WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
#23
Pagi selepas rangkaian amalan sholat subuh dikerjakan, Ersha bergegas ke dapur mumpung Abizar masih nyenyak. Hal yang dulu ia kerjakan di rumah abah dan umminya, kini kembali menjadi rutinitas Ersha setelah kembali ke rumah ini.
Bedanya hanyalah, dulu belum ada Abizar, dan kini sudah ada bocah lucu tersebut. Pusat perhatian seluruh penghuni rumah, serta penyemangat dalam diri Ersha sejak rumah tangganya di ujung tanduk perpisahan.
Tetangga mulai bertanya, kenapa dirinya lama berada di rumah tersebut, Ersha hanya menjawab seadanya, serta minta doa agar dimudahkan segala urusan ke depan nantinya. Sama sekali tak menyinggung perasaannya, Ersha hanya fokus melangkah maju, melanjutkan hidup yang terus berputar.
Otaknya mulai berpikir dan mencari-cari ide apa gerangan untuk menafkahi dirinya, karena Abizar praktis masih dinafkahi oleh ayahnya.
Ummi Fitria juga sudah mengatakan mulai lelah mengurus toko kuenya, jadi ia ingin Ersha yang mengambil alih, sementara dirinya menjaga Abizar selama Ersha sibuk di toko.
“Ummi, ini apa?” Ersha yang baru saja membuka freezer -tempat menyimpan bahan kue, atau food frozen yang dijual Ummi Fitria- sedikit heran dengan keberadaan box misterius di dalamnya.
“Itu— apa, ya?” Ummi Fitria mencoba mengingat-ingat. Lalu berjalan menghampiri Ersha untuk memastikannya.
“Oh, ini?” Ersha mengangguk.
“Ikan segar pemberian Ahtar. Katanya, sih, ikan yang beratnya tidak sesuai dengan kriteria pengiriman. Biasanya dibagikan untuk karyawannya, tapi kemarin ia ambil sebagian untuk kita. “
“Oh, begitu. Kalau aku masak, boleh, Mi?” melihat tiga ekor ikan tuna ukuran besar -untuk skala rumah- itu, Ersha mulai terpikirkan sebuah menu yang simpel dan enak.
“Iya, masaklah untuk lauk kita hari ini. Jangan lupa sisihkan untuk Abizar, pasti dia suka.”
“Iya, Mi.”
Dengan cekatan Ersha menggotong satu ekor ikan, lalu mulai membersihkannya. Wanita itu terlihat tenang selama proses membersihkan hingga memasaknya, karena sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga terutama pekerjaan di dapur.
•••
Dua jam kemudian, mereka sudah berada di toko kue. Ummi Fitria pergi lebih dulu, karena ada beberapa orang yang akan mendistribusikan kue ke toko. Untunglah sudah ada 2 orang asisten yang membantu, jadi bisa agak santai.
Selesai Ersha membuat sarapan, wanita itu memandikan Abizar, serta membungkus sarapan untuk abah dan umminya yang pagi-pagi sekali harus buka toko. Untunglah lokasinya tak berjauhan, jadi Ersha bisa mengantarkannya sekalian mengajak Abizar jalan pagi, melihat aktivitas orang di sepanjang jalan menuju lokasi toko.
“Enak sekali ikan tuna ini?” puji Ummi Fitria ketika mencicipi sarapan pagi buatan Ersha. “Kami membumbuinya dengan pas, pedasnya pas, gurihnya juga pas.
“Bukan hanya itu, Ummi. Ikannya benar-benar fresh, jadi gurih alami ikan tuna juga berpengaruh pada rasa.” Ummi Fitria mengangguk mencerna penjelasan Ersha. “Abi juga suka ikannya?”
“Alhamdulillah, Ummi. Aku buatkan sup tuna minyak wijen, lahap makannya.”
“Syukurlah.”
Beberapa saat kemudian, Ummi Fitria yang ganti melayani pembeli, sementara pekerja lain ia persilahkan untuk sarapan bergantian. Agar tidak keteteran melayani pembeli.
“Ummi, paket bento yang biasanya, mana?” Salah seorang pelanggan tetap Ummi Fitria datang dan bertanya.
“Wah, yang biasa menitipkan bento, sedang sakit, jadi entah kapan dia bikin lagi menu bento.”
“Ya—” kata wanita itu, sendu. Biasanya ia membeli bento untuk bekal makan siang anaknya, maklum dirinya adalah pegawai kantoran, jadi waktunya terlalu mendesak bila ingin membuat bekal.
Ersha jadi ingat tadi ke toko membawa ikan tuna cukup banyak. “Bu, anaknya suka pedas?”
“Suka, tapi yang sedang saja,” jawab wanita itu.
“Ini ada menu ikan tuna sambal matah, sedikit pedas, apa anak ibu mau?” Sambil berbagi, Ersha memanfaatkan itu untuk sarana promosi. Siapa tahu ada jalan pembuka rezeki.
“Ada testernya.”
“Ada, Bu. Kami sudah cicipi, enak sekali.” Dua pegawai Ummi Fitria ikut mempromosikan. “Silahkan masuk saja.”
Wanita itu pun masuk ke dalam toko, di atas meja ada sisa ikan tuna yang baru saja di santap Ummi Fitria dan dua pegawainya. Ersha memberikan piring kecil, kemudian menyendok ikan tuna lalu memindahkannya ke piring. “Silahkan, semoga cocok.”
Wanita itu pun mencicipinya, sesuap, lalu mengunyahnya perlahan, gurih alami ikan tuna, berpadu dengan rempah-rempah serta terasi dan daun jeruk yang menyatu menjadi adonan sambal. Sedap, mantap, pedasnya pun pas.
“Wah, ini anak Ummi Fitria yang masak?” kata wanita itu, setelah percobaan pertama. Ummi Fitria hanya mengangguk, sambil melayani pembeli yang datang.
“Mau, lah. Sepaket harganya berapa?”
Ersha menggaruk kepalanya. “Waduh, saya belum buat list harga, karena pagi tadi masak dadakan.”
“Masak dadakan aja se enak ini, gimana kalau masaknya direncanakan?” Wanita itu kembali memuji.
“Untuk saat ini kami belum menyiapkan nasi,” kata Ersha jujur.
“Tidak apa-apa, kalau nasi, ada banyak nasi di rumah.”
“Baiklah, berarti bungkus pertama adalah rezeki anaknya ibu.
Wajah wanita itu berseri-seri, karena tak menduga mendapatkan rezeki di pagi hari. “Kalau anak saya cocok, nanti saya pesen tiap senin sampai jumat, tapi menunya beda-beda.”
“Boleh, Bu. Nanti malam kabari saja Ummi saya. Besok pagi-pagi insya Allah paket bento sudah siap, khusus untuk pelanggan pertama kami.”
Begitulah jalan rezeki, tak ada yang bisa menebak kapan dan darimana datangnya. Ersha sangat bersyukur, semoga dengan ini, ia bisa membangun kembali perekonomiannya setelah resmi bercerai nanti.
•••
Hari ini adalah jadwal kemoterapi untuk membersihkan sisa-sisa sel yang entah keberapa kalinya bagi Resha, dan kini ia tak lagi malas-malasan datang, karena penyemangat hidupnya telah kembali.
Pagi ini Firza meluangkan waktu menemani Resha ke rumah sakit, tapi ia akan ke tempat kerja, karena tak mungkin melalaikan tanggung jawabnya. Meski hubungannya dengan Biru menjadi dingin dan hambar, tapi Firza tak punya pilihan selain bertahan, sebelum menemukan tempat kerja yang lain.
Setelah dokter menyuntikkan obat kemoterapi pada Resha, wanita itu praktis akan merasa lemah, karena tubuhnya sedang melawan serangan obat yang tak hanya akan membunuh sel kanker dalam tubuhnya. Tapi sel-sel sehat juga akan ikut mati, karena itulah ia merasa lemas dan letih selama menjalani proses ini.
“Aku sudah survey, ke beberapa tempat yang biasa menjadi tempat para calon mualaf bersyahadat. Beberapa hari lagi, kita ke sana, agar kamu bisa segera mualaf.”
Resha tersenyum, ia mengangguk antusias, padahal otaknya sedang berpikir keras, mencari alasan masuk akal untuk menunda hal itu terjadi. Niatnya masih sama seperti dulu, tak pernah meyakini agama lain selain kepercayaan yang sudah ia anut sejak lahir. Semua karena ia terlalu mencintai Firza, tak lain dan tak bukan.
Semoga nanti setelah menikah, ia bisa menyeret Firza untuk berpindah pada keyakinan yang sama dengannya.
“Baiklah, aku sudah tak sabar. Oh, iya, bagaimana sidang lanjutannya?” Resha segera mengalihkan topik pembicaraan, malas sekali bila harus membahas mualaf dan mualaf lagi.
“Karena Miranda sudah profesional, jadi ia bisa meminta majelis hakim untuk memajukan sidang putusan, sepertinya minggu depan prosesnya berakhir.”
Ah, inilah yang Resha tunggu-tunggu. Sebentar lagi, ya, selangkah lagi ia akan memiliki Firza seutuhnya. “Syukurlah, aku tak tahu, apakah aku harus senang, atau sedih?” cetusnya.
Wajahnya boleh memelas, tapi dalam hati ia jungkir balik sekaligus salto, karena merasa sangat bahagia.
###
InsyaAllah, nanti sore up lagi🙏🏻
buang ajj temen kaya si dasim 😁