Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
******
Tiga bulan berlalu tak terasa, kini terhitung sudah waktu Calista merasuki tubuh Sekar.
Hidup calista diisi dengan pengangguran, mengurus urusan mansion, dan kedua suaminya.
Perusahaan miliknya saat di tubuh Aruna dulu belum ada titik terangnya, benar kata Tuan Hendra. Bukan gampang membeli perusahaan yang tengah diambang perebutan keluarganya yang serakah, belum lagi ada Dimas yang mempertahankan perusahaan itu tetap milik Aruna— walau tubuhnya telah di kuburkan.
"Damar kemana sih? Udah lima hari pergi katanya ngurus kerjaan, tapi gak pernah ngabarin sedikitpun, bahkan chat pesan yang ku kirim tak pernah di balas. " Calista mendesah lelah seraya menatap room chat pesannya dengan Damar yang tidak aktif beberapa hari ini.
Saat ini ia tengah berada di belakang taman mansion, seorang diri. Arkana juga tengah sibuk dengan kerjaannya, apalagi pria itu mengurus dua perusahaan sekaligus.
Kalau Damar, entahlah Calista juga bingung.
Saat beberapa hari yang lalu pria itu tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa pada malam hari, dan mengatakan ada urusan penting yang dilakukan. Keesokan harinya hingga detik ini, pria itu tidak bisa dihubungi dan hilang entah kemana.
Sepertinya akhir-akhir ini, para pria di mansion tengah dilanda kesibukan. Karena Tuan Hendra— ayahnya, juga tengah sibuk sekali dan jarang pulang ke mansion beberapa hari ini.
"Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini, aku pernah merasakan posisi penuh kesibukan mengurus perusahaan. Tapi entah mengapa, aku akhir-akhir ini aku seperti ingin sekali berdekatan dengan kedua suamiku. " keluh Calista seraya menyimpan ponselnya di atas meja kayu didepannya.
"Aku tiba-tiba ingin makan mangga. " gumam Calista tiba-tiba seraya mengelus perutnya yang tiba-tiba saja bergejolak saat ia mengatakan itu.
Calista sibuk melamun sambil mengelus pelan perutnya.
Hingga kepala pelayan datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Nona muda. " panggil kepala pelayan menyadarkan Calista dari lamunannya.
"Kenapa kepala pelayan? Kenapa terlihat tergesa-gesa sekali, apa terjadi sesuatu? " Calista menatap bingung pada kedatangan kepala pelayan yang terlihat panik.
"Itu Nona muda, Lili saudari pelayan Elina di kabarkan telah meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. " beritahu kepala pelayan saat napas ngos-ngosannya sudah teratasi dengan damai.
"Hah?! " kaget Calista seraya menegakkan posisi duduknya. "Lili meninggal? Kamu tau dari mana kabar ini? "
"Dari beberapa pelayan di mansion yang tengah menggosip, Nona muda. Ternyata salah satu pelayan disini ada yang tempat tinggalnya sama dengan Elina dan Lili, kabarnya sudah menyebar di tempat asal mereka dan mayatnya juga sedang dalam perjalanan ke tempat tinggalnya. "
Calista terdiam seketika.
"Bukan itu saja kabar yang saya dengar hari ini. " kata kepala tiba-tiba.
"Ada apa? Mari duduk di kursi depan saya kepala pelayan. " pinta Calista penasaran. "Ada kabar apalagi yang kepala pelayan dapatkan? "
"Berita Tuan Atharva dan kedua orangtuanya digulingkan dari perusahaan, beredar luas di negara ini, Nona muda. " beritahu kepala pelayan dengan serius.
"Hah? Digulingkan? Lalu bagaimana kabar perusahaan itu sekarang, lalu bagaimana dengan Arkana? " tanya Calista beruntun, masih tidak percaya akan berita yang diberitahukan kepala pelayan.
“S-sekarang perusahaan itu menjadi milik Tuan Arkana, Nona… karena Tuan Arkana berhasil mengambil alih seluruh saham mayoritas dalam rapat darurat dewan direksi kemarin malam.”
Calista terdiam.
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Rapat darurat…?” ulangnya pelan.
“Iya, Nona. Kabarnya berlangsung sangat tiba-tiba. Bahkan banyak pihak yang tidak diberi waktu untuk bersiap. Tuan Atharva dan kedua orang tuanya langsung kehilangan kendali karena saham mereka… sudah lebih dulu diambil alih.”
Kening Calista semakin berkerut. “Diambil alih? Maksudnya… dibeli?” tanyanya, masih mencoba mencerna.
Kepala pelayan menggeleng pelan.
“Bukan hanya dibeli, Nona. Kabarnya ada beberapa investor besar yang tiba-tiba menarik dukungan mereka dari pihak Tuan Atharva… dan beralih ke Tuan Arkana. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.”
Deg.
Jantung Calista berdetak sedikit lebih cepat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Seolah semuanya… sudah direncanakan sejak lama.
“Lalu… sekarang bagaimana kondisi Atharva?” tanya Calista lagi, suaranya lebih pelan.
“Kabarnya beliau langsung mengamuk besar setelah kejadian itu. Sedangkan orangtuanya— tepatnya ibu Tuan Atharva jatuh sakit, dan kini mereka memilih menghilang untuk sementara waktu dari publik.”
Calista menghela napas perlahan.
Pikirannya terasa penuh.
Di satu sisi, ini kabar baik—Arkana berhasil mengambil alih perusahaan besar itu.
Namun di sisi lain…
Ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Damar menghilang tanpa kabar.
Kecelakaan Lili yang tiba-tiba, terasa begitu janggal.
Dan sekarang… kejatuhan Atharva dan kedua orangtuanya.
Semua seperti… saling terhubung.
“Nona muda… apakah Anda baik-baik saja?” tanya kepala pelayan, melihat Calista terdiam cukup lama.
Calista tersadar, lalu mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja…”
Namun tangannya tanpa sadar kembali mengelus perutnya.
Perasaan aneh itu muncul lagi.
Bukan sekadar firasat.
Lebih seperti… intuisi yang berteriak pelan di dalam dirinya.
“Kepala pelayan,” panggilnya tiba-tiba.
“Iya, Nona?”
“Tolong siapkan mobil. Aku ingin keluar sebentar.”
Kepala pelayan tampak ragu. “Sekarang, Nona? Kondisi di luar sedang tid—”
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” potong Calista pelan, namun tegas. “Dan… aku juga ingin menemui Arkana.”
Kepala pelayan akhirnya mengangguk. “Baik, Nona muda. Saya akan segera menyiapkannya.”
******
Tak lama kemudian, mobil hitam milik keluarga sudah melaju meninggalkan mansion.
Sepanjang perjalanan, Calista terus menatap keluar jendela.
Pikirannya tidak berhenti bekerja.
Arkana berhasil menggulingkan Atharva dan orangtuanya…
Itu berarti—
Pria itu sekarang berada di puncak.
Namun justru karena itulah… ia bisa menjadi target.
“Damar… kamu sebenarnya sedang apa?” gumamnya pelan.
Ponselnya masih sunyi.
Tidak ada balasan.
Tidak ada kabar.
Seolah pria itu benar-benar… menghilang dari dunia.
Tangan Calista mengepal pelan di atas pangkuannya. “Tolong… jangan sampai sesuatu terjadi…”
Namun jauh di dalam hatinya—
Ia tahu.
Sesuatu… memang sudah terjadi.
Dan ini baru permulaan.
******
^^^Ini part lumayan pendek dari yg lain. Sengaja karena ini nanti itu, pokoknya adalah... ^^^
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭