Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu mertua mau gendong cucu
"Ke pasar nya naik apa?" tanya Yiwa setengahnya berteriak karena posisinya yang berada di ruang tamu sedangkan Nara di dalam kamar.
"Kita ke rumah ibu dulu untuk ambil motor." Nara keluar dari kamar dengan pakaian yang sangat rapi.
"Lo nggak punya kendaraan sendiri?" Yiwa berdiri, lalu mengikuti Nara yang sudan lebih dulu keluar rumah.
"Punya, tapi di taruh di tempat ibu. Saya jarang pakai, jadi biar di tempat ibu saja."
"Emang nggak capek jalan kaki terus?"
"Biar sehat."
"Dih! sok iya banget!"
Nara tersenyum melihat respon Yiwa. "Ayo jalan."
"Loh, kok jalan? katanya naik motor?" heran Yiwa.
Nara tersenyum geli melihat wajah Yiwa. "Iya, kita jalan ke rumah ibu. Kan motornya di rumah ibu."
Yiwa berdecak sebal. "Bilang dong! itu pintunya udah di kunci rapat belum? jangan sampai televisi barunya kena maling."
Nara mengangguk. "Sudah. Ayo!"
keduanya pun berjalan bersama menuju rumah ibu. Jaraknya juga cukup dekat. Jadi mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai.
"Kenapa lo nggak serumah sama ibu?"
"Biar rumah itu tidak kosong."
"Kenapa juga rumah lo di paling ujung. Mana nggak ada tetangga lagi."
"Karena tujuannya bukan cari tetangga."
"Aneh! Untungnya ibu udah kasih tahu tukang sayurnya buat mampir ke rumah lo. Kalo nggak bisa gawat. Masa mau makan harus beli nasi dulu. Kan gue juga pengen belajar masak."
Nara tersenyum mendengar celotehan Yiwa. "Iya, nanti seminggu sekali kita pergi ke pasar. Biar kamu bisa belanja yang kamu mau."
Senyum Yiwa langsung mengembang. "Nah! gitu dong. Sesekali kita harus jalan-jalan keluar. Gue bosen di dalem rumah terus. Tapi gue juga males sih kalo harus ngumpul sama ibu-ibu."
"Kalau keadaan sudah aman, kamu bisa sering-sering ke rumah ibu atau mbah."
Yiwa menganggukkan. "Iya-iya."
"Loh! Nara! Yiwa! tumben sekali jalan-jalan berdua." dari arah teras, Bu Widya langsung berjalan mendekati mereka. "Mana masih pagi sekali ini."
"Aku mau ke pasar, bu. Minta anterin Nara."
Bu Widya mengangguk. "Oalah! Iya-iya, mending suruh anter Nara saja. Mau ambil motor ya?"
Nara mengangguk. "Iya, bu. Nara ke dalam dulu ya, bu."
"Iya, Ra. Kuncinya di tempat biasanya." Bu Widya mengalihkan perhatiannya pada Yiwa. "Kamu bagaimana, Wa? Sudah sehat badanya?"
Yiwa tersenyum mengangguk. "Sehat, bu."
Tiba-tiba Bu Widya meraih tangan kanan Yiwa dan mengenggamnya. "Kamu sama Nara bagaimana? Hubungan kalian baik kan? Tidak ada masalah kan?"
Yiwa tertegun sejenak. tapi ia cepat-cepat tersenyum. "Baik kok, Bu. Nara baik ke Yiwa. Yiwa juga berusaha jadi istri yang baik."
"Bohong banget lo, wa! istri yang baik dari hongkong!" batinnya.
"Wah, baguslah. Ibu senang sekali dengarnya. Jadi harapan ibu untuk punya cucu bisa segera tercapai."
Yiwa langsung syok dengarnya. "Hah? eh! cucu ya, Bu?"
Bu Widya mengangguk. "Iya. Ibu itu tidak sabar sekali untuk menggendong cucu. Apalagi kamu cantik sekali dan anak ibu itu juga ganteng. Sudah pasti nanti anak kalian nanti cantik dan ganteng seperti artis cina. Biar bisa ibu pamerin ke tetangga." Bu Widya berbicara dengan sangat antusias. Berbeda dengan Yiwa yang hanya bisa diam sambil tersenyum canggung.
"Nara, lo ambil motor di jerman apa amerika sih! lama banget!" Batin Yiwa menjerit.
"Hehehe, iya bu. Nanti di bicarain sama Nara." jawab Yiwa seadanya.
"Iya, pokoknya kalian bicarakan segera."
"Eh? Nara mana ya, bu? Kok lama banget, aku lihat Nara sebentar deh! Takutnya kenapa-kenapa." Yiwa tidak menunggu jawaban dari Bu Widya. Ia ingin cepat-cepat menghindar dari pembicaraan soal anak ini. Ia segera berjalan ke garasi yang terletak di samping rumah, meninggalkan Bu Widya yang masih senyum-senyum. Mungkin membayangkan wajah anaknya Nara dan Yiwa nantinya.
Yiwa masuk ke dalam garasi. Ia agak terkejut karena ternyata kendaraannya cukup banyak. Ada dua motor bebek, satu motor matic, satu motor trail, dan satu mobil.
"Nara! Oh my God! lama banget sih?" Yiwa menghampiri Nara yang sedang di samping motor bebek.
Nara meletakkan kain lap yang di pegangnya di atas meja kecil di sampingnya.
"Saya masih lap motornya sebentar. Ada apa?"
"Udah, nanti aja ceritanya waktu jalan. ayo buruan ke pasar."
Nara menurut. Ia segera menuntun motornya keluar garasi. Di ikuti Yiwa di belakangnya.
"Bu, kami berangkat dulu ya?" pamit Nara.
"Iya, hati-hati ya. Jangan ngebut, kamu kan lagi bonceng mantu ibu yang cantik ini." Bu Widya masih tersenyum-senyum.
Yiwa tersenyum canggung. "Iya, kami duluan, bu." Yiwa mencium punggung tangan Bu Widya dan Nara juga melakukan hal yang sama.Setelahnya Yiwa segera mengode Nara agar cepat berangkat.
Nara yang mengerti pun segera naik dan menyalakan motornya. Belum sempat Nara menginjak persnelingnya, Yiwa sudah naik ke boncengan dulu.
"Pegangan yang erat, Wa. Nanti jatuh." Kata Bu Widya.
Yiwa tersenyum. "Iya, bu." Yiwa pun memeluk pinggang Nara. "Ayo dong, Ra." bisiknya pada Nara.
"Iya, kami berangkat, bu."
Akhirnya, motor yang dibawa Nara melaju meninggalkan halaman rumah Bu Widya. Dan Yiwa pun bisa bernapas dengan lega.
"Kamu kenapa sih?" Nara melihat wajah Yiwa dari spion.
"Ibu minta cucu."
ckittttt
Plakkk
Yiwa reflek memukul bahu Nara karena tiba-tiba saja mengerem mendadak sampai kening Yiwa menabrak kepala Nara bagian belakang.
"Kenapa rem mendadak sih? Lo mau kita jatuh?"
Motor mereka masih berhenti di pinggir jalan, belum jauh dari gapura Desa Waduk Bening.
"Maaf. Ibu tadi minta apa?"
"Minta cucu. Kenapa?"
"Terus jawaban kamu bagaimana?"
Yiwa menghela napas. "Gue bilang mau bicarain dulu sama lo."
Nara diam.
Yiwa menghela napas pelan. "Ra, gue gak siap."
Nara menoleh. "Iya, saya mengerti. Saya juga tidak memaksa kamu. Nanti kalau ibu bicara soal ini lagi, biar saya yang bicara ya?"
Yiwa mengangguk. "Makasih, Ra."
Nara mengangguk. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke pasar.
...♡Bersambung♡...
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile saya. Terima kasih /Smirk/