Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencuri
Ella terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Kakinya menapak di lantai lalu melangkah ke arah pintu dengan wajah malas.
"Siapa pagi- pagi," gumamnya sambil menguap.
Ketukan pintu semakin terdengar tak sabar saat Ella akan menekan knop pintu. "Sebentar! Tidak tahu apa ini masih pagi," ucapnya kesal. Namun saat pintu terbuka mata Ella tak bisa tak tertegun.
"Dengan Nona Kristella Duan?"
Kepala Ella mengangguk kaku. "Y—a?" Ella menatap dua orang pria yang mengenakan seragam polisi dengan ekspresi terkejut.
"Nona Ella anda di tangkap atas kasus pencurian." Wajah Ella semakin di buat terkejut.
"Apa?!"
"Ini surat penangkapan anda." Polisi tersebut menunjukkan selembar kertas yang membuat Ella semakin bingung.
"Tunggu, aku? Mencuri?" Kapan dia melakukannya? Dia tidak pernah mencuri, bagaimana bisa ada polisi datang dan mengatakan dia mencuri?
"Aku tidak mencuri!" Namun tubuhnya terdorong saat seorang polisi lain masuk begitu saja lalu menggeledah isi kamarnya. "Hei, apa yang kau lakukan!" Ella melihat kamarnya di acak- acak. "Kau membuatnya berantakan! Lagi pula aku tak mencuri, apa yang aku curi! Aku bisa menuntut kalian karena menggeledah tanpa izin!" teriak Ella panik saat melihat barang- barangnya di buat berantakan.
"Tentu saja kami membawa surat izin penggeledahan, Nona. Dan tolong anda kooperatif dengan kami." Polisi di depannya menunjukan kertas lain yang membuat Ella menjadi diam.
"Tapi aku sungguh tak mencuri," katanya pelan.
"Ketemu!" Ella menoleh dan membelalakan matanya menatap sebuah kalung di tangan polisi yang tengah menggeledah.
"I—tu... itu bukan milikku."
"Tentu saja, karena anda mencurinya."
Ella semakin tergagap. "Tidak! M—aksudku, aku sama sekali tak tahu kenapa itu ada disana."
"Sudahlah, jangan banyak alasan." Ella tertegun saat tangannya di pasangi borgol.
"Nona Ella, anda berhak untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan yang dapat memberatkan diri Anda sendiri. Anda juga berhak mendapatkan bantuan hukum atau didampingi oleh penasihat hukum."
Ceklek.
Borgol terkunci. Suaranya seperti petir di telinga Ella.
"Tidak, tidak! Aku tidak mencuri!" katanya dengan gemetar.
"Lalu bagaimana barang bukti ada di dalam kamarmu?"
"Aku tidak tahu." Mata Ella tiba-tiba berembun, kepalanya terus menggeleng melakukan penolakan. Namun polisi bergeming dan membawanya keluar dari kamar kos yang rupanya sudah banyak tetangganya yang memperhatikan.
"Anda bisa jelaskan di kantor polisi nanti." Tubuh Ella yang masih berbalut piyama boneka beruang di giring keluar kamar.
Terdengar bisik- bisik dari tetangganya yang membuatnya menunduk dalam.
"Ella, ada apa ini?" Ella mendongak dan melihat pemilik kosnya.
"Bibi Vivian, aku tak mencuri." Ella menangis sementara Vivian menatap terkejut lalu mendekat.
"Pak polisi, pasti ada kesalah pahaman. Aku mengenal Ella, dia tak mungkin mencuri." Vivian berucap dengan menggenggam tangan Ella yang gemetar.
"Barang bukti di temukan di tkp. Jika ada yang ingin di jelaskan, bisa anda jelaskan di kantor polisi." Tubuh Ella kembali di dorong untuk keluar dari gedung kos tersebut.
"Ella tenanglah, Bibi akan membantumu!" Ella menolehkan kepalanya pada Vivian lalu mengangguk.
Ella masuk kedalam mobil polisi masih dengan tangan terborgol, duduk dengan murung dengan mata yang berderai penuh tangis.
Ella menatap gedung kosnya dimana orang-orang masih memperhatikan.
Bagaimana bisa dia ada di posisi ini sekarang. Lalu kenapa bisa ditemukan barang orang lain di kamarnya?
"Ini mimpi, aku masih tidur." gumamnya dengan memejamkan mata, namun saat matanya terbuka dia masih melihat borgol mengikat tangannya.
"Gak mungkin!"
Dia sangat jarang berinteraksi dengan orang lain, lalu dari mana asalnya kalung itu?
Ella terus berpikir keras, namun tetap tak menemukan jawaban bagaimana bisa barang bukti ada di kamarnya, hingga mereka benar-benar tiba di kantor polisi, dan mereka melakukan interogasi.
"Jadi anda tetap tidak mengakui?"
"Bagaimana aku mengakuinya? Aku tidak mencuri! Aku tak tahu kenapa itu ada di kamarku—" Ella menghentikan ucapannya, lalu mendongak menatap polisi yang mengintrogasinya, "... tunggu, Pak polisi... bolehkah aku tahu, kalung itu milik siapa?"
"Kenapa? Pura-pura tak tahu kalung itu milik siapa?" ejeknya.
Ella menggeleng cepat. "Aku benar-benar tidak tahu."
Polisi menghela nafasnya, "Kalung itu milik Tuan Dominic Stralerr."
"Apa!"
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..