Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Jadi
"Iya, Nona. Tuan Alvaro memang mengutus kami untuk menjemput calon istri beliau ... Dan itu adalah Nona," kata Pria berambut pirang, bersuara datar.
"Maka dari itu kami mohon agar Nona segera bersiap-siap. Sebab, Tuan kami bukan tipe orang yang suka dibuat menunggu," imbuh pria yang satunya dengan suara berat serak-serak basah.
Sedangkan dari dalam kamar mandi, Dena sejenak terdiam, tapi bukan karena ia masih curiga atau bahkan masih tidak percaya terhadap perkataan mereka.
Terlebih lagi nama orang semacam Alvaro yang Dena tau bukanlah orang sembarangan—mustahil untuk disebut secara terang-terangan, kecuali oleh orang-orang yang memang memiliki urusan dengannya.
Dena meyakini hal itu dan sama sekali tidak ingin menyangkalnya.
Hanya saja, kalau mereka ini memang ditugaskan untuk menjemput calon istri Tuan mereka sendiri.
Memangnya harus banget tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam kamar orang begini? Mereka memang kelihatan banget bukan orang sembarangan, tapi cukup tidak sopan!
Dan bukannya itu salah satu perbuatan yang tidak etis? Apalagi ke calon istri Tuan mereka?
Mereka ini bagaimana sih?
Di samping itu Dena juga jadi curiga, jangan-jangan itu memang disengaja? Alias, mereka memang sengaja masuk dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, adalah atas perintah dari Alvaro yang menyebalkan itu.
"Wah! Kalau itu benar, Om Alvaro nyebelin sih!"
Dena menggeram di dalam benak, lalu sedetik kemudian menarik napas dalam-dalam.
Hingga beberapa saat setelah terdiam cukup lama. Dena akhirnya sedikit menggeser pintu kamar mandi untuk membuat celah, setidaknya agar ia bisa melihat ke luar walau hanya sebatas mengintip.
Mereka?
Dua manusia tampan bertubuh besar menyeramkan macam genderuwo itu, rupanya masih berdiri di balik pintu.
Berdiri dengan tubuh tegap sempurna, berwajah datar, serta sangat kaku karena tidak bergerak nyaris seperti patung, dan yang pasti langsung membuat tubuh Dena bergidik menahan ngeri.
"Serem banget anjir!" batinnya.
"Mas?" panggil Dena, pelan.
Mereka langsung merespon, tapi dengan wajah mereka yang seperti sengaja sedikit ditundukkan. Dena jadi tau, ternyata mereka itu lumayan sopan dan bisa menjaga mata di depan calon istri Tuan mereka.
"Iya Nona? Ada yang bisa kami bantu?"
Dena menggeleng cepat, "Enggak! Saya cuma mau mastiin aja, malam ini saya beneran mau dilamar Om Alvaro ya?" cicit Dena masih sambil mengintip, saat rasanya sungguh tidak mungkin ia yang sekarang sedang dalam kondisi setengah telanjang begini, memberanikan diri untuk membuka pintu lebar-lebar.
Pria berambut pirang mengangguk, "Iya, Nona. Itu benar."
"Tuan Alvaro memang berniat untuk melamar dan menikahi Nona," sambungnya tanpa jeda.
"Saya nggak cuma di-prank kan?" tanya Dena memastikan lagi.
"Tentu saja tidak Nona. Tuan kami tidak pernah main-main dengan perkataannya. Apalagi menyangkut seorang perempuan," sahut pria yang satunya.
Dena menghela napas lega, selebihnya ia masih mencengkram erat handuk yang melilit dadanya.
"Kalau begitu kami akan menunggu Nona bersiap di depan. Kalau Nona perlu bantuan silakan panggil kami." Sesudah Pria berambut pirang itu berucap, ia lantas membalik badan untuk segera melangkah ke luar, langkahnya juga langsung diikuti oleh pria yang satunya.
Namun, tepat sebelum pintu tertutup, pria berambut panjang sejenak menoleh ke belakang.
Dena langsung waspada.
Pria itu menatap Dena dingin, akan tetapi tidak benar-benar sampai menatap langsung ke arah bola matanya.
"Dan maaf karena sudah membuat Nona terkejut, permisi," ucapnya, sopan.
"Eh? Orang seperti mereka baru saja mengucapkan kata maaf?" Dena terperanjat kecil.
Dan sesudah mereka keluar sampai akhirnya pintu benar-benar tertutup rapat.
Dena baru dapat benar-benar menghela napas lega sembari beranjak keluar dengan hati-hati. Walau, di setiap derap langkah kecilnya menyentuh lantai, ia terdengar sedikit menggerutu.
"Hih! Kalau gitu kenapa nggak dari tadi nunggu di luar." Wajah Dena jadi mengerutcut kesal.
"Bikin gue takut aja!" dengusnya.
Begitu langkahnya tiba di depan almari, Dena lantas melepas lilitan handuknya, lalu segera menggantinya dengan gaun seadanya berwana hitam pekat.
Ya, setidaknya itu adalah satu-satunya gaun bagus yang Dena miliki. Masih tergolong baru karena sejak dibeli pun belum pernah dipakai, kecuali saat Dena mencobanya.
Di depan cermin, Dena menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah yang tampak natural, bersih, dan belum sama sekali tersentuh bedak walau tipis.
Di pangkuannya se-kotak make-up yang jarang disentuh pun sudah siap untuk digunakan. Tapi?
"Harus banget ya pake make-up begini?" Dena jadi bimbang, sebab sedari dulu Dena ini memang terkenal jarang sekali berdandan.
Palingan cuma sekadar pake bedak tipis, dan itu pun kalau lagi diajak Dyo jalan.
Huh!
"Yaudah deh, dari pada gue digunjing adiknya yang kebelet pengen jadi pusat tata surya itu ... Gue dandan aja deh," putusnya sembari membuka penutup kotak make-up itu daripada membuang-buang waktu.
Dan ketika Dena sedang sibuk berias.
Ting!
Satu notif pesan tiba-tiba terdengar dari ponsel Dena yang tergeletak di kasur.
Dengan segera Dena sontak mengambilnya, lalu isi satu pesan itu ia baca dalam hati.
"Jangan kabur," bacanya.
Dena mengerucut kesal. Menatap lama layar ponselnya sambil menggegamnya erat-erat.
"Ih! Siapa juga sih yang mau kabur!" geramnya. Ia yakin, itu pasti pesan dari nomor Alvaro yang belum juga sempat disimpannya.
"Lagian pun kalau saya pengen kabur, di depan pintu kamar saya masih ada dua Genderuwo Om yang jagain tuh! Yang ada saya malah digeprek duluan sama mereka!" gerutu Dena sembari mengetik kalimat yang sama untuk membalas pesan Alvaro.
Tapi, setelah Dena baca ulang. Kayaknya nggak harus sampai segitunya deh,
Kepanjangan!
Alhasil, Dena memilih untuk menghapusnya lagi, lalu mengetik ulang balasannya.
Klik!
Pesan terkirim.
Iyaa...
...***...
Dena yang akhirnya selesai berdandan, kembali menatap dirinya sendiri di lembaran cermin yang menempel di pintu lemarinya.
"Ini beneran gue?" batinnya nyaris tidak yakin.
Kali ini Dena benar-benar merasa dirinya sangat cantik.
"Kalau niat ternyata gue boleh juga ya, pantesan si permen kapas itu maksa-maksa gue buat dandan," gumamnya sambil meraih tas mungil miliknya dari atas meja, lalu menjinjingnya seanggun mungkin.
Tapi, lama-kelamaan, Dena justru merasa tidak nyaman.
"Kalau gini terus tangan gue bakalan pegel banget nggak sih?" Dena cemberut, menjinjing tas imutnya setinggi perut, rupanya sungguh tidak nyaman.
"Dibawa biasa aja nggak apa-apa kan ya?" putus Dena, lalu pada akhirnya membawa tas mungil itu dengan biasa-biasa saja, lebih seperti ketika ia menenteng tas kresek ketika pulang dari belanja di warung.
Pintu kamar, Dena buka perlahan-lahan.
Ceklek!
Di depannya, dua manusia kaku macam patung itu terlihat masih berdiri tegap nyaris seperti penjaga pintu istana.
Dena kemudian keluar, menolehkan wajah mereka yang langsung tertunduk hormat di hadapan Dena.
"Apa Nona sudah siap?" tanya salah satunya.
Dena mengangguk-angguk, seolah ia sudah benar-benar siap, padahal di dalam batin ia berkata, "Kayaknya..."
"Kalau begitu silakan, Nona." Salah satu pria lantas mempersilahkan Dena untuk berjalan lebih dulu—dengan bersikap sopan, lalu keduanya berjalan pelan mengikuti langkah Dena tepat di belakangnya.
Hal itu membuat Dena jadi terlihat selayaknya seorang putri kerajaan yang sedang ditemani oleh para pengawalnya. Satu hal yang sejak dulu cuma bisa Dena lihat dari drama atau film-film yang biasa ditontonnya.
Sekilas, Dena melirik ke arah mereka, sambil tersenyum tipis ia berkata.
"Ternyata mereka bisa bersikap sopan juga ya... Ya, walaupun sebelum ini sempet bikin gue jantungan!" gumamnya lalu Dena kembali fokus menatap ke arah depan.
Kebetulan, di rumah kost yang kini menjadi tempat tinggal Dena, beberapa kamarnya memang sedang kosong.
Dan hanya dihuni sebagian dari kamarnya, itu pun oleh para kakak mahasiswi seni rupa yang setiap malamnya juga kerap pergi.
Ingat! Di sana tidak ada penghuni kost yang berjenis kelamin laki-laki. Sebab, rumah kost itu memang khusus untuk para ciwi.
Jadilah suasana di sana terbilang sepi, dan hal itu lantas membuat Dena jadi tidak terlalu merasa tegang.
Kecuali, beberapa penghuni kost lain yang kebetulan lagi nongkrong di depan rumah sambil nyanyi-nyanyi.
Ketika Dena baru saja melewati ambang pintu kost dengan penampilannya yang sangat jauh berbeda. Salah satu dari mereka lantas melebarkan mata.
"Anjir, itu bukannya Dena ya?"
Dua temannya sontak menoleh, menatap ke arah yang sama—ke arah Dena.
"Dena yang mana?"
"Itu...anak kost yang tinggal di kamar nomor 7, yang bandelnya minta ampun dan suka banget nukerin sendal kita!" serunya selaku salah seorang penghuni kamar kost yang kebetulan sekali berada tepat di sebelah kamar Dena, dan kerap menjadi korban keisengannya.
"Lah iya, tuh bocah mau kemana dah? Tumben banget dandan?"
Tatapan mereka lantas terheran-heran, ketika melihat Dena yang lagi jalan pelan-pelan hingga nyaris terlihat begitu anggun.
Padahal, Dena sengaja jalan pelan-pelan bukan karena ia ingin terlihat anggun di mata semua orang. Namun, karena ia sebenarnya lagi takut keseleo.
Maklum, sejak kecil Dena emang jarang banget pake high heels, karena selain bisa bikin pegel di kaki, pake high heels juga bisa jadi musibah yang tidak terprediksi.
"Nggak tau sih! Mungkin mau kencan."
Salah satu lantas mengerutkan dahi, begitu menyadari tepat di belakang Dena ada dua orang pria yang muncul dari balik bayang-bayang.
"Masak iya kencan langsung sama dua orang?"
"Dua?"
Mereka berganti memandang ke arah dua pria itu.
"Lah iya! Mereka berdua siapa anjir? Serem banget, tapi ganteng sih?"
"Mungkin temennya?"
"Temen? Maksud lo Dena temenan sama orang-orang modelan kayak begitu?"
"Bisa aja kan?"
"Kayaknya enggak deh! Mereka aja lebih cocok dibilang preman dari pada temen!"
"Masak temen sih?!"
"Lah kan tadi gue bilang mungkin. Itu artinya ya belum tentu!"
"Iya! Makanya gue juga bilang enggak. Karena itu nggak mungkin!"
Ketika perdebatan itu sedang berlangsung sengit. Salah satu dari mereka lantas tertawa, tapi bukan tertawa yang cekikikan—suaranya lebih diredam.
"Nih lagi. Ngetawain apa lo?" dengus salah satu dari yang sedang berdebat sambil melirik tajam ke arah cewek berkacamata yang lagi ketawa-ketawa.
"Ngetawain lo berdua lah. Umur udah nggak belia tapi masih aja nggak ngerti bagaimana cara dunia ini bekerja," kekehnya.
"Maksud lo?"
"Ck! Di lingkungan anak kost seperti kita bukannya hal semacam ini sudah biasa terjadi?" tanyanya sembari melirik ke arah Dena.
Ketika dengan hati-hati Dena akhirnya masuk ke dalam mobil mewah yang akan membawanya pergi.
"Maksud lo Dena bukan mau kencan, tapi mau—"
"Yap, dan kalau pun memang kencan. Gue yakin pasti ini bukan kencan biasa," potongnya.
"Bukan kencan biasa?" Keduanya sontak saling bertukar pandang.
"Iya, dan mungkin dua orang itu cuma yang disuruh untuk menjemput Dena," lanjutnya.
"Disuruh siapa?"
"Orang yang pengen kencan sama Dena."
"Siapa?"
"Ya gue mana tau! Tapi, kalau pesuruhnya aja udah yang modelan kayak begitu, biasanya bos-nya juga bukan orang sembarangan, alias ..." Ia mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya sejajar dengan kepala, "Orang besar," lanjutnya.
"Hah?" Tak selang sedetik mereka kemudian kembali melirik ke arah Dena yang baru saja masuk ke dalam mobil mewah. Dan seketika perkataan salah satu teman mereka jadi lebih masuk akal.
"Gue sekarang ngerti. Intinya lo curiga Dena jual diri kan?" bisik salah satunya.
Si cewek berkacamata mengangkat kedua bahu, "Bukan tidak mungkin kan?"
"Iya sih, tapi bukannya Dena masih anak SMA ya? Masak iya berani?"
"Mau masih anak SMA pun, kalau cantik, mustahil tidak ada yang tertarik ... Lagian pun lo berdua kan tau sendiri, tuh anak nggak pernah ada takut-takutnya," ujarnya.
Keduanya lantas terdiam. "Benar juga ..."
Sementara itu dari dalam mobil mewah yang akhirnya mulai melaju perlahan. Dari sana Dena masih sempat mendengar perkataan mereka—lengkap, bahkan tanpa terpotong.
Dena lalu mencengkram kuat tas kecil di pangkuannya. Perasaannya condong ke arah ingin membalas perkataan mereka, akan tetapi, pada akhirnya Dena lebih memilih untuk acuh.
"Mereka berisik banget ya..." gumamnya.
Lalu senyum kecil mulai tersungging di bibir tipisnya, "Tapi ... Kelihatan banget kalau lagi penasaran, sampai-sampai mengira gue udah jual diri."
Dan—entah kenapa? Itu jauh lebih menarik bagi Dena yang suka sekali menjaili mereka.