NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 23

  Semakin hari, semakin banyak warga sekitar yang menjadi korban keganasan zombie-zombie tersebut. Para warga yang tinggal di dekat apartemen itu memilih pergi demi menyelamatkan diri.

Suasana mencekam mulai menyelimuti wilayah itu, terutama saat malam hari tiba.

“Kak, gue gak mau jadi seperti mereka… Kita harus cari cara untuk pergi dari apartemen ini,” kata seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan suara gemetar.

“Sabar, Dek… Kita harus cari cara dulu biar tidak ada yang curiga kalau kita belum berubah,” jawab sang kakak, April, berusaha tetap tenang meski hatinya juga dipenuhi ketakutan.

Ternyata selain Siska dan Teguh, ada juga dua anak yang tidak pernah meminum obat yang diberikan oleh Rainal. Orang tua mereka melarang keras… namun kini, kedua orang tua itu sudah berubah menjadi zombie.

“Ayo kita masuk kamar sebelum mama dan papa kembali,” ajak April sambil menggenggam tangan adiknya erat.

Setiap hari hidup mereka seperti di ujung tanduk. Tinggal satu atap dengan orang tua yang telah berubah membuat mereka harus bersembunyi demi bertahan hidup.

Ririn mengikuti kakaknya masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan dan minuman yang cukup banyak. Mereka menutup pintu rapat-rapat, berharap malam bisa berlalu tanpa suara ketukan dari luar.

Sementara itu, Riska juga merasa tidak tenang di unitnya. Sampai sekarang, Prof Teguh belum kembali ke apartemen dan memilih tinggal di rumah kakaknya.

“Prof… Anda kapan pulang? Aku takut tinggal di sini… Apalagi apartemen ini sudah dipenuhi zombie,” ucap Riska melalui sambungan telepon.

“Aku belum bisa pulang, sayang. Ada hal yang harus aku selesaikan di sini,” jawab Teguh.

“Kamu bukan sengaja ninggalin aku di sini, kan?” tanya Riska penuh curiga.

“Tentu tidak, sayang… Percaya sama aku. Kamu akan aman di sana. Aku tulus cinta sama kamu,” ujar Teguh meyakinkan. Ia

memang benar-benar menyayangi Riska dan tidak berniat meninggalkannya.

“Baiklah… aku percaya,” jawab Riska pasrah, meski rasa takutnya belum sepenuhnya hilang.

Di sisi lain, Rainal menatap sinis adiknya yang terlihat begitu mencintai kekasihnya.

“Lo kayaknya cinta banget sama perempuan itu,” ucap Rainal.

“Pasti lah. Jadi, Mas jangan pernah usik dia selama dia tinggal di apartemen. Setelah rencana Mas berhasil, gue akan menikahi dia,” tegas Teguh.

“Tenang aja… aman itu,” jawab Rainal santai.

“Emang ada yang menentang penelitian yang Mas lakukan ini?” tanya Teguh lagi.

“Ada… namanya Dokter Hasan. Dia ilmuwan hebat dan terkenal. Dulu gue pernah ngajak dia kerja sama, tapi dia nolak mentah-mentah. Sekarang… dia jadi musuh gue,” cerita Rainal dengan nada dingin.

“Kalau gue sih tanpa pikir panjang langsung habisin mereka yang nolak… Tapi sialnya, mereka sempat kabur dan nyelametin anak-anak mereka.”

“Dan anak-anak mereka balas dendam sama lo, kan? Sampai mereka membakar pabrik mochi lo. Terus gimana kabar mereka sekarang?” tanya Teguh.

“Gue juga gak tahu… Mungkin udah jadi bagian dari tanah di kota itu,” jawab Teguh tanpa tahu kebenarannya.

Di tempat lain…

Shila dan Gibran masih menikmati kebahagiaan mereka sebagai pasangan baru, tanpa menyadari bahwa nama mereka masih hidup dalam ingatan musuh yang jauh lebih berbahaya.

Dan perlahan…Takdir kembali mulai mempertemukan mereka.

    “Sayang, hari ini kamu jadi ikut kakek pergi ke kota untuk jual obat?” tanya Shila pada sang suami.

“Tentu dong, sayang. Aku gak tega biarkan kakek jualan seorang diri,” jawab Gibran yang sedang bersiap-siap.

Tempat tinggal Hasan memang berada di sebuah desa yang aman. Warganya hidup rukun dan saling menjaga satu sama lain dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kalian hati-hati ya,” ucap Shila penuh perhatian.

"Iya, sayang. Kamu di rumah saja sama Kenan. Jangan biarkan dia main jauh-jauh,” pesan Gibran.

“Iya, sayang. Kami rencananya mau ke rumah Aira setelah kamu dan kakek berangkat ke kota. Ini juga ada barang-barang yang harus kamu beli,” ujar Shila sambil memberikan daftar belanja.

Gibran mengambilnya, lalu menggandeng tangan Shila keluar kamar. Di ruang tamu, Kakek Hasan sudah menunggu dengan sabar.

“Ayo, Kek, kita berangkat. Semua obatnya sudah aku masukkan ke mobil,” kata Gibran.

“Shila, Kenan… kami berangkat dulu. Kalau mau ke rumah Aira, jangan lupa kunci pintu. Tapi sebenarnya aman kok, tidak akan ada yang berani masuk ke desa ini,” ujar Hasan dengan nada tenang.

Kedua laki-laki beda usia itu pun berangkat menuju kota untuk menjual obat. Kakek Hasan memang sudah memiliki banyak pelanggan setia di sana.

Setelah suaminya dan Kakek Hasan pergi, Shila pun bersiap mengajak Kenan ke rumah Aira.

“Ayo, Dek, kita ke rumah Kak Aira sekarang,” ucap Shila sambil menggandeng tangan adiknya.

Mereka pun berangkat menggunakan motor, menyusuri jalan desa yang masih asri dan tenang.

Angin pagi berhembus lembut, seolah mengiringi langkah mereka.

Namun tanpa disadari…

Di arah kota yang sama—tempat Gibran dan Hasan pergi keadaan sudah mulai berubah.

Dan perjalanan hari ini… mungkin tidak akan sesederhana yang mereka bayangkan.

********

     Setelah perjalanan satu jam, akhirnya mereka sampai di kota. Namun, suasana yang mereka lihat jauh berbeda dari biasanya.

Banyak toko, kafe, dan restoran tutup. Jalanan yang biasanya ramai kini tampak lengang dan sepi.

“Kek, kok kayaknya ada yang aneh… Kenapa gak seramai biasanya?” tanya Gibran sambil memperhatikan sekitar.

“Kakek juga gak tahu, Gibran. Mending kita cepat antar obat-obat ini ke pelanggan kakek,” jawab Hasan. Entah kenapa, firasatnya terasa tidak enak.

Hasan pun menunjukkan jalan menuju rumah pelanggannya.

“Pak, maaf mau tanya… kenapa tidak seramai biasanya?” tanya Gibran pada seorang warga.

“Karena warga memilih berdiam diri di dalam rumah, Mas. Sudah beberapa hari ini banyak kejadian aneh, terutama malam hari,” jawab pria itu dengan wajah cemas.

Hasan terdiam.

“Apa Rainal sudah mulai bertindak… Bajingan itu benar-benar sudah keterlaluan. Demi ambisi dan keserakahannya, dia rela mengorbankan orang-orang tak bersalah,” batin Hasan geram.

“Abah, gimana ini… Para mayat hidup itu sudah berkeliaran saat malam. Warga yang tinggal di dekat apartemen sudah banyak yang jadi korban,” bisik seorang pria bernama Juki, yang usianya hanya terpaut setahun di bawah Hasan.

“Kalau begitu, selamatkan keluargamu, Juki. Bawa mereka kembali ke rumahmu yang di desa,” suruh Hasan tegas.

“Mereka sudah di sana, Bah. Aku ke sini cuma mau beli bahan makanan… Apa Abah sudah menemukan anak-anak yang diramalkan bisa mengalahkan para zombie itu?” tanya Juki penuh harap.

Hasan terdiam sejenak.

Pikirannya langsung kembali ke masa lalu…

Saat seorang lelaki tua pernah datang kepadanya dan memberikan sebuah ramalan.

Bahwa suatu hari, kota-kota akan dipenuhi zombie buatan manusia yang haus kekuasaan.

Dan hanya anak-anak tertentu… yang bisa menghentikan semuanya.

“Hasan… kalau wabah itu sudah terjadi yang bisa menghentikan nya adalah anak-anak dari ketiga muridmu. Mereka akan memiliki keturunan yang tidak bisa didekati atau digigit zombie… terutama anak-anak dari Tari dan Satria. Mereka berasal dari garis keturunan orang hebat… bukan sembarang orang.”

“Sedangkan Ningrum… anaknya memiliki aura yang bisa membuat zombie takluk. Asah kemampuan mereka… lindungi mereka…”

“Berikan kalung ini kepada ketiga muridmu. Dan saat waktunya tiba… mereka harus memberikannya pada anak-anak mereka.”

Ingatan itu masih begitu jelas di benak Hasan.

Tangannya tanpa sadar mengepal.

Karena ia tahu… Anak-anak yang dimaksud dalam ramalan itu ,. dan kini tinggal sama dirinya.

  Hasan akan menyembunyikan itu semua dari siapapun. mulai besok Hasan akan mengadakan kemampuan shila, gibran dan kenan yang masih tertidur dalam diri ketiga anak itu.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!