Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 2 -LABIRIN TANPA UJUNG (1)
Dari reruntuhan kota, mereka bergerak masuk menuju sebuah lorong gelap yang sangat mencolok dengan gerbang batu sebagai penandanya. Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah tempat yang terasa akrab bagi seorang penambang—sebuah tambang kuno yang telah hancur.
Dinding-dindingnya retak bukan karena serangan monster, melainkan karena usia yang sudah terlalu tua. Jumlah terowongan di sana sangat banyak, bercabang ke segala arah hingga menyerupai labirin raksasa yang dibuat oleh koloni semut.
"Sepertinya tempat ini dulunya tambang batu dan logam yang digunakan untuk membangun kota di atas," ucap Grom. Matanya menyapu struktur langit-langit tambang yang mulai rapuh.
"Benarkah? Seingatku istana di kerajaan Dwarf juga dibangun di antara kaki pegunungan seperti ini," sahut Elian.
"Haha, benar. Kami membedah gunung-gunung dengan membuat terowongan seperti ini," jawab Grom dengan nada bangga yang khas.
"Benar-benar perusak," celetuk Lilia dengan wajah tidak senang.
Sebagai seorang Elf, Lilia memandang alam sebagai sesuatu yang harus dijaga, bukan dikuliti demi keserakahan. Perbedaan pandangan ini sudah lama menjadi sumbu pertengkaran antara bangsa Elf dan Dwarf, terutama karena Dwarf dikenal sering melakukan eksploitasi lahan secara besar-besaran.
"Lihatlah orang kuno ini. Itulah kenapa kalian tidak pernah bisa maju seperti bangsa Dwarf," balas Grom sombong.
Lilia hanya menatapnya dingin. "Yah, baguslah. Setidaknya kemajuan kami tidak dibangun di atas kematian makhluk hidup di hutan dan air, meski secara tidak langsung."
"Apa katamu?!" teriak Grom kesal. Suaranya yang menggelegar memantul di antara lorong-lorong tambang yang tak berujung.
Seketika, semua orang terdiam. Mereka menatap Grom dengan tatapan tajam—peringatan bisu bahwa berteriak di tempat seperti ini adalah undangan bagi maut. Grom terdiam, wajahnya memerah karena menahan malu sekaligus kesal.
Namun, peringatan itu terlambat. Sebuah suara langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan. Awalnya hanya beberapa, tetapi dengan cepat berubah menjadi ribuan langkah kaki yang berderap bersamaan.
"Astaga, perasaanku tidak enak," bisik Reldia sambil menghunus senjatanya.
"Apakah kita harus kembali?" tanya Raylen. Suaranya bergetar karena ketakutan yang mulai merayap.
"Tentu saja lari, bodoh!" teriak Grom yang tiba-tiba berbalik dan lari paling depan. Aku akan mati, aku tidak mau mati di sini! pikir Grom dalam kepanikan yang luar biasa.
"Hei, kenapa kau lari seperti pengecut, Grom?!" teriak Reldia yang ikut berlari di sebelahnya.
"Itu semut tanah raksasa! Kita tidak punya pilihan selain lari!" balas Grom, meski ia sadar suara langkah di belakang mereka terdengar jauh lebih berat dari pada semut raksasa pada umumnya.
Langkah mereka mendadak terhenti di tepian sebuah jurang besar. Dasar jurang itu tidak terlihat, gelap gulita, sementara sisi seberangnya berjarak ratusan meter dari tempat mereka berdiri.
"Sial! Bagaimana cara kita menyeberang?!" Grom berteriak frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka. Tubuh mereka terangkat, melayang cukup tinggi di udara. Arta, yang sudah menggunakan sihir sayapnya, membawa anggota timnya seolah membawa beban berat yang biasa ia tangani.
Raylen menatap ke bawah jurang yang gelap. Perutnya mual; jurang itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang jatuh. Begitu mereka mendarat di seberang, Raylen langsung ambruk dan jatuh pingsan di tanah karena syok.
Dari balik kepulan debu di seberang jurang, monster-monster yang mengejar mereka akhirnya menampakkan diri. Ukurannya sebesar kuda, berbentuk semut, namun ada yang ganjil dengan tubuh mereka.
"Mereka... sudah berubah menjadi batu, sama seperti penduduk kota. Tapi ini terlihat seperti batu obsidian," ucap Arta. Ia mengamati monster-monster itu dengan dahi berkerut.
"Mereka... sudah berubah menjadi batu, sama seperti penduduk kota. Tapi ini terlihat seperti batu obsidian," ucap Arta. Ia mengamati monster-monster itu dengan dahi berkerut.
"Ada apa, Arta?" tanya Elian.
"Aneh. Makhluk ini tidak ada di dalam catatan buku anonim ini. Sepertinya monster ini baru tercipta setelah buku ini ditulis," jawab Arta pelan.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak.
"Apa kita lanjut saja?" tanya Grom dengan suara pelan.
Arta mengangguk meski ada keraguan yang menghantuinya. "Ya, kita harus mendapatkan material itu."
Pikiran Arta berkecamuk. Buku ini bilang masih ada monster organik yang hidup di sini. Kenapa semuanya berubah menjadi batu? Meski keganjilan itu terus mengusiknya, tekadnya untuk menciptakan Relik Waktu tetap menjadi prioritas utama.
Mereka terus berjalan masuk hingga tiba di sebuah balkon batu yang sangat tinggi. Di bawah mereka, terhampar sebuah labirin bangunan yang sangat luas, jauh lebih megah dan rumit dari tempat sebelumnya.
"Sepertinya... aku mengenal tempat ini," ucap Grom. Matanya terpaku pada arsitektur di bawah sana, terpana oleh sesuatu yang membangkitkan ingatan lama bangsanya.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat