NovelToon NovelToon
UNLOVED: Ariel & [Y/N]

UNLOVED: Ariel & [Y/N]

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: mondᓀ‸ᓂ

​[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.

​Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.

​Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

balasan sentilan

​Mata cokelat [y/n] berkilat antara malu dan kesal. Dia tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya setelah Ariel dengan santainya melakukan indirect kiss di depan umum—bahkan di depan Yupi dan Amu yang mulutnya nggak bisa direm.

​"A-Ariel! Lu bener-bener... ih!"

​TAK!

​Dengan gerakan kilat, [y/n] menyentil dahi Ariel cukup keras. Bunyinya terdengar nyaring di antara suara bising kantin. Ariel yang tadinya sedang asyik memilin ujung rambut biru [y/n] langsung tersentak mundur, memegangi dahinya yang seketika memerah.

​"Aduh! Sakit, bego!" seru Ariel kaget.

​Tapi [y/n] tidak menunggu jawaban. Setelah menyentil dahi sang "Pangeran Balap", [y/n] langsung menyambar tasnya dan buru-buru pergi dari kantin.

Langkah kakinya sangat cepat, hampir seperti lari maraton, meninggalkan kotak susu stroberi yang masih tersisa sedikit di atas meja.

​"Woi! [y/n]! Tunggu!" teriak Ariel sambil berdiri, tapi [y/n] sudah menghilang di balik kerumunan murid di koridor.

​Yupi dan Amu meledak dalam tawa sampai harus memegangi perut mereka.

"Hahahaha! Mampus lu, Riel! Dikasi jatah baper malah dibalas sentilan!" ledek Yupi sambil menunjuk-nunjuk dahi Ariel yang ada bekas merahnya.

​Ariel mendengus ketus, tapi anehnya, dia tidak terlihat marah. Dia justru mengusap dahinya yang berdenyut sambil menatap arah kepergian [y/n].

Ada senyum tipis—tipis sekali sampai hampir tidak terlihat—yang muncul di sudut bibirnya.

​"Dasar bego...." gumam Ariel pelan.

​Dia kemudian menyambar kotak susu stroberi milik [y/n] yang tertinggal, lalu berjalan menyusul [y/n] dengan langkah santai.

​Sementara itu, di koridor sepi menuju kelas 12 D, [y/n] bersandar di tembok sambil mengatur napasnya yang memburu.

Wajahnya terasa panas sekali, mungkin kalau ada telur di atas pipinya, telur itu sudah matang sekarang.

​"Gila... gua berani banget nyentil dahi Ariel... mati gua kalau dia ngamuk," bisik [y/n] pada dirinya sendiri. Dia menyentuh bibirnya pelan, lalu teringat lagi kejadian sedotan tadi. "Tapi... dia beneran nggak keberatan ya?"

​Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu di depan [y/n]. Dia mendongak dan langsung membeku. Bukan Ariel yang ada di depannya, melainkan Velora yang berdiri dengan tangan bersedekap dan tatapan yang sangat benci.

​"Puas lu ya, cari perhatian di kantin?" tanya Velora ketus. "Lu pikir dengan gaya 'polos' lu itu, lu bisa terus-terusan deket sama Ariel? Sadar diri deh, [y/n]. Lu itu cuma parasit yang kebetulan lagi dikasihanin sama dia."

​"Ekhem.... Ubur-ubur ikan tenggiri, lu bilang aja kalau iri," ucap [y/n] dengan nada datar namun penuh penekanan.

Velora yang tadinya sudah siap melancarkan rentetan makian lebih jauh, langsung terbungkam. Dia melongo, menatap [y/n] dengan tatapan tidak percaya. Dia mengira [y/n] akan menangis atau menunduk ketakutan, tapi yang dia dapatkan justru sebuah rima yang sangat... menjengkelkan.

​[y/n] kemudian melipat tangan di depan dada, meniru gaya angkuh yang biasanya dipakai Ariel. Meskipun jantungnya sebenarnya masih berdegup kencang karena habis lari dari kantin, dia berusaha tetap tenang.

​"Udah pas belum ya pantun gua?" batin [y/n] ragu. Dia sebenarnya agak geli sendiri dengan pantun dadakan itu, tapi melihat wajah Velora yang langsung merah padam seperti tomat busuk, sepertinya pantun itu bekerja dengan sangat efektif.

​"L-lu... lu berani ya ngeledek gue?!" pekik Velora dengan suara melengking. "Gue iri sama lu? Hah! Jangan mimpi! Gue punya segalanya, [y/n]. Gue cantik, gue kaya, rambut gue pirang asli salon mahal, nggak kayak rambut biru lu yang kayak cat tembok luntur itu!"

​[y/n] hanya menaikkan sebelah alisnya. "Oh, ya udah kalau nggak iri. Terus ngapain lu capek-capek nyegat gue di sini? Mau minta tanda tangan?"

​"LU—"

​Velora baru saja hendak mengangkat tangannya—entah mau menunjuk atau melakukan sesuatu yang lebih kasar—saat sebuah tangan besar dengan urat yang menonjol tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Velora dari belakang.

​"Mau ngapain tangan lu?"

​Suara berat dan dingin itu membuat Velora tersentak hebat. Ariel sudah berdiri di sana, menatap Velora dengan tatapan yang bisa membuat nyali preman pasar sekalipun ciut.

​Ariel mengempaskan tangan Velora dengan kasar. Dia kemudian melangkah maju, berdiri tepat di depan [y/n], seolah-olah dia adalah perisai yang tidak bisa ditembus.

​"Udah gue bilang kan, jangan ganggu dia," geram Ariel. Dia menoleh sedikit ke arah [y/n], sudut bibirnya sedikit terangkat. "Pantun lu jelek, [y/n]. Tapi buat bungkem mulut sampah kayak dia, lumayanlah."

​[y/n] cuma bisa nyengir canggung. "Yeee itu pujian apa ejekan "

​Ariel kembali menatap Velora yang sekarang gemetaran antara takut dan malu.

"Denger ya, Pirang. Satu kali lagi gue liat lu deket-deket [y/n] atau buka mulut lu yang bau sampah itu, gue pastiin lu bakal ngerasa kalau sekolah ini Neraka buat lu . Paham?"

​Velora tidak bisa menjawab. Dia langsung berbalik dan lari sekencang mungkin menuju kelas, meninggalkan [y/n] dan Ariel di koridor yang sunyi.

​Ariel menghela napas panjang, lalu berbalik menghadap [y/n]. Dia menjentikkan jarinya ke dahi [y/n] pelan—balasan untuk sentilan di kantin tadi.

​"Lain kali kalau mau pantun, belajar dulu sama gue. Biar lebih pedes," ucap Ariel sambil memberikan kembali kotak susu stroberi yang sudah kosong ke tangan [y/n]. "Ayo masuk kelas, bentar lagi guru dateng."

[y/n] kemudian mengocok kotak susu itu "lah padahal udah kosong ngapain di kasih ke gue " batin [y/n] sambil megusap dahinya...

1
MR Rizki
Lanjut tor 😆
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: 🍀🦈🦈🤭 makasih, iya nanti gw lanjut
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
SEMANGAAAAT ATHOOOR/Determined/
Manusia Ikan 🫪: 😹baguslah
total 4 replies
Caramel23
shuri like ini kan 😍😍
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: yoi 😂😂
total 3 replies
MR Rizki
lanjut tor, semangat 💪/Smile/
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: makasih 🤭😖
total 1 replies
kertaslusuh
Meski Ariel ketus, tpi benerr
kertaslusuh
kasian y/n, keknya generasi roti ya, thorr??
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: bayangin kalau lu y/n deh , nanti bakal... ekhem.. ekhem.. sama ariel🤭
total 3 replies
kertaslusuh
wkwkkw🤣
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎
wahahahahahah tidak ada larangan nge like karya buatan sendiri 🤭🙂
MR Rizki
Ditunggu kelanjutannya tor, semangat
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: thanks yank emuachhh 😘🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!