NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 23

Amelia baru kembali ke rumah Keluarga Harrison malam hari setelah meletakkan barang-barang dari rumah lama ke calon rumah barunya. Amelia ingin langsung menuju kamar untuk mandi sebelum makan malam, tapi langkahnya terhenti ketika akan melewati ruang duduk. Obrolan Caelan dan Simon membuat Amelia urung melanjutkan langkah dan merapatkan diri ke dekat pintu agar bisa mendengar lebih jelas.

“Bukankah cukup terlambat jika Papa menanyakan hal itu sekarang?”

Terdengar suara Caelan, dari nada suara terdengar Caelan tidak senang.

“Tapi Papa harus menanyakannya sebelum pernikahan ini benar-benar terjadi,”

Simon menimpali.

Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Amelia bisa melihat Caelan dari samping dan pria itu terlihat tegang. Sama tegangnya dengan Amelia setelah mendengar kata pernikahan. Pastinya pernikahan yang dua orang itu bahas adalah pernikahannya dan Caelan yang akan dilangsungkan satu minggu lagi.

“Papa ingin mengagalkan pernikahanku?”

“Bukan itu maksudnya, Caelan. Papa hanya ingin tahu apakah kau bersungguh-sungguh?”

Amelia mengamati wajah Caelan mengeras.

“Apa maksud pertanyaan itu? Apa Papa pikir aku tidak serius dengan pernikahan ini? Aku benar-benar ingin menikahi Amelia,” Caelan menegaskan.

“Apa kau benar-benar mencintainya?”

“Tentu saja.”

“Kau yakin benar-benar menikah dengan Amelia karena cinta, bukan karena Emi dan rasa bersalahmu pada Henry.”

Tangan Caelan terkepal di sisi tubuh. Amelia memerhatikan perubahan itu. Caelan menjadi lebih tegang dan suara pria itu meninggi.

“Tentu saja, Emi adalah salah satu alasanku, tapi aku juga menyukai Amelia.”

“Dari caramu bicara, Amelia terdengar seperti tambahan dan Emi lah yang menjadi alasan utamamu menikah.”

“Pa, jangan-“

“Caelan, Papa tidak ingin kau mengambil keputusan karena rasa bersalah. Emi adalah anaknya Henry, kita tentu saja bertanggung jawab untuk mengurusnya, tapi kau tidak harus mengambil tanggung jawab penuh apalagi sampai harus menikah hanya agar bisa membesarkan Emi.”

“Aku sudah mengambil keputusan yang benar,” sahut Caelan tanpa menyanggah perkataan Simon.

“Nak, keputusan yang menurutmu benar belum tentu benar untuk Amelia. Jika kau menikahinya tanpa cinta, dia akan menderita. Jangan jadikan Emi dan Amelia sebagai alat penebusanmu. Karena kau tidak harus menebus apa pun.”

Amelia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Ingin rasanya ia masuk dan langsung bertanya pada Caelan.

“Aku menyayangi Amelia, menghormati dan menghargainya. Dia akan jadi istri yang sempurna untukku.”

Entah mengapa, Amelia tidak bisa merasa bahagia mendengar perkataan Caelan. Ada yang membuatnya ragu pada pria itu.

“Dan apakah kau akan menjadi suami yang sempurna untuknya, Caelan?”

Ada jeda sebelum Caelan menjawab, “Aku akan mengusahakannya.”

Setelah mengatakan itu, Caelan berderap ke pintu dan menarik pintu hingga terbuka. Amelia tidak sempat melarikan diri sehingga hanya bisa berdiri dengan canggung.

“Selamat malam,” sapa Amelia ringan, tapi isyarat di matanya tidak bisa menyembunyikan kebingungan dan rasa penasaran serta kekecewaan.

Caelan terkejut melihat Amelia, tapi dengan cepat ekspresi terkejut itu digantikan dengan senyuman. “Kapan kau kembali? Apa perjalanannya lancar? Kau sudah menaruh semua barangnya di rumah?” Caelan membombardir Amelia dengan pertanyaan.

“Baru saja, perjalananku lancar, dan aku sudah menaruh semua barang di rumah.” Amelia menjawab pertanyaan dengan berurutan. “Aku tadi mau ke kamar untuk melihat Emi dan membersihkan diri.”

“Emi bersama Mama dan Sandra, mungkin mereka sudah menidurkannya,” jawab Caelan sambil berusaha terlihat santai, tapi ketegangan dari wajah Caelan tidak dapat hilang sepenuhnya.

“Apa kau ingin bicara denganku tentang sesuatu?” pancing Amelia.

“Tidak juga,” sahut Caelan berusaha menghindar. “Sebaiknya kau membersihkan diri, sebentar lagi kita makan malam.”

Sebenarnya, Amelia ingin bertanya lagi, tapi melihat ekspresi Caelan hal itu urung dilakukan.

“Baiklah, aku ke kamar dulu.”

“Sampai ketemu saat makan malam.”

Sepanjang makan malam, Amelia terus memikirkan mengenai obrolan Caelan dan Simon. Berkali-kali ia memerhatikan Caelan dan Simon, keduanya terlihat santai tapi berhati-hati dengan Amelia.

Amelia sudah berniat untuk bertanya pada Caelan setelah makan malam. Meskipun Amelia takut pada kenyataan yang akan didengarnya, tapi ia lebih takut jika tidak tahu. Pernikahan tinggal satu minggu, semua harus jelas sebelum janji setia itu diucapkan.

Namun, niat Amelia tetap menjadi niat, tidak terealisasi sama sekali. Sebab Caelan langsung pamit setelah makan malam. Caelan berdalih ada masalah pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan hal itu berlangsung berhari-hari.

Caelan tidak datang ke rumah Keluarga Harrison, hanya menelepon atau menemui Amelia di luar rumah, jika ada hal penting menyangkut persiapan pernikahan. Total hanya ada tiga pertemuan dengan Caelan sepanjang minggu itu. Selebihnya hanya telepon atau komunikasi lewat pesan. Caelan mendadak jadi begitu sibuk. Namun, kesibukan itu bukan dibuat-buat. Ada proyek yang bermasalah sehingga Caelan harus turun tangan langsung menyelesaikannya.

Satu hari sebelum pernikahan Caelan baru muncul. Pria itu terlihat lelah saat bergabung untuk makan siang.

“Kau terlihat lelah,” ujar Amelia setelah makan siang.

“Ya, beberapa hari ini banyak yang harus kukerjakan,” jawab Caelan sambil berbaring di samping Amelia.

Mereka sedang menemani Emi bermain di ruang bermain. Emi sedang berguling-guling di playmat, setengah mengantuk setelah menghabiskan makan siang.

“Persiapan untuk besok aman, kan?” tanya Caelan.

“Seharusnya begitu, pihak EO tidak datang mencari kita artinya tidak ada masalah,” sahut Amelia. “Minggu ini benar-benar sibuk, banyak sekali yang harus dilakukan,” keluhnya.

“Kau pasti lelah, istirahatlah sebentar.” Caelan menepuk-nepuk ruang kosong di samping pria itu, mengisyaratkan agar Amelia ikut berbaring. Amelia pun berbaring. Melihat Amelia berbaring, Emi bangun dan merangkak agar bisa di tengah-tengah Amelia dan Caelan.

“Dia tidak mau diabaikan,” ujar Caelan geli. “Benar-benar menggemaskan.” Caelan mendaratkan ciuman di pipi Emi dengan gemas beberapa kali. Emi protes dan melipir ke sisi Amelia yang langsung memeluk Emi.

“Om Caelan, jangan ganggu, Emi ngantuk.”

Caelan kembali berbaring dan Amelia menepuk-nepuk Emi agar gadis kecil itu tertidur. Perlahan-lahan mata Emi tertutup dan napasnya menjadi teratur. Gadis kecil itu terlelap.

“Sebenarnya, aku ingin bicara denganmu,” bisik Amelia.

“Soal apa?” tanya Caelan dengan suara pelan.

“Obrolanmu dengan Papa minggu lalu,” ujar Amelia jujur. Sejak rencana pernikahannya dengan Caelan mulai dilakukan, Amelia diminta mengganti panggilan untuk Simon dan Anna dengan panggilan yang biasa digunakan Caelan, yaitu Papa dan Mama.

Tubuh Caelan menegang. Pria itu dia sesaat sebelum bertanya, “Yang mana?”

“Kau tahu yang mana,” sahut Amelia. “Aku ingin tahu apa yang Papa maksud saat mengatakan bahwa aku dan Emi adalah alat yang kau gunakan untuk penebusan.”

Caelan hanya diam.

“Caelan, tolong jawab,” pinta Amelia. Namun, Caelan bergeming. “Tolonglah, aku perlu kejelasan.” Kali ini suara Amelia lebih nyaring sehingga membangunkan Emi yang langsung menangis.

Caelan dengan sigap meraup Emi ke dalam pelukan, menggendong Emi berkeliling ruangan agar gadis kecil itu kembali tidur.

Amelia urung melanjutkan menanyai Caelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!