Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aul : 22
“Ternyata, ternyata ….” Kanti tergagap, langkahnya otomatis mundur seraya terbelalak melihat perubahan wujud manusia yang dia kira memakai topeng hewan berkaki empat.
“Dia manusia Serigala itu. Makhluk yang sama kulihat saat pertama kali terjebak di sini, tepi jurang.” Jiwanya rubuh, betapa bodohnya selama ini bersembunyi di sarang pemangsa.
Ada mangsa! Ada mangsa!
Suara itu terngiang-ngiang, berdenging, seakan bergema bersamaan wujud pria yang dinyatakan gila kembali sempurna seperti manusia terakhir kali dilihatnya – rambut gimbal, raut bodoh tergantikan seringai keji, sorot mata dingin.
Pak Supar, ayahnya Widi menjilati darah Mayang yang menempel pada jari-jarinya sampai berbunyi nyaring layaknya bayi mengisap sumber asi.
“Sebelum ada korban berikutnya, kami harus bisa meninggalkan tempat terkutuk ini!” Kanti merangkak sampai mampu berjalan, mencari dinding lorong terhubung pada pertengahan tebing.
“Kemana ujungnya? Perasaan sebelumnya langsung tembus tepi jurang?” Dia seolah meraba mencari cela kecil.
“Nyai! Nyai!” sukma Kanti menjerit memanggil sang pelindung.
.
.
Disisi lain, ibu Laila Ngatemi baru saja tersadar. Suaranya bergetar dengan kalimat terpotong-potong. “Kanti dalam bahaya, sosok memiliki kekuatan besar sengaja memancingnya kesana untuk memerangkap jiwa putri kita selamanya, Kang!”
Ni Dasah menjelaskan apa yang dilihat oleh ibunya Candra Kanti. Bukan penglihatan jelas, melainkan bayangan bergerak.
“Mereka tersesat di wilayah ditinggali siluman Aul. Makhluk yang menyerupai manusia berkepala serigala atau anjing, telapak kaki terbalik. Kawanan itu agresif, sebagian brutal, menjadikan manusia mangsa utama untuk ritual keabadian.” Ni Dasah mengunyah buntalan sirih.
Lemas sudah sepasang suami istri yang berharap keselamatan putrinya. Bu bidan tergugu, sementara pak camat termangu.
“Namun, bukan itu bahaya terbesarnya, melainkan sosok tengah memanfaatkan waktu demi menunggu Kanti selama belasan tahun lamanya,” lanjut ni Dasah.
“Apa dia sosok serupa seperti kata nyi Hyang, Ni Dasah?” pak camat mengingat cerita pelindung istrinya.
Ni Dasah mengangguk, melepas serat daun kunyahan.
“Berarti karena Kanti, teman-temannya ikut tertimpa musibah berujung salah satu dari mereka tiada, Ni?” bu bidan berhasil menguasai diri, mulai berpikir jernih, mencari celah sempit demi Kanti.
Tadi, Laila sempat melihat bayangan kabur ruh wanita menatap sedih ke arahnya, lalu jeritan tangis seorang gadis memanggil nama Mayang, bukan suara Candra Kanti.
Kedua orang tua Kanti, tidak mengenal Abeer dan lainnya, cuma dengan Aji, mereka dekat.
“Mereka berenam termasuk Kanti, memiliki takdir nyaris serupa. Bukan kebetulan sampai terseret memasuki wilayah desa terkutuk, melainkan sudah jalannya seperti itu. Semua memiliki alasan mengapa sampai bisa tersesat di desa Latu abang,” terangnya.
“Apa, Ni?”
“Maaf Laila, saya hanya bisa menerawang takdir samar, tidak mampu mengungkap, menguraikan secara gamblang. Terkadang apa yang terlihat, belum tentu menjadi kenyataan, semua masih abu-abu terlebih alam astral,” bukan enggan memberi tahu, tapi memang segala hal memiliki batasan jelas.
“Apa yang harus kami lakukan, Ni? Mampukah kita menolong mereka, membawa kembali ke alam manusia?” tanyanya berlinang air mata. Bu Laila dirangkul sang suami yang duduk ditepi dipan bambu.
“Semoga belum terlambat, sebab di dunia lain perputaran waktu tidak sama dengan alam manusia. Saya memperkirakan sampai sana, tepat di hutan sebelum mereka hilang, butuh waktu berhari-hari.” Jemari ni Dasah sedang berhitung.
“Satu hari disini, setara empat hari di alam gaib,” katanya setelah selesai menghitung waktu tepat.
“Untuk sementara, apa tidak bisa kita mengirim salah satu makhluk halus, Ni? Seperti nyi Hyang, atau jin pelindung?” Laila seperti tengah menghitung untung dan rugi.
Gelengan kepala ni Dasah membuat pasangan suami istri itu teramat kecewa.
“Apabila kita gegabah, kekuatan besar yang sedari awal mencoba berbagai cara membawa Candra Kanti masuk ke alamnya, takkan tinggal diam. Nyi Hyang, bahkan saya sekalipun bukan tandingannya. Untuk sementara, ada Nyai si pelindung putrimu, semoga saja dia juga tidak asal menyerang seperti sudah-sudah,” harapan ni Dasah sama seperti orang tua Candra Kanti.
“Kapan kita mulai kesana, Ni? Sekarang bisa?” pak Pramudya sudah tidak dapat menahan buncahan kekhawatiran.
“Petang ini. Nanti, apabila sudah sampai sana – harus ingat baik-baik pesan saya ini,” ia pun membeberkan apa saja boleh dilakukan dan wajib dihindari.
Resendriya, Kunti, orang tua Candra Kanti mendengarkan secara saksama. Mengingat semua larangan agar tidak membuat kesalahan fatal.
***
Sukma Kanti berbalik arah, hendak kembali melewati jalan dia masuk tadi. Keberadaan Nyai entah di mana, padahal beberapa waktu lalu masih bisa terasa auranya.
“Ini dimana? Mana tempat Mayang terakhir disini? Kenapa semua lorong bercabang?” Kanti kebingungan, tempat yang dia lalui tak lagi sama. Pun, jasad temannya lenyap.
“Nyai! Diamana kamu?!” teriakannya memantul.
“Suara apa itu?” ia mendengar bunyi menggeram, derap kaki serentak seperti saat malam pertama dirinya mau ke kamar mandi hunian bu Sasmi.
Kanti berlari kencang mencari jalan keluar, menyusuri lorong tak lagi dia hafal. Sepanjang jalan diterangi obor bersumbu tertancap pada dinding tanah.
“Aku kan tembus pandang, harusnya bisa keluar entah kemana itu asal tidak di lorong ini!” Dia bersiap-siap mau menabrak dinding tembok bertanah keras, permukaan tidak rata.
Dalam hati menghitung mundur …. ‘Tiga, dua, satu!’
Larinya teramat kencang, begitu nyaris menabrak dinding, Kanti menyamping agar lengannya dulu yang tembus, namun ….
Bugh!
Akhhh!
Jiwanya tidak tembus, terlempar keluar, tetapi terpental seperti benda memantul. Kanti terguling, setelahnya mengerang kesakitan.
“Kenapa gak bisa?”
.
.
Sedangkan di belakang rumah bu Sasmi, kedua teman Kanti tidak lagi bisa bersabar. Mereka mendengar deru mesin mobil, lalu suara seruan Abeer menyapa Tejo.
“Kanti bangun Kanti!” Aya mengguncang pundak gadis yang masih pingsan, tidak lagi meracau.
Terakhir Kanti bergumam kala melihat Mayang dipenggal, sesudahnya terdiam. Tidak sempat menceritakan siapa pelaku sebenarnya, hanya mengatakan tiga sosok memakai topeng hewan serigala.
“Aji, kamu simpan atau buang panci dan baju itu! Cepat!” Aya mencari solusi disaat otaknya buntu, hati cemas.
“Iya.” Aji memukulkan sepatunya ke pakaian masih mengeluarkan asap di dalam panci, agar tidak terbakar yang menimbulkan kecurigaan dikarenakan bau menyengat serta asap.
Kemudian pemuda mencemaskan Kanti itu berlari lebih dalam lagi ke semak-semak, membalikkan panci di tanah tak berumput.
“Teman kalian yang tiga lagi, mana?”
.
.
Bersambung.
lanjut Thor
ngeri kali