[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun #02
Waktu seolah melambat di Puncak Shuangfeng. Pagi berganti malam, malam berganti pagi. Hari-hari berlalu begitu cepat, jauh dari hiruk-pikuk pertarungan maut di hutan gelap. Di luar Kediaman Ketenangan, alam menunjukkan kemegahannya yang paling murni. Matahari pagi perlahan merangkak naik dari balik cakrawala pegunungan, menyiram seluruh puncak dengan cahaya keemasan yang hangat.
Kabut pagi mulai menguap, meninggalkan butiran embun yang berkilauan di atas dedaunan seperti permata yang berserakan. Semilir angin gunung yang sejuk berembus sejuk, membelai pucuk-pucuk pohon pinus berumur tua yang tumbuh rimbun hingga dahan-dahannya yang lebat saling berbisik.
Di halaman samping, sebuah kolam ikan koi memantulkan cahaya nabastala. Airnya sejernih kristal, di mana tanaman Teratai Murni mekar dengan anggun, kelopaknya yang putih bersih bergoyang lembut mengikuti riak air. Ikan-ikan koi dengan corak emas dan merah menyala berenang lincah, sirip mereka yang tipis seperti sutra membelah air dengan gemulai. Mereka sesekali muncul ke permukaan untuk menunjukkan betapa indahnya bentuk mereka.
Di dalam ruangan yang tenang, aroma dupa dan sisa wangi tanaman obat memenuhi udara—membangunkan sosok gadis yang sudah cukup lama terbaring di atas ranjang. Perlahan, kelopak matanya yang lentik bergetar. Kedua bola mata berwarna biru berlian itu terbuka sedikit demi sedikit.
Di mana aku ...? Lingxi bertanya dalam hati.
Awalnya penglihatannya buram, namun perlahan mulai memicing tajam. Ia menelusuri sisi-sisi ruangan dengan insting waspada yang masih tersisa. Menatap langit-langit kayu yang tinggi, dan tirai sutra yang melambai ditiup angin.
Lingxi mencoba untuk menggerakkan tangannya, bermaksud untuk duduk. Namun, gerakan kecil itu memicu reaksi yang menyakitkan.
"Ugh ..." Seketika, rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya bagaikan ribuan jarum spiritual yang menusuk saraf.
Dunia di sekelilingnya seolah berputar dengan cepat. Sensasi pedih merambat dari pangkal leher hingga ke pelipisnya, sisa dari kelelahan Qi yang ekstrem saat menghadapi Kera Kemelut Guntur.
"Sial, k-kepalaku ... rasanya mau pecah." Lingxi mengerang lirih dengan gemetar.
Ia terpaksa memejamkan matanya kembali dengan erat, berusaha menahan rasa sakit yang berdenyut-denyut. Tangan kanannya meraba sisi tempat tidur, mencengkeram sprei dengan kuat hingga jemarinya memutih. Napasnya yang tadi tenang kini kembali tersengal, berusaha menstabilkan gejolak energi di dalam tubuhnya yang masih belum sepenuhnya pulih.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Memories that come to mind^^^
"Jangan berani ... melangkah lebih dekat!"
"Semut Kecil, kau punya nyali untuk berdiri di hadapan Raja ini hanya demi melindungi manusia yang energinya sudah padam? Sia-sia."
"Sia-sia katamu?! Hei, Monyet Tua, mentang-mentang kau Monster Roh Raja, kau menjadi sangat sombong!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Another memory that remains^^^
"Lanjutkan tekanannya ...! Aku ... aku tidak takut!"
"K-kau...! Kau masih h-hidup?!"
"Kau terlalu lama bermain dengan petirmu yang berisik, Monyet Tua,"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Ingatan terakhirnya tentang raungan monster dan cahaya petir mulai berkelebat, membuatnya bertanya-tanya bagaimana ia bisa berakhir di ruangan senyaman ini. Aneh sekali, siapa yang membawaku kemari? tanyanya dengan alis berkerut jelas.
Apakah ... Zhengtian? Lingxi mulai menerka-nerka liar.
Tapi, pikiran itu segera disingkirkan olehnya. Dengan mantap ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya kencang. Ah, tidak mungkin! Saat itu laki-laki payah sepertinya hanya menjadi beban bagiku! batinnya dengan perasaan dongkol.
Meskipun kepalanya masih terasa berdenyut, semangat jahil Lingxi tampaknya pulih lebih cepat daripada meridian energinya. Begitu pendengarannya yang tajam menangkap bunyi kriet ... kriet ... dari lantai kayu di luar kamar, matanya langsung berbinar nakal.
"Hehe ... langkah kaki seberat ini, pasti Kakek Naga!" Lingxi berbisik girang.
Mengabaikan rasa pusingnya, Lingxi melompat dari ranjang kayu cendana yang sudah tua—yang mengeluarkan bunyi saat ia tinggalkan. Dengan langkah kecil, ia berjalan mengendap-endap menuju sisi pintu. Ia merapatkan punggungnya ke dinding, menahan napas, sambil menyunggingkan senyum sumringah yang memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Wajahnya tampak sangat ceria, tipe wajah yang menandakan bahwa seseorang akan segera menjadi korban kejahilannya.
Langkah kaki di luar semakin dekat. Bayangan seseorang mulai menutupi celah di bawah pintu. Begitu daun pintu terdorong sedikit ...
Lingxi melompat keluar dengan tangan terbuka lebar. "WAAAAA!!! KEJUTAN, KAKEK NAGAAA!" teriaknya ceria dengan mata menyipit—seolah tersenyum menyambut mangsa kejahilannya.
"DEMI DEWA LANGIT—!"
Yu Tianlong, yang saat itu sedang berjalan dengan penuh kehati-hatian sambil membawa nampan besi berisi mangkuk sup tanaman obat yang masih mengepul panas, terperanjat hebat. Tubuhnya tersentak ke belakang, dan pegangannya pada nampan itu terlepas. Nampan beserta isinya melayang di udara, siap menghantam lantai kayu pinus yang sudah terpoles sempurna.
Namun, sebelum sup berharga itu tumpah, sebuah bayangan hitam melintas dengan kecepatan kilat.
SYUUT—HAP!
Shen Zhengtian tiba-tiba muncul di samping Yu Tianlong. Dengan gerakan tangan yang sangat stabil, ia menangkap pinggiran nampan besi itu tepat sebelum menyentuh lantai. Tidak ada satu tetes pun sup yang tumpah, permukaan cairan di dalam mangkuk bahkan hanya bergoyang sedikit.
Shen Zhengtian menatap datar ke arah Lingxi. "Baru saja sadar dari ambang kematian, dan hal pertama yang Anda lakukan adalah mencoba membuat kakek Anda serangan jantung?" suaranya dingin namun ada nada lega.
Yu Tianlong memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal karena kaget. Ia menatap cucunya dengan mata melotot, namun tak bisa menyembunyikan rasa syukur melihat Lingxi sudah bisa melompat-lompat lagi.
"Cucu nakal! Kau ingin membuat tulang-tulang tuaku ini rontok, hah?! Aku hampir saja melempar sup berharga ini ke wajahmu!" Yu Tianlong mengomel sambil mengelus dadanya.
Lingxi tertawa renyah, memeluk lengan kakeknya tanpa rasa bersalah. "Hehe, maaf Kakek! Habisnya, Kakek berjalan pelan sekali seperti kura-kura tua," ejeknya dengan perasaan puas. "Aku hanya ingin memastikan pendengaran Kakek masih tajam!" lanjutnya bernada jenaka.
Ia kemudian melirik ke arah Shen Zhengtian yang masih memegang nampan dengan posisi sempurna. "Dan kau, Zhengtian ... kenapa kau selalu muncul seperti hantu di saat yang tidak tepat? Kau merusak momen kejutanku!" kata Lingxi dengan intonasi kesal.
Shen Zhengtian mendengus pelan, menyerahkan nampan itu kembali ke Yu Tianlong. "Jika saya tidak muncul, Anda akan menghabiskan sisa hari Anda dengan mengepel lantai, bukan meminum sup."
Suasana hangat di ambang pintu tadi seketika berubah menjadi medan perdebatan kecil. Lingxi, yang merasa aksi jahilnya dikomentari secara datar oleh Shen Zhengtian, langsung membuang muka.
Lingxi mendengus ketus. "Hmph, ikut campur sekali," celetuknya. Ia menggembungkan pipi sebelah kirinya hingga bulat seperti bakpao, memberikan tatapan tajam yang sama sekali tidak menakutkan ke arah Shen Zhengtian.
Shen Zhengtian tidak tergerak. Ia berdiri tegak, merapikan kerah hanfu yang sedikit bergeser saat menangkap nampan tadi. Matanya menatap Lingxi dengan tatapan dingin
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan. Anda sudah beranjak dewasa. Untuk gadis seusia Anda, seharusnya tidak melompat-lompat di balik pintu seperti kelinci liar," ungkapnya terang-terangan.
Mendengar kata "dewasa", telinga Lingxi seolah terbakar. Ia melepaskan pelukannya pada lengan Yu Tianlong dan maju satu langkah, menunjuk hidung Shen Zhengtian dengan telunjuknya yang mungil.
"Dewasa?! Apa kau bodoh, hah?! Apa matamu itu tertutup? Umurku masih enam belas tahun!" timpal Lingxi semakin dibuat sebal.
ZRAAASSS!!!
Dunia di sekitar Shen Zhengtian seolah berhenti berputar. E-enam belas tahun? Bagaimana mungkin?! suara batinnya bergema dan direka berulang-ulang oleh otaknya sendiri.
Shen Zhengtian diam terpaku selama beberapa detik. Ia menatap Lingxi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan tidak percaya. Selama ini, melihat kecerdasan Lingxi dalam meramu pil dan keberaniannya menghadapi Monster Roh Raja, ia berasumsi bahwa gadis ini setidaknya sudah mencapai usia matang—seumuran dengannya, delapan belas tahun.
"Anda ... Anda pasti bercanda. Anda tidak mungkin enam belas tahun dengan t-tingkat kultivasi yang tinggi!" suara Shen Zhengtian terbata-bata karena syok.
Wajah Lingxi semakin memerah karena marah, kedua tangannya berkacak pinggang. "Kau yang bercanda! Aku tidak setua itu, tahu!" ketusnya dengan mata membara. "Aku benar-benar baru merayakan ulang tahun keenam belas empat bulan yang lalu! Kau pikir semua orang setua dirimu, si Tuan Sok Dewasa?!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Shen Zhengtian masih mematung, mencoba memproses informasi yang baru saja meruntuhkan logikanya.
Lingxi memiliki tinggi badan yang jenjang dengan pinggang yang sangat ramping, kontras dengan proporsi dada dan pinggul yang terisi. Bentuk tubuh jam pasir yang dimilikinya sangat proporsional dan ideal. Lengan dan kakinya terlihat panjang dan langsing, memberikan kesan anggun.
Lekukan pinggangnya sangat terlihat jelas, menciptakan siluet yang feminim. Bagian kaki yang terekspos melalui belahan gaun yang tinggi juga menunjukkan kehalusan dan proporsi tubuh yang memukau. Kecantikannya dapat disandingkan bersama seorang Dewi, begitu murni dan ethereal.
Di matanya, dengan lengkukan tubuh seperti ini, Lingxi bukanlah seorang gadis berumur muda. Apalagi bagian dua gunung yang tidak sesuai dengan umur. Jika dilihat lebih dekat, tonjolannya begitu nyata dan terbentuk. Sementara itu, Lingxi terus mengoceh tentang betapa tidak sopannya Shen Zhengtian karena menganggapnya "tua", sementara kakinya sesekali menghentak lantai kayu dengan kesal.
Lingxi menyipitkan mata ke arah Shen Zhengtian. "Kenapa diam saja? Kau baru sadar ya kalau kau itu sudah kakek-kakek dibandingkan aku?!"
Shen Zhengtian memalingkan wajah. "Saya baru delapan belas tahun," gumamnya sangat pelan.
"CUIH, TUA!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/