NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:44.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25.

...~•Happy Reading•~...

Setelah menyimpan buah di kulkas, Rafael berjalan cepat ke halaman untuk mengambil makanan yang dipesan Laras. "Pesanan Ibu Laras." Pengantar berkata kepada Rafael untuk memastikan.

"Iya. Terima kasih." Rafael merespon, sambil mengulurkan tangan lewati pagar. Namun matanya sesekali tertuju pada sebuah mobil mewah yang parkir di dekat rumah. Dia yakin ada orang dalam mobil, sebab lampu ponsel menyala di bagian sopir.

Dia berbicara santai dengan pengantar makanan, seakan dia tidak tertarik pada mobil itu. Ketika pengantar makanan pergi, Rafael melangkah pelan masuk ke rumah.

Sebelum tiba di depan pintu, dia mendengar bunyi pintu mobil ditutup. Rafael tidak langsung menengok, tapi makin memperlambat jalan. "Selamat malam, Pak." Terdengar suara pria menyapa.

Rafael menengok. "Anda menyapa saya?" Dia bertanya sambil menunjuk dadanya.

"Iya, Pak. Maaf, saya mengganggu." Ucapnya lagi. Rafael menaksir usia pria yang menyapa, sekitar 40 sampai 50 tahun dan berpenampilan parlente sesuai dengan mobilnya.

"Tidak apa, Pak. Selamat malam. Ada yang bisa dibantu?" Rafael coba bersikap ramah, sebab mereka orang baru di kota itu, jadi butuh teman.

"Saya bisa bertemu Ibu Laras?" Pertanyaan pria itu membuat Rafael memicingkan mata dan menatap lurus ke matanya. Dia jadi mengamati pria yang mengenal Laras.

Melihat wajah Rafael berubah kaku, pria itu makin mendekati pagar. "Maaf, Pak. Saya Hotlif, Kepala Kantor Cabang..." Hotlif memperkenalkan diri dan menyebut nama perusahaan, juga maksud kedatangannya.

Rafael jadi melihat keranjang buah di tangannya. "Pak Hotlif, terima kasih kedatangannya. Tapi istri saya belum bisa menerima tamu." Ucap Rafael sambil sedikit menggerakan tangan yang sedang pegang kantong makanan.

"Baik, Pak. Nanti saya hubungi Ibu Laras. Boleh saya titip ini buat Ibu Laras?" Hotlif mengerti gerakan Rafael sebagai isyarat, mereka mau makan malam.

"Terima kasih, Pak. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa terima. Nanti bapak berikan di kantor saja." Rafael mengangkat tangan, menolak.

"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Hotlif menyerah dan balik ke mobil sambil menjinjing keranjang buah.

Rafael masih berdiri di halaman sambil melihat ke arah mobil Hotlif. Rasa penasaran mengalahkan rasa laparnya. Jadi ketika Holtif masuk mobil dan meletakan keranjang buah di kursi, dia jadi tahu Hotlif datang sendiri.

Karena Hotlif tidak langsung menjalankan mobil, Rafael masuk ke dalam rumah tapi masih melihat dari balik jendela Hotlif sedang menelpon. 'Mengapa kepala kantor datang malam-malam?' Rafael bertanya dalam hati sambil menuju ruang makan. Dia bersyukur, lampu dalam rumah temaran, jadi tidak terlihat dari luar rumah. Hanya lampu kamar yang menyala lebih terang.

Setelah meletakan makanan dan menata meja, Rafael masuk ke kamar. Dia merasa lega melihat Laras keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berganti baju. "Sudah mandi?"

"Iya. Abis kelamaan nunggu." Laras protes, dengan wajah kesal. "Bagus. Aroma terapinya." Rafael coba bercanda.

"Untung sudah makan buah. Jalan ke depan macet, ya?" Laras masih protes karena menurutnya, Rafael terlalu lama mengambil pesanannya.

"Tidak macet. Cuma terjadi sedikit percakapan dengan orang baru di kota baru." Ucap Rafael berkabut, hingga Laras melihatnya dengan mata membulat, sebab tidak mengerti. "Ayo, kita makan di meja makan." Ajak Rafael.

"Gak di sini saja?" Laras menunjuk tempat tidur.

"Kita sudah menguji tempat tidur berfungsi dengan baik. Sekarang mari kita uji fungsi meja makan." Rafael tetap mengajak Laras keluar dari kamar.

Laras terpaksa ikut keluar menuju ruang makan. "Mengapa kita duduk seperti ini? Mengapa tidak berdampingan?" Laras bertanya saat melihat perangkat makan yang ditata Rafael bersebrangan.

"Lebih asyik berdampingan di tempat tidur. Kalau di meja makan, lebih asyik begini, bertatapan." Ucap Rafael sambil tersenyum membuat Laras melemparnya dengan tissu dipilin.

"Nah, ini juga salah satu keasyikannya, sebelum lempar paha ayam." Rafael sengaja bercanda, sebelum membicarakan yang serius.

Dia menyadari, cintanya tidak menggebu seperti layaknya pasangan pengatin baru. Tapi setelah menyetujui menikah dan tidur bersama Laras, ada tanggung jawab ekstra sebagai suami.

Setelah berdoa, mereka makan dalam diam, sebab sama-sama sangat lapar. "Mau minum soft drink atau air mineral?" Tanya Rafael melihat Laras hampir selesai makan.

"Punya soft drink?" Laras berhenti mengunya.

"Ada di kulkas. Disediakan beberapa jenis dan sudah dingin..." Rafael menyebut nama produk.

"Sepertinya, kebanyakan masuk angin. Soft drink aja, deh..." Laras menyebut soft drink yang mau diminum.

"Ok." Rafael mengambil minuman untuk mereka berdua. "Sambil menunggu makanan jalan ke usus, kita BS."

"Apa itu BS?" Laras jadi berhenti minum.

"Bincang Santai. Itu istilah yang dipakai karyawan di kantor Papa." Ucap Rafael menahan senyum melihat Laras mendelik. "Aku kira Bayar Sendiri."

"Aku rubah istilahnya sesuai sikon. BSTS, Bincang Serius Tapi Santai."

"Terserah istilahnya. Mau bincang apa?" Laras jadi serius menanggapi permintaan Rafael yang tiba-tiba serius.

"Tadi Kepala Cabang ke sini, tapi aku bilang kau belum bisa terima tamu..."

"Rafaaa... Mengapa kau gak panggil aku? Pantesan, kau lama di luar. Pak Hotlif bilang apa?" Tanya Laras beruntun dengan wajah kesal. Rafael menyimak, tanpa interupsi.

"Sebelum aku jawab pertanyaanmu, kau jawab dulu. Apa tugasmu selama ditempatkan di kantor cabang?"

"Sebelumnya, aku hanya mengucapkan selamat atas kenaikan jabatan, tanpa bertanya tugasmu. Tapi setelah menjadi suami, aku perlu tahu. Supaya aku bisa menempatkan diri di bagian mana." Rafael makin serius.

Laras terdiam sambil menatap Rafael yang diam menunggu. "Begini, ada sedikit masalah di kantor cabang. Selain pendapatan terus turun, mereka sering tidak menang tender. Aku mau memastikan penyebab mereka membeli produk grade B."

"Sepertinya mereka kalah bersaing di pasar, sebab konsumen sekarang sudah cerdas. Mereka lebih memilih produk grade A."

"Aku ingin dengar langsung dari mereka mengapa membeli produk kualitas itu dan sekalian survey pasar...." Laras melanjutkan penjelasannya.

"Ok. Kau tahu tugasmu itu tidak mudah dan sangat berbahaya?"

"Maksudmu?" Laras terkejut.

"Kau seperti mau mengaudit kinerja para pejabat di sini untuk menemukan penyebabnya."

"Tapi aku hanya mau membagi cara yang sesuai keinginan perusahaan, agar mereka bisa kembali pada performa awal...." Laras menjelaskan.

"Anggap saja begitu, sesuai yang kau pikirkan tanpa trik atau intrik dengan pejabat di sini."

Rafael memajukan badannya. "Ini saranku, selama bertugas, jangan terima pejabat atau karyawan wanita atau pria di rumah ini. Bertemu dengan mereka hanya di kantor atau tempat terbuka."

"Itu pertama. Kedua, jangan terima pemberian apa pun dari siapa pun. Ingat itu, kalau kau mau tugasmu berjalan dengan baik."

"Itukah yang membuat kau tidak mengijinkan Kepala Cabang masuk?" Laras langsung mengaitkan.

"Salah satunya. Apa beliau tahu, kau sudah menikah?"

"Entah. Dataku sudah diperbaharui atau belum. Karna kita baru menikah."

"Ingat yang terjadi di kantor pusat. Kau berkonflik, dengan Tolly dan saling sikut. Di sini, lebih kompleks."

"Kalau menganggap isi kepalaku berguna, ajak bicara." Rafael menawarkan diri, sebab dia mulai khawatir.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
Yayang Suami Risa
Rafael hebat sabar banget hadapi Laras yang gampang marah dan egois apalagi sekarang Laras sedang hamil malah jadi egois lagi deh
Yayang Suami Risa
Laras orang tua kamu memang bijaksana dan adil wajar mereka ada di pihak Rafael bukan di pihak kamu walau kamu anak mereka
Yayang Suami Risa
Laras kamu ngga tahu kalau selama ini yang bantu pekerjaan kamu di belakang adalah Rafael suami kamu
Yayang Suami Risa
Rafael hebat menyuruh Laras makan nasi padahal Rafael sedang kesal ke Laras tapi tetap perhatian banget ke Laras
Yayang Suami Risa
Laras kenapa kamu belum bisa berpikir dewasa seperti Rafael kenapa kamu masih gampang marah kamu harusnya senang kamu hamil
Risa Istri Cantik
Rafael ayo sabar hadapi Laras apalagi sekarang sedang hamil pasti sikapnya Laras manja dan egois lagi deh
Risa Istri Cantik
Laras kejam banget kamu ya keterlaluan sama Rafael pengen lempar gayung ke wajah Laras
Risa Istri Cantik
Laras kamu harusnya bangga menikah dengan Rafael yang selalu perhatian ke kamu bahkan selalu sabar hadapi kamu termasuk bantu kerjaan kamu tanpa sepengetahuannya kamu
Risa Istri Cantik
Laras kamu gegabah banget ngebet dulu pengen cepat menikah sama Rafael setelah menikah malah saat kamu di nyatakan hamil kamu belum siap hamil ingin fokus kerja
Risa Istri Cantik
Laras kenapa kamu jadi egois lagi kalau kamu ngga mau hamil harusnya kamu kb jadi kamu aman ngga hamil
Rahmawati
ihhh pengen jitak kepala laras biar peka sedikit😡
❥␠⃝ ͭ🍁HER💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
aku juga bu ester. kepingin jitak laras bolak balik. dia ini egois sekali. seperti orang gak pernah makan soup. mentang2 hamil, jadi suka2 🙊🙈😡
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
Yang super sabar Rafael kalo tak kuat kibarkan bendera putih 🤭 Laras ini sekali kali harus diingatkan bahwa kalo dia tetap bersikap masa bodoh cuek terhadap Rafael dan hanya Rafael yang kasi perhatian ke dia kan timpang harus saling take and give lah Laras kau itu sudah dewasa masa kalah sama Juano 🤧ck ck ck 😏
❥␠⃝ ͭ🍁Uma💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Mertua yg sangat pengertian sama menantu nya, malah Laras yg jadi istrinya tidak ada pekanya sama sekali selalu ingin di no satukan tetapi dirinya sendiri tidak mau menghargai pendapat orang lain walaupun itu orang tua nya sendiri
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Otak Laras udah bebal pak percuma dinasehati juga dia pengen hidup seenak jidatnya aja tanpa mempedulikan yang lain emang minta ditampol Laras bikin kesel aja 😤😤
Risa dan Yayang
Ternyata Rafael sangat ingin punya anak sampai Rafael mengusap perut Laras shireen
Risa dan Yayang
Laras dengarkan omongan Rafael karena Rafael kecewa sama kamu yang belum siap hamil
Risa dan Yayang
Laras kenapa masih emosi ke Rafael padahal kamu yang salah Laras Rafael selalu saja mengalah ke kamu
Risa dan Yayang
Sepertinya Laras ngga selera makan karena sikap Rafael ke Laras padahal Laras yang salah Rafael selalu bersabar dan mengalah
Risa dan Yayang
Laras kalau kamu dari awal pengen belum punya anak kenapa kamu buru buru ajak nikah Rafael kalau ajak nikah sama Rafael harusnya kamu siap punya anak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!