NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 32

Beberapa saat kemudian. Ketika Anya dan Bara sedang asik berjalan di sore hari. Langkahnya terhenti. Mereka saling pandang ketika menemukan sesuatu yang tergeletak di tengah-tengah mereka.

"Apa ini? ... Mirip seperti dompet!" kata Anya, seraya mengambilnya dengan perlahan.

"Milik siapa ya?" tanya Anya, bola matanya mencari Bara yang juga sama terlihat bingung dengan apa yang mereka temukan.

Tidak berselang lama, langkah kaki yang sedikit terburu-buru terdengar menghampiri mereka dari belekang.

Langkah kaki itu berhenti tepat di belakang mereka seraya memperhatikan. Seorang pria paruh baya, dengan pakaian olahraganya berhenti seraya bertanya.

"Permisi ... Apakah kalian melihat dompet saya? Saya kehilangan itu ketika sedang berolahraga sore ini," ungkap sang pria. Memasang ekspresi bingung dan cemasnya karena terdapat beberapa barang penting di dalam yang sangat berharga.

Anya yang masih memegang dompet di tangan, menunjukannya kepada pria tersebut.

"Apakah Bapa mencari ini?" tanya Anya, menunjukan hasil temuannya yang ia sendiri tidak tahu punya siapa.

Pria itu tersenyum. Seolah berhasil menemukan harta karun yang telah lama ia cari. Ia berniat ingin mengambil langsung dompet yang ada di tangan Anya.

"Ah! ... Itu dompet saya."

Namun, tangan Bara lebih dulu meraih dompet itu karena berada lebih dekat di sebelah Anya.

"Maaf! Permisi ... Saya ingin mengecek terlebih dahulu apakah ini memang benar milik Bapa," kata Bara, seraya mengambil sebuah kartu tanda penduduk untuk mengkonfirmasi.

"Bara! Itu tidak sopan—"

Anya merasa kaget sekaligus bingung. Walaupun hal yang Bara lakukan benar, tapi ini nampak agak terlalu berlebihan.

"Nama?" tanya Bara dingin. Seraya memperhatikan foto yang ada di dalam kartu dengan menyamakan wajah pria di hadapannya.

Mau tidak mau, pria paruh baya ini harus mengikuti kemauan anak muda di depannya. Karena ia tahu, hal ini juga bertujuan baik untuk mengkorfirmasi sebuah identitas diri.

"Faisal."

"Tempat tanggal lahir?"

"Jakarta, 20 April 1967"

Bara mendelik. Memperhatikan setiap ekspresi yang keluar dari wajah pria paruh baya ini. Namun ia tidak menemukan kejanggalan apapun dari wajahnya.

Bara memasukan kembali kartu tanda penduduk itu ke tempat semula. Memberikan kembali dompet itu kepada Anya.

"Maaf, yaa Pak ... Temen saya tidak bermaksud jahat kok," kata Anya, dengan nadanya yang sopan sambil memberikan dompet itu kembali.

Pria itu tertawa pelan karena merasa canggung. Dan ia tidak marah, karena semua ini bisa terjadi juga akibat ulah kecerobohannya.

"Ah, iyaa ... Tidak apa-apa, saya mengerti. Maaf, yaa sudah membuat kalian khawatir," balas pria paruh baya itu mengulas senyum.

"Ini ada sedikit untuk kalian ... Semoga diterima yaa," pinta sang pria, memberikan sejumlah uang yang ia punya untuk membalas kebaikan mereka karena telah menemukan barang miliknya.

Anya dan Bara saling pandang. Anya merasa bingung dan tidak enak jika harus menerima uang yang cukup banyak itu. Sedangkan Bara, ia malah memberi kode dengan kepalanya untuk mengambil uang pemberian itu.

"Maaf, Pak ... Saya tidak bisa menerima uang itu, lagian ... Kami tidak sengaja juga menemukan dompet Bapa," ujar Anya, seraya mendorong kembali uluran tangan pria yang menggenggam uang itu.

"Tapi saya—"

"Udah ... Bapa simpen aja uangnya. Masih banyak orang yang lebih membutuhkan dari pada saya."

Melihat kebaikan hati Anya, Bara terus memperhatikannya. Dan perasaan itu sedikit berbeda, bukan karena paras cantik yang Anya miliki. Melainkan karena kebesaran hati Anya yang tulus membantu seseorang tanpa mengharapkan imbalan.

Pria itu membuang nafasnya pelan. Seraya menarik kembali tangan berisi uang yang sempat ia tawarkan untuk Anya.

"Baiklah. Jika begitu, saya benar-benar berterimakasih ... Sungguh," ucap pria itu, seraya membungkuk tulus untuk mereka.

Kemudian, setelah semuanya selesai. Pria itu kembali pergi, berjalan perlahan ke arah yang berlawanan dari Anya dan juga Bara.

"Kenapa menolaknya?" tanya Bara, sangat penasaran dengan jalan pikir Anya saat ini. Menurutnya, apakah masih ada? Orang yang lebih membutuhkan selain dia.

"Coba deh ... Kamu lihat ke samping" pinta Anya, menoleh ke arah seberang jalan dari tempat mereka berdiri.

Bara melihat seorang pria yang sedang duduk melamun. Berdiam diri seraya memegang kepalanya yang sudah tua. Di sampingnya, terdapat sebuah kerupuk besar dalam jumlah yang banyak belum laku terjual.

"Ada apa? Itu hanya pria tua yang sedang berjualan, apa ada yang salah?" tanya Bara lagi. Sekarang semakin semangat menunggu jawaban apa yang Anya berikan.

"Di saat hari sudah mulai gelap seperti ini, dia masih setia mau menghabiskan dagangannya yang masih banyak. Di umurnya yang sudah tua, seharusnya dia tidak lagi bekerja seperti itu ..."

"... Pasti, hidup dia berat. Jauh lebih berat dengan kita yang masih muda dan banyak tenaga," sambung Anya, menjelaskannya sambil tersenyum sebelum melanjutkan perjalanannya.

Sebuah senyum tipis keluar dari wajah tampan Bara. Ketika ia melihat Anya yang sudah berjalan. Di balik punggung kecil wanita itu, seperti ada tembok raksasa yang kokoh. Yang mampu membuat Anya terus melakukan kebaikan di tengah kesusahannya.

"Cih ... Lagi-lagi aku dapat pelajaran yang tidak bisa kumengerti," gumam Bara pelan, seraya menunduk mengurut keningnya sendiri.

Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Angin sore yang sejuk kini telah berubah berganti malam yang dingin.

Terlihat Bara dan Anya sekarang sedang duduk bersama di sebuah halte depan rumah sakit. Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih, namun tidak ada obrolan yang terjadi disana.

Sampai, akhirnya Bara memutuskan untuk bertanya.

"Apakah kamu tidak lapar?" tanya Bara, menoleh ke Anya dan memperhatikannya. Bara tahu setelah seharian bersama Anya, ia hanya makan satu kali tadi pagi.

Anya menatap Bara di sebelahnya. Memeluk dirinya sendiri karena sempat merasakan dingin dari angin malam yang melewati mereka.

"Tidak. Aku tidak lapar," ungkap Anya, menunjukan ekspresinya biasa agar Bara tidak usah memperdulikannya.

Ketika Anya berkata demikian, tiba-tiba saja suara perut yang bergetar keluar dari perut Anya. Suara lapar itu berasal dari Anya.

"Hm?"

Pandangan mereka bertemu. Di tengah-tengah Anya yang tidak bisa beralasan apa lagi usai bunyi suara itu.

"Ponsel ku mana?" tanya Bara tiba-tiba. Ingin mencari ponselnya yang sedari awal pertemuan mereka, tidak pernah Bara keluarkan.

"Kamu tidak membawa ponsel Bara ..." balas Anya, meyakinkan Bara atas sifatnya yang sering lupa.

"Aku pinjam ponsel mu sebentar," pinta Bara, menatap Anya yang sedari tadi memasang ekspresi heran.

"Hm? ... Ponsel ku?"

Anya sempat merasa ragu, bukan tidak ingin meminjamkan ponselnya. Ia merasa tidak yakin apakah ponselnya masih menyalah atau tidak, usai tidak pernah di cas beberapa hari ini.

Bara menerima telepon Anya. Membuka layar utama dan mulai mencatat sebuah nomor untuk di hubungi.

Karena Anya jarang memegang ponsel, baterai yang tertera masih tersisa 30% dan itu cukup untuk Bara melakukan panggilan dengan seseorang.

Tuut ... Tuut ...

"Kamu ingin menghubungi siapa?" tanya Anya, dengan ekspresi penasarannya ketika melihat Bara yang sibuk dengan ponsel milik Anya.

Bara tidak menjawab pertanyaan Anya. Ia berharap panggilan dengan seseorang yang ingin dia hubungi tersambung.

Tut!

Ekspresi Bara tiba-tiba berubah drastis. Anya yang saat ini melihat Bara, seperti sedang melihat orang lain yang memancarkan aura kedewasaan yang matang.

Karena suara dari beberapa kendaraan melintas yang berada di depan mereka, Anya jadi tidak bisa mendengar apa yang sedang Bara ucapkan.

Panggilan itu berakhir. Bara segera mengembalikan ponsel milik Anya dan tersenyum menatapnya.

"Terimakasih, yaa ..." ucap Bara, dengan tatapan manisnya yang mampu membuat Anya tertegun diam lama memandangnya.

"Hm?"

"... A-Ah, iyaa. Sama-sama," balas Anya, membuang pandangannya dari Bara setelah usai menerima ponsel miliknya.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!