisang goreng.
Gadis itu menatap kearah Kaenan beberapa saat, lalu tersenyum simpul, "ini Kaenan murid kelas sebelas yang jamping kelas itu kan?" ujar nya malu malu.
"Benar kak, saya Kaenan kelas sebelas A, yang ikut ujian akhir kelas dua belas itu" sahut Kaenan.
"Saya Niken, kelas sebelas B, pantesan saya seperti pernah lihat, pah!, dia ini meskipun jamping dari kelas sebelas dan ikut ujian kelulusan kelas dua belas, tapi dia mampu mengalahkan murid murid asli kelas dua belas, dia lulus dengan peringkat pertama" ujar Niken yang ternyata banyak tahu tentang sekolah Kaenan.
Mang Hamit menatap kearah Kaenan dengan tatapan kagum.
"Kalau dilihat dari usia mu, berarti kau sudah sering jamping kelas, iya?" ....
"Iya mang, di madrasah ibtidaiyah dua kali, di SMP sekali dan di SMA sekali" ....
"Waooo berarti kau anak jenius, kenapa tidak melanjutkan kuliah saja?" tanya mang Hamit lagi.
"Saya tidak berani berkhayal terlalu tinggi mang, kuliah memerlukan biaya yang sangat besar mang, saya jadi nya seperti Anai anai membangun Blambika untuk mencapai Bulan, sampai kiamat tak akan mungkin tercapai" sahut Kaenan disambut suara tawa ramah mang Hamit.
"Oh iya Rif!, ada apa nih malam malam mampir kerumah mamang?, bukan untuk melamar Niken kan?" canda mang Hamit disambut suara Niken mengomeli ayah nya.
"Bukan mang, mana saya berani melamar Niken, saya dan adik saya mau menanyakan kerjaan sama mang Hamit, barangkali ada, sebagai asisten tukang juga tak apa mang!" ujar Syarif.
Mang Hamit terdiam beberapa saat, menatap Syarif dan Kaenan bergantian.
"Kalau Syarif mamang tahu, sering bantu bantu kerja jika lagi libur, nah nak Kaenan sendiri pernah kerja apa?" tanya mang Hamit pada Kaenan.
"Saya juga sering bantu bantu kerja jadi asisten tukang di pondok mang jika lagi liburan" sahut Kaenan.
Setelah berpikir sejenak, mang Hamit mengangkat wajah nya menatap Syarif dan Kaenan kembali, seulas senyum ramah terbit di wajah nya, "baiklah Rif!, Kae!, kalian boleh kerja mulai besok, di proyek yang di pinggiran kota itu, memang agak jauh sih, kalau mau nginap di sana juga ada rumah bedakan yang saya sewa sementara" ujar nya.
Syarif dan Kaenan tersenyum senang mendengar ucapan pria paruh baya itu.
"Terimakasih mang!, terimakasih!" ucap kedua nya.
Syarif dan Kaenan pulang dari Rumah mang Hamit saat sholat isya sudah lama berlalu.
Sampai di Rumah, kedua nya segera menjalankan ibadah shalat isya berjamaah berdua.
Sementara itu, di sebuah Rumah mewah bertingkat tiga, nampak seorang pria tua, berusia enam puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap, berkulit putih, dengan rambut yang mulai memutih sebagian, berdiri dengan kedua tangan di tautkan di belakang punggung nya.
Pria tua itu berjalan mondar mandir di dekat jendela ruang tengah.
Dihadapan nya, duduk di sofa ruang tengah, terlihat dua pasang suami istri paruh baya, dua orang gadis dan seorang wanita tua yang masih terlihat cantik, meskipun usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun.
"Pah!, anak itu benar benar putra ku, aku sudah melakukan tes DNA, dan hasil nya sembilan puluh persen lebih menyatakan indentik dengan DNA ku, aku yakin dia putra ku yang hilang sembilan tahun yang lalu" ucap salah seorang pria paruh baya itu.
Pria tua itu, tuan Baskoro Hanggada, pemilik Hanggada Group, menatap Irfan Hanggada, putra kedua nya beberapa saat lamanya, entah apa yang ada didalam pikiran nya.
Sementara duduk di sofa lain nya, tuan Arifin Hanggada, putra tertua tuan Baskoro, juga diam sambil menatap kearah lantai.
"Hmm!, aku sangat senang mendengar cerita mu itu Fan, kalau benar, berarti penerus Hanggada group ada, aku tidak perlu susah susah mencari pengganti ku" ujar pria tua itu.
Tuan Arifin, putra tertua tuan Baskoro mengangkat wajah nya, menatap kearah pria tua itu.
"Tapi pah!, bukan kah setahun ini putri ku Bianca sudah kau persiapkan untuk menjadi CEO pengganti mu?" tanya tuan Arifin.
"Ya, itu sebelum putra Irfan diketemukan, sekarang setelah putra Irfan ditemukan, ya yang berhak adalah putra nya Irfan ini!" ujar tuan Baskoro dingin.
"Ah itu aturan mengada ada pah, mempercayakan perusahaan kepada seorang yang tidak jelas juntrungannya, sama saja papah menghancurkan perusahaan yang papah bangun sendiri!" ujar tuan muda Arifin lagi.
"Mas!, kau jangan bicara seperti itu!, putra ku bukan manusia yang tidak tahu juntrungan nya, dia putra ku, darah daging ku, asal usul nya jelas!" ucap tuan muda Irfan tidak senang dengan ucapan kakak nya.
Bianca adalah seorang gadis muda yang cantik lincah, serta bertalenta, lulusan universitas ternama, berusia dua puluh empat tahun, sudah sejak lama di persiapkan tuan Arifin untuk menggantikan posisi papah nya untuk menjadi CEO perusahaan Hanggada group.
Namun hingga kini, Bianca hanya diangkat oleh tuan Baskoro, menjadi asisten pribadi beliau saja, bukan sebagai CEO atau wakil CEO.
"Pah!, apa papah mau mempertaruhkan perusahaan dengan anak yang tak punya kredibilitas, seharus nya Bianca yang menjadi pimpinan perusahaan itu pah, jangan pertaruhkan perusahaan dengan hal yang belum pasti, lebih baik dengan orang sudah pasti mampu!" ujar tuan muda Arifin lagi.
"Sudahlah!, jangan per berat masalah yang tidak berat, toh Bianca bisa mendampingi adik nya nanti sebagai wakil" bantah tuan Baskoro.
"Apa?, wakil?, Bianca yang berpendidikan tinggi hanya menjabat wakil CEO?, sementara seorang yang baru lulus SMA menjadi CEO nya, ini tidak benar pah!, ini tidak benar!, papah mengorbankan perusahaan demi darah penerus generasi Hanggada, spekulasi papah terlalu beresiko tinggi!" teriak tuan muda Arifin, marah.
"Terserah apa yang kau katakan, ini perusahaan ku, yang ku bangun semenjak aku remaja, jika kau ngin menjadikan putri mu CEO, kau bisa menunjuk sebagai CEO perusahaan mu, bukan di perusahaan ku!" ujar tuan besar Baskoro lebih keras lagi.
Tuan muda Arifin terdiam membisu, menatap kearah lantai. Dia bukan nya tidak mau melakukan apa yang dikatakan papah nya itu, tetapi perusahaan nya yang tidak ada. Selama ini dia dan adik nya Irfan, terlena dengan usaha papah nya, sehingga tidak ada niatan sedikitpun untuk membuka usaha sendiri. Dalam pikiran kedua nya, jika nanti papah mereka sudah uzur, perusahaan ini akan mereka bagi dua sama rata. Tetapi ternyata hal itu tidak di setujui oleh papah nya, bagi orang tua itu, pantang membagi perusahaan itu menjadi dua atau tiga bagian. dia ngin Hanggada group tetap menyatu hingga perusahan ini berjaya secara Global, atau hancur.
"Aku sudah menyiapkan semua nya, pengacara dan Notaris sudah mengurus semua nya, kepemilikan saham perusahaan ini akan ku bagi rata sesuai aturan agama, untuk Bianca tiga puluh persen, untuk Syafea tiga puluh persen, dan untuk cucu laki-laki ku empat puluh persen!" ujar tuan Baskoro lagi.
Meskipun pembagian itu termasuk adil, tetapi dihati tuan muda Arifin, itu tidak adil. Seharus nya pembagian nya untuk nya lima puluh persen, dan untuk adik nya Irfan, lima puluh persen. Bagian nya jatuh ke tangan Bianca, dan bagian Irfan jatuh ketangan putra dan putri nya, itu baru adil.
Tetapi keputusan sudah diambil oleh si pemilik perusahaan itu sendiri, dia dan Irfan tidak boleh menggugat hak waris, karena papah dan mamah mereka masih hidup.
Tanpa bicara lagi, tuan muda Arifin pulang ke Rumah nya dengan raut wajah kesal dan kecewa.
Setibanya di Rumah, tuan muda Arifin menghempaskan tubuhnya diatas sofa dengan kasar. Diambil nya asbak, lalu dibanting nya kelantai hingga hancur berderai.
"Sial!, sial!, sial!… kenapa anak sialan itu bisa muncul begitu saja, mengacaukan rencana yang sudah ku susun dengan teliti, sial!, semua gara gara anak sialan itu, kenapa tidak dari dahulu dia ku lenyapkan?, kenapa dahulu ku buang saja?, kenapa?, heh kenapa tidak ku bunuh saja dia waktu itu, kenapa?"teriak tuan muda Arifin marah marah tak karuan.
Bianca, gadis cantik yang duduk disamping mamah nya terbelalak menatap kearah papah nya, "ja… ja… jadi yang menjadi penyebab hilang nya putra om Irfan dahulu itu papah?" tanya gadis itu.
"Ya!, aku membuang nya ke tempat sampah, semua ini ku lakukan untuk mu Caca, ini karena ketidak adilan kakek mu, dia ingin mewariskan seluruh perusahaan kepada putra dari om mu itu!" ujar tuan muda Arifin.
...****************...