Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Kehangatan di Malam yang Dingin
Malam semakin larut di kota Pingxi.
Angin malam berhembus pelan melewati gang-gang sempit dan rumah-rumah reyot yang berdiri seadanya di pinggiran kota.
Di salah satu sudut yang paling sunyi, berdiri sebuah gubuk kecil yang hampir runtuh.
Dindingnya dari papan tua yang retak.
Atapnya dari jerami yang sudah berlubang di sana-sini.
Di depan pintu gubuk itu, dua anak laki-laki duduk berdampingan.
Perut mereka berbunyi pelan.
Salah satu anak yang lebih kecil memeluk lututnya sambil menatap jalanan gelap di depan rumah.
Matanya penuh harap.
“Kakak… apakah kakak akan membawa bakpao daging hari ini?”
Anak yang lebih besar di sampingnya terdiam sejenak.
Namanya Shen Liang.
Usianya mungkin sekitar lima tahun, namun wajahnya sudah tampak lebih dewasa dari anak seusianya.
Ia menghela napas kecil.
Tangannya mengelus kepala adiknya.
“Entahlah, Ming’er…”
Adiknya, Shen Ming, mengangkat wajahnya.
“Jangan terlalu berharap.”
Kalimat itu sederhana.
Namun langsung membuat wajah Shen Ming murung.
Ia memeluk perutnya.
“Perutku… semakin sakit karena lapar…”
Ia menatap ke arah sumur kecil di dekat rumah mereka.
“Air sumur juga hampir habis…”
Shen Liang terdiam.
Matanya redup.
Ia ingin menghibur adiknya.
Namun bahkan dirinya sendiri tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya ia hanya memandang jalanan yang gelap.
Sunyi.
Tidak ada siapa pun.
Angin malam terasa semakin dingin.
Namun tiba-tiba—
Shen Liang menyipitkan matanya.
Di kejauhan…
sebuah siluet muncul.
Seseorang berlari.
Lalu suara yang sangat mereka kenal terdengar.
“Liang’er! Ming’er!”
Sosok itu melambaikan tangan dengan gembira.
Shen Ming langsung melompat berdiri.
“Itu kakak!”
Dua bersaudara itu langsung berlari.
Di tengah jalan tanah yang gelap, mereka bertabrakan dengan Shen Ning yang baru saja tiba.
Shen Ning langsung memeluk mereka berdua erat.
“Kalian menunggu lama?”
Shen Ming langsung menatap kakaknya dengan mata berbinar.
“Kakak!”
“Apakah kakak membawa bakpao kali ini!?”
Shen Ning terdiam. Senyum kecil muncul di wajahnya. Namun ada sedikit rasa bersalah di sana.
Ia mengelus kepala kedua adiknya.
“Maafkan kakak…”
“Kakak gagal membawa bakpao lagi hari ini.”
Seolah dunia runtuh.
Wajah Shen Ming langsung murung.
Shen Liang juga menunduk.
Ia mencoba terdengar dewasa.
“Sudah kubilang…”
“Jangan membuat janji yang tidak bisa kakak tepati…”
Shen Ning menatap mereka.
Lalu tiba-tiba tersenyum lebar.
“Tapi…”
“Aku membawa sesuatu yang lebih baik.”
Kedua anak itu langsung menatapnya.
Mata mereka beralih ke kantung anyaman yang dibawa Shen Ning.
“Apa itu…?”
Shen Ning tertawa kecil.
“Ayo masuk dulu.”
Di dalam gubuk kecil mereka, hanya ada satu meja kayu tua dan beberapa bangku pendek.
Shen Ning duduk di lantai.
Dengan hati-hati ia membuka kantung anyaman.
Lalu mengeluarkan dua mangkuk plastik yang tertutup rapat.
Ketika tutupnya dibuka—
Aroma harum langsung menyebar.
Kuah hangat.
Rempah yang dalam.
Daging yang gurih.
Telur rebus.
Rumput laut.
Uap panas perlahan naik ke udara.
Dua pasang mata kecil langsung membesar.
Air liur menetes tanpa sadar.
Shen Ming menunjuk mangkuk itu dengan gemetar.
“K-Kak…”
“Ini…”
“Ini mie…?”
Shen Ning tertawa pelan.
“Iya.”
“Namanya ramen.”
Dua anak itu mengulang dengan penuh kagum.
“Ramen…?”
“Ramen!”
Lalu—
GRRRRKKK
Suara perut mereka berbunyi keras.
Shen Ning tertawa lagi.
Ia mengelus kepala mereka dengan lembut.
“Nah…Apa yang kalian tunggu?”
“Makanlah sebelum dingin.”
Namun sesuatu terjadi.
Bukannya langsung makan—
Shen Ming tiba-tiba memeluk Shen Ning erat.
Shen Liang juga ikut memeluk dari sisi lain.
Air mata mereka jatuh.
“Kakak…”
“Terima kasih…”
Shen Ming terisak.
“Kakak adalah kakak terbaik di dunia…”
Shen Ning tertegun. Dadanya terasa hangat.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Lalu tanpa sadar—
Air mata jatuh dari pipinya.
Ia memeluk kedua adiknya erat.
“Maaf…”
“Karena kakak belum bisa memberi kalian kehidupan yang lebih baik…”
Namun bagi dua anak kecil itu—
Semangkuk ramen hangat…
sudah terasa seperti hadiah dari surga.
Sementara itu…
Di Kedai Satu Mangkuk.
Suasana jauh dari kata rapi.
Lantai berlubang.
Pintu hancur.
Dinding retak.
Zhao sedang memaku papan kayu baru untuk memperbaiki lantai yang tadi ia hancurkan.
Sementara Yueling menyapu serpihan kayu dengan sapu jerami.
Zhao menghela napas sambil memukul paku.
“Yah…”
“Hari pertama yang cukup heboh bukan?”
Yueling berhenti menyapu.
Ia menatap suaminya dengan ekspresi datar.
“He-boh?”
Nada suaranya tajam.
“Itu bukan heboh. Itu kacau.”
Zhao tertawa kecil.
“Aku juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini.”
Yueling menyilangkan tangan.
“Bisnis yang menarik.”
“Hari pertama langsung minus.”
Ia menunjuk meja yang patah.
“Kursi dan meja rusak.”
“Pintu hancur.”
“Lantai bolong.”
Zhao menegang.
“Eh… hehe…”
Ia menggaruk pipinya dengan canggung.
“Maaf…”
“Aku sedikit terbawa emosi.”
Lalu ia menegakkan badan.
“Tapi suami mana yang akan membiarkan bajingan menghina istrinya?”
Yueling menatapnya beberapa detik. Lalu tiba-tiba tertawa kecil.
“Baiklah.”
“Aku akan memaafkanmu, sayang.”
Ia membuang sampah kayu ke luar.
Kemudian kembali menatap kedai yang berantakan.
“Aku penasaran…”
“Bagaimana bisnis ini akan berjalan ke depannya.”
Zhao berhenti bekerja.
Ia menghela napas.
“Apakah kau khawatir semuanya akan berjalan buruk?”
Ia tersenyum pahit.
“Mungkin aku memang tidak memiliki bakat berbisnis.”
Yueling langsung menggeleng cepat.
Ia berjalan menghampirinya.
Tangannya memegang pipi Zhao dengan lembut.
“Aku tidak pernah meragukanmu.”
“Sedikit pun.”
Matanya penuh kehangatan.
“Aku akan selalu mendukungmu.”
“Mau susah atau senang.”
Ia menempelkan dahinya ke dahi Zhao.
“Karena kita adalah keluarga.”
Zhao tertegun.
Untuk sesaat…
Immortal yang pernah mengguncang langit dan bumi itu…
terlihat seperti pria biasa yang tersentuh oleh kata-kata sederhana.
Ia tersenyum lembut.
Tangannya menggenggam tangan Yueling.
“Terima kasih…”
“Karena selalu percaya padaku.”
Yueling tersenyum.
Namun kemudian matanya melirik ke pojok ruangan.
Tumpukan topi jerami berserakan. Ia berjalan ke sana dan mengambil satu.
“Ini barang dagangan gadis itu, bukan?”
Zhao mengangguk.
“Iya.”
“Dan aku juga tidak sengaja merusaknya.”
Nada suaranya sedikit menyesal.
“Aku merasa bersalah.”
Yueling mengangkat alis.
“Tapi bukankah kau sudah memberi ganti rugi?”
Zhao terdiam sebentar.
Lalu menggeleng.
“Dia menolak.”
Yueling sedikit terkejut.
“Menolak?”
Zhao tersenyum tipis.
“Dia berkata aku tidak perlu bertanggung jawab.”
“Dan tidak menyalahkan ku karena merusak barang dagangannya.”
Yueling menahan tawa.
“Lalu?”
Zhao mengangkat bahu.
“Dia bilang ramen yang ia bawa pulang sudah lebih dari cukup.”
Yueling menatapnya lama.
“Kalau begitu…”
“Kenapa kau masih merasa bersalah?”
Zhao memandang keluar jendela.
Suasana malam semakin sunyi.
“Bagaimana aku bisa merasa lega…”
“Saat melihat seorang anak dipaksa menjadi dewasa oleh keadaan?”
Suaranya pelan.
“Dia seharusnya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.”
Yueling berjalan mendekat. Ia menggandeng tangan Zhao. Lalu bersandar di bahunya.
“Dia gadis yang pekerja keras.”
“Dan penuh semangat.”
Zhao tersenyum.
“Kau benar.”
Yueling menatapnya dengan mata menyipit.
“Aku yakin…”
“Kau sudah tahu ada sesuatu yang istimewa darinya, bukan?”
Zhao tersentak.
“Bagaimana kau tahu?”
Yueling tersenyum nakal.
“Seorang istri tahu segalanya.”
“Aku langsung tahu dari ekspresi wajahmu saat melihat Ning’er.”
Zhao tersenyum kaku.
“Kelihatan jelas ya?”
Yueling mengangguk.
“Tapi kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku tidak akan memaksa.”
Zhao berpikir sejenak.
Lalu berkata, “Besok jika dia datang lagi…”
“Aku akan memberitahumu.”
Ia melihat langit malam.
“Sudah larut.”
“Ayo istirahat.”
Namun Yueling tiba-tiba tersenyum misterius.
Ia menatap Zhao dengan mata berkilat.
“Ngomong-ngomong…”
“Apakah menurutmu anak kita suatu hari nanti akan memiliki sifat seperti itu?”
Zhao langsung membeku.
“Eh?”
Yueling melanjutkan santai.
“Tadi saat aku menenangkan Ning’er…”
“Aku merasa seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan putrinya.”
Zhao mulai gugup.
“Ah… ya…”
“Ehm… mungkin…”
Namun senyum Yueling semakin lebar.
“Kalau begitu…”
Ia mendekat perlahan.
“Bukankah sudah waktunya kita memiliki momongan?”
Zhao benar-benar membatu.
“O-Oh?”
Mata Yueling berkilat seperti pemburu yang menemukan mangsa.
Detik berikutnya—
Ia menarik tangan Zhao.
“Ayo.”
Zhao masih linglung.
“Eh… tunggu—”
Yueling menyeretnya menuju kamar.
"Tak perlu takut."
Suaranya terdengar manis.
“Aku akan bersikap lembut.”
Dan malam di Kedai Satu Mangkuk…
akhirnya menjadi jauh lebih panas daripada yang Zhao bayangkan.