Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Saya berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan saya juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Hitam Yang Sama
Sejak pagi tadi, Hingga kini mulai menjelang malam. Tuan Tama dan seluruh keluarganya masih menunggu kedatangan Kaivan dirumah pria itu.
Beruntung ada Bibi sehingga Tuan Tama, Nyonya Aida serta Steve dipersilahkan masuk. Mungkin Bibi tidak tega membiarkan tamu majikannya itu menunggu diluar.
"Tuan, Makan malam dulu.." Tak hanya dipersilahkan masuk saja, Bibi juga memasak untuk tamu Kaivan ini dan mempersilahkan untuk makan malam.
Tentu saja semua atas perintah Kaivan. Pria yang berprofesi sebagai bodyguard itu belum bisa pulang cepat karena masih terjebak macet dijalan.
"Ah, Bibi merepotkan sekali.. Kita hanya ingin menunggu Nak Kaivan pulang.. " Ucap Tuan Tama merasa sungkan sekali. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan nan gagah itu melihat ke arah sang istri yang terlelap sejak tadi diatas sofa.
"Tidak apa-apa Tuan.. Semua ini juga atas perintah Aden Kaivan.. Katanya Aden belum bisa pulang cepat karena terjebak macet.. " Tutur Bibi dengan sopan.
"Eum Bibi.."
"Ya..
"Bibi tahu tidak tentang silsilah keluarga Kaivan.." Tiba-tiba saja Steve bertanya. Tuan Tama menatap tajam sang putra yang menurutnya lancang sekali. Sayangnya Steve tak peduli, Dia penasaran sejak tadi. Apa salahnya bertanya, Tidak ada buruknya orang bertanya.
"Keluarga Aden Kaivan ya..?
"Iya.. Bibi tahu tidak?
"Saya kurang paham juga Tuan.. Setahu saya, Aden Kaivan itu yatim piatu sejak kecil.. Dan yang saya tahu juga kalau Aden Kaivan pernah bekerja sebagai bodyguard dikediaman seorang pengusaha yang bernama Tuan Nalendra. Katanya sih dulu, Aden pernah tinggal di panti asuhan dan sejak usianya lima belas tahun Aden ketemu sama Tuan Nalendra. Di tolong kemudian diberi tempat tinggal. Tuan Nalendra juga yang katanya menyekolahkan Aden sampai pendidikan S2.." Penjelasan Bibi membuat Tuan Tama iba sekaligus ada perasaan lega. Andai memang Kaivan putranya yang hilang puluhan tahun itu, Sungguh Tuan Tama akan datang untuk menemui Tuan Nalendra untuk mengucapkan rasa terimakasih.
"Jadi begitu?
"Iya Tuan.. Saya juga..
Ucapan Bibi terhenti setelah mendengar suara deru mobil didepan.
"Nah Itu ada suara mobil. Pasti itu Aden.." Bibi melangkah menuju pintu utama menyambut Kaivan yang baru saja pulang.
"ASTAGFIRULLAH ADEN!!!
Teriakan Bibi membuat dua laki-laki yang ada diruang tamu itu terkejut dan langsung bangkit seketika.
Tuan Tama dan Steve berlari kedepan. Disana mereka melihat Kaivan yang pulang dengan kondisi babak belur.
"Aden, Apa yang tengah terjadi? Kenapa Aden jadi babak belur begini?" Bibi panik sekali melihat majikannya yang pulang-pulang malah babak belur.
"Aku gapapa kok Bi.. Tadi cuma ada kecelakaan kecil aja..
"Gapapa apanya Kak? Kakak terluka kayak gini masih bilang gapapa.." Steve tiba-tiba saja berkat marah. Matanya menatap tajam Kaivan yang seolah baik-baik saja. Padahal sudah jelas pria itu sedang terluka.
Sementara Kaivan, Dia ingat siapa pria ini. Pria ini adalah putra Nyonya Aida yang beberapa hari yang lalu ditolongnya kemudian diantarkan pulang olehnya.
Dan yang membuatnya bertanya-tanya ialah, Kenapa tiba-tiba pria ini marah-marah padanya.
"Tuan.. Tolong bantu dibawa masuk Adennya ya.." Tama dan Steve mengangguk. Mereka membantu Kaivan masuk kedalam rumah.
Langkah Kai terhenti setelah melihat Aida yang tengah tertidur pulas diatas sofa.
"Disini aja Tuan.. Saya udah gapapa kok.." Kaivan akhirnya duduk diruang tamu. Tak lama Bibi datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ini, Bibi bawa air es Den.. Di kompres ya.." Kaivan mengangguk dan tersenyum tipis. Bibi memang wanita yang baik dan perhatian sekali.
"Aden, Kok bisa Aden luka-luka begini.." Tanya Bibi, Perasaan tadi pria itu mengatakan sedang berada dijalan karena terjebak macet dan pulang-pulang sudah seperti ini.
"Kaivan dihadang beberapa orang Bi.. Tapi Alhamdulillah gapapa..
"Gapapa apanya, Orang Aden babak belur gitu.." Kata Bibi yang kesal dengan Kaivan. Sejak tadi pria itu mengatakan tidak apa-apa terus tapi buktinya pria itu terluka.
"Biar aku yang kompres.." Steve mengambil alih handuk kecil itu dan mulai mengompres sudut bibir Kaivan yang membiru.
"Maaf, Sudah membuat kalian menunggu lama.." Ucap Kaivan pada tamu nya ini. Kaivan merasa tidak enak saja karena kata Bibi mereka datang ingin bertemu dengannya. Kaivan menyangka mungkin Tante yang ia tolong kemarin yang memintanya bertemu dengannya. Padahal mereka datang bukan karena itu melainkan ada maksud yang lain.
"Tidak apa-apa.. Kami rela menunggu asal bisa bertemu denganmu Nak.." Kata Tama. Tatapan matanya tak lepas dari wajah tampan Kaivan yang Tama yakini pria ini adalah putranya yang hilang.
"Ah ya, Ada keperluan apa Tuan datang kemari untuk menemui saya..?" Tama dan Steve saling pandang.
"E.. Kami datang kesini ingin..
"Aaawwss.." Kaivan tiba-tiba saja meringis.
"Aden.. Aden gapapa?
"Pundakku sakit Bi.. Sepertinya gara-gara kena pukul tadi.." Kaivan menggelengkan kepalanya. Niat hati mencari jalan pintas usai mengalami kemacetan tadi. Siapa yang menyangka kalau dijalan pintas yang ia ambil dia dihadang empat orang pria. Beruntung Kaivan mampu mengalahkan ke empat orang itu meski dia kena serang juga.
"Den, Lebih baik dibuka dulu pakaiannya. Di obati dulu.." Kaivan mengangguk, Dengan hati-hati calon suami Raisha tersebut membuka pakaian bagian luarnya seperti jas dan kemeja dan hanya menyisakan singlet hitam saja.
Deg!
Terpampang lah dengan nyata tanda hitam yang berada di pundak Kaivan.
"Tidak salah lagi.. Kamu Aksa.. Aksa putraku! " Tama mendekat dan langsung memeluk Kaivan. Tangis pria itu pecah, Air mata itu tak dapat di bendung lagi.
Bertahun-tahun dia dihantui oleh rasa bersalah. Karena dulu Tama lah yang mengajak keluarganya untuk liburan dipuncak itu.
Setelah kehilangan sang putra sulung, Tama harus dihadapkan oleh istrinya yang stres hingga mengalami depresi. Aida seolah tidak terima atas kehilangan sang putra.
Seluruh anak buah telah Tama kerahkan untuk mencari putranya ini namun tak kunjung ditemukan. Tapi malam ini, Tama yakin kalau Kaivan adalah putranya.
Tanda hitam itu sama dengan tanda miliknya. Diantara Aksa dan Steve hanya Aksa yang punya tanda lahir yang sama dengannya.
Kaivan terdiam mematung dengan apa yang tengah terjadi. Ada apa ini?
"Tanda ini, Tidak salah lagi.. Tanda ini sangat mirip dengan tanda yang dimiliki oleh putraku yang hilang.. Kau Aksa.. Aksa putraku.." Tuan Tama menangis tergugu sembari memeluk Kaivan.
"Tuan.. Sepertinya Tuan salah orang...
•
•
•
TBC