NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tameng hangat di malam kelam

Kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata menembus jendela lantai dua, disusul oleh suara guntur yang seolah membelah langit tepat di atas rumah mereka. Duar!

​Lara terkesiap, tubuhnya mematung dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Ia hampir saja berteriak histeris saat memori gelap itu kembali menyerangnya, namun sebelum suara itu keluar, sepasang lengan yang kokoh dan hangat lebih dulu menariknya ke dalam sebuah pelukan yang sangat erat.

​Baskara tidak berpikir panjang. Melihat Lara yang gemetar hebat di ambang pintu kamar, insting pelindungnya bekerja lebih cepat dari logikanya. Ia merengkuh tubuh mungil Lara, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya yang bidang.

​"Sshh... Tenang, Lara. Saya di sini. Saya di sini," bisik Baskara rendah, tepat di telinga Lara. Tangan besarnya mengusap punggung Lara dengan gerakan lembut namun pasti, berusaha menyalurkan ketenangan ke seluruh sel tubuh gadis itu yang sedang tegang.

​Lara tidak menolak. Ia justru membenamkan wajahnya di kemeja Baskara yang masih sedikit lembap, mencengkeram kain kemeja itu dengan sisa-sisa kekuatannya. Aroma maskulin khas Baskara bercampur dengan bau hujan seketika memenuhi indra penciumannya, entah mengapa, aroma itu jauh lebih menenangkan daripada wangi lilin aromaterapi mana pun.

​"Aku takut, Kak... Gelap banget," isak Lara pelan, suaranya teredam di dada Baskara.

​"Jangan dengarkan suaranya, dengarkan detak jantung saya saja," sahut Baskara. Suaranya terdengar sangat stabil di tengah gemuruh badai. "Dengar, kan? Detaknya tenang. Selama detak ini masih ada, kamu akan selalu aman."

​Lara perlahan mulai mengatur napasnya, mengikuti irama napas Baskara yang tenang. Kehangatan tubuh Baskara seolah menjadi tameng yang membentengi dirinya dari dinginnya malam dan kerasnya petir.

​Baskara melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Lara dengan kedua tangannya. Dalam temaram cahaya lampu darurat, mata mereka bertemu. Jarak di antara mereka begitu tipis, hingga Lara bisa merasakan embusan napas Baskara di keningnya.

​"Kamu sudah tenang?" tanya Baskara lembut, jempolnya mengusap sisa air mata di sudut mata Lara.

​Lara mengangguk pelan, meskipun hatinya kini justru berdebar lebih kencang, tapi bukan karena takut, melainkan karena perlakuan Baskara yang begitu manis. "Sudah, Kak. Maaf aku jadi memeluk Kakak seperti tadi."

​Baskara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus dan hangat. "Jangan minta maaf untuk sesuatu yang membuatmu merasa lebih baik. Sekarang, naiklah ke ranjang. Saya akan tetap duduk di kursi itu, tepat di depan pintu yang terbuka ini. Saya tidak akan memejamkan mata sampai saya yakin kamu sudah bermimpi indah."

Lara melangkah pelan menuju ranjangnya, gerakannya masih sedikit ragu, namun kehadiran Baskara di ambang pintu memberinya kekuatan yang cukup untuk merebahkan diri. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, sementara matanya tetap terjaga, menatap sosok tegap yang kini duduk di kursi malas tepat di luar kamarnya.

​Pintu kamar itu dibiarkan terbuka lebar. Cahaya dari lampu darurat di lantai menciptakan bias kekuningan yang lembut, menyinari separuh wajah Baskara yang tampak sangat fokus menjaganya.

​"Kak?" panggil Lara lirih dari balik selimut.

​"Ya, Lara?" jawab Baskara pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan deru angin yang masih mencoba menggedor jendela kaca.

​"Kakak nggak kedinginan tidur di situ?"

​Baskara menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Sama sekali tidak. Saya sudah biasa begadang untuk urusan organisasi. Bedanya, kali ini tujuannya jauh lebih penting daripada sekadar laporan."

​Lara tersenyum tipis di balik selimutnya. Rasa aman yang melingkupinya perlahan-lahan mulai menumpulkan ketakutannya terhadap badai. Suara petir yang tadinya terdengar seperti ancaman, kini hanya terdengar seperti gangguan kecil yang tak berarti selama ada Baskara di sana.

​"Tidurlah. Saya akan tetap di sini sampai fajar," lanjut Baskara. "Kalau kamu bermimpi buruk atau merasa takut lagi, panggil saja nama saya. Saya akan langsung mendengarnya."

​Lara mengangguk, perlahan memejamkan matanya. Keberadaan Baskara di sana bukan hanya sekadar raga yang berjaga, melainkan janji bisu bahwa ia tidak akan pernah lagi dibiarkan sendirian dalam kegelapan.

​Di luar pintu, Baskara terus terjaga. Matanya sesekali melirik ke arah ranjang, memastikan napas Lara mulai teratur—tanda bahwa gadis itu telah benar-benar terlelap. Di tengah keheningan malam yang hanya diisi suara hujan, Baskara menyadari satu hal: ia bersedia melakukan ini setiap malam, asalkan ia bisa memastikan bahwa Lara selalu bangun dengan perasaan aman.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!