Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Untuk Pertama Kalinya, Aku Takut Kehilangan Seseorang
“Maaf.”
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan mana pun malam ini.
Lyra membeku di tengah hujan.
Napasnya tercekat.
Karena cara Veyra mengatakannya…
terdengar seperti ucapan selamat tinggal.
—
Langit terus retak di atas mereka.
Portal digital raksasa berputar makin cepat, memuntahkan cahaya biru yang membuat seluruh kota terlihat seperti dunia yang hampir dihapus.
Petir menyambar tanpa suara.
Data beterbangan di udara seperti serpihan kaca.
Dan di tengah semua kekacauan itu—
Veyra melayang perlahan ke atas.
Sendirian.
—
“VEYRA!”
Lyra berlari lagi.
Tak peduli tubuhnya mulai terkena arus energi.
Tak peduli kulit tangannya mulai terbakar cahaya digital.
Ia tetap berlari.
Karena kalau berhenti sekarang—
ia tahu ia akan kehilangan Veyra selamanya.
—
“Aku nggak bakal biarin kamu pergi!”
Suara Lyra pecah.
Dan itu membuat Veyra menoleh perlahan.
Tatapannya berubah sedikit goyah.
Karena selama ini—
tak ada yang pernah benar-benar mencoba menahannya untuk tetap hidup.
—
“Lyra…”
“Aku serius!”
Air mata bercampur hujan di wajahnya.
“Kamu nggak boleh mutusin semuanya sendirian lagi!”
Deg.
Kalimat itu menghantam tepat ke dada Veyra.
Karena sialnya—
itu benar.
Selama ini ia selalu memilih sendiri.
Menanggung semuanya sendiri.
Menyakiti diri sendiri sendiri.
Dan diam-diam berharap tak ada yang ikut terluka.
—
Namun sebelum ia sempat bicara—
makhluk digital di langit mengeluarkan suara besar.
“PENGHAPUSAN INTI TERDETEKSI.”
Portal mulai bergetar hebat.
Dan seluruh dunia ikut kacau.
Pesawat kehilangan kendali.
Satelit mulai jatuh dari orbit.
Sistem listrik di berbagai negara mati total.
Orang-orang di seluruh dunia panik.
Karena mereka bisa merasakan sesuatu.
Akhir sedang mendekat.
—
GLOBAL CORE MERGE : 93%
Angka merah itu muncul di seluruh layar.
Dan waktunya makin sedikit.
—
Dokter Arkan menatap monitor dengan wajah yang mulai kehilangan ketenangan.
“Tidak…”
Tangannya mengepal keras.
“Kamu tidak boleh menghancurkan sistem itu.”
Veyra melirik kecil ke arah layar.
“Kenapa?”
“Karena dunia membutuhkan evolusi ini!”
Veyra tertawa kecil.
Namun tawanya kali ini dingin sekali.
“Lucu.”
Matanya perlahan menyipit.
“Kalian nyebut neraka ini evolusi?”
Deg.
Arkan membanting meja keras.
Untuk pertama kalinya—
emosinya benar-benar pecah.
“KAMU TIDAK MENGERTI APA YANG SUDAH KAMI KORBANKAN!”
Dan itulah masalahnya.
Mereka memang terlalu banyak berkorban.
Sampai lupa caranya berhenti.
—
“Aku ngerti.”
Suara Veyra pelan sekarang.
Namun justru itu yang membuat semua orang diam.
“Aku ngerti rasanya kehilangan.”
Tatapannya kosong sesaat.
“Aku ngerti rasanya dijadiin alat.”
Angin di sekitar mulai berputar liar.
“Aku ngerti rasanya pengen dunia berhenti nyakitin kita.”
Cahaya biru di matanya makin
terang.
“Tapi kalian salah satu alasan kenapa dunia jadi kayak gini.”
BOOOOOOMMMM!
Seluruh portal langsung glitch besar.
Makhluk digital di langit meraung keras.
Dan seluruh jaringan dunia bergetar hebat.
—
Lyra akhirnya berhasil cukup dekat.
“Veyra… please…”
Tangannya gemetar saat mencoba meraih gadis itu.
Namun tubuh Veyra mulai transparan.
Data-data kecil terus terlepas dari kulitnya seperti serpihan cahaya.
Dan Lyra langsung panik.
“Tidak…”
Veyra menatap tangannya sendiri lama.
Lalu tertawa kecil.
“Kayaknya tubuhku udah mulai nyerah.”
“Berhenti ngomong gitu!”
“Aku cuma jujur.”
“AKU NGGAK MAU DENGER!”
Deg.
Suara Lyra pecah total sekarang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
semua orang melihatnya menangis.
Bukan karena takut dunia hancur.
Melainkan karena takut kehilangan satu orang.
—
Selene memalingkan wajah pelan.
Ia tidak suka drama emosional.
Namun bahkan ia tidak bisa bercanda sekarang.
Karena suasana ini terlalu nyata.
Terlalu menyakitkan.
—
Veyra perlahan turun sedikit.
Cukup dekat untuk menyentuh Lyra.
Dan saat jemari mereka akhirnya bertemu—
cahaya biru di sekitar Veyra langsung melemah sesaat.
Deg.
Seluruh sistem dunia glitch bersamaan.
—
Arkan membelalak.
“Itu tidak mungkin…”
Salah satu staf panik.
“Koneksi intinya terganggu!”
“Kenapa bisa?!”
Tatapan Arkan langsung tajam ke arah Lyra.
Dan akhirnya—
ia mengerti.
Masalah terbesar dalam eksperimen ini.
Perasaan manusia.
—
“Menarik…”
Suara Arkan kembali pelan.
Namun kali ini terdengar jauh lebih dingin.
“Kalau begitu…”
Ia menekan sesuatu di terminalnya.
“…aku tinggal menghapus gangguannya.”
Deg.
Mata Veyra langsung melebar.
“LYRA!”
Terlambat.
—
DUUUUMMMM!
Sebuah drone hitam besar muncul dari balik awan.
Begitu cepat.
Begitu tiba-tiba.
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi—
laser merah langsung mengunci tubuh Lyra.
—
“Target pengganggu ditemukan.”
Suara mekanis terdengar dingin.
“Eksekusi dimulai.”
Deg.
Semua terjadi terlalu cepat.
Pasukan panik.
Selene mengumpat keras.
Dan Veyra—
untuk pertama kalinya benar-benar kehilangan ketenangan.
—
“JANGAN SENTUH DIA!”
BOOOOOOOOOOMMMMMM!
Ledakan energi terbesar malam itu langsung menghantam langit.
Seluruh kota terguncang.
Drone-drone di udara meledak bersamaan.
Jendela gedung pecah dalam radius beberapa kilometer.
Dan cahaya biru raksasa membelah awan seperti lautan yang terbuka.
—
Orang-orang di seluruh dunia melihatnya.
Sosok Veyra di tengah ledakan cahaya.
Mata birunya menyala terang seperti bintang yang marah.
Dan untuk pertama kalinya—
mereka benar-benar mengerti.
Veyra tidak takut dunia.
Ia hanya takut kehilangan seseorang.
—
Drone hitam tadi hancur total sebelum sempat menembak.
Namun efek ledakan energinya membuat seluruh sinkronisasi sistem melonjak brutal.
GLOBAL CORE MERGE : 97%
Alarm langsung berbunyi di seluruh pusat teknologi dunia.
“KITA KEHILANGAN KENDALI!”
“INTI SISTEM OVERLOAD!”
“Semuanya akan runtuh!”
—
Makhluk digital di langit mulai berubah liar.
Tubuhnya pecah jadi ribuan wajah.
Jeritan data memenuhi udara.
“KESALAHAN.”
“KESALAHAN.”
“KESALAHAN.”
Langit mulai retak lebih besar.
Dan dari celah itu—
cahaya putih besar muncul perlahan.
Seperti sesuatu dari luar dunia sedang mencoba masuk.
—
Selene langsung pucat.
“Oke. Sekarang kita resmi masuk level kiamat.”
—
Veyra sendiri mulai kesulitan bernapas.
Tubuhnya terus menghilang sedikit demi sedikit.
Namun tatapannya sekarang hanya ke satu arah.
Lyra.
Yang masih berdiri di depannya sambil menangis diam-diam.
—
“Kenapa…” suara Lyra gemetar. “Kenapa kamu selalu milih nyakitin diri sendiri dulu…”
Veyra tersenyum kecil.
Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Atau mungkin—
ia tahu.
Ia hanya terlalu takut mengakuinya.
—
“Aku takut…”
Lyra membeku.
Karena itu pertama kalinya Veyra mengatakannya secara langsung.
“Aku takut kalau aku tetap hidup…”
Tatapannya perlahan turun.
“…suatu hari aku bakal jadi monster beneran.”
Sunyi.
Dan itu—
adalah ketakutan paling jujur yang pernah keluar dari dirinya.
—
Lyra langsung menggenggam wajahnya.
“Kamu denger aku baik-baik.”
Napasnya gemetar.
“Aku nggak peduli dunia ngeliat kamu kayak apa.”
Air matanya jatuh lagi.
“Kalau suatu hari kamu berubah jadi monster…”
Tatapannya lurus ke mata Veyra.
“…aku tetap bakal narik kamu balik.”
Deg.
Dan untuk pertama kalinya—
seluruh pertahanan dalam diri Veyra runtuh total.