NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang tidak sempurna

“Dari mana kamu?”

Citra menatap malas suaminya. “Dari mana lagi kalau bukan belanja?” jawabnya sambil meletakkan barang belanjaan di atas meja rias.

Samuel mendekat. “Citra, apa kamu tidak tahu cara melayani suami?”

Citra menghela napas pelan, lalu menoleh. “Kamu kenapa sih, sayang? Aku baru pulang lo. Aku capek, pengen istirahat.”

“Capek? Kamu bilang capek? Lalu aku bagaimana, hah? Seharian aku kerja di kantor. Pulang ke rumah, kamu malah nggak ada. Kamu hanya tahu belanja dan belanja,” ucap Samuel dengan nada meninggi.

“Itu tugas kamu sebagai suami.”

“Lalu tugas kamu apa, hah? Selama kita menikah, aku bahkan tidak pernah merasakan makananmu, apalagi perhatianmu! Yang kamu tahu hanya belanja!”

“Aku bukan pembantu yang harus membuatkan kamu makanan!” balas Citra tak kalah tinggi.

“Dan aku bukan budakmu yang bisa kamu perlakukan seenaknya.”

Citra menatap Samuel dengan mata tajam. “Kamu kenapa sih? Baru pulang langsung marah-marah.”

Samuel terkekeh kecil sinis. “Aku marah? Harusnya kamu yang sadar diri.”

Citra mengerutkan kening. “Maksud kamu apa?”

Samuel melangkah mendekat, sorot matanya menekan. “Kamu pikir rumah tangga itu cuma soal jalan-jalan dan belanja?”

Citra mendengus. “Aku capek, Samuel. Aku juga punya kehidupan sendiri.”

“Capek?” Samuel mengulang, suaranya mulai meninggi. “Setiap hari yang kamu lakukan cuma belanja, keluar rumah, pulang bawa barang, itu saja!”

Citra langsung menatap tajam. “Jangan merendahkan aku.”

“Merendahkan?” Samuel tertawa pelan tanpa humor. “Kalau bukan itu, apa lagi yang kamu lakukan sebagai istri?”

Citra menghela napas kasar. “Aku tidak harus jadi pembantu di rumah ini!”

Samuel langsung menatapnya lebih tajam. “Aku tidak pernah minta kamu jadi pembantu. Aku cuma minta kamu jadi istri, Citra!”

Citra tersentak. “Aku sudah jadi istri kamu!”

“Kalau iya, mana tanggung jawabmu?” suara Samuel semakin dalam. “Mana makanan yang kamu siapkan? Mana perhatian kecil yang seharusnya ada di rumah ini?”

Citra terdiam sesaat, lalu membalas lebih keras. “Kamu pikir aku tidak punya hak hidup sendiri? Aku bukan robot yang cuma di rumah nunggu kamu pulang!”

Samuel mengusap wajahnya kasar, emosi makin naik. “Aku kerja seharian, Citra. Pulang berharap rumah ini ada rasa ‘rumah’, tapi yang aku dapat cuma kosong!”

“Sudah lah, aku malas debat. Aku capek!” ucap Citra lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, ia menatap dirinya di cermin dengan ekspresi kesal yang belum reda. “Sial, berani-beraninya Samuel memarahiku. Mana mungkin aku memasak untuknya? Apa dia lupa aku ini tuan putri sejak lahir, masuk dapur saja aku jarang.”

Dring! Ponselnya berdering.

Ia menoleh ke arah ponselnya yang tidak jauh darinya. Wajahnya yang tadi kesal seketika berubah menjadi sumringah saat melihat nomor tersebut. Tanpa ragu, ia langsung mengangkatnya.

“Hai, honey.”

Sementara itu, Samuel mengusap wajahnya kasar. Ia lalu meraih kunci mobil. Ia butuh ketenangan, menjauh dari suasana rumah yang membuatnya semakin sesak.

“Mau ke mana kamu?”

Langkah Samuel terhenti. Ia menoleh, melihat mertuanya mendekat.

“Keluar, Pa,” jawab Samuel singkat.

Cakra menatapnya dalam. “Kalian bertengkar?”

Samuel terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. “Iya, Pa.”

Cakra mendekati menantunya dengan sorot mata tegas. “Saya peringatkan kamu, jangan sampai kamu membuat putri saya menangis,” ucapnya penuh tekanan.

“Pa, saya hanya…”

Cakra mengangkat tangannya, memotong ucapan Samuel. “Tidak ada bantahan, Samuel. Ingat, tidak ada yang boleh menyakiti putri saya. Jika itu terjadi, saya sendiri yang akan bergerak.”

Cakra menepuk bahu Samuel pelan namun penuh penekanan. “Ini peringatan terakhir saya.”

Samuel menghela napas kasar. “Iya, Pa. Saya paham. Maaf.”

Samuel memilih untuk mengalah. Ia tahu, apa pun yang ia katakan, mertuanya akan selalu berpihak pada putrinya.

°°••°°

“Astaga, Niel.”

Diana terkejut bukan main saat baru saja membuka pintu, dan Niel sudah berdiri di depannya dengan wajah datar seperti biasanya.

“Pagi, Diana,” sapa Niel singkat dengan wajah datar.

“Eh, pagi Pak… maksud saya Niel,” balas Diana gugup. “Ada apa kamu kemari pagi-pagi begini?”

“Jemput kamu,” jawab Niel datar.

“Jemput aku?” ulang Diana pelan, memastikan ia tidak salah dengar.

Niel mengangguk singkat tanpa ekspresi.

“Kita searah ke Castella Cake.”

Diana langsung refleks menggeleng. “Tidak perlu, Pak… maksudku Niel. Aku sudah pesan taksi online.”

Tatapan Niel turun sekilas ke ponsel di tangan Diana.

“Batalkan.”

Diana terdiam. “Hah?”

“Batalkan taksinya,” ulang Niel lebih datar.

Tanpa menunggu jawaban, Niel langsung berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu dengan tenang, lalu menoleh sekilas ke arah Diana.

“Masuk.”

Diana masih diam di tempat, bingung dengan sikapnya yang terlalu cepat mengambil keputusan.

“Tapi—”

“Masuk,” potong Niel lagi, kali ini lebih singkat dan tegas.

Diana masih ragu, berdiri di tempatnya tanpa bergerak. Sampai akhirnya Niel menutup jarak sedikit, suaranya lebih rendah dari tadi.

“Kalau kamu tetap di situ, kamu akan terlambat.”

Diana menghela napas pelan. “Kamu ini… kenapa sih selalu seperti ini?”

Namun akhirnya, tanpa banyak pilihan lain, ia melangkah pelan menuju mobil.

Niel sudah lebih dulu masuk ke kursi pengemudi dan menunggu tanpa banyak bicara.

Diana akhirnya ikut masuk, masih dengan wajah bingung yang belum hilang sepenuhnya.

Mobil mulai bergerak.

Di dalam keheningan, Diana sesekali melirik Niel dari samping. Pria itu tetap fokus ke jalan, seolah tidak terjadi apa-apa.

Diana menghela napas kecil.

“Orang ini… benar-benar aneh,” gumamnya pelan dalam hati.

Niel yang mendengar itu hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus menyetir tanpa komentar.

“Kamu sudah sarapan?” tanya Niel memecah keheningan di dalam mobil.

Diana menggeleng pelan, ia memang terlambat bangun hingga lupa sarapan.

“Belum.”

Niel kemudian mengambil sandwich dari belakang jok, sambil tetap memegang kemudi lalu menyerahkannya pada Diana. “Jangan lupa sarapan. Anakmu butuh nutrisi.”

Diana terdiam sejenak, menatap sandwich yang disodorkan Niel tanpa menoleh sepenuhnya.

“Ini…” gumamnya pelan.

Niel tetap fokus menyetir. “Ambil.”

Diana ragu, tapi akhirnya menerima juga. “Terima kasih.”

Ia membuka bungkusnya perlahan, masih merasa aneh dengan perhatian kecil yang terus-menerus datang tanpa ia minta.

Sesaat hanya terdengar suara mesin mobil dan jalanan pagi yang mulai ramai.

Diana menggigit sandwich itu, lalu melirik Niel dari samping.

“Kamu… selalu seperti ini ke orang lain?” tanyanya pelan, ragu.

Niel tidak langsung menjawab. Tangannya tetap stabil di kemudi, matanya lurus ke depan.

“Seperti apa?”

“Memperhatikan hal-hal kecil,” jawab Diana pelan. “Air minum, sarapan… bahkan mengantar seperti ini.”

Hening singkat.

Niel baru menjawab setelah beberapa detik.

“Tidak.”

Diana berkedip. “Hah?”

“Tidak ke semua orang,” ulang Niel lebih tegas, tetap tanpa menoleh.

Kalimat itu membuat Diana langsung diam.

Ia kembali menatap sandwich di tangannya, merasa suasana di dalam mobil tiba-tiba jadi sedikit berbeda dari sebelumnya.

Diana menunduk pelan. “Oh…”

Niel melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan.

“Jangan kebanyakan berpikir,” ucapnya datar.

Diana langsung buru-buru mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Iya…”

Tapi entah kenapa, pikirannya justru semakin ramai.

Tak selang lama, mobil berhenti di Castella Cake. Tempat itu masih terlihat sunyi, hanya beberapa motor terparkir, kemungkinan milik para pegawai.

“Terima kasih, Niel,” ucap Diana.

Niel mengangguk singkat, lalu turun dari mobil. Ia langsung melangkah lebar dan membukakan pintu untuk Diana.

Perlakuan itu membuat Diana terkejut. “Tidak perlu seperti ini, Niel,” ucapnya merasa tidak enak.

“Aku tidak perlu meminta pendapatmu,” jawab Niel singkat.

Diana menghela napas pelan, lalu keluar dari mobil sambil memegang perutnya. Niel memperhatikannya, tangannya terangkat di atas kepala Diana agar tidak terbentur pintu mobil.

“Sekali lagi, terima kasih, Niel.”

“Iya,” jawab Niel singkat. “Jangan capek-capek, kalau ada apa-apa hubungi aku.”

Setelah itu, Niel kembali masuk ke mobil tanpa menunggu jawaban lebih lama. Diana hanya menatapnya bingung.

Diana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dia sebenarnya kenapa sih? Dingin tapi perhatian,” gumamnya pelan.

Tiin!

Suara klakson membuyarkan lamunannya. Ia menoleh, melihat Niel sudah berada di dalam mobil.

“Aku pamit.”

Diana tersenyum. “Hati-hati, sekali lagi terima kasih.”

Niel mengangguk singkat, lalu mobilnya perlahan menjauh.

“Diana…” batinnya, dadanya terasa hangat melihat senyum Diana. Rasanya tidak sia-sia ia menjemputnya.

“Ini pagi yang sangat indah.”

Setelah mobil Niel menjauh, Diana pun masuk ke dalam Castella Cake untuk mulai bekerja.

Saat pintu dibuka—

“Ciee...”

1
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!