NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter dua puluh

Malam itu, aku terbangun oleh suara teriakan.

Kamar loteng ini memiliki isolasi yang sangat baik, jadi aku tidak bisa mendengar apa yang sedang diucapkan. Namun ada suara-suara keras yang terdengar dari bawah kamarku. Suara seorang pria dan seorang wanita. Jeffran dan Selina.

Kemudian aku mendengar suara benda hancur.

Secara refleks, aku langsung turun dari tempat tidur. Mungkin ini bukan urusanku, tetapi sesuatu sedang terjadi di bawah sana. Setidaknya aku harus memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku meletakkan tanganku di kenop pintu kamarku, dan kenop itu tidak bisa berputar. Sebagian besar waktu, aku sudah terbiasa dengan fakta bahwa pintu ini sering macet. Namun sesekali, rasa panik mendadak menyerangku. Tetapi kemudian kenop itu bergeser di bawah genggaman tanganku. Dan aku pun berhasil keluar.

Aku menuruni anak tangga yang berderit menuju lantai dua. Sekarang setelah aku keluar dari loteng, suara teriakan itu terdengar jauh lebih keras. Suara itu berasal dari kamar tidur utama. Suara Selina, yang sedang berteriak pada Jeffran. Dia terdengar hampir histeris.

"Ini tidak adil!" Serunya. "Aku sudah melakukan semua yang kubisa dan—"

"Selina." Kata Jeffran. "Ini bukan salahmu."

"Ini salahku! Jika kau bersama wanita yang lebih muda, kau pasti bisa memiliki bayi seperti yang kau inginkan! Ini salahku!"

"Selina..."

"Kau akan lebih baik tanpa aku!"

"Ayolah, jangan bicara begitu..."

"Itu benar!" Namun dia tidak terdengar sedih. Dia terdengar marah. "Kau berharap aku pergi!"

"Selina, hentikan!"

Terdengar suara benturan keras lainnya dari dalam kamar. Diikuti oleh benturan ketiga. Aku mengambil langkah mundur, bimbang antara mengetuk pintu untuk memastikan semuanya baik-baik saja atau segera kembali ke kamarku dan bersembunyi. Aku berdiri di sana selama beberapa detik, lumpuh oleh keragu-raguanku sendiri. Kemudian pintu itu ditarik terbuka dengan sentakan keras.

Selina berdiri di sana mengenakan gaun malam seputih bunga lili yang sama dengan yang dia kenakan pada malam dia menangkap basah aku dan Jeffran di ruang tamu. Namun sekarang aku menyadari ada garis merah tua pada bahan kain yang pucat itu, berawal dari sisi pinggulnya dan mengalir turun sepanjang roknya.

"Laily." Matanya menatap tajam ke arahku. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku melihat ke bawah ke arah tangannya dan melihat warna merah tua yang sama melumuri seluruh telapak tangan kanannya. "Saya..."

"Apakah kau sedang memata-matai kami?" Dia mengangkat satu alisnya. "Apakah kau mendengarkan percakapan kami?"

"Tidak!" Aku mengambil langkah mundur. "Saya hanya mendengar suara benda hancur dan saya khawatir kalau... Saya ingin memastikan semuanya baik-baik saja."

Dia menyadari arah tatapanku yang tertuju pada apa yang kuyakini sebagai noda darah di gaun malamnya. Dia tampak hampir merasa geli melihatnya. "Tanganku hanya sedikit teriris. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku tidak butuh bantuanmu."

Namun apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Apakah itu benar-benar alasan mengapa ada darah di sekujur gaun malamnya? Dan di mana Jeffran?

Bagaimana jika Selina telah membunuhnya? Bagaimana jika Jeffran sedang terbaring mati di tengah kamar tidur? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika dia sedang sekarat karena kehabisan darah saat ini, dan aku memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya? Aku tidak bisa begitu saja pergi. Aku mungkin pernah melakukan beberapa hal buruk dalam hidupku, tetapi aku tidak akan membiarkan Selina lolos dari tindak pembunuhan.

"Di mana Jeffran?" Kataku.

Lingkaran merah muda terbentuk di pipinya. "Apa katamu?"

"Saya hanya..." Aku bergeser di atas kaki telanjangku. "Saya mendengar suara benda hancur. Apakah dia baik-baik saja?"

Selina menatapku dengan tajam. "Berani-beraninya kau! Apa yang sedang kau tuduhkan kepadaku?"

Baru terpikir olehku bahwa Jeffran adalah seorang pria yang besar dan kuat. Jika Selina bisa menghabisinya dengan mudah, peluang apa yang kupunya untuk melawannya? Namun aku tidak bisa bergerak. Aku harus memastikan bahwa dia baik-baik saja.

"Kembali ke kamarmu." Perintahnya kepadaku.

Aku menelan sebongkah rasa tercekat di tenggorokanku. "Tidak."

"Kembali ke kamarmu atau kau dipecat."

Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Aku bisa melihat itu dari matanya. Namun aku tetap tidak bisa bergerak. Aku mulai protes lagi, tetapi kemudian aku mendengar sesuatu. Sesuatu yang membuat pundakku lunglai karena merasa sangat lega:

Suara keran air yang dinyalakan di kamar tidur utama. Jeffran baik-baik saja. Dia hanya sedang berada di dalam kamar mandi.

Syukur kepada Tuhan.

"Puas?" Mata coklat pucatnya terasa sedingin es, tetapi ada hal lain di sana. Semburat rasa geli. Dia senang menakut-nakutiku. "Suamiku hidup dan dalam keadaan sehat."

Aku menundukkan kepala. "Baiklah, saya hanya ingin... Maaf saya telah mengganggu Anda."

Aku berbalik dan berjalan gontai menyusuri lorong. Aku bisa merasakan tatapan mata Selina di punggungku. Ketika aku sudah hampir sampai di tangga, suaranya terdengar lantang di belakangku.

"Laily?"

Aku berbalik. Gaun putihnya tampak bersinar di bawah sinar rembulan yang menyaring masuk ke dalam lorong, membuatnya terlihat seperti malaikat. Kecuali untuk noda darahnya. Dan sekarang aku juga bisa melihat genangan kecil darah berwarna merah tua mulai terbentuk di lantai, tepat di bawah tangan kanannya yang terluka. "Ya?"

"Tetaplah berada di atas loteng pada malam hari." Dia mengerjapkan mata menatapku. "Kau paham?"

Dia tidak perlu mengatakannya untuk kedua kali. Aku tidak akan pernah mau keluar dari loteng lagi pada malam hari.

.

.

.

.

.

.

To be continue....

Like gaes🥰

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!