NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Perintah Mendadak

Hari pertama Elvara di divisi pusat dimulai dengan perasaan seperti seseorang yang dipanggil masuk ke ruang sidang sambil tahu keputusan belum tentu memihaknya. Sejak keluar dari lift khusus karyawan, bahunya sudah menegang dan telapak tangannya dingin. Ia datang lebih pagi tiga puluh menit dengan harapan suasana sepi bisa menolong napasnya lebih teratur, tetapi ketenangan tempat ini justru membuat kecemasan terdengar semakin jelas di kepala.

Lantai tiga puluh satu Alvero Group jauh berbeda dari divisi kreatif tempat ia bekerja sebelumnya. Lorongnya lebih luas, suara langkah lebih teratur, meja kerja tertata nyaris tanpa cela, dan dinding kaca memantulkan cahaya pagi dengan kesan bersih yang hampir steril. Orang-orang berbicara seperlunya, tertawa seperlunya, bahkan bunyi notifikasi ponsel terdengar singkat lalu segera dimatikan. Tempat ini terasa seperti mesin mahal yang tak memberi ruang bagi kesalahan kecil.

Di ujung lorong, ruang CEO berdiri dengan pintu kayu gelap dan kaca buram yang memantulkan siapa pun yang mendekat. Tak perlu tulisan nama pun semua orang tahu siapa pusat gravitasi lantai ini. Dari ruangan itu, keputusan besar keluar. Dari ruangan itu pula hidup Elvara mulai berantakan sejak kemarin.

Ia duduk di meja barunya sambil menyalakan laptop, lalu membuka file presentasi yang sebenarnya tak ia baca. Matanya bergerak di layar, tetapi pikirannya sibuk menyusun rencana keluar yang semakin sulit dilakukan. Surat resign masih tersimpan di tas, terlipat rapi di dalam map putih, dan kini terasa seperti benda tak berguna yang sengaja ia bawa untuk menyiksa diri sendiri.

"Bu Elvara?"

Ia menoleh. Daniel berdiri di samping meja sambil membawa mug kopi berwarna hitam doff. Pria itu selalu tampak rapi, ramah, dan bergerak cepat seperti orang yang sudah lama terbiasa dengan tekanan lantai ini.

"Masih menyesuaikan diri?" tanyanya.

"Masih mencoba," jawab Elvara sambil tersenyum tipis.

Daniel tertawa ringan. "Normal. Minggu pertama di sini biasanya bikin orang bicara lebih pelan dan makan lebih cepat."

"Menarik sekali."

"Belum lagi kalau sering berurusan langsung dengan Pak Zayden. Itu level stres yang berbeda."

Elvara menahan diri agar wajahnya tetap datar. "Saya akan mengingat peringatan itu."

Daniel menyesap kopi lalu menurunkan suara. "Tapi kalau beliau pilih seseorang, artinya orang itu dianggap mampu. Banyak yang ingin duduk di posisi Anda sekarang."

Kalau saja mereka tahu, pikir Elvara, posisi ini lebih mirip kursi panas daripada promosi.

Beberapa menit kemudian lift privat di ujung lorong terbuka. Perubahan suasana terjadi halus tetapi nyata. Dua orang yang sedang bicara langsung berhenti. Seorang staf merapikan map di tangannya. Yang lain membetulkan posisi duduk. Tidak ada kepanikan, hanya refleks kolektif dari orang-orang yang mengenal ritme atasan mereka.

Zayden Alvero keluar dari lift dengan setelan abu gelap yang jatuh sempurna di badan tinggi tegapnya. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, tetapi cukup membuat orang menepi tanpa diminta. Wajahnya datar seperti biasa, dan Arsen berjalan dua langkah di belakang sambil membawa tablet serta beberapa berkas.

Elvara otomatis menunduk ke layar laptop, berharap dirinya terlihat sibuk dan tidak menarik perhatian. Harapan itu mati cepat ketika langkah pria tersebut berhenti beberapa meter dari mejanya.

"Selamat pagi."

Suara rendah itu jelas ditujukan padanya.

Ia mengangkat wajah perlahan. "Pagi, Pak."

Tatapan Zayden singkat, namun cukup membuat dadanya menegang. Sorot matanya tak hangat dan tak dingin. Lebih buruk dari keduanya, yaitu penuh perhatian.

"Ikut saya lima menit lagi."

Tanpa penjelasan, ia melanjutkan langkah ke ruangannya. Pintu tertutup rapi beberapa detik kemudian.

Area kerja yang semula sunyi mendadak hidup oleh bisik-bisik yang ditahan sopan.

Vania dari legal, yang kebetulan datang membawa dokumen, berhenti di dekat Daniel. "Baru sehari sudah dipanggil pagi-pagi?"

Daniel mengangkat bahu. "Mungkin proyek penting."

Pegawai lain menimpali lirih. "Atau evaluasi langsung."

"Atau orang baru ini memang spesial."

Elvara menatap layar laptop sambil menahan keinginan untuk kabur lewat tangga darurat.

Lima menit terasa terlalu cepat. Interkom di mejanya menyala.

"Bu Elvara, Pak Zayden menunggu."

Suara Arsen terdengar tenang dan formal, seolah tak ada drama apa pun di balik panggilan sederhana itu.

Elvara berdiri, merapikan blazer, lalu berjalan ke pintu ruang CEO. Ia mengetuk sekali.

"Masuk."

Ruangan luas itu dingin dan tertata sempurna. Rak buku rapi, meja besar nyaris kosong, aroma kayu dan kopi hitam memenuhi udara. Jendela tinggi memperlihatkan kota yang tampak kecil dari atas sana.

Zayden duduk di balik meja sambil membaca dokumen. Ia tak langsung menoleh.

"Tutup pintunya."

Elvara melakukan perintah itu sambil menahan kejengkelan.

"Ada tugas apa, Pak?"

"Anda selalu ingin langsung ke inti."

"Saya menghargai waktu."

Kini ia mengangkat kepala. "Bagus. Saya juga."

Ia mendorong satu folder ke arah depan meja.

"Asisten sekretaris utama saya cuti dua minggu. Saya butuh pengganti sementara."

Elvara menatap folder itu lalu kembali pada pria di depannya. "Saya ditempatkan di central strategy."

"Benar."

"Saya bukan sekretaris."

"Sementara."

"Itu tetap bukan bidang saya."

Zayden menyandarkan punggung ke kursi. "Anda pernah mengatur tim proyek lintas negara, memimpin presentasi klien, dan menangani jadwal kampanye dengan tenggat ketat. Menjawab telepon dan mengelola agenda bukan hal sulit bagi Anda."

Ia menggigit bagian dalam pipi agar tidak mengatakan sesuatu yang akan disesalinya. "Masih banyak orang lain di lantai ini."

"Ada."

"Kenapa saya?"

"Karena saya memilih Anda."

Jawaban itu keluar datar, tenang, dan menjengkelkan. Seolah pilihan pribadi sudah cukup menjadi alasan final.

"Apakah ini perintah resmi?" tanya Elvara.

"Ya."

"Berapa lama?"

"Dua minggu. Jika Anda bekerja baik, mungkin lebih singkat."

Itu ancaman yang dibungkus sopan santun. Ia tahu menolak sekarang hanya akan menarik lebih banyak perhatian.

"Baik," jawabnya akhirnya.

Zayden menatapnya beberapa detik, seperti seseorang yang baru memastikan bidaknya bergerak ke petak yang ia mau.

"Mulai hari ini meja Anda dipindah ke luar ruangan saya."

Elvara menatapnya tajam. "Supaya efisien?"

"Persis."

Ia hampir tertawa. Tidak ada yang efisien dari memindahkan staf strategi menjadi sekretaris dadakan kecuali satu hal, yaitu membuatnya selalu berada dalam jangkauan.

Kurang dari satu jam kemudian, seluruh lantai sudah mengetahui kabar itu. Meja Elvara dipindahkan ke area kecil tepat di depan ruang CEO, posisi yang biasanya ditempati sekretaris utama. Dari sana ia bisa melihat pintu ruang Zayden setiap saat, dan semua orang bisa melihat bahwa ia adalah orang terdekat yang baru.

"Selamat ya."

Ucapan pertama datang dari Mira divisi finance. Senyumnya manis, matanya menghitung.

"Terima kasih," jawab Elvara.

"Pak Zayden sangat selektif. Berarti Anda dipercaya."

Kalau bisa ditukar, ambil saja, pikir Elvara.

Orang lain datang dengan komentar serupa. Ada yang iri, ada yang penasaran, ada yang pura-pura tulus. Elvara menjawab seperlunya sambil menata napas.

Arsen muncul membawa tablet dan setumpuk agenda.

"Ini jadwal Pak Zayden, daftar kontak prioritas, format notulen rapat, serta kebiasaan dasar yang sebaiknya diketahui."

"Kebiasaan dasar?" tanya Elvara.

"Beliau tidak suka keterlambatan, perubahan font mendadak, dan kopi manis."

"Kepribadiannya konsisten."

Arsen menahan senyum tipis. "Saya tidak mendengar komentar itu."

Pintu ruang CEO terbuka.

"Bu Elvara."

Ia menoleh.

"Masuk."

Beberapa kepala di area kerja jelas memperhatikan diam-diam. Elvara membawa tablet lalu masuk.

Zayden berdiri di dekat jendela sambil melihat ponsel.

"Jadwal makan siang pindah ke jam satu."

"Baik."

"Rapat vendor besok dipindah ke ruang Sapphire."

"Baik."

"Sore ini saya butuh ringkasan proyek ekspansi."

"Baik."

Ia menulis cepat sambil berdiri. Ketika selesai, Zayden masih menatap tangannya yang bergerak.

"Anda patuh sekali hari ini."

"Saya sedang dibayar."

Sudut bibir pria itu bergerak tipis. "Jawaban yang sehat."

"Kalau hanya itu, saya keluar."

"Masih satu hal."

Ia menunggu dengan sabar yang makin tipis.

"Saya minum kopi hitam tanpa gula."

"Saya sudah diberi tahu."

"Bagus. Berarti Arsen belum perlu diganti."

Saat ia keluar, ia tahu pria itu sengaja memanggilnya untuk urusan yang bisa selesai lewat pesan singkat. Tujuannya bukan pekerjaan. Tujuannya kebiasaan. Ia sedang dibiasakan keluar masuk ruangan itu.

Menjelang siang, kesibukan benar-benar datang. Telepon masuk harus disaring, jadwal diubah, email ditinjau, dan dua rapat mendadak dipindahkan. Elvara mengerjakan semuanya dengan cepat. Ia membenci kenyataan bahwa dirinya memang mampu.

Daniel lewat sambil membawa map. "Kamu cocok juga di kursi itu."

"Aku sedang bertahan hidup."

Daniel tertawa, mengira itu candaan.

Pukul dua belas lewat dua puluh, interkom menyala lagi.

"Bu Elvara, kopi."

Ia memejamkan mata satu detik sebelum berdiri. Di pantry kecil, ia membuat kopi hitam tanpa gula sambil menatap cangkir seperti benda yang ikut bersalah.

Saat ia masuk ke ruangan, Zayden sedang membaca laporan keuangan.

"Terima kasih."

Nada sopannya terlalu rapi.

Elvara meletakkan cangkir lalu berbalik.

"Rheon suka susu cokelat atau stroberi?"

Langkahnya berhenti.

Ia menoleh perlahan. "Apa?"

Zayden tetap menatap dokumen. "Anak Anda."

"Kenapa Bapak menanyakan anak saya?"

Kini ia mengangkat kepala. "Rasa ingin tahu."

"Itu bukan urusan kantor."

"Benar."

"Jadi jangan dibahas saat jam kerja."

Keheningan turun beberapa detik. Zayden meraih cangkir, menyesap kopi, lalu berkata santai,

"Kalau begitu jawab di luar jam kerja."

Elvara menatapnya tak percaya sebelum berbalik dan keluar tanpa izin.

Di luar, Mira dan dua staf lain menunduk terlalu cepat ke layar komputer masing-masing. Jelas mereka mendengar.

Salah satunya berbisik, "Berani sekali."

Yang lain menjawab, "Pak Zayden malah kelihatan menikmati."

Elvara duduk sambil menutup mata sejenak. Ini benar-benar bencana yang memakai pakaian kantor.

Menjelang pulang, pesan dari Nira masuk berisi video Rheon menari aneh sambil memegang robot Sentinel. Bocah itu tertawa sendiri sampai terjatuh di sofa. Senyum kecil akhirnya muncul di bibir Elvara.

Saat itulah pintu ruang CEO terbuka lagi.

Zayden keluar dengan jas sudah dikenakan, siap pergi. Tatapannya sempat menangkap layar ponsel di tangan Elvara.

"Itu Rheon?"

Ia refleks mematikan layar. "Ya."

"Dia suka robot itu."

"Dia suka semua robot."

Zayden mengangguk seolah menyimpan informasi kecil itu ke tempat khusus di kepalanya.

"Lusa saya ada makan malam bisnis. Anda ikut."

Elvara membeku. "Kenapa saya?"

"Anda sekretaris sementara."

"Itu di luar jam kerja."

"Itu bagian pekerjaan."

Ia mendekat satu langkah. Tidak menyentuh, tetapi cukup dekat untuk membuat nadinya melonjak.

"Santai saja, Bu Elvara. Saya hanya butuh Anda tetap dekat."

Kalimat itu diucapkan datar, tanpa senyum, tanpa penekanan. Justru karena itu maknanya terasa lebih jelas.

Ia lalu berjalan melewatinya menuju lift privat. Aroma parfum maskulin tertinggal bersama kekacauan baru.

Seluruh lantai memandang Elvara dengan campuran iri dan kagum. Bagi mereka, perhatian CEO adalah keberuntungan langka.

Hanya Elvara yang tahu, setiap langkah pria itu bukan mendekat karena tertarik semata. Ia sedang mengepung perlahan, menutup semua jalan keluar sambil tersenyum tipis di waktu yang tepat.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!