Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Dinginnya pagi di kontrakan sempit Arumi. Suara dengung mesin pompa air dari kontrakan tetangga menjadi alarm alami baginya. Arumi terbangun dengan tubuh yang terasa remuk setelah seharian penuh kemarin bekerja sebagai buruh cuci dan mengalami penolakan pahit di Koperasi Sejahtera.
Di sampingnya, Kirana masih tertidur lelap, memeluk boneka kain yang sudah tampak kusam. Arumi menatap wajah putrinya, merasakan dorongan protektif yang begitu kuat hingga napasnya terasa sesak.
Ia teringat kembali wajah Rika, petugas koperasi yang menghinanya, dan suara melengking Mbak Sari yang memekakkan telinga.
"Ibu tidak akan membiarkan mereka menang, Kirana," bisik Arumi lirih, seolah berjanji pada masa depan putrinya.
Hari ini, Arumi tidak punya modal untuk berdagang kue. Bahan-bahannya habis, dan uang yang tersisa di dompet hanya cukup untuk membeli segelas beras dan dua butir telur. Namun, Arumi tidak boleh menyerah.
Ia memutuskan untuk beralih kembali menjadi buruh cuci di rumah orang kaya di perumahan elit ujung kota. Pekerjaan itu memang menguras fisik, tapi setidaknya ia dibayar tunai hari itu juga.
Siang hari, Arumi tiba di rumah besar milik Bu Hesti. Pekerjaannya berat, mencuci tumpukan baju bermerek dengan tangan, menyikat lantai teras yang luas, dan membersihkan dapur. Di sela-sela pekerjaannya, ia mendengar suara tawa dari ruang tengah.
Reni dan Dinda, dua teman masa SMA-nya, sedang berkunjung ke rumah Bu Hesti. Ternyata, Reni adalah keponakan jauh Bu Hesti. Arumi yang sedang membersihkan lantai teras terpaksa menunduk dalam-dalam agar tidak terlihat. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
"Eh, tunggu dulu. Itu bukannya Arumi?" suara Dinda terdengar tajam, memotong percakapan mereka.
Arumi mencoba mempercepat gerakan tangannya, tapi Dinda dan Reni sudah berdiri di ambang pintu teras dengan segelas jus di tangan mereka. Mereka berjalan mendekat dengan tatapan yang merendahkan.
"Benar! Itu Arumi si janda malang," seru Reni, tertawa geli sambil menunjuk ke arah Arumi yang sedang jongkok menyikat lantai. "Luar biasa ya, Rum. Dari dulu sampai sekarang, nasibmu tidak berubah. Tetap jadi babu. Kalau dulu di sekolah kita sering mengolokmu, sekarang pun sepertinya takdir ingin kamu tetap di lantai."
Dinda ikut tertawa, suaranya terdengar renyah namun menusuk hati. "Eh, dengar-dengar kemarin kamu ke Koperasi Sejahtera ya? Mau pinjam uang? Aduh, Arumi... sadar diri dong. Orang seperti kamu itu bukan untuk berbisnis, tapi untuk disuruh-suruh. Mau sampai kapan pun, status jandamu itu sudah jadi stempel gagal di jidatmu."
Arumi menghentikan sikatnya. Ia merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang. Ia ingin membalas, ingin melempar kain pel itu ke wajah mereka, tapi ia butuh uang untuk makan Kirana malam ini. Ia memaksakan diri untuk tetap tenang.
"Aku bekerja dengan jujur, Dinda, Reni. Aku tidak mencuri dan aku tidak merugikan kalian," jawab Arumi dengan suara datar namun tegas.
"Jujur?" Dinda mendekat, wajahnya yang penuh makeup tampak kontras dengan wajah Arumi yang berkeringat dan kusam. "Bekerja jadi babu memang jujur, tapi apa itu masa depan? Kirana mau jadi apa kalau ibunya saja seperti ini? Kasihan anak itu, punya ibu yang tidak punya martabat."
Kata-kata itu menyambar hati Arumi seperti cambuk. Ia bisa menerima hinaan tentang dirinya, tapi saat mereka membawa nama Kirana, api di dalam dada Arumi berkobar hebat. Ia berdiri perlahan, menatap mata Dinda tanpa rasa takut.
"Kalian tidak tahu apa-apa tentang hidupku," ucap Arumi dengan nada rendah yang dingin. "Kalian mungkin merasa menang sekarang karena kalian punya segalanya. Tapi ingat, roda itu berputar. Aku mungkin sedang di bawah, tapi aku tidak akan berada di sini selamanya."
"Wah, berani juga ya janda ini?" Reni tertawa sinis, lalu ia sengaja menumpahkan sisa jus jeruk di tangannya ke lantai yang baru saja Arumi bersihkan. "Ups, maaf. Lantainya kotor lagi ya? Tolong bersihkan lagi dong, Arumi. Kan memang tugasmu."
Arumi menatap cairan kuning yang berserakan di lantai, lalu menatap wajah Reni dan Dinda yang sedang menahan tawa. Kebencian Arumi mencapai titik didih. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai teman masa kecil, melainkan sebagai musuh yang harus dihancurkan.
Alih-alih menangis atau memohon, Arumi mengambil kain pel dengan gerakan tenang. Ia mengusap lantai itu hingga bersih kembali. Ia menatap mereka sekali lagi dengan tatapan yang membuat Reni dan Dinda mendadak berhenti tertawa.
Itu bukan tatapan takut atau sedih, melainkan tatapan seseorang yang baru saja membuat keputusan besar.
"Terima kasih atas tumpahannya," ucap Arumi dingin. "Ini adalah terakhir kalinya kalian bisa melihatku seperti ini."
Arumi berbalik dan meninggalkan rumah itu tanpa menunggu bayaran. Ia tahu, setelah ini Bu Hesti mungkin tidak akan memanggilnya lagi. Ia telah memutus satu-satunya sumber penghasilan hariannya.
Ia berjalan pulang di bawah terik matahari, dengan perut kosong dan kantong yang hampir kering. Namun, anehnya, ia merasa lebih ringan. Ia tidak lagi terikat pada ekspektasi orang lain. Ia baru saja dibuang oleh sistem, oleh saudara, dan oleh teman-temannya.
Sesampainya di kontrakan, ia melihat Kirana sedang mencoba mencoret-coret kertas bekas dengan krayon patah. Hati Arumi mencelos. Ia berlutut di samping anaknya dan memeluknya erat.
"Besok akan sulit, Kirana. Sangat sulit," bisiknya. "Tapi Ibu berjanji, kita akan keluar dari semua ini."
Malam itu, Arumi tidak tidur. Ia menghitung sisa berasnya, memikirkan setiap keterampilan yang ia miliki. Ia bisa menjahit, ia bisa memasak, ia bisa berdagang.
Ia akan mulai menjual barang-barang miliknya yang masih berharga, meski hanya perabot dapur, untuk dijadikan modal kecil yang tidak perlu dipinjam dari koperasi mana pun.
Arumi membuka laci, mengeluarkan sebuah buku tua milik ibunya yang berisi catatan resep rahasia dan beberapa teknik sulam kain. Selama ini ia menyimpannya dengan rapat karena takut dihina. Sekarang, buku itu akan menjadi senjatanya.
Ia tidak akan lagi menjadi Arumi yang disuruh-suruh. Ia akan menjadi Arumi yang menetapkan harga untuk dirinya sendiri. Di ujung malam, saat ia menutup buku itu, ia merasa ada sesuatu yang berubah. Ia bukan lagi Arumi si janda malang.
Ia adalah seorang komandan yang baru saja kehilangan pasukannya, dan sekarang mulai merekrut kemarahan sebagai prajurit utamanya.
Besok, ia tidak akan lagi mencari pekerjaan sebagai buruh cuci. Besok, ia akan mulai membangun bisnisnya sendiri dari reruntuhan harga dirinya yang sudah ia kumpulkan kembali.
'Kalian semua,' pikirnya sambil menatap kegelapan di luar jendela, 'kalian hanyalah batu loncatan yang akan segera kutinggalkan jauh di bawah.'
Arumi pun terlelap dengan senyum tipis di bibirnya, senyum yang bukan lagi tentang kelemahan, melainkan awal dari sebuah pembalasan yang direncanakan dengan sangat rapi.
...----------------...
To Be Continue .....
semoga kuat dan sabar Arumi