NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KIRANA DATANG

Kirana menghubungi lagi dua minggu kemudian — kali ini bukan lewat komentar, tapi langsung ke email Suara Asing yang Wren berikan. Ia ingin datang ke pameran sebelum ditutup. Dan ia ingin, kalau mungkin, bertemu dengan orang-orang di baliknya.

Wren membalas: "Tentu saja. Kapan Anda bisa ke Jakarta?"

Kirana datang hari Kamis.

Arsa tidak tahu apa yang ia ekspektasikan. Seseorang yang punya kesedihan yang lebih besar? Seseorang yang punya jawaban tentang Raka yang tidak dimiliki siapapun? Entah.

Yang ia temukan: perempuan dengan tinggi rata-rata, rambut sebahu, cara berdiri yang tenang seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan ruang yang ia tempati. Guru SD yang kelihatan seperti guru SD — ada kelembutan yang terlatih di cara ia bergerak, cara ia memperhatikan sekeliling.

Mereka bertemu di galeri.

Kirana masuk ke ruang foto Dito pertama — ia tidak tahu ini ruang Dito, hanya mengikuti alur galeri. Berdiri di foto pertama, kedua, ketiga. Lalu sampai di foto hujan dengan siluet di pojok.

Ia berdiri di sana lama — hampir seperti perempuan tua yang Arsa perhatikan di hari pertama.

"Ini Raka?" tanyanya tanpa menoleh.

"Kami percaya begitu," kata Wren di sebelahnya.

"Cara berdirinya," kata Kirana pelan. "Agak ke belakang. Tidak sepenuhnya masuk ke frame." Ia akhirnya menoleh ke arah mereka. "Persis caranya waktu ada di kelas bahasa Inggris dulu. Selalu duduk satu kursi dari pinggir — tidak di pojok yang paling jauh, tapi tidak di tengah juga. Di antara."

"Di antara," ulang Arsa.

"Raka sangat nyaman di antara." Kirana tersenyum — senyum yang hangat dan sedikit nostalgik. "Ia tidak suka terlalu menonjol tapi juga tidak mau tidak ada. Jadi ia mencari tempat yang cukup ada tapi tidak terlalu terlihat."

Mereka berjalan ke ruang surat.

Kirana membaca panel demi panel dengan cara yang berbeda dari pengunjung biasa — lebih lambat, dengan cara seseorang yang mengenali suara di balik kata-kata. Berhenti di satu panel cukup lama. Membacanya lagi.

"Kertas tidak memotong aku di tengah-tengah. Kertas tidak menatap aku dengan cara yang membuat aku lupa apa yang mau aku bilang."

"Ini yang pertama kali ia katakan kepada saya juga," kata Kirana. "Bukan persis kata ini — tapi konsepnya. Ia bilang, 'Kirana, saya lebih jelas dalam tulisan daripada bicara. Bukan karena pemalu — tapi karena kata-kata di kepala saya dan kata-kata di mulut saya seperti dua bahasa yang kadang tidak saling terjemahkan.'" Ia menoleh ke Arsa. "Lalu saya sarankan ia mulai menulis bukan untuk disimpan tapi untuk dikirimkan. Bahwa tujuan membuat kata-kata terasa berbeda."

Arsa diam mendengarkan.

"Saya tidak tahu ia benar-benar menulis sampai surat itu datang." Kirana berpaling ke panel lagi. "Dan saya tidak tahu ada kotak surat-surat yang lain sampai pameran ini."

"Ia menulis dua hal sekaligus," kata Wren. "Surat-surat yang ia latih dulu — yang disimpan di kotak, untuk Dito. Dan surat yang akhirnya ia kirim — kepada Anda."

"Saya seperti jalur sebelum jalur yang sesungguhnya." Kirana tidak menyebutkan itu dengan sedih — lebih seperti mengakui fakta yang sudah lama ia proses. "Saya tidak keberatan. Saya senang bisa jadi bagian dari perjalanan itu, dalam cara apapun."

Arsa menatap perempuan di depannya — Kirana yang dua puluh delapan tahun dengan cara bicara guru yang terbiasa menyederhanakan yang rumit. Yang menjadi Langit pertama sebelum ada Langit kedua. Yang menyimpan satu surat selama empat tahun dan masih memilihnya untuk dibagikan kepada orang yang tepat.

"Kirana," katanya. "Raka beruntung mengenal Anda."

Kirana menatapnya. Sesuatu di matanya bergerak. "Saya yang beruntung," katanya sederhana. "Ia mengajarkan bahwa orang bisa berubah cara berkomunikasinya kalau ada cukup alasan dan cukup ruang yang aman untuk mencoba." Ia tersenyum. "Dan rupanya saya adalah ruang aman yang pertama."

---

Di ruang Akhirnya, Kirana duduk di meja dan menulis surat.

Arsa dan Wren tidak mencuri pandang — mereka berdiri di luar ruang, dekat pintu, menunggu.

Sepuluh menit kemudian Kirana keluar dengan amplop di tangannya. Ia berjalan ke kotak pos merah tanpa ragu, memasukkan amplopnya.

"Untuk siapa?" tanya Wren pelan — bukan karena perlu tahu, tapi karena ingin memastikan Kirana baik-baik saja.

"Untuk murid saya," kata Kirana. "Kelas empat. Ada satu anak yang sangat pendiam — mengingatkan saya pada Raka. Saya ingin ia tahu bahwa diam bukan kelemahan, dan bahwa ada cara lain untuk berkata-kata selain dengan suara." Ia menatap kotak pos itu. "Saya akan kasih suratnya besok langsung. Tapi menulisnya di sini terasa tepat."

Wren mengangguk.

Kirana berpaling ke keduanya. "Terima kasih sudah membuat tempat ini."

"Terima kasih sudah datang," kata Arsa.

Kirana pergi setelah itu — kereta ke Yogyakarta jam tiga. Mereka berdua berdiri di depan galeri menonton ia pergi, figur kecil yang berjalan dengan langkah yang tenang ke arah halte taksi.

"Raka punya selera yang baik dalam memilih orang-orang yang ia percayai," kata Wren.

"Selalu," kata Arsa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!