"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Senjata Pemusnah Jarak Jauh
Jacob menatap tumpukan batu besar yang memblokir gerbang utama bendungan timur dengan rahang mengeras.
"Kalian benar-benar berani mencekik kehidupan rakyatku hanya demi keuntungan pribadi," ucap Jacob dengan nada bicara yang menahan amarah.
"Siapa kau berani mendekati area proyek rahasia ini? Pergi dari sini sekarang atau kami akan memenggal kepalamu!" teriak salah satu penjaga berzirah hitam.
Natali mencabut sepasang belati peraknya sambil memancarkan niat membunuh yang sangat pekat ke arah para penjaga tersebut.
"Biarkan aku yang membereskan sekumpulan tikus kotor ini, Baginda," tawar Natali dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Tidak perlu. Aku membutuhkan sedikit pemanasan fisik sebelum menginterogasi majikan mereka di dalam sana," jawab Jacob sambil menarik pedang pendeknya perlahan.
{Aku akan menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri. Rakyatku menangis kehausan sementara orang-orang ini berjaga dengan sangat sombong di sini.}
[Analisa Panca Indra: Terdapat dua belas target dengan tingkat ancaman rendah. Titik lemah utama berada pada celah zirah di bagian leher dan persendian lutut.]
Jacob melesat maju menembus barisan depan penjaga itu dengan kecepatan fisik yang jauh melampaui batas manusia normal berkat latihan ekstremnya.
"Bunuh penyusup itu sekarang juga!" teriak komandan penjaga dengan wajah panik saat melihat pergerakan Jacob yang tidak terduga.
Dentingan logam beradu dengan sangat keras saat Jacob menebas tiga tameng besi sekaligus dalam satu putaran serangan mematikan.
Pedang Jacob membelah zirah penjaga itu dengan sangat mudah, memicu percikan darah yang langsung membasahi zirah mereka secara instan.
"Bentuk formasi pertahanan melingkar! Jangan biarkan dia mendekati menara pengawas!" teriak komandan itu dengan suara bergetar ketakutan.
Sebelas penjaga yang tersisa mencoba mengepung Jacob dengan tombak panjang, namun sang raja muda itu bergerak lebih cepat dari kedipan mata mereka.
"Kalian bergerak terlalu lambat di mataku," ejek Jacob sebelum melakukan lompatan tinggi ke udara.
Tebasan memutar Jacob memotong gagang tombak musuh menjadi dua bagian, disusul oleh tendangan keras yang meremukkan tulang rusuk komandan penjaga tersebut.
"Tarik formasi! Serang kaki dan paksa dia berlutut!" perintah komandan yang sedang menahan sakit sambil memuntahkan darah segar.
Prajurit bayaran itu mengayunkan sisa tombak mereka secara serentak mengincar persendian Jacob.
Jacob hanya mendengus pelan dan memutar pedangnya dengan sangat presisi, membelah otot paha tiga penjaga terdepan dalam satu gerakan menyapu.
Prajurit bayaran lainnya menjatuhkan senjata mereka dengan tubuh bergetar hebat saat melihat rekan mereka tumbang merintih kesakitan.
"Tolong! Ampuni nyawa kami!" rintih penjaga yang tersisa sambil bersujud dan menyatukan kedua tangan mereka.
"Tidak ada kata ampun bagi mereka yang membuat rakyat kecil menderita," tegas Jacob sambil menghunjamkan pedangnya tanpa ragu sedikit pun kepada sisa penjaga itu.
||||||||||||||
Pintu kayu menara pengawas bendungan hancur berkeping-keping akibat tendangan keras dari kaki kanan Jacob.
Seorang pria gemuk berpakaian mewah tersentak kaget dari kursi empuknya hingga menumpahkan gelas anggur di tangannya.
"Siapa kalian? Pengawal! Cepat bunuh mereka berdua sekarang juga!" teriak pria gemuk bernama Gregor itu dengan wajah pucat pasi.
"Pengawal bayaranmu sudah menjadi tumpukan daging mati di bawah sana, Gregor," ucap Jacob dengan nada bicara yang sangat dingin dan mengancam.
Gregor mencabut belati emas dari balik jubahnya dan mencoba menerjang Jacob dengan gerakan yang sangat kikuk.
"Mati kau, penyusup rendahan!" teriak Gregor sambil mengayunkan belatinya secara membabi buta.
Natali melangkah maju menangkis serangan itu dengan mudah dan menendang dada Gregor dengan keras hingga pria itu terjatuh berguling.
"Beraninya kau mengangkat senjata di hadapan Raja Jacob!" bentak Natali sambil menodongkan belati tajamnya tepat ke leher pria tersebut.
"Raja... Raja Jacob? Ampuni hamba, Baginda! Hamba benar-benar tidak tahu!" ratap Gregor seolah kewarasannya telah direnggut oleh ketakutan.
"Kau sengaja memutus aliran air desa pertanian itu hanya untuk membuat danau buatan di vila pribadimu. Kau membiarkan rakyatku mati kehausan secara perlahan," geram Jacob sambil menunjuk wajah Gregor.
"Hamba bisa membayar pajak dua kali lipat, Baginda! Hamba bersedia memberikan seluruh harta hamba untuk menebus kesalahan ini!" tawar Gregor dengan sangat putus asa.
"Emasmu tidak akan bisa mengembalikan nyawa ladang pertanian yang mati dan penderitaan anak-anak desa yang kehausan," balas Jacob dengan tatapan mata yang menyala penuh kebencian.
"Hamba mohon, Baginda! Berikan hamba satu kesempatan lagi!" jerit Gregor sambil menyatukan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu.
"Nyawamu bahkan tidak seharga setetes air yang kau curi dari desa itu," ucap Jacob sambil mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
Kepala Gregor menggelinding di atas lantai menara, mengakhiri masalah lintah darat yang menyengsarakan warga desa perbatasan tersebut dalam satu tebasan mutlak.
"Hancurkan gerbang penahan air itu sekarang juga, Natali. Biarkan sungai kembali mengalir ke desa seperti sedia kala," perintah Jacob tanpa memedulikan jasad di bawahnya.
"Sesuai perintahmu, Tuanku," jawab Natali yang segera bergegas menuju tuas besi pengendali bendungan utama.
Pintu bendungan raksasa itu terbuka lebar, menumpahkan debit air yang sangat besar menyapu dasar sungai yang mengering.
Jacob menatap aliran air yang kembali menderas, memastikan penderitaan warga desa berakhir detik ini juga.
{Rakyatku akan kembali mendapatkan hak mereka sepenuhnya. Masalah air ini sudah selesai untuk selamanya.}
||||||||||||||
Ketegangan terlihat jelas di wajah para petinggi militer yang sedang berkumpul mengelilingi meja kerja Jacob.
Jacob duduk memandangi peta benua yang terbentang luas di atas mejanya dengan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh perhitungan.
"Masalah di desa perbatasan sudah selesai. Namun, kerajaan ini masih terlalu rentan jika kita hanya mengandalkan kekuatan tempur fisik prajurit di masa depan," ucap Jacob memecah keheningan.
Veldora yang berdiri di seberang meja mengerutkan dahinya karena tidak memahami kekhawatiran sang raja.
"Pasukan Nightmare kita sudah tidak terkalahkan, Baginda. Mereka bisa menghancurkan tembok batu dengan tangan kosong tanpa rasa lelah sedikit pun," protes Veldora dengan penuh rasa bangga.
"Itu belum cukup, Veldora. Mengirim prajurit untuk pertarungan jarak dekat akan selalu memakan korban sebanyak apa pun kekuatan fisik yang mereka miliki," jelas Jacob dengan wajah serius.
"Rencana apa yang Anda pikirkan untuk mengurangi korban jiwa dari pihak kita, Tuanku?" tanya Natali yang berdiri waspada di sudut ruangan.
"Taktik perang kuno harus segera ditinggalkan. Kita akan menyerang kerajaan musuh dari jarak yang bahkan tidak bisa mereka lihat," jawab Jacob.
"Sistem, tampilkan rancangan senjata penghancur jarak jauh dari arsip memori yang kau miliki," bisik Jacob secara perlahan agar tidak terdengar oleh jenderalnya.
[Memproses permintaan. Menemukan cetak biru Meriam Api Naga dengan daya ledak area skala besar.]
Pandangan biru di mata Jacob mulai memproyeksikan sebuah desain senjata mekanis raksasa yang sangat rumit dan mematikan.
{Senjata ini menggunakan bubuk mesiu padat dan minyak alkimia murni. Sekali tembak, satu benteng musuh akan rata dengan tanah tanpa kita harus mengorbankan satu pun nyawa prajurit Nightmare.}
Jacob segera mengambil pena dan mulai menggambar cetak biru tersebut ke atas perkamen kosong dengan gerakan tangan yang sangat presisi dan cepat.
Goresan tinta Jacob membentuk sebuah tabung baja panjang yang ditopang oleh roda-roda kayu raksasa berlapis besi.
Veldora mendekat dan menatap gambar itu dengan rasa takjub yang sangat luar biasa menyelimuti hatinya.
"Benda apa ini, Baginda? Saya sama sekali belum pernah melihat mesin perang dengan bentuk tabung logam sebesar ini seumur hidup saya," tanya Veldora dengan mata membelalak.
"Ini adalah wujud mimpi buruk baru bagi seluruh musuh kita. Aku menyebut penemuan ini sebagai Meriam Api Naga," jawab Jacob dengan senyum yang sangat mengerikan.
"Bagaimana cara benda ini bekerja di medan perang, Tuanku?" potong Natali yang ikut penasaran melihat desain rumit tersebut.
"Tabung baja ini akan memuntahkan bola logam berisi cairan peledak hingga sejauh seribu meter. Pasukan musuh akan hancur lebur sebelum mereka sempat melihat bendera pasukan kita," jelas Jacob dengan mata berapi-api.
"Seribu meter?! Itu sangat mustahil! Busur raksasa terbaik buatan Scolar saja hanya mampu mencapai jarak tiga ratus meter paling jauh," bantah Veldora yang masih sulit memercayai konsep tersebut.
"Tidak ada yang mustahil di bawah kepemimpinanku, Veldora. Senjata ini akan bekerja melampaui logika perang yang kau ketahui," tegas Jacob.
Natali menatap rajanya dengan rasa kekaguman yang semakin besar membara di dalam dadanya.
"Jika kita menempatkan senjata ini di atas tebing perbatasan, tidak akan ada satu pun pasukan kavaleri musuh yang berani mendekat, Tuanku," ucap Natali memberikan analisis taktisnya.
"Benar sekali. Senjata ini tidak hanya berfungsi sebagai alat penyerang, tetapi juga sebagai pertahanan absolut bagi perbatasan Helios," tambah Jacob sambil mengetuk gambar tersebut.
"Berapa banyak senjata yang ingin Anda ciptakan untuk tahap pertama ini, Baginda?" tanya Veldora dengan semangat tempur yang mulai meledak-ledak.
"Buat seratus unit dalam waktu satu bulan tanpa penundaan. Kumpulkan seluruh pandai besi terbaik di ibu kota mulai fajar besok," perintah Jacob dengan nada yang memberikan keputusan mutlak.
"Itu jumlah yang sangat masif, Baginda. Kita membutuhkan berton-ton baja murni untuk menyelesaikannya tepat waktu," ucap Veldora dengan kening berkerut memikirkan logistiknya.
"Gunakan baja dari zirah dan senjata pasukan Scolar yang kita sita kemarin. Lebur semuanya menjadi meriam ini," instruksi Jacob tanpa ragu.
"Apakah tungku peleburan kita mampu mencapai suhu yang dibutuhkan untuk mencetak tabung sebesar itu, Tuanku?" tanya Natali memastikan teknis pelaksanaannya.
"Aku akan memberikan modifikasi pada struktur tungku peleburan istana besok pagi. Pastikan saja semua bahan baku sudah terkumpul sebelum matahari terbit," jawab Jacob dengan penuh perhitungan.
"Siapkan juga pasukan Nightmare untuk menjaga pabrik peleburan baja siang dan malam. Rahasia senjata ini tidak boleh bocor ke mata-mata musuh yang masih tersisa," tambah Jacob.
"Saya sendiri yang akan memimpin penjagaan pabrik tersebut, Tuanku. Tidak akan ada tikus penyusup yang bisa kembali hidup-hidup dari sana," janji Natali dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Kerja bagus. Pastikan tidak ada kesalahan fatal dalam proses pembuatannya," pesan Jacob.
Veldora mengepalkan tangan kanannya dan meninjunya ke dada kiri sebagai salam penghormatan militer tertinggi.
"Kami akan memberikan senjata penakluk dewa ini tepat waktu, Baginda," sumpah Veldora dengan suara yang sangat lantang.
"Perintah Anda akan segera kami laksanakan tanpa cacat sedikit pun! Helios akan menjadi kerajaan yang tidak tersentuh!" seru Veldora sambil membungkuk hormat dalam-dalam.
"Kita tidak akan lagi bertarung dengan menumpahkan banyak darah rakyat kita sendiri. Kita akan menghujani musuh-musuh kita dengan neraka langsung dari langit," ucap Jacob sambil menggenggam tepi mejanya kuat-kuat.
{Dunia ini akan segera tahu bahwa aku tidak main-main dengan ancamanku sebelumnya. Helios akan bangkit menjadi penguasa absolut penakluk seluruh benua.}