NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 28: KEBANGGAAN YANG TERSEMBUNYI &

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 28: KEBANGGAAN YANG TERSEMBUNYI & PERMINTAAN YANG MENGGETARKAN HATI

Sesampainya di rumah, suasana terlihat ramai seperti biasa. Ketiga Abangku sedang duduk santai di beranda sambil mengobrol santai, melepas lelah setelah seharian bekerja. Di dekat mereka, Dimas, Bagas, dan si kecil Fajar juga sudah ada di situ. Mereka langsung menghampiriku sambil minta izin dengan wajah berseri-seri.

"Kak Ria... Kak Ria... kami izin ya mau main sebentar sama teman-teman di lapangan! Ada yang mau main bola, ada juga yang mau main layangan! Kami janji nanti kalau sudah mau Maghrib langsung pulang!" kata mereka serentak dengan riang.

Aku tersenyum mengangguk. "Iya ya sudah, main yang sopan ya, jangan berantem, nanti kalau sudah mau gelap langsung pulang. Ingat ya!"

Mereka berlari kecil bergegas pergi dengan gembira. Aku pun berjalan mendekati keluarga, lalu mengucapkan salam dengan lembut.

"Assalamualaikum... Bunda, Abang-abang semua..."

"Waalaikumsalam, Dik... Udah selesai ya ngajari anak-anak mengaji?" sapa Bang Arifin ramah.

"Alhamdulillah sudah, Bang. Tadi sudah selesai semua," jawabku pelan sambil duduk di samping Bunda.

"Lho, adik-adikmu mana, Nak? Kok gak ikut kamu pulang?" tanya Bunda sambil menatap sekeliling.

"Biasa deh Bun... mereka minta izin main dulu di lapangan sana sama teman-temannya," jawabku sambil tersenyum tipis.

Lalu wajahku berubah menjadi serius dan bingung. Aku menatap satu per satu wajah mereka, lalu mulai bercerita apa yang baru saja terjadi di depan musala tadi.

"Bun... Abang... Ria mau cerita ya. Ria mau minta pendapat kalian semua, soalnya Ria bingung banget rasanya tadi..."

"Ada apa Dik? Ada kejadian apa?" tanya Bang Hamza penasaran.

"Gini Bun, Bang... Tadi pas Ria pulang dari musala, Bu Yayik nungguin Ria di jalan. Beliau minta tolong sama Ria, minta supaya Ria mau mengajari anaknya, Bastian. Beliau cerita kalau nilai sekolah Bastian itu selalu dapat angka 5 terus, rapotnya penuh warna merah semua. Beliau sama Pak Agus takut banget kalau nanti pas Bastian masuk kelas 6, dia gak lulus sekolah karena nilainya jelek terus... Menurut Bunda dan Abang gimana ya? Ria harus jawab apa?"

Ruangan itu seketika hening. Bunda Maria diam membisu, menunduk sambil berpikir keras. Begitu juga dengan Bang Hamza, Bang Arifin, dan Bang Ardiansyah, mereka saling pandang, wajah mereka serius sekali. Suasana hening itu berlangsung cukup lama, seolah mereka sedang menimbang-nimbang hal yang berat.

Tak lama kemudian, Bang Hamza menghela napas panjang lalu menjawab pelan.

"Abang juga bingung sih Dik harus kasih saran apa... Abang takut lho kalau kamu dikasih tanggung jawab begitu. Mengajari anak orang itu gak gampang lho Dik, tanggung jawabnya besar banget. Kalau anak itu gak bisa, atau gak naik nilainya, nanti kamu juga yang disalahkan. Terus... kenapa gak disekolahkan les saja di tempat Bu Sila? Kan di situ ada guru khusus, tempatnya memang buat les pelajaran sekolah. Kenapa harus kamu Dik?"

Aku hanya diam menunduk mendengar itu.

"Gini Bang... Ria diam saja soal itu, Ria gak mau banyak bicara, takutnya malah salah ngomong lagi kalau Ria jelasin panjang lebar... Tapi satu lagi Bang... Bu Yayik bilang, nanti malam beliau mau datang ke rumah ini sama Pak Agus, mau ketemu Bunda sama Abang semua..."

"APA?!!"

Bang Hamza, Bang Arifin, dan Bang Ardiansyah serentak menjawab kaget bersamaan, matanya melotot besar. Aku sampai terlonjak kaget dengar suara mereka keras begitu.

"Hee... yyy... maafkan Abang ya Dik... Abang gak bermaksud bikin kamu kaget," kata Bang Hamza menyesal, sambil mengusap dadanya sendiri karena ikut kaget.

Malam pun tiba. Setelah kami selesai sholat Maghrib berjamaah, kami duduk bersama untuk makan malam. Menu kami sederhana saja, sayuran yang ditanam sendiri di kebun belakang, ditambah tahu goreng buatan Bunda. Tapi bagi kami sekeluarga, makanan sederhana itu rasanya nikmat sekali, penuh keberkahan, jauh lebih enak daripada makanan mewah orang kaya yang penuh dengan kesombongan.

Karena letak rumah kami agak jauh dari keramaian dan tetangga jarang-jarang, kebiasaan kami kalau sudah masuk malam dan selesai kegiatan, pintu rumah pasti sudah kami tutup rapat.

Tiba-tiba...

Tok... Tok...... Tok......

"Assalamualaikum..." suara lirih terdengar dari luar.

"Waalaikumsalam..." jawab kami semua serentak dari dalam rumah.

Abang Ardiansyah bergegas bangkit membukakan pintu. Di sana berdiri Bu Yayik dan Pak Agus.

"Eh... Bu Yayik, Pak Agus... Silakan masuk, Bu, Pak, ayo masuk..." sapa Bang Ardiansyah ramah.

"Terimakasih ya Nak... maaf ya datang malam-malam begini," jawab Pak Agus sopan.

Mereka berdua masuk dan duduk bersila di atas tikar sederhana yang kami hamparkan. Memang rumah kami kecil dan sederhana sekali, tapi kami usahakan tamu yang datang merasa nyaman dan dihargai.

"Assalamualaikum, Bu Maria..." sapa Bu Yayik.

"Waalaikumsalam, Bu Yayik, Pak Agus... Mari duduk ya. Maklum ya kalau tempatnya begini saja, sederhana sekali... Ada perlu apa ya Bu, Pak, sampai berkenan datang ke gubuk kami ini?" tanya Bunda lembut.

Bu Yayik menatap Bunda dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar saat mulai bicara.

"Sebenarnya kami datang ke sini malam ini, kami sekeluarga mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama Ibu Maria, sama Abang-abang, dan terutama sekali sama Nak Ria... Selama ini kami salah, kami ikut-ikutan benci, ikut-ikutan memandang rendah, ikut-ikutan ngomong yang enggak-enggak soal kalian... Kami minta maaf banget ya Bu..."

Bunda tersenyum tulus, lalu menjawab dengan kebijaksanaannya yang luar biasa.

"Ya ampun... Gitu saja kok Bu, Pak... Padahal sebelum kalian minta maaf, kami sekeluarga sebenarnya sudah lama memaafkan kok kalian. Apalagi kamu Nak Ria, bener kan Nak? Kamu sudah maafin mereka kan?"

Aku langsung mengangguk mantap sambil menunduk hormat. "Sudah kok Bun... Ria sudah lupa dan sudah maafin semua kok, gak ada dendam sama sekali."

Pak Agus lalu menyodorkan sejumlah beras dan bumbu dapur sederhana yang mereka bawa.

"Mohon maaf ya Bu... ini kami bawa sedikit beras, ada sedikit bumbu dapur juga... Mohon mau diterima ya Bu, sebagai tanda permohonan maaf kami..."

"Wah... ini kok jadi repot-repot begitu Bu Yayik, Pak Agus..." tolak Bunda halus.

"Gak sama sekali kok Bu... ini sedikit saja dari kami, tanda terimakasih kami," jawab Bu Yayik.

"Baiklah kalau begitu... Terimakasih ya Bu, Pak, kami terima dengan senang hati," jawab Bunda lembut.

Lalu Pak Agus pun langsung menyampaikan maksud dan tujuan utama kedatangan mereka malam ini.

"Begini Bu Maria, Bang Hamza, Bang Arifin, Bang Ardiansyah... Kami izin sama kalian semua ya. Kami mohon banget kalau Nak Ria boleh mengajari anak kami, Bastian. Ibu sama saya cemas sekali Bu, Pak... Nilai anak kami itu selalu angka 5 terus, rapotnya isinya merah semua. Saya sebagai orang tua takut sekali, nanti kalau dia masuk kelas 6, dia gak lulus sekolah kalau nilainya begini terus. Kami sudah bingung harus gimana lagi. Kalau diajarin sama kakak-kakaknya atau sama saya sendiri, bukan nurut malah ujungnya berantem terus, sampai pusing kepala saya Bu, Pak..."

Bunda dan Abang-abang serentak menoleh menatapku lekat-lekat. Bang Hamza pun menjawab mewakili kami semua.

"Gini ya Pak Agus, Bu Yayik... Kami sebenarnya takut lho. Kami takut nanti kalau Ria yang mengajari, hasilnya gak sesuai harapan kalian, atau gak ada perubahannya... Kami gak mau mengecewakan kalian," kata Bang Hamza jujur.

Bu Yayik langsung menyahut cepat, wajahnya penuh keyakinan.

"Hamza, Ibu mohon dengerin ya... Gini lho, Bastian itu selama diajar ngaji sama Bu Rini, dia gak bisa apa-apa. Dulu dia sama sekali gak bisa baca ayat pendek saja. Maaf ya bukan merendahkan Bu Rini, tapi emang Bastian aja yang kalau diajarin Bu Rini, dia cuma mau bercanda saja. Bu Rini juga pernah bilang kalau Bastian itu susah disuruh, banyak mainnya. Tapi... seminggu ini semenjak dia diajar sama Nak Ria, banyak sekali perubahannya! Abis sholat Maghrib dia bisa baca Al-Fatihah, baca Al-Ikhlas, baca Surah An-Nas, lancar! Pokoknya ada kemajuan banget. Dulu kalau mau makan aja diajarin berdoa susah banget, Ayahnya suruh pun gak mau denger... sekarang beda banget. Itu semua karena sabarnya Nak Ria ngadepin dia..."

Bang Arifin menatapku bertanya.

"Gimana Dik? Apa Ria sanggup? Kan Ria juga masih sekolah. Apa bisa kalau harus bagi waktu ngajari Bastian juga? Iya ini kan lagi libur, nanti kalau sudah masuk sekolah lagi gimana Dik?"

Aku menghela napas pelan, lalu menjawab dengan tenang dan keyakinan.

"Abang... maaf ya. Bagi Ria sih Insyaallah bisa atur waktu kok Bang... Tapi ada satu syarat Ria, Ria gak mau ada yang salah paham sama Ria, apalagi sama Bu Sila guru les itu ya Bang. Ria takut dikira mau ambil murid orang atau gimana, padahal niat Ria cuma mau bantu saja kalau memang bisa."

Pak Agus langsung menimpali cepat.

"Nak Ria... Ibu sama Bapak mohon banget deh sama kamu. Apa kalian gak tau? Sebenarnya Bastian itu dulu sudah pernah disekolahkan les khusus di tempat Bu Sila lho... Tapi ya gitu aja, gak ada perubahan apa-apa, tetap saja nilainya jelek. Tolong kami ya Nak Ria... kami percaya banget sama kamu..."

Bang Ardiansyah mengusap wajahnya, lalu mengajukan jalan tengah.

"Ya sudah kalau gini aja Bu, Pak... Kita ambil keputusan sementara dulu ya. Selama Ria masih libur sekolah, kita coba tes seminggu dulu. Bastian belajar sama Ria seminggu ini. Kalau ada perubahan dan ada kemajuan, baru kita lanjutkan. Kalau gak ada perubahan sama sekali, ya sudah jangan dilanjutkan lagi gimana? Biar sama-sama lega dan gak ada yang kecewa."

"Baiklah! Kami setuju!" jawab Pak Agus mantap. "Dan percaya deh... Bapak yakin banget sama Nak Ria. Nak Ria itu anak pintar lho tau? Dari kelas 6 SD sampai sekarang kelas 2 SMP kemarin, dia juara satu terus, dapat piala terus! Katanya kemarin dapat piala lagi tapi ditaruh saja di sekolah, gak mau dibawa pulang ke rumah... Dia rendah hati banget, gak mau pamer."

"APA?!!"

Bunda Maria, Bang Hamza, Bang Arifin, dan Bang Ardiansyah serentak melongo kaget bukan main, mata mereka terbelalak tak percaya.

"Apa bener begitu Dik Ria?!!" tanya mereka serempak.

Aku hanya menunduk dalam, mengangguk pelan sambil tersenyum malu, pipiku memerah karena malu sekali rahasia kecilku terbongkar begitu saja.

Bu Yayik mengangguk-angguk yakin. "Emang beneran lho! Emang kalian gak tau ya? Nak Ria itu juara satu terus dari dulu, pintar sekali, tapi dia diam saja, gak pernah ngomong apa-apa sama sekali sama kalian."

Pak Agus menatap kami semua dengan tatapan haru dan kagum.

"Seandainya saja ayah kalian itu orang baik, gak tega ninggalin kalian... Alangkah bahagianya dia punya anak perempuan satu-satunya yang sebaik, sesabar, dan sepintar Nak Ria ini. Rumah kalian juga pasti gak akan diambil orang lain kalau beliau masih ada," kata Pak Agus polos.

Mendengar kata "Ayah" itu, wajah Bang Hamza seketika berubah merah padam, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan rasa sakit hati yang masih perih.

"JANGAN SEBUT LAKI-LAKI TIDAK BERGUNA ITU LAGI PAK!!" bentak Bang Hamza tiba-tiba dengan suara bergetar menahan emosi.

Bunda langsung menegur lembut namun tegas. "Nak Hamza... gak baik bicara begitu Nak. Walaupun beliau sudah jahat sama kita, walaupun beliau sudah nyakitin kita sedemikian rupa, kita tetap gak boleh bicara kasar begitu sama beliau. Ingat Nak, kalau gak ada beliau, kalian juga gak ada di dunia ini. Itu prinsip Bunda, dan itu yang harus kita pegang."

"Maaf ya Bun... maaf ya Pak... Hamza jadi emosi kalau ingat itu... Hamza ingin sekali menemuinya, ingin sekali bertanya kenapa beliau tega begitu," kata Bang Hamza lirih menyesal.

Pak Agus merasa tak enak hati. "Maaf ya Nak Hamza... Bapak gak bermaksud mengungkit-ungkit lho... Maafkan Bapak ya..."

"Gak apa-apa Pak... sudah biasa kok," jawab Bang Arifin mewakili kami, mencoba mencairkan suasana.

Aku menghela napas panjang, lalu bergumam pelan tapi penuh makna.

"Astaghfirullah... Memang sedih sih kalau diingat-ingat lagi... Dulu kita punya rumah besar, nyaman, lengkap... Tapi setelah Ayah pergi, rumah itu diambil orang, katanya Ayah punya utang yang belum dibayar... Akhirnya berkat kebaikan bapak-bapak RT dan RW, mereka bikin rumah kecil sederhana ini buat kami. Tapi bagi Ria... rumah ini sudah cukup kok. Yang penting kami bisa makan, bisa bertahan hidup, dan masih saling punya satu sama lain, itu sudah Alhamdulillah banget... Insyaallah suatu saat nanti, Allah pasti akan mengangkat derajat kami semua. Kalau ada ilmu yang Allah kasih ke Ria, kalau ada yang membutuhkan, pasti akan Ria kasih dan Ria bantu, selama Ria mampu. Bagi Ria, setiap manusia itu sama saja... Gak ada bedanya kaya atau miskin, semua sama di mata Allah..."

Suasana menjadi hening dan haru. Semua orang yang ada di situ menatapku dengan pandangan kagum, sedih, dan bangga. Di mata mereka, aku bukan lagi anak kecil yang lemah, tapi aku adalah anak yang luar biasa besar hatinya, meski hidup dalam keterbatasan.

Begitulah Ria... Diam diam saja, menyimpan segalanya dalam hati, menyimpan kehebatannya dalam diam, namun setiap perbuatan dan kata-katanya selalu menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!